NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — Saat Kau Tak Bisa Berpura-pura Kuat

Suara ketukan pintu terdengar ketika jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi.

“Adrian, kamu sudah bangun?”

Alisha berdiri di depan kamar Adrian sambil membawa ponsel. Sejak tadi, dia belum melihat pria itu keluar kamar seperti biasanya.

Tidak ada jawaban.

Dia mengetuk sekali lagi.

“Adrian?”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari dalam.

“Sudah. Ada apa?”

“Aku hanya mau memastikan kamu tidak terlambat berangkat kerja.”

“Aku tidak masuk kantor hari ini.”

Alisha terdiam.

Dia tidak menyangka Adrian akan mengatakan hal tersebut. Selama mereka tinggal bersama, pria itu hampir selalu berangkat ke kantor, bahkan ketika pekerjaan sedang menumpuk.

“Kamu mengambil cuti?”

“Iya.”

“Karena masih pusing?”

“Alisha, aku sedang mencoba beristirahat. Bisa kita lanjutkan pembicaraan ini nanti?”

Alisha langsung menyadari bahwa Adrian mungkin masih merasa tidak nyaman.

“Baiklah. Istirahat saja.”

Dia hendak berbalik, tetapi kemudian teringat sesuatu.

“Kamu sudah sarapan?”

Kali ini, tidak ada jawaban selama beberapa detik.

“Belum.”

Alisha menghela napas kecil.

“Tunggu sebentar. Aku siapkan sesuatu.”

“Kamu tidak perlu—”

Namun, Alisha sudah berjalan menjauh sebelum Adrian menyelesaikan kalimatnya.

Di dalam kamar, Adrian memandang pintu yang kembali tertutup.

Dia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dirinya bisa mengurus sarapan sendiri. Akan tetapi, tubuhnya masih terasa lemah setelah beberapa hari kurang tidur.

Dokter sudah menyarankan agar dia beristirahat dan memperhatikan kondisi tubuhnya. Karena itu, pagi ini dia memutuskan tidak pergi ke kantor dan menyerahkan pekerjaan yang tidak mendesak kepada Daniel.

Keputusan tersebut bukan sesuatu yang mudah baginya.

Adrian terbiasa memegang kendali atas hampir semua urusan perusahaan. Meninggalkan pekerjaannya selama sehari saja sudah membuatnya merasa ada banyak hal yang harus diperiksa.

Namun, kali ini dia mencoba mengikuti saran dokter.

Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Daniel untuk memastikan jadwal rapat tetap berjalan tanpa kehadirannya.

Setelah mengirim pesan itu, Adrian meletakkan ponsel di meja.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, dia tidak langsung membuka dokumen pekerjaan begitu bangun tidur.

---

Beberapa menit kemudian, Alisha kembali dengan membawa nampan berisi bubur hangat, segelas air putih, dan beberapa potong buah.

Dia mengetuk pintu sebelum masuk setelah mendapat izin dari Adrian.

“Ini sarapanmu.”

Adrian yang sedang duduk di tepi tempat tidur menoleh.

“Kamu membuat bubur?”

“Iya. Kebetulan bahan-bahannya ada di dapur.”

Alisha meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela.

“Dokter menyuruhmu beristirahat, bukan berarti kamu boleh melewatkan makan.”

Adrian menatap mangkuk di hadapannya.

“Kamu selalu punya jawaban untuk semuanya?”

“Tidak. Kalau aku punya jawaban untuk semuanya, mungkin sekarang aku sudah menjadi dokter.”

Adrian hampir tersenyum.

Alisha menarik kursi dan meletakkannya di dekat meja.

“Makanlah selagi hangat.”

“Aku bisa makan sendiri.”

“Aku tahu. Memangnya kamu mengira tanganmu tidak berfungsi?”

Adrian menoleh kepadanya.

Alisha menahan senyum.

“Sudah, makan saja. Aku masih harus bersiap-siap untuk bekerja.”

Setelah mengatakan itu, dia berjalan menuju pintu.

“Alisha.”

Perempuan itu berhenti dan menoleh.

“Terima kasih,” kata Adrian.

Alisha tampak sedikit terkejut karena Adrian mengucapkannya dengan nada yang sungguh-sungguh.

Namun, dia hanya tersenyum tipis.

“Sama-sama. Cepat sembuh, ya. Aku tidak mau mendengar Daniel mengeluh karena atasannya terlalu keras kepala.”

Adrian menggeleng kecil.

“Kamu dan Daniel ternyata cocok kalau membicarakan kekuranganku.”

“Setidaknya, kali ini kami sepakat.”

Alisha keluar sambil menahan tawa kecil.

Adrian kembali menatap sarapannya.

Entah mengapa, percakapan singkat itu membuat suasana paginya terasa lebih ringan.

---

Di Sweet Morning Bakery, Alisha tiba sedikit lebih awal daripada biasanya.

Mira yang sedang menata roti di rak langsung menoleh ketika melihatnya masuk.

“Pagi! Tumben kamu datang lebih cepat.”

“Aku bangun lebih awal.”

Rani muncul dari belakang meja kasir.

“Tumben juga kamu menjawab sesingkat itu. Biasanya ada saja yang kamu ceritakan.”

Alisha meletakkan tasnya di ruang penyimpanan.

“Memangnya aku harus bercerita setiap pagi?”

“Tidak harus. Tapi kami jadi penasaran.”

Mira mendekat dengan ekspresi ingin tahu.

“Bagaimana keadaan suamimu? Kemarin kamu bilang dia terlihat lelah.”

Alisha berhenti sejenak.

“Dia masih kurang sehat, jadi hari ini tidak masuk kantor.”

“Serius?” Rani mengerutkan kening. “Sakit apa?”

“Katanya kelelahan. Dia sudah pergi ke dokter dan disuruh beristirahat.”

Mira mengangguk.

“Kalau begitu, bagus dia tidak memaksakan diri bekerja.”

“Itulah yang aku katakan kepadanya.”

Rani tersenyum jahil.

“Wah, sekarang kamu mulai menjadi orang yang mengatur jadwal istirahat CEO.”

Alisha langsung menatapnya.

“Aku hanya menyuruhnya makan dan beristirahat. Itu bukan pekerjaan yang sulit.”

“Benar. Tapi tidak semua orang bisa membuat Adrian Mahendra menuruti perkataannya.”

“Dia tidak selalu menuruti perkataanku.”

“Setidaknya, kali ini dia mau tinggal di rumah.”

Alisha tidak membalas.

Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang menurutnya tidak penting. Setelah mengenakan celemek, dia mulai membantu Mira menyiapkan pesanan.

Hari itu, pekerjaan di toko cukup padat. Ada pesanan kue ulang tahun, beberapa kotak roti untuk acara kantor, dan pelanggan yang datang silih berganti.

Alisha berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Sesekali, dia memikirkan apakah Adrian sudah menghabiskan sarapannya. Namun, dia tidak merasa perlu menghubungi pria itu hanya untuk memastikan.

Adrian sudah dewasa. Dia tentu bisa mengurus dirinya sendiri.

Setidaknya, itulah yang Alisha yakini.

---

Di rumah, Adrian baru selesai menghabiskan sebagian sarapannya ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Daniel muncul di layar.

Daniel: Selamat pagi, Pak. Rapat pagi ini berjalan sesuai jadwal. Dokumen yang memerlukan persetujuan Bapak akan saya kirimkan dalam bentuk digital.

Adrian membalas singkat.

Adrian: Baik. Untuk dokumen yang tidak mendesak, tunda sampai besok.

Beberapa detik kemudian, Daniel kembali mengirim pesan.

Daniel: Baik, Pak. Mohon beristirahat dan jangan membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan lain.

Adrian menatap layar dengan ekspresi datar.

Adrian: Aku sedang beristirahat.

Daniel: Saya harap begitu, Pak.

Adrian meletakkan ponselnya.

Dia menghabiskan air putih, kemudian menyandarkan tubuh ke kepala tempat tidur.

Ruangan terasa begitu sunyi.

Biasanya, waktu seperti ini diisi dengan panggilan telepon, laporan yang harus dibaca, atau jadwal rapat yang menuntut perhatian penuh. Sekarang, dia hanya duduk tanpa melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan.

Awalnya, hal itu terasa aneh.

Namun, setelah beberapa menit, Adrian mulai menikmati ketenangan tersebut.

Dia mengambil buku yang tersimpan di meja samping tempat tidur. Buku itu sudah dibelinya beberapa bulan lalu, tetapi belum pernah selesai dibaca karena kesibukan.

Adrian membuka halaman terakhir yang sempat dibacanya.

Belum sampai sepuluh menit, kepalanya kembali terasa berat. Dia meletakkan buku itu dan memejamkan mata.

Tubuhnya masih membutuhkan istirahat.

Akhirnya, dia memutuskan untuk tidur sebentar.

---

Menjelang siang, Alisha mendapat pesan dari Adrian ketika sedang beristirahat di ruang belakang toko.

Adrian: Kamu pulang jam berapa hari ini?

Alisha mengernyit membaca pesan tersebut.

Dia membalas setelah beberapa saat.

Alisha: Seperti biasa. Kenapa?

Adrian: Tidak ada. Aku hanya bertanya.

Alisha menatap layar ponsel dengan ekspresi heran.

Beberapa hari terakhir, Adrian memang mulai lebih sering menanyakan jadwalnya. Namun, dia tidak melihat alasan untuk memikirkannya terlalu jauh.

Alisha: Kalau ada perubahan, nanti aku kabari.

Setelah mengirim pesan itu, dia kembali menyimpan ponselnya.

Rani yang duduk di sampingnya melirik sekilas.

“Dari Adrian?”

Alisha mengangguk.

“Dia bertanya kapan aku pulang.”

Rani mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Katanya hanya bertanya.”

Mira yang baru datang membawa minuman ikut mendengar percakapan mereka.

“Mungkin dia bosan di rumah sendirian.”

Alisha mengangkat bahu.

“Bisa jadi.”

Dia tidak merasa perlu mencari tahu alasan Adrian mengirim pesan tersebut. Jika pria itu memang membutuhkan sesuatu, dia tentu akan mengatakannya secara langsung.

Setelah waktu istirahat selesai, Alisha kembali bekerja.

---

Sementara itu, Adrian terbangun dari tidurnya ketika matahari sudah berada cukup tinggi.

Kepalanya terasa sedikit lebih ringan dibandingkan pagi tadi, meskipun tubuhnya masih lemas.

Dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Ketika keluar, dia mendapati ponselnya menyala dengan beberapa pemberitahuan dari perusahaan.

Refleks, dia hendak membuka salah satu dokumen yang dikirim Daniel.

Namun, dia teringat pesan asistennya.

Jangan membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan lain.

Adrian menghela napas, lalu meletakkan kembali ponselnya.

“Sekali-sekali tidak bekerja seharian ternyata tidak mudah,” gumamnya.

Dia turun ke lantai bawah dan menuju dapur untuk mengambil air minum.

Di meja makan, terdapat catatan kecil berisi beberapa hal yang harus dibeli Alisha setelah pulang kerja. Di sampingnya ada daftar jadwal kontrol Ratih yang pernah dilihat Adrian sebelumnya.

Adrian tidak berniat membaca catatan pribadi itu. Dia hanya sempat melihat tanggal kunjungan rumah sakit yang tertulis di bagian atas.

Dia teringat bahwa jadwal tersebut semakin dekat.

Tanpa berpikir panjang, Adrian mengambil ponsel dan membuka kalendernya sendiri.

Hari itu tidak ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan. Besok, dia juga bisa meminta Daniel mengatur ulang sebagian jadwal jika diperlukan.

Adrian memikirkan hal itu beberapa saat.

Namun, dia belum menghubungi Alisha.

Perempuan itu sudah mengatakan bahwa dirinya bisa mengatur jadwal kerja sendiri. Adrian tidak ingin menawarkan bantuan secara berlebihan, apalagi jika Alisha memang tidak membutuhkannya.

Dia kembali menyimpan ponsel.

---

Sore harinya, kondisi Adrian mulai membaik meskipun rasa lelah belum sepenuhnya hilang.

Dia duduk di ruang tengah ketika mendengar suara pintu depan terbuka.

Alisha pulang sambil membawa dua kantong belanjaan.

“Sudah pulang?” tanya Adrian.

Alisha menoleh.

“Iya. Aku baru saja membeli beberapa kebutuhan dapur.”

Dia meletakkan kantong belanjaan di meja.

“Kamu sudah makan siang?”

“Sudah.”

“Bagus.”

Alisha mulai mengeluarkan barang-barang dari kantong.

Adrian memperhatikannya selama beberapa saat sebelum berdiri.

“Ada yang bisa kubantu?”

Alisha menoleh dengan ekspresi heran.

“Kamu mau membantu?”

“Aku bertanya, bukan menawarkan diri untuk menjadi pegawai dapur.”

Alisha tertawa kecil.

“Kalau begitu, tolong simpan buah-buahan itu di lemari pendingin.”

Adrian mengambil kantong berisi buah.

“Di bagian mana?”

“Rak bawah. Jangan ditumpuk dengan sayuran.”

Adrian membuka lemari pendingin dan mengikuti instruksinya.

Ketika selesai, dia kembali ke dapur.

“Sudah.”

“Terima kasih.”

Alisha melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam. Adrian sempat berdiri di dekat meja, memperhatikan bagaimana perempuan itu memisahkan bahan makanan dan menyiapkan bumbu.

“Kamu selalu memasak sendiri?” tanyanya.

“Tidak selalu. Kadang aku membeli makanan di luar kalau sedang terlalu lelah.”

“Kenapa tidak memesan makanan saja?”

Alisha menoleh.

“Karena memasak sendiri lebih hemat. Lagipula, aku suka memasak kalau sedang punya waktu.”

Adrian mengangguk pelan.

Dia tidak pernah benar-benar memikirkan alasan seseorang memilih memasak sendiri. Selama ini, makanan di rumahnya selalu tersedia tanpa perlu dia tanyakan bagaimana prosesnya.

“Kalau kamu?” tanya Alisha.

“Apa?”

“Kalau sedang tidak sibuk, kamu suka melakukan apa?”

Adrian tampak berpikir.

“Tidak banyak.”

“Tidak punya hobi?”

“Aku membaca laporan perusahaan.”

Alisha berhenti mengaduk masakan dan menatapnya.

“Itu bukan hobi, Adrian. Itu pekerjaan.”

Adrian terdiam.

Alisha menggeleng kecil.

“Pantas saja kamu mudah kelelahan. Bahkan saat tidak bekerja pun, kamu masih memikirkan pekerjaan.”

“Aku tidak selalu begitu.”

“Kalau begitu, sebutkan satu hal yang kamu lakukan untuk bersenang-senang.”

Adrian tidak segera menjawab.

Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu hanya karena menyukainya, bukan karena ada urusan perusahaan yang harus diselesaikan.

Anehnya, dia membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan jawaban.

Alisha memperhatikan ekspresinya.

“Tidak perlu dijawab sekarang. Pikirkan saja dulu.”

Adrian menatapnya.

“Kamu sedang menyindirku?”

“Tidak. Aku sedang menyampaikan fakta.”

Alisha kembali memasak, meninggalkan Adrian dengan pikirannya sendiri.

Untuk pertama kalinya, dia mulai menyadari betapa sedikit waktu yang selama ini dia sisihkan untuk dirinya sendiri.

---

Malam itu, mereka makan bersama di ruang makan.

Adrian terlihat lebih segar daripada ketika pulang dari kantor sehari sebelumnya. Dia bahkan menghabiskan makan malamnya tanpa harus dipaksa Alisha.

Setelah selesai, Adrian membawa piringnya ke dapur.

Alisha menatapnya.

“Kamu mau mencuci piring juga?”

“Aku hanya membawa piringku sendiri.”

“Biasanya kamu meninggalkannya di meja.”

“Biasanya aku juga tidak sedang berada dalam kondisi yang mengharuskanku beristirahat seharian.”

Alisha tersenyum tipis.

“Setidaknya ada manfaatnya kamu sakit.”

Adrian menoleh cepat.

“Kamu senang aku sakit?”

“Bukan begitu! Maksudku, kamu jadi belajar melakukan pekerjaan rumah.”

Adrian tertawa kecil.

Alisha tidak menyangka pria itu akan tertawa hanya karena perkataan sederhana. Namun, dia tidak mempermasalahkannya.

“Sudahlah. Taruh saja di sana. Aku yang akan mencucinya.”

“Aku bisa membantu.”

“Kamu masih harus beristirahat.”

“Aku sudah lebih baik.”

Alisha memperhatikan wajahnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Kamu bisa membantu mengeringkan piring.”

Adrian mengambil kain bersih yang diberikan Alisha.

Mereka berdiri berdampingan di depan meja dapur. Alisha mencuci piring, sementara Adrian mengeringkannya sebelum meletakkannya di rak.

Tidak banyak percakapan di antara mereka. Sesekali, Alisha memberikan piring berikutnya, dan Adrian menerimanya tanpa banyak komentar.

Pekerjaan itu selesai lebih cepat daripada yang diperkirakan.

“Terima kasih,” kata Alisha sambil meletakkan spons di tempatnya.

Adrian menggantungkan kain lap.

“Tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti ini.”

“Kalau begitu, lain kali aku akan menyuruhmu membantu lagi.”

Adrian meliriknya.

“Jangan terlalu bersemangat.”

Alisha tertawa kecil sebelum meninggalkan dapur.

Adrian tetap berdiri selama beberapa detik, memandang meja yang sudah bersih.

Kegiatan sederhana itu tidak melelahkan. Bahkan, ada sesuatu yang menyenangkan dari melakukan pekerjaan tanpa harus memikirkan angka, laporan, atau keputusan besar.

Dia tidak pernah menyangka bahwa menghabiskan waktu di dapur bersama Alisha bisa terasa senyaman itu.

Namun, dia segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa mereka hanya sedang menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pasangan yang tinggal di rumah yang sama.

Tidak ada alasan untuk memberikan arti berlebihan pada hal tersebut.

---

Sebelum tidur, Alisha kembali memeriksa jadwal kunjungan rumah sakit untuk ibunya.

Dia memastikan semua dokumen yang diperlukan sudah dimasukkan ke dalam tas. Setelah itu, dia mengirim pesan kepada Ratih untuk mengabarkan bahwa dirinya akan datang sesuai jadwal.

Selesai mengirim pesan, Alisha meletakkan ponselnya.

Dia teringat bahwa kondisi Adrian tampak sedikit lebih baik sore tadi.

Semoga saja pria itu benar-benar beristirahat dan tidak kembali memaksakan diri bekerja.

Pikiran itu hanya muncul sebentar sebelum dia mematikan lampu.

Di kamar sebelah, Adrian baru saja selesai membaca beberapa halaman buku yang tadi diambilnya.

Kepalanya sudah tidak terlalu berat, tetapi dia tetap mengikuti anjuran dokter untuk tidur lebih awal.

Dia meletakkan buku di meja, lalu memandang layar ponselnya yang menampilkan pesan terakhir dari Alisha.

Tidak ada pesan baru malam itu.

Adrian tidak tahu mengapa dia sempat berharap perempuan itu mengirimkan sesuatu, meskipun dia sendiri tidak memiliki hal penting untuk dibicarakan.

Dia akhirnya meletakkan ponselnya dan berbaring.

Mungkin dia hanya sudah terbiasa bertukar pesan dengan Alisha.

Besok, semuanya akan kembali seperti biasa. Dia akan bekerja, Alisha akan pergi ke toko roti, dan mereka akan menjalani kesibukan masing-masing.

Namun, ada satu hal kecil yang berubah dalam dirinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian tidak merasa terganggu ketika harus berhenti bekerja dan menghabiskan waktu di rumah.

Dan tanpa disadarinya, salah satu alasan rumah itu terasa lebih nyaman adalah perempuan yang kini tinggal di kamar sebelahnya.

Sementara itu, Alisha tetap memandang pernikahan mereka sebagai kesepakatan yang harus dijalani dengan baik sampai waktunya berakhir.

Dia belum memikirkan cinta.

Belum juga memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari nanti, kehidupan mereka yang sederhana ini bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Untuk sekarang, mereka hanya dua orang yang perlahan mulai terbiasa dengan keberadaan satu sama lain.

Dan terkadang, perubahan terbesar memang dimulai dari hal-hal yang tampak paling sederhana.

1
katya
Good luck with your novel, it's quite an interesting novel.👍
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
katya
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!