Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pipa besi di tangannya terlepas dan jatuh berdenting ke tanah karena tangannya kelewat lemas untuk menggenggam.
"M-Monster... Ampun bang, ampun..." rintih preman itu perlahan mundur dengan wajah ketakutan luar biasa.
Jarot melangkah maju satu langkah dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.
"Lari yang jauh, jangan sampai aku melihat muka mu lagi di kota ini," usir Jarot dengan nada datar.
Tanpa berpikir dua kali atau menengok ke belakang, preman itu berbalik dan lari terbirit-birit layaknya melihat setan.
Ia benar-benar meninggalkan kedua anak buahnya yang masih terkapar meregang nyawa di taman.
Keheningan malam yang canggung perlahan kembali menyelimuti taman kota yang remang-remang itu.
Jarot mengeluarkan sebungkus rokok baru dari sakunya lalu menyalakannya dengan pemantik api.
Ia kemudian berbalik menatap Nisa yang masih duduk membeku di atas aspal dengan mulut sedikit terbuka.
Wanita pengusaha itu menatap Jarot layaknya melihat dewa penyelamat pelindung yang turun dari langit untuknya.
Nisa baru saja menjadi saksi mata sebuah pertarungan sepihak yang selesai dalam hitungan detik saja.
"Mbak masih bisa berdiri kan?" tanya Jarot memecah keheningan sambil mengepulkan asap.
Nisa gelagapan tersadar dari lamunannya dan buru-buru mengangguk dengan cepat.
"I-Iya saya bisa... Terima kasih banyak, Mas..." jawab Nisa dengan air mata haru yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
Nisa berusaha memaksakan diri untuk berdiri meski kedua kakinya masih terasa sedikit gemetar lemas.
Pesona pria cuek di depannya ini benar-benar membuat jantung Nisa berdebar dengan ritme yang tidak karuan.
Di balik gayanya yang urakan dan pakaiannya yang murahan, pria ini memiliki kharisma pelindung yang sangat kuat.
"Kalau begitu saya permisi dulu, mau cari warung kopi di depan," pamit Jarot berbalik badan hendak pergi.
"Tunggu dulu, Mas!" panggil Nisa refleks menahan ujung baju kaus Jarot dari belakang.
Jarot menoleh perlahan menatap tangan Nisa yang mencengkeram bajunya dengan erat.
"Ada apa lagi, Mbak? Mau minta ganti rugi biaya rumah sakit karena lututnya luka jatuh di deket saya?" canda Jarot asal-asalan.
Nisa menggeleng cepat dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius.
"Mas... Tolong bekerja untuk saya," pinta Nisa menatap lurus ke mata Jarot.
Jarot mengerutkan dahi keheranan mendengar tawaran yang tiba-tiba itu.
"Bekerja? Saya ini pengangguran yang nggak punya ijazah sarjana, Mbak," jawab Jarot jujur.
"Bukan kerja kantoran di perusahaan saya, Mas. Saya ingin Mas menjadi pengawal pribadi keluarga saya," jelas Nisa dengan cepat.
Jarot mendecak pelan seolah merasa sangat direpotkan dengan ide tersebut.
"Pengawal pribadi? Dengar ya Mbak, saya ini tipe orang pemalas yang suka kebebasan," tolak Jarot terang-terangan.
"Saya akan bayar mahal, Mas! Berapa pun angka yang Mas minta akan langsung saya turuti tanpa menawar!" bujuk Nisa tidak mau menyerah.
"Masalahnya bukan cuma di uang, tapi saya nggak suka diatur-atur oleh aturan rumah orang kaya," balas Jarot masih bersikeras.
Nisa tiba-tiba menekuk lututnya lagi hendak berlutut di depan Jarot membuat pria itu terkejut dan menahannya.
"Saya mohon, Mas. Rival bisnis saya sangat kejam dan mereka sekarang mulai mengincar nyawa tiga putri saya di rumah," tangis Nisa kembali pecah.
"Hanya Mas Jarot yang saya percaya bisa melindungi mereka semua setelah melihat kejadian hebat barusan," lanjutnya dengan suara memelas.
Jarot memijat pangkal hidungnya karena mendadak merasa pusing dengan drama sore ini.
Melihat wanita menangis memohon adalah salah satu kelemahan terbesarnya semenjak ia masih memimpin di dunia bawah.
"Memangnya ke mana pergi semua pengawal-pengawal sewaan Mbak yang sebelumnya?" selidik Jarot mulai penasaran.
Nisa mengusap air matanya dengan punggung tangan agar pandangannya lebih jelas.
"Ketiga putri angkat saya itu sangat keras kepala, susah diatur, dan nakal luar biasa," aku Nisa dengan jujur.
"Mereka selalu saja berhasil mengerjai dan mengusir para pengawal profesional yang saya sewa dalam hitungan jam saja," tambahnya dengan nada lemas dan pasrah.
Jarot tertawa pelan di dalam hatinya mendengar keluhan ibu tersebut.
"Mengusir pengawal profesional? Cuma pakai trik kejahilan anak perempuan rumahan?" batin Jarot merasa hal itu sangat lucu.
"Memangnya berapa umur anak-anak Mbak itu sampai bisa begitu?" tanya Jarot memastikan.
"Anak sulung saya Lyly berumur dua puluh lima tahun, anak tengah Tata dua puluh tiga tahun, dan si bungsu Melly dua puluh satu tahun," jawab Nisa secara runtut.
Jarot membelalakkan matanya sedikit tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Buset, itu mah bukan anak-anak lagi namanya, Mbak. Udah wanita dewasa yang bisa diajak ke KUA itu," celetuk Jarot blak-blakan.
Wajah Nisa sedikit merona merah mendengar candaan Jarot yang sangat kasual itu.
"Tapi bagi saya mereka akan selalu menjadi putri kecil saya yang butuh perlindungan dari bahaya, Mas," bela Nisa dengan nada lembut keibuan.
Jarot menatap langit sore yang kini sudah mulai berubah menjadi gelap keunguan.
Di satu sisi pikirannya, ia memang sangat butuh sedikit hiburan di masa pensiunnya yang terlampau membosankan ini.
Berurusan dengan preman kelas teri suruhan rival bisnis dan menjaga tiga gadis manja sepertinya bisa jadi rutinitas main-main yang menyenangkan.
"Gaji awal seratus juta per bulan, fasilitas kamar di rumah mewah saya, dan semua kebutuhan hidup ditanggung penuh," tawar Nisa memberikan angka pasti untuk meyakinkan Jarot.
Jarot menunduk menatap Nisa yang masih menatap wajahnya dengan penuh harap dan keputusasaan.
"Oke, saya terima tawaran pekerjaan dari Mbak Nisa," putus Jarot pada akhirnya memecah ketegangan.
Wajah Nisa seketika langsung berubah cerah dan senyum manis mengembang lebar di bibirnya.
"Benarkah Mas Jarot?! Terima kasih banyak karena sudah mau menolong keluarga saya!" seru Nisa kegirangan seraya menjabat tangan Jarot.
"Sama-sama. Sekarang sebaiknya kita segera pergi dari sini," kata Jarot.
"Ayo Mas Jarot, mobil saya ada di depan. Kita ke rumah saya sekarang juga sebelum musuh saya mengirim orang lagi," ajak Nisa penuh semangat.
Nisa berjalan mendahului Jarot menuju jalan raya tempat mobilnya terparkir.
Hati wanita itu kini dipenuhi rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya semenjak bisnisnya membesar.
Sosok Jarot benar-benar telah mencuri rasa kepercayaannya sepenuhnya, dan mungkin juga sudah menumbuhkan benih cinta di hatinya.
Sementara itu, Jarot berjalan dengan gaya santai di belakang Nisa sambil bersiul pelan menembus malam.
Pria itu sama sekali tidak tahu bahwa ketiga wanita yang akan ia jaga bukanlah sekadar gadis manja yang keras kepala.
Mereka menyembunyikan identitas mematikan yang bahkan bisa membuat para penguasa negara kalang kabut ketakutan.
Dan Jarot sendiri juga dengan rapi menyembunyikan sisi gelapnya sebagai mantan penguasa dunia bawah tanah yang paling kejam.
Pertemuan takdir antara para monster yang saling memakai kedok orang biasa ini akan segera meledak di dalam rumah mewah tersebut.