Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
POV: Amelia
Dua minggu kemudian, aku kembali ke lokasi syuting untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dan tanganku gemetar seperti di hari pertama hidupku.
Studionya di Kebon Jeruk. "Mawar dan Peluru", jam tayang utama, dan aku memerankan tokoh utama, perempuan yang jatuh cinta pada pewaris keluarga berbahaya. Ironinya tak luput dariku, dan aku bahkan belum tahu sebesar apa ironi itu.
"Posisi untuk syuting," teriak asisten sutradara. "Tenang di lokasi. Adegan Mawar dan Peluru, take satu."
Sang sutradara menghampiriku lebih dulu, meletakkan tangan di bahuku.
"Tarik napas, Amelia. Kamu bagus. Selalu bagus. Hanya sudah lama kamu lupa itu, dan dunia juga. Hari ini semua orang akan ingat."
"Bagaimana kalau aku lupa caranya?"
"Tidak ada yang lupa. Seperti naik sepeda, hanya saja dengan hati yang terbuka."
Kami mulai. Dan begitu papan clapperboard dipukul, terjadi sesuatu yang sudah kulupa pernah ada. Dunia lenyap, takut lenyap, Arga lenyap, dan yang tersisa hanya tokoh itu, hanya adegan itu. Ketika sutradara berseru "cut, bagus sekali", mataku sudah penuh air, dan bukan karena tokohnya.
"Selamat datang kembali," katanya.
Di jeda, di ruang rias, aku menyadari sesuatu yang selama ini mengusikku. Semua pintu yang di Jakarta tertutup bagiku, di sini terbuka sendiri. Undangan datang tiba-tiba. Agensi-agensi yang dulu melepasku menelepon lagi, didorong angin yang tak kulihat. Terlalu bagus, dan hal baik yang terlalu bagus membuatku curiga, karena aku sudah belajar dengan cara terburuk bahwa setiap pintu ada tangan di baliknya.
Seorang gadis mengetuk bingkai pintu ruang rias, tersenyum, memegang papan catatan.
"Mbak Amelia, hai! Aku Rena, dari tim humas produksi. Aku akan mendampingi Mbak minggu-minggu awal ini. Apa pun yang Mbak butuh, aku di sini." Dia duduk tanpa diminta, menyilang kaki. "Gimana rasanya kembali? Pasti berat ya selama bersama Arga. Semua itu... kami sudah baca. Pasti banyak yang ingin Mbak curahkan."
"Kita bekerja, Rena. Tidak membahas kehidupan pribadiku."
"Oh, tentu, tentu." Dia tertawa, tapi matanya mencari sesuatu, bergerak ke seluruh ruang rias, ke tasku, ke aku. "Soalnya, untuk melindungi Mbak dari media, aku perlu tahu apa yang bisa terungkap. Misalnya, entahlah, kesehatan, hal-hal begitu. Mbak agak pucat. Katanya sering mual."
"Katanya siapa?"
"Ah, omongan di lokasi." Dia mengangkat bahu, terlalu cepat. "Mbak baik-baik saja?"
"Aku baik. Terima kasih."
Dia pergi, meninggalkan perasaan tak enak di udara, jenis yang tak bisa dinamai tapi dikenali tubuh. Kututup tasku dan kuletakkan di bawah meja rias, tempat tak terjangkau siapa pun.
Saat itulah aku melihatnya, di seberang lorong. Fariz. Berjas, tanpa dasi, bicara dengan salah satu produser seolah dia pemilik tempat itu, dan dalam arti tertentu memang begitu. Dia muncul sebagai "mitra grup yang ikut memproduksi", dan tak ada yang bertanya. Mata kami bertemu dan dia berjalan ke arahku.
"Aku tidak tahu kamu akan ada di sini," kataku.
"Aurora ikut memproduksi. Aku datang melihat perkembangannya." Dia menatapku terlalu cermat, melewati wajahku dan memperhatikan hal-hal yang tak diperhatikan orang lain. "Kamu sudah makan hari ini?"
"Fariz."
"Sudah?"
"Sudah. Sedikit. Sepotong roti isi keju pagi tadi."
"Itu bukan makan." Dia memberi isyarat halus dan dalam waktu kurang dari semenit seorang asisten muncul dengan kursi lebih nyaman, sebotol air, dan nampan buah. Dia tak mengatakan apa-apa. Hanya merawat, dengan caranya yang diam, lalu kembali bicara dengan produser seakan tak terjadi apa-apa.
Mualku datang di adegan ketiga. Tiba-tiba lantai studio berputar, lampu-lampu terlalu terang, dan aku harus berpegangan pada panel supaya tak jatuh. Sutradara menyuruh berhenti. Seseorang membawa kursi. Dari ruang rias, diam-diam, dengan pintu tertutup, kutelepon dr. Bella.
"Ibu memaksakan diri terlalu banyak," katanya tegas dari seberang. "Kehamilan kembar saja sudah berisiko, dan kehamilan Ibu, setelah semua yang Ibu lalui, berisiko sangat tinggi. Saya perlu Ibu mengurangi. Istirahat relatif. Jam syuting dikurangi. Saya serius, Bu Amelia."
"Aku tidak bisa berhenti sekarang, Dok. Aku baru kembali. Kalau aku menghilang lagi, hilang selamanya."
"Ibu bisa memilih antara karier sekarang atau karier dan bayi-bayi itu nanti. Itu pilihan Ibu, dan itu pilihan sungguhan, bukan ancaman."
Kututup telepon dengan hati sesak. Karier yang baru kuraih kembali, dan tubuhku menagih harganya. Dua hal yang kucintai, menarik ke arah berlawanan, dan aku di tengah, berusaha agar tidak sobek.
Ketika kembali ke ruang rias di akhir hari, ada karangan bunga di atas meja. Mawar putih. Tanpa kartu.
Aku tahu dari siapa. Tak ada orang lain yang mengirim bunga tanpa tanda tangan, takut aku menolak kalau tahu asalnya. Kuambil satu tangkai dan kuhirup, dan sesaat aku bukan lagi perempuan ketakutan dan lelah, hanya seorang perempuan yang menerima bunga dari seseorang yang menyukainya.
Saat itulah kulihat, lewat cermin, Rena berdiri di pintu di ujung lorong, ponsel terangkat ke arahku. Dia memotret cepat, menurunkan ponselnya, dan menghilang di lorong sebelum sempat kutoleh.
Kupandangi lorong kosong itu, mawar putih di tangan, dan sesuatu yang dingin merayap di tengkukku.
Seseorang memotretku di saat paling rapuhku. Dan aku tak tahu foto itu dikirim ke siapa. Tapi aku punya dugaan. Dan dugaan itu berwajah senyum Bu Ratna.
Kujepit tasku erat di bawah lengan, alat tes dan USG di dalamnya, dan berjanji pada diri sendiri. Bahwa mulai sekarang aku akan memperhatikan segalanya. Wajah-wajah baru, keramahan yang terlalu cepat, pertanyaan yang pura-pura peduli. Seumur hidup aku naif, mengira niat baik itu gratis dan senyum selalu cuma senyum. Dan anak-anakku tidak akan membayar kenaifanku.
Kuambil mawar putih itu, kuhirup untuk terakhir kali, dan keluar dari ruang rias dengan dagu terangkat, aktris bagi diriku sendiri, tanpa membiarkan seorang pun melihat takut di baliknya.