Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Mertua
"Mau makan apa?" tanya Gala pada Rea yang duduk di kursi kerjanya sambil memperhatikan seluruh penjuru ruangan.
Ruang kerja itu diperuntukkan bagi Gala, selaku manager dan pemilik cafe tersebut. Cafe yang dibangun dengan diberi modal awal oleh Saka, sejak Gala lulus SMA.
Gala beralasan ingin belajar mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Saka dengan senang hati menurutinya.
Namun, meski begitu, untuk biaya kuliah masih ditanggung oleh Saka, karena itu memang masih menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
"Makanannya apa aja?"
"Ya, banyak. Mau makan di sini atau di rumah? Mau pulang ke rumah gue lagi atau ke rumah lo?"
Rea berpikir sejenak, jika dipikir-pikir mungkin pulang ke rumah lebih baik.
Meski ia merasa nyaman di rumah Gala dan keluarganya, namun ia masih ingin menikmati waktunya di rumah sebelum nanti Gala membawanya pergi.
Lagi pula, ia juga tidak ada baju ganti di rumah Gala, walaupun ada beberapa baju milik mertuanya yang memang pas dengan tubuhnya.
Namun, ia tidak memiliki baju pendek yang akan dikenakan saat tidur.
Ia tidak terbiasa tidur menggunakan baju panjang, masa iya harus mengenakan kaos dan boxer milik Gala lagi.
"Pulang ke rumah gue aja deh," putus Rea seraya bangkit dari duduknya yang sudah sejak satu jam yang lalu.
"Mau bawa makanan ke rumah?"
"Boleh?"
Gala mengangguk, kemudian berlalu ke dapur cafe untuk memesan makanan agar bisa dibawa pulang.
Rea mengekori cowok itu kemanapun dia pergi. "Memang Kak Gala gak di sini aja sampai sore?" tanya Rea sambil menatap sekeliling, beberapa karyawan tengah sibuk dengan tugas masing-masing.
"Enggak, cuma ngecek keadaan sebentar doang." Gala menerima uluran kresek berukuran sedang berisi beberapa box makanan, dari karyawannya.
"Gue balik duluan, ya! Kalau ada apa-apa, kabarin kayak biasa," pesan Gala yang diangguki oleh para karyawannya yang memang rata-rata seusianya.
Gala kemudian menggunakan satu tangannya untuk menggandeng tangan Rea, keluar dari cafe dan memasuki mobil.
Untuk sesaat Rea dibuat terpesona oleh Gala yang menggandeng tangannya, seperti seorang Ayah yang menggandeng putrinya.
Melihat dari arah belakang, potongan rambutnya yang rapi berjambul, lehernya yang putih bersih, telinganya yang sedikit lebar.
Sungguh, Gala itu definisi laki-laki sempurna, baik fisik dan hatinya.
Bolehkah Rea bersyukur akan hal itu? Tentu saja, Rea sangat bersyukur karena memiliki laki-laki sebaik Gala.
Gala menghentikan laju mobilnya untuk memasuki pekarangan sebuah mushola.
"Ngapain?"
Gala menatap Rea dengan mata menyipit. "Solat, lah. Sudah waktunya solat."
Rea mengerucutkan bibirnya. "Memangnya gak bisa nanti, apa? Kan bisa solat di rumah sekalian," ujar Rea.
Gala turun dari mobil, lalu berjalan membukakan pintu untuk Rea.
"Nunda solat bisa, tapi kematian gak bisa ditunda. Kalau di beberapa meter setelah ini, kita gak sengaja nabrak pohon cabe terus mati, gimana coba?"
Rea mengatupkan bibirnya, tidak bisa menjawab apapun.
Gala menarik tangan gadis itu untuk memasuki mushola. "Malas itu manusiawi. Yang gak manusiawi itu kalau sudah malas, tapi dituruti kemalasannya. Itu namanya setanawi."
Rea tergelak mendengar pernyataan Gala. Ia menepuk bahu cowok itu, sebelum berlalu ke tempat wudu khusus akhwat.
Mereka, pun salat dengan berjauhan. Gala di tempat ikhwan dan Rea di tempat akhwat.
Tidak banyak yang salat bersama mereka, hanya ada beberapa orang saja. Mungkin sudah lebih dulu, atau memang jarang ada yang salat di sana. Karena kebanyakan orang, jika siang hari akan salat di tempat kerja atau memilih di rumah.
Selesai salat, mereka bergegas kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Rea.
"Kak Gala, kenapa gak mau punya adik?"
Gala mengalihkan fokusnya sejenak dari kemudi. "Kata siapa?"
"Tadi di rumah kayak sedih gitu."
Gala mengedikan bahunya, ember sekali Papa Saka itu.
"Malas aja."
"Kenapa malas? Padahal seru kalau ada anak kecil di rumah."
Gala kembali melirik Rea. "Ya sudah, kita aja yang bikin."
Rea sontak memukul pundak Gala cukup keras. "Enak aja, gue masih mau gadis!"
"Lo sudah nikah, bukan gadis lagi. Lo istri sekarang."
"Iya-iya, intinya gue belum pengin punya anak."
Hening, Gala tak lagi menjawab ucapan Rea. Mereka fokus dengan kegiatan masing-masing, Gala menyetir mobil dan Rea menatap keluar jendela.
Tak lama, mereka sampai di rumah Rea. Mereka turun dan segera memasuki rumah itu sambil berucap salam.
Karena tidak mendapati siapapun di sana, mereka memilih untuk langsung ke kamar Rea agar bisa beristirahat. Membawa serta makanan yang tadi dibawa dari cafe, dengan menyisakan beberapa box di meja makan.
Saat pintu kamar terbuka, langkah Rea terhenti seketika, begitupun Gala yang di belakangnya.
"Kenap--"
"Siapa yang berani merusak kamar gue?!" teriak Rea seraya menggebrak pintu dengan sangat keras, membuat Bella yang tengah asyik rebahan, terkejut.
Gadis yang empat tahun lebih tua dari Rea itu, mendudukkan dirinya dan menatap ke arah adiknya.
"Lo ngapain di sini?"
Nafas Rea memburu mendengar pertanyaan tak berbobot itu, jelas saja karena ini masih kamarnya.
Dengan kekesalan yang teramat dalam dan emosi yang sudah mengubun-ubun, Rea berjalan mendekat dan bergerak menarik kasar rambut Bella yang terurai.
"Akh! Sakit, sialan!" pekik Bella saat merasakan kepalanya seperti hampir copot karena tarikan tangan Rea pada rambutnya.
"Gue gak suka lo mengusik milik gue. Gue gak suka, apa yang jadi milik gue, dirusak orang lain." Rea berucap penuh penekanan di samping telinga Bella.
"Dengan gampangnya, lo merusak kamar gue! Lo menyingkirkan semua barang-barang gue dan lo ngotorin kamar gue! Lo, sialan!"
Dengan sadis, Rea mendorong kepala Bella hingga terbentur ke kepala ranjang, setelah meneriakinya dengan keras.
Gala segera mendekat dan menarik istrinya agar menjauh dari Bella yang tengah meringis sambil memegangi kepalanya.
"Sudah," kata Gala seraya mengusap lengan gadis itu, berniat menenangkannya.
Rea berbalik menatap Gala dengan tatapan tajamnya, namun tidak bohong jika mata itu mulai basah.
"Lo gak ngerti gue, Kak. Ini kamar gue sama Bunda. Di kamar ini gue menghabiskan waktu sama Bunda. Gue sama Bunda sudah membuat kamar ini senyaman mungkin. Tapi dia, dengan seenaknya merusak semua kenyamanan di kamar ini. Bahkan di seluruh penjuru ruangan di rumah ini!"
Rea menunjuk Bella dengan sadis dan berurai air mata.
"Lo sialan, Bella! Lo brengsek!"
"REA!"
Rea menoleh ke ambang pintu, dimana Ayahnya berdiri dengan tangan terkepal dan raut penuh emosi.
"Apa? Ayah mau belain dia, iya?! Silahkan! Rea gak peduli!"
Dengan sisa emosi dan tangisnya, Rea berlalu menuju lemari untuk mengambil beberapa barang miliknya yang dulu dibelikan oleh sang Bunda.
Ia tidak akan membawa barang apapun, selain dari Bundanya. Ia juga berlalu ke nakas untuk mengambil pigura berisi foto sang ibu, dan beberapa foto lain di laci nakas.
"Silahkan ambil semua milik gue. Ayah gue, barang gue, kamar gue, semua yang lo mau, ambil! Gue gak butuh."
Rea menarik tangan Gala untuk segera keluar dari sana, meninggalkan Bella yang menatapnya sinis.
"REA!"
.
To be continue ...