Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Taksi yang ditumpangi Gladys melaju kencang menembus kemacetan kota, membawa serta badai kehancuran yang baru saja menghantam batinnya.
Kata-kata Nayla terus berputar di kepala Gladys bagaikan kaset rusak:.Praduta adalah putra Devandra. Kamu bukan cintanya, tetapi alat balas dendamnya.
Semua kepingan teka-teki itu kini menyatu secara mengerikan.
Alasan di balik obsesi Praduta, ancaman-ancamannya yang tidak masuk akal, hingga kemarahan dingin Papa Devandra—semuanya bermuara pada satu titik: perang saudara yang kotor, dan ia telah terjebak di garis terdepan tanpa sadar.
Setengah jam kemudian, taksi berhenti tepat di depan gedung pencakar langit megah berlogo perusahaan utama keluarga Devandra.
Gladys membayarnya dengan tangan gemetar, lalu keluar dan melangkah masuk ke dalam lobi mewah berlantai marmer.
Langkahnya terasa begitu berat, seolah setiap pijakannya menanggung beban tonase baja.
Resepsionis dan para pegawai yang berlalu-lalang menyapanya dengan sopan—mengenalinya sebagai istri dari Raka Devandra, salah satu petinggi penting di perusahaan itu. Namun, sapaan-sapaan itu kini terdengar bagaikan sebuah ironi yang menyayat hati.
Gladys menaiki lift pribadi menuju lantai ruang kerja Raka.
Sesampainya di sana, ia langsung berjalan ke arah ruangan suaminya.
Pintunya sedikit terbuka, menampakkan Raka yang sedang berdiri di dekat jendela besar sambil berbicara serius dengan seorang rekan kerjanya lewat sambungan telepon.
Melihat sosok Raka—pria tulus yang begitu mencintainya dan sama sekali tidak tahu apa-apa—gelombang rasa bersalah yang luar biasa besar langsung menghantam dada Gladys.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah tak tertahankan.
Raka yang menyadari kehadiran seseorang di ambang pintu langsung memutus sambungan teleponnya.
Pria itu menoleh, dan senyuman hangat yang biasa ia berikan seketika sirna digantikan oleh kepanikan saat melihat wajah pucat pasi serta air mata di pipi istrinya.
"Gladys? Ya Tuhan, Sayang. Kamu kenapa?"
Raka bergegas melangkah lebar, langsung merengkuh tubuh Gladys ke dalam dekapannya.
Pelukan hangat itu begitu kontras dengan kedinginan dunia luar, namun justru membuat isak tangis Gladys pecah seketika di dada suaminya.
"A-aku mau bercerai, Mas. A-aku tidak mencintaimu. Bukankah Mas, ingin tahu jawabannya? Aku tidak akan mempertahankan pernikahan kita."
Deg!
Darah Raka serasa berhenti mengalir seketika. Sorot mata hangat yang baru saja menyambut Gladys mendadak redup, berganti menjadi pusaran syok, rasa tidak percaya, dan kepedihan yang teramat mendalam.
Dunia yang ia bangun bersama wanita di hadapannya seperti runtuh dalam hitungan detik.
"G-Gladys. Kamu bicara apa?" suara Raka bergetar parau, berusaha menolak kenyataan pahit yang baru saja didengarnya.
Melihat beberapa pegawai kantor mulai melirik dari kejauhan karena kehebohan di depan pintu ruangan, Raka menelan ludah dengan susah payah.
Dengan jemari yang gemetar, ia mencoba meraih pergelangan tangan Gladys, memohon dalam tatapannya.
"Sayang, ayo kita masuk dulu. Kita bicarakan di dalam, ya?" ucap Raka lembut namun sarat akan keputusasaan.
Tangannya menggenggam jemari Gladys erat-erat, takut jika melepaskannya, wanita itu akan hilang selamanya.
Namun, Gladys menggelengkan kepalanya pelan. Air mata mengalir kian deras di pipinya.
Setiap detik yang ia habiskan di dekat Raka hanya akan membahayakan pria tulus ini dari rancangan balas dendam Praduta yang iblis.
Gladys harus menjadi jahat, harus pura-pura dingin, demi melindungi Raka dari kehancuran yang ditargetkan oleh keluarga Devandra.
"Mas, jaga dirimu baik-baik." bisik Gladys lirih, hampir tak terdengar di antara isaknya.
Dengan perlahan namun pasti, Gladys menarik jemarinya dari genggaman Raka.
Ia melepas Black Card—fasilitas dan bukti kasih sayang suaminya—lalu meletakkannya tepat di atas telapak tangan Raka.
Tak berhenti di situ, dengan jemari yang gemetar hebat, Gladys meraba jari manis tangan kirinya. Ia menarik pelan lingkar logam mulia yang menjadi saksi janji suci mereka.
Cincin pernikahan itu terlepas, memantulkan cahaya redup sebelum akhirnya Gladys letakkan di samping kartu hitam tersebut.
Raka mematung. Matanya menatap kosong pada cincin dan kartu di telapak tangannya, lalu beralih menatap Gladys dengan tatapan yang sepenuhnya hancur.
Tanpa menoleh lagi ke belakang—menahan sekuat tenaga isak tangis yang mendesak ingin lolos dari tenggorokannya—Gladys berbalik dan berlari meninggalkan lantai tersebut.
Raka yang sempat terduduk lemas mendadak tersadar oleh kepanikannya.
Ia bangkit dengan sempoyongan dan langsung berlari mengejar istrinya.
"Gladys! Tunggu, Gladys!" teriak Raka memecah keheningan koridor kantor, menyusul langkah kaki wanita itu yang semakin cepat menembus kerumunan lobi.
Namun, Gladys sudah terlanjur melangkah keluar gedung.
Ia langsung menyambar pintu taksi yang sedang mangkal di pinggir jalan dan masuk ke dalam kabin sebelum Raka sempat menggapainya.
"Jalan, Pak! Cepat!" perintah Gladys dengan napas terengah-engah dan air mata yang tumpah membasahi pipinya.
Taksi itu langsung tancap gas, meninggalkan Raka yang berdiri mematung di pinggir jalan dengan tatapan kosong dan hati yang hancur berkeping-keping.
Di dalam taksi yang melaju kencang, suasana terasa begitu menyesakkan. Tiba-tiba, suara dering ponsel di dalam tas Gladys memecah keheningan.
Bzzzt... bzzzt...
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Gladys merogoh ponselnya.
Layar benda pipih itu menyala terang, menampilkan panggilan masuk dari nomor yang paling ia takuti: Praduta.
Gladys menekan tombol jawab dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Apa kamu sudah memilih, Gladys?" suara bariton Praduta langsung menyapa dengan nada dingin yang penuh kemenangan di ujung sambungan sana.
Gladys menggigit bibirnya erat-erat hingga terasa asin oleh darah.
"Jangan ganggu Raka, Pra." bisiknya parau, penuh penekanan dan amarah yang tertahan.
"Dia kakakmu"
Di seberang sana, Praduta terdiam sejenak sebelum akhirnya meledakkan tawa.
Tawa yang terdengar nyaring, sinis, dan begitu mengerikan di telinga Gladys.
"Wah... wah.l" suara Praduta di balik telepon terdengar makin merendah, dipenuhi ejekan telak.
"Kamu sudah tahu kalau aku adik tiri Raka?"
Praduta mendengus pelan. "Pasti Nayla yang memberitahumu, ya? Wanita itu memang selalu tidak bisa menutup mulutnya."
Sebelum Gladys sempat membalas, nada suara Praduta berubah menjadi dingin dan mutlak, tanpa memberi ruang sedikit pun untuk menolak.
"Dan sekarang, temui aku di bandara. Waktumu habis, Gladys."
Pegangan Gladys pada ponselnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah dan ketakutan bergejolak hebat di dalam dadanya. Mendengar ancaman Praduta yang siap menyeret Raka ke dalam pusaran skandal kotor ini membuatnya hampir kehilangan akal sehat.
"Jangan berani-berani kamu menyentuh Raka, Pra!" seru Gladys dengan suara bergetar penuh kemarahan dan keputusasaan, mengabaikan tatapan heran dari sang sopir taksi di depan.
"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau! Pernikahanku hancur! Kenapa kamu masih melibatkan dia?!"
Di seberang sambungan, Praduta bergeming sejenak. Suara napas pria itu terdengar berat, sebelum akhirnya sebuah tawa dingin dan sarkastik lolos dari bibirnya.
"Hancur? Belum, Gladys. Pernikahan kalian baru separuh hancur," desis Praduta tajam, penuh racun dendam yang mendarah daging.
Praduta berhenti sejenak, lalu melontarkan kalimat pamungkas yang langsung meremukkan sisa-sisa pertahanan terakhir Gladys.
"Kalau dalam waktu tiga puluh menit kamu tidak muncul di bandara, aku sendiri yang akan melangkah ke kantor Raka. Aku akan mengatakannya kepada media kalau Raka merebutmu dari aku, dan membuat seluruh keluarga Devandra menanggung malu di halaman depan surat kabar nasional!"
Klik.
Sambungan telepon langsung terputus sepihak. Nada dering sibuk berbunyi pelan, meninggalkan dengung mematikan di telinga Gladys.
Dunia Gladys seolah berhenti berputar. Ancaman itu nyata. Praduta tidak sedang menggertak; pria itu memiliki kuasa, uang, dan kebencian yang cukup untuk menghancurkan karier serta harga diri Raka dalam semalam.
Jika Gladys memilih egois dan lari, Raka lah yang akan menanggung beban kehancuran atas kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.
Dengan air mata yang kembali meleleh deras membasahi pipinya, Gladys menatap sang sopir taksi melalui pantulan kaca spion tengah dengan tatapan putus asa.
"Pak," cicit Gladys dengan suara parau, menelan ludah yang terasa begitu pahit.
"Tolong, antarkan saya ke bandara. Sekarang." ucap Gladys.
Gladys tidak menyadari jika mobil suaminya mengikutinya dari belakang.