Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Suasana di dalam apartemen pribadi Arsen yang terletak di lantai paling atas kawasan Menteng terasa sangat hangat dan privat. Jendela kaca raksasa di ruang tamu menampilkan lanskap malam kota Jakarta yang berpijar bagaikan hamparan permata intan dari ketinggian. Lampu-lampu warm white yang temaram menghiasi sudut ruangan, berpadu sempurna dengan alunan musik jazz instrumental yang mengalun lembut dari pengeras suara nirkabel di sudut ruangan.
Nesa duduk bersandar di sofa beludru abu-abu berukuran besar, mengenakan mantel rajut tebal milik Arsen yang sengaja dipinjamkan karena pendingin ruangan terasa terlalu dingin. Di pangkuannya, sebuah buku catatan desain NesAura tergeletak terbuka, meski matanya sejak sepuluh menit lalu sudah tidak lagi fokus membaca deretan angka atau sketsa produk. Pikirannya melayang pada kejadian sore hingga malam ini bagaimana Arsen, seorang musisi muda berbakat yang digilai jutaan penggemar, memperlakukannya dengan tingkat kesabaran dan kelembutan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Cklek.
Pintu dapur kecil terbuka, dan Arsen melangkah keluar membawa nampan kecil berisi dua cangkir cokelat panas mengepul yang ditaburi bubuk kayu manis di atasnya, serta sepiring kue kering buatan chef pribadi yang dihangatkan sebentar. Pemuda itu mengenakan kaos polos putih longgar dan celana sweatpants abu-abu penampilan santai rumahan yang membuat pesona mudanya justru terlihat berkali-kali lipat lebih memikat dibandingkan saat ia berdiri di atas panggung konser berbalit jas formal.
Arsen berjalan mendekat, lalu duduk tepat di samping Nesa di atas sofa yang sama. Aroma maskulin yang bersih berpadu dengan wangi cokelat manis langsung menguar lembut di udara.
"Hei, CEO galak. Jangan bilang kalau malam ini kamu masih kepikiran target penjualan produk bulan depan?" suara bariton Arsen terdengar renyah, diselingi tawa kecil yang hangat. Ia meletakkan nampan di atas meja kopi kayu di hadapan mereka.
Nesa mengerjap pelan, lalu mendongak menatap pemuda di sampingnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Aku tidak sedang mikirin target penjualan, Arsen. Aku cuma... lagi mikirin kamu."
Mendengar pengakuan jujur itu, mata Arsen melebar sesaat, lalu binar terang langsung terpancar di manik matanya. Senyuman lebar yang amat manis merekah di bibirnya. "Wah, seorang Ratu Nes yang biasanya dingin dan tegas tiba-tiba ngaku lagi mikirin aku? Ini rekor baru. Biasanya kamu paling gengsi kalau disuruh muji aku."
Nesa mendengus pelan, meski rona merah tipis tanpa sadar merayap di kedua pipinya. "Siapa juga yang memujimu? Aku cuma heran saja... umurmu kan jauh di bawahku, tapi kenapa cara pemikiranmu terkadang malah kelihatan jauh lebih tua dan kolot dibanding aku?."
Arsen tertawa renyah. Ia meraih salah satu cangkir cokelat panas, lalu menyerahkannya kepada Nesa dengan hati-hati. "Umur itu cuma deretan angka di KTP, Nesa. Kedewasaan seseorang itu diukur dari seberapa besar rasa tanggung jawabnya buat ngelindungin orang yang ada di pelukannya. Lagian..." Arsen mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Nesa dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius namun penuh canda. "...kamu lebih suka punya pacar yang umurnya tua tapi kekanak-kanakan dan hobi nyari masalah kayak mantan suamimu dulu, atau punya pacar brondong tapi bucin parah dan siap siaga 24 jam buat manjain kamu?."
Blush.
Rona merah di pipi Nesa mendadak semakin menjadi. Ia buru-buru meneguk cokelat panasnya untuk menutupi rasa salah tingkah yang tiba-tiba menyerang dadanya. Kalimat blak-blakan khas anak muda zaman sekarang yang diucapkan Arsen dengan nada santai itu selalu sukses membuat pertahanan diri Nesa yang terkenal kaku runtuh seketika.
"Kamu ini ya... hobi banget mancing-mancing," gerutu Nesa pelan, mencoba memasang wajah galak meski gagal total karena senyuman di bibirnya tidak bisa disembunyikan.
Arsen terkekeh gemas. Ia mengambil posisi duduk yang lebih dekat, merapatkan bahunya ke bahu Nesa, lalu merangkul pinggang wanita itu dengan lembut. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan; sentuhan itu mengalir begitu natural, memberikan rasa nyaman yang luar biasa di rongga dada Nesa.
"Aku serius, Nesa," bisik Arsen lembut, suaranya berubah menjadi sangat hangat dan menghanyutkan di tengah temaram lampu malam. Ia menatap jemari Nesa yang memegang cangkir. "Aku tahu, jarak usia kita sempat bikin kamu ragu di awal. Kamu seorang perempuan mapan, CEO sukses, punya nama besar, sementara aku cuma musisi yang dunianya kelihatan bebas dan nggak beraturan di mata orang luar. Kamu pasti mikir, 'buat apa aku pacaran sama brondong yang masih suka bikin lagu galau?."
Nesa terdiam. Apa yang diucapkan Arsen memang sempat terlintas di kepalanya pada minggu-minggu awal kedekatan mereka. Sebagai wanita yang pernah terluka parah akibat pengkhianatan pria seumuran yang dianggap matang (Dika), Nesa sempat merasa skeptis apakah pemuda yang jauh lebih muda darinya bisa diandalkan dalam hubungan jangka panjang.
Namun, waktu membuktikan segalanya.
"Tapi..." lanjut Arsen sambil mengangkat tangannya, perlahan mengambil cangkir dari tangan Nesa dan meletakkannya kembali ke atas meja, lalu menggenggam kedua jemari Nesa erat-erat di dalam genggaman tangannya yang hangat. "...aku mau membuktikan ke kamu, Nesa. Umur boleh beda beberapa tahun, tapi urusan cinta, keseriusan, dan niat buat melangkah ke masa depan bareng kamu, aku nggak pernah main-main. Aku pengen jadi tempat kamu bersandar waktu dunia luar lagi nggak bersahabat sama kamu. Aku pengen jadi alasan kenapa kamu bisa tidur nyenyak tanpa rasa cemas."
Kata-kata itu meluncur begitu tulus, dibalut dengan binar mata seorang lelaki muda yang menyiratkan cinta mutlak tanpa syarat.
Nesa merasakan tenggorokannya mendadak keluh. Selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan keluarga yang menuntut kesempurnaan, lalu terjebak dalam pernikahan penuh kepalsuan dengan Dika di mana ia harus selalu tampil kuat dan sempurna, tidak pernah ada satu pun lelaki yang memintanya untuk beristirahat dan bersandar. Dan ironisnya, penawaran tulus itu justru datang dari seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda darinya seorang brondong yang di mata orang lain mungkin dianggap belum cukup matang, namun justru memiliki ketulusan paling besar yang pernah ia temui.
"Arsen..." cicit Nesa pelan, suaranya sedikit bergetar menahan haru.
"Hmm? Kenapa, Ratu Nes?" jawab Arsen lembut, mendekatkan wajahnya perlahan sambil tersenyum manis.
"Kamu belajar merayu perempuan seperti ini dari mana, sih? Kenapa gombalanmu selalu berhasil bikin aku kalah telak?" protes Nesa setengah berbisik, meski bibirnya sendiri tidak bisa berhenti melengkung membentuk senyuman paling bahagia.
Arsen terbahak keras, suara tawanya memecah keheningan malam apartemen yang romantis itu. Ia merengkuh tubuh Nesa semakin erat, membawa kepala wanita itu bersandar pas di lekukan bahunya.
"Aku nggak perlu belajar merayu, Nesa. Semua kata-kata itu keluar begitu saja karena itu yang kurasakan tiap kali aku lihat kamu," balas Arsen tulus, lalu mengecup puncak kepala Nesa dengan penuh kelembutan.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam dekap hangat yang menenangkan. Tidak ada lagi obrolan berat tentang korporat, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam, dan tidak ada lagi rasa cemas menghadapi opini publik. Di dalam apartemen sederhana itu, di bawah perlindungan sang brondong yang teramat bucin, Nesa akhirnya menemukan definisi rumah yang sesungguhnya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri dicintai, dimanja dan dijaga sepenuh hati.