Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Makan Malam Keluarga Prasetya (Revisi)
“Mbak Raras, ini Dimas. Maaf, malam-malam.”
Raras berdiri di teras belakang dalem dengan ponsel menempel di telinga. Di bawah kamboja, kelopak putih berserak di batu pipih, dan dari pendapa jam dinding berdentang sepuluh kali.
“Mas Dimas. Nomor Mas masih sama.”
“Aku sengaja tidak mengganti nomor, supaya Mbak tetap bisa menghubungiku.” Suaranya rendah, terpantul dinding kaca mobil. “Aku tidak lama. Aku menelepon dari depan rumah Bapak.”
“Ada apa, Mas?”
“Soal kas. Danang memakai seratus enam puluh juta dari kas operasional untuk membeli stok spot.”
“Saya sudah tahu.”
Dimas diam sebentar. Ia tidak bertanya dari siapa.
“Tadi saat makan malam, Bapak bertanya berapa sisa kas hari ini. Danang menjawab cukup, padahal Bapak sudah tahu uangnya dipakai.”
“Lalu?”
“Danang bilang uang itu hanya dipinjam dan akan dikembalikan besok.”
“Dia selalu bilang besok.”
“Bapak juga marah karena Pak Joko menelepon sore tadi. Danang bilang pemasoknya terlambat karena antrean. Padahal Pak Joko sudah menghubungi pemasok itu sendiri. Mereka bilang tidak ada masalah.”
“Kami hanya menjawab pertanyaan, Mas.”
“Kami.” Dimas mengulang kata itu. “Mulai besok, Bapak akan menghubungi Pak Hartono sendiri.”
Raras menggigit bibir. Ia baru sadar telah menyebut dirinya dan Pak Hadi sebagai satu pihak.
“Aku tidak menangkap apa-apa,” kata Dimas. “Lanjut?”
“Lanjut, Mas.”
“Bapak mengambil alih kas. Mulai sekarang, semua pengeluaran di atas sepuluh juta harus mendapat persetujuannya. Danang setuju.”
“Dia tidak membantah?”
“Tidak. Bapak bilang Danang butuh istri yang bisa membawa nama keluarga. Danang diam. Bapak juga bilang ayah Mbak hanya petani dari kampung. Dia tetap diam.”
Raras mengusap kelopak kamboja yang menempel di pagar.
“Ayah saya memang petani, Mas.”
“Aku tahu. Aku menunggu Danang membela Mbak, tapi sampai makan malam selesai, dia tidak mengatakan apa-apa.”
“Soal kalimat di halaman dua?”
“Bapak menolak mengubahnya. Danang tidak membantah.” Dimas menarik napas. “Aku hanya menyampaikan apa yang kudengar.”
“Terima kasih sudah jujur, Mas. Sekarang saya tahu apa yang terjadi di sana.”
“Ibu juga hampir keceplosan. Dia bilang, dulu kalau ada masalah seperti ini, Raras selalu membantu. Lalu dia berhenti bicara.”
Raras memejamkan mata. Ia tahu kelanjutan kalimat itu, dan Marlina pun tahu.
“Mas Danang sudah makan?” tanyanya sebelum sempat menahan diri.
“Dia menghabiskan lodeh tanpa bicara.”
“Dia tidak suka lodeh manis.”
“Dia tidak bilang apa-apa. Lodeh itu dimasak Niken sore tadi di dapur Ibu.” Dimas berhenti. “Ibu bilang Niken sudah menunggu enam bulan. Bapak bilang Niken boleh duduk di meja makan setelah surat cerai selesai.”
“Mas tidak perlu menceritakan itu.”
“Aku pikir Mbak perlu tahu semuanya.”
“Saya memang perlu tahu, Mas. Tapi tidak malam ini.” Raras menelan ludah. “Lanjutkan yang lain.”
“Baik.” Dimas menarik napas. “Aku mau tanya satu hal. Mbak boleh tidak menjawab. Apa Mbak yang menahan pesanan Danang?”
“Saya tidak menahan pesanan apa pun. Pesanan Mas Danang tetap dilayani sesuai antrean, sama seperti pembeli lain.”
“Jadi sekarang dia diperlakukan sama seperti pembeli lain.”
Raras tidak menjawab. Di bawah kamboja, kelopak jatuh lagi.
“Mas bertanya sebagai siapa?”
“Sebagai kakaknya. Aku tidak mau Danang membuat masalah yang lebih besar. Aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kalau begitu, cari tahu semuanya, Mas. Jangan hanya sebagian.”
“Aku sedang mencari tahu.” Ada senyum tipis dalam suaranya. “Pak Wiryo juga meminta Danang membayar tunai mulai besok. Kasir gudang mengirim pesan saat kami selesai makan. Wajah Danang langsung berubah.”
“Tenggang tiga puluh hari hanya berlaku untuk pembeli yang punya jaminan bank. Mas Danang tidak punya jaminan.”
“Berarti dia harus membayar tunai.”
“Itu syarat umum untuk pembeli tanpa jaminan.”
“Kalau dia tidak punya uang tunai?”
“Itu urusan Mas Danang.”
Dimas tertawa pendek. “Mbak sekarang bicara terus terang.”
“Saya sudah terlalu lama diam, Mas.”
“Maaf.”
“Mas tidak perlu minta maaf.”
“Ada satu hal lagi. Bapak menyuruh orang mencari tahu siapa Pak Hadi besok pagi. Aku tidak tahu siapa yang akan datang. Aku memberi tahu Mbak supaya Mbak bisa bersiap.”
Raras menggenggam pagar teras dengan tangan kirinya.
“Saya tidak menyembunyikan apa pun tentang Pak Hadi, Mas. Saya hanya belum menceritakannya.”
“Itu yang kupikir.”
“Kenapa Mas memberi tahu saya?”
“Karena tadi tidak ada yang membela Mbak saat Bapak menghina keluarga Mbak di meja makan.” Dimas terdiam sebentar. “Aku tidak sedang membela siapa pun. Tapi aku tidak setuju dengan cara Bapak memperlakukan Mbak.”
“Terima kasih, Mas.”
“Jaga tanganmu.”
Sambungan putus. Raras masih memegang ponsel ketika langkah sandal kulit yang ia kenal terdengar dari pendapa.
“Siapa?” tanya Aditya dari ambang pintu.
“Dimas, Pak. Kakaknya Mas Danang.”
“Yang bilang kamu harus didengar?”
“Inggih.”
“Dia menelepon malam-malam. Pasti ada kabar penting.”
“Pak Surya menyuruh orang mencari tahu siapa Pak Hadi. Besok pagi.”
Aditya berjalan ke sisinya, bersandar pada pagar teras dengan tangan di saku sarung. Ia tidak terkejut.
“Biarkan saja.”
“Dimas juga bilang Bapak menyebut keluarga kita orang kampung.”
“Memang kita tinggal di kampung.” Aditya tersenyum tipis. “Bapak tidak malu jadi petani. Bapak tahu cara menimbang gabah dan tahu kalau ada orang yang mengurangi timbangannya.”
“Bapak tidak khawatir?”
“Pintu rumah ini tidak pernah kita kunci, Nduk. Ojo wedi (jangan takut). Kalau mereka ingin bertanya, biarkan mereka datang.” Ia menoleh. “Kamu khawatir?”
“Raras mual dari sore, Pak.” Ia mencoba tertawa dan gagal. “Tadi Raras hampir menelepon Mas Danang untuk mengingatkannya makan.”
“Nduk.”
“Raras tidak jadi menelepon.”
“Tidak salah kalau kamu masih mengkhawatirkannya. Tapi jangan terus menyelesaikan masalahnya.”
“Iya, Pak.” Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. “Raras kesal karena masih ingin menolongnya. Tadi pagi Raras memasak pindang tulang tanpa sadar. Hari Kamis.”
“Enak?”
“Terlalu enak.”
Aditya terkekeh. “Memasak bukan dosa.”
“Raras kejam, Pak? Raras menyuruh Pak Hadi menjawab Pak Joko dengan jujur. Pak Hartono pasti tahu Mas Danang berbohong.”
“Kamu hanya menjawab pertanyaan. Kamu tidak mengarang cerita untuk menjatuhkannya.” Aditya menatap kamboja itu. “Sabtu kita ke Magelang. Kamu perlu melihat tanah.”
“Sabtu itu batas waktu tanda tangan, Pak.”
“Kalau mereka ingin tanda tanganmu, suruh mereka datang ke sini. Kamu tidak perlu mendatangi mereka.”
Mbok Jinem muncul membawa nampan, matanya menyipit menatap wajah Raras.
“Ndoro nangis?”
“Tidak, Mbok.”
“Mripate abang (matanya merah).” Ia meletakkan gelas di tangan Raras tanpa menunggu bantahan. “Wedang jahenipun, Ndoro. Naliko ngeten, kedah anget (waktu begini, harus hangat).”
“Matur nuwun, Mbok.”
“Eyang tindak sare dereng, Pak (Eyang sudah tidur belum, Pak)?” tanya Mbok Jinem pada Aditya.
“Dereng. Beliau masih di pendapa, mendengarkan jam.”
Raras menerima gelas itu dengan tangan kiri. Uapnya menyentuh dagunya, tetapi ia tidak merasa lebih lega. Ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya.
Raras, Ibu tunggu sampai Sabtu. Setelah itu bukan lagi urusan keluarga. Pengacara yang bicara.
“Dari siapa?” tanya Aditya.
“Ibu Marlina, Pak.” Raras membacakan pesan itu. “Dia bilang, kalau sampai Sabtu saya belum tanda tangan, selanjutnya pengacara yang menangani.”
“Kalau begitu, kita juga perlu pengacara.”
“Pak Surya yang memilih pengacara Mas Danang, Pak.”
“Bapak kenal advokat di Yogya. Kita bisa minta dia memeriksa surat-suratmu.” Aditya menepuk bahunya. “Kamu tidak sendirian, Nduk. Catat semua kejadian dan simpan pesannya.”
Raras menaruh gelas dan mengambil buku catatan hitam yang ia beli Rabu siang dari saku kebayanya.
“Mrene, Nduk (sini, Nduk),” panggil Eyang dari dalam pendapa. Tongkatnya mengetuk lantai satu kali. “Sing nelpon kakange Danang (yang menelepon kakaknya Danang)?”
“Inggih, Eyang.”
“Wong sing ora melu nginjak. Eling-elingen jenenge (orang yang tidak ikut menginjak. Ingat-ingat namanya).” Eyang menatap buku di tangannya. “Kowe nulis opo (kamu menulis apa)?”
“Tanggal dan jam, Eyang. Supaya Raras ingat apa yang terjadi.”
“Apik. Lan kowe wis mangan (bagus. Dan kamu sudah makan)?”
“Sampun, Eyang. Pindang.”
Eyang mendengus. “Sabtu aku melu menyang Magelang (Sabtu aku ikut ke Magelang).”
Raras menulis dengan tangan kiri: Kamis, 22.14. Dimas menelepon. Wiryo tunai. Surya menyuruh cari Hadi. Marlina: pengacara, Sabtu.
Lalu ia membalas pesan itu dengan jempol kiri: Baik, Bu. Sabtu Raras jawab, dengan kalimat yang benar.
Pesan itu terkirim tanpa ragu. Tangannya tidak gemetar.
Aditya tetap berdiri di sampingnya saat ia menutup buku catatan. Raras tahu Sabtu nanti mereka akan kembali menuntut tanda tangannya. Kali ini, ia tidak akan datang tanpa persiapan. Ia akan membawa surat-surat yang sudah diperiksa, catatan yang lengkap, dan keputusannya sendiri.
Sebelum masuk, Raras memeriksa kembali pesan Marlina dan menyimpan tangkapan layarnya. Ia mencatat waktu pesan itu diterima, lalu menuliskan satu kalimat di bawah catatan sebelumnya: Jangan tanda tangan sebelum semua kalimat diperiksa. Setelah itu, ia menutup buku dan memasukkannya ke saku kebaya. Malam ini, setidaknya, ia tahu apa yang harus dilakukan besok.
lanjuut
🙏💪