NovelToon NovelToon
Sang Dewi Putih dan Mafioso Jerman

Sang Dewi Putih dan Mafioso Jerman

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Daniella cantillo

Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.

Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.

"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."

Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.

Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Seminggu di Dubai berlalu begitu cepat. Aku sangat menikmati waktu bersamanya. Tak bisa kupungkiri, Jakob pria yang penuh gairah dan sangat memperhatikanku. Aku menjelajahi seluruh kota cantik itu, membeli banyak barang, membawakan oleh-oleh untuk Salvatore kecilku. Kini kami sudah di mansion. Saat memasuki area properti, kami melihat pengawal-pengawal Tuan Cassandro. Kami turun dari mobil, dan begitu masuk, sepupu Jakob memberitahunya bahwa Tuan sedang berada di ruang kerjanya bersama Emma. Wajah Jakob langsung menunjukkan keterkejutan. Kugenggam tangannya dan berkata aku pamit dulu, mau menengok Salvatore, membiarkan mereka bicara berdua.

"Jadi benar Emma sudah muncul?"

"Ya, tapi Om tidak begitu senang dengan cara ia muncul. Sebaiknya kau segera ke ruang kerja. Mereka sudah lebih dari satu jam di sana, dan yang terdengar cuma teriakan-teriakan."

Jakob

Sampai di ruang kerjaku, kudengar teriakan Papa. Saat masuk, kulihat Emma meringkuk di sudut sementara Papa bersandar di meja. Melihatku, Emma berlari ke arahku dan memelukku.

"Halo, aku sangat merindukanmu."

"Aku juga! Kau baik-baik saja?"

"Ya."

Beberapa detik dalam pelukan erat itu, kulihat ayahku duduk di kursi. Kupegang lengan Emma.

"Ke mana saja kau selama dua tahun ini? Kenapa kau pergi?"

"Ya, Emma. Karena kau tak mau memberitahuku, setidaknya beritahu Jakob ke mana saja kau selama dua tahun ini, dan kenapa kau berpakaian seperti gembel dengan rambut merah muda itu."

Emma menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Aku pergi karena ayah kita menjodohkanku dengan pemimpin mafia Rusia. Aku tak mau menikah dengannya, itulah kenapa aku kabur. Kalau aku berpakaian begini, itu karena aku menyukainya."

Ayahku bangkit, berjalan ke arah Emma, dan mencengkeram lengannya.

"Anak kurang ajar! Kau harus melakukan semua yang kuperintahkan. Kalau aku menjodohkanmu dengannya, itu demi masa depanmu dan masa depan organisasi. Kau menghancurkan semua rencana yang kususun untukmu!"

"Aku bukan Jakob yang menuruti semua permintaanmu. Aku yang menentukan hidupku sendiri. Kau tak punya hak apa pun untuk membuat rencana atas diriku. Kalau kau begitu memikirkan organisasimu, kau saja yang menikah dengannya!"

Papa menampar Emma hingga ia jatuh ke lantai. Kulihat ia hendak memukul Emma lagi, jadi kucengkeram lengannya.

"Jangan berani-berani memukul Emma. Kita sudah dua tahun tanpa dia. Sekeras apa pun kau berlagak tegar, aku tahu kau merindukannya dan mencemaskannya sama sepertiku. Sekarang ia bersama kita, dan aku takkan membiarkannya pergi lagi gara-gara kau."

"Apa yang kau bicarakan, Jakob? Sekarang jadi salahku kalau anak kurang ajar ini pergi entah ke mana dan bersama siapa?"

"Ayah selalu ingin mengendalikan hidup kami dan memaksa kami menuruti kehendakmu, tapi tidak lagi."

"Sekarang aku yang jadi biang salah atas segalanya. Terserah, lakukan apa pun yang kalian mau."

Ayahku keluar dari ruang kerja. Emma memelukku, dan kuusap punggungnya.

"Kau mau memberitahuku ke mana saja kau dan bersama siapa?"

"Ya, tapi ceritanya panjang. Kuceritakan nanti saja."

"Tidak, Emma, aku mau kau menceritakannya sekarang."

"Baik, memang sifat suka memerintahmu tak hilang-hilang. Aku pergi ke luar negeri karena tahu kalian pasti akan mencariku, jadi aku pergi ke Inggris."

"Bagaimana kau bertahan hidup? Kenapa kau tak memakai kartumu? Lalu kenapa kau berpakaian seperti gembel dan mengubah warna rambutmu? Padahal dulu rambutmu indah seperti Mama, warna keemasan."

"Aku bekerja sebagai pelayan restoran. Karena tak mau ditemukan, aku harus mengubah gayaku. Tapi aku terlihat bagus dengan penampilan ini."

Aku memutar bola mataku, mengajaknya duduk sementara aku juga duduk.

"Kalau kau begitu betah di Inggris, kenapa kembali?"

"Karena aku... aku sangat merindukanmu. Sudah dua tahun berlalu, perjodohan itu pasti sudah dibatalkan."

"Kau tak menyembunyikan apa pun dariku?"

"Tentu tidak, Jakob. Boleh aku tinggal di sini? Setelah apa yang kau lihat tadi, aku tak bisa tinggal di mansion Papa si raksasa galak itu."

"Tentu kau boleh tinggal bersama kami. Mari, aku ingin kau bertemu anak dan istriku."

Matanya membelalak.

"Kau punya anak? Berarti aku jadi bibi. Ih, senangnya! Aku mau lihat dia. Antar aku menemuinya. Kau menikah? Kasihan istrimu."

Kami berjalan ke kamar Salvatore. Emma menghampiri boks bayi yang sedang tertidur. Dengan hati-hati ia mengangkat bayi itu dan menggendongnya.

"Bayi ini cantik sekali, mirip sekali denganmu, Jakob."

"Tentu, aku ayahnya. Sudah pasti ia mewarisi genku."

"Sombong. Bilang, di mana istrimu?"

"Pasti ada di kamarnya. Emma, tolong jangan lakukan hal-hal konyolmu."

"Tenang, aku sudah dewasa. Percaya saja padaku."

"Halo."

Aku berpaling. Adelina berdiri di ambang pintu kamar, matanya menghunjam ke Emma yang menggendong bayi yang kini sudah terbangun.

"Halo. Jadi kau istri Jakob?"

"Benar. Kau siapa?"

"Aku pacarnya. Lebih tepatnya, tunangannya."

Wajah Adelina sungguh ekspresif. Ia mengangkat satu alis dan menatapku dengan kaget bercampur marah. Kualihkan pandanganku ke Emma yang berlagak serius. Demi langit, katanya sudah dewasa, tapi selalu saja begini. Setiap kali aku berkencan, ia selalu berkata begitu pada para gadis itu.

"Emma, sungguh? Bukankah katamu kau sudah dewasa?"

"Ha, ha, ha, habisnya aku suka melihat ekspresi wajah mereka. Nyonya Müller, namaku Emma Müller, adik suamimu."

Adelina

Saat masuk ke kamar Salvatore, kulihat seorang gadis menggendong anakku sementara Jakob memperhatikan mereka. Kusapa mereka agar ia menyadari kehadiranku. Aku tak tahu siapa dia, tapi aku tak suka Jakob membawa orang asing ke kamar anakku, apalagi menggendongnya. Ia memandangku dari bawah ke atas dan berkata ia pacar sekaligus tunangan Jakob. Aku terkejut. Bedebah ini menipuku. Kualihkan pandanganku padanya, mata kami beradu, dan seketika ia memalingkan pandangan ke arah wanita itu. Kali ini aku takkan membiarkannya lolos. Sebentar lagi aku jadi janda, keparat!... Setelah Jakob bicara, aku justru makin dipenuhi keraguan, lalu wanita itu tertawa dan memperkenalkan diri sebagai adiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!