Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Minggu, 23 Oktober 2016
Pagi itu, Arthur Sterling terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi.
Cahaya matahari menembus celah tirai apartemen kecilnya di Queens, menyinari meja belajar yang dipenuhi buku kuliah, beberapa lembar catatan bisnis, dan laptop tua yang kipasnya mulai mengeluarkan suara berisik. Di sudut meja, terdapat sebuah buku catatan berwarna hitam yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempat Arthur menuliskan perkembangan investasinya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajah, lalu melirik jam digital di ponselnya.
Pukul 06.17.
Dalam kehidupan sebelumnya, Minggu pagi seperti ini biasanya ia habiskan dengan membaca laporan pasar dari berbagai negara. Bahkan setelah menjadi orang terkaya di dunia, Arthur jarang membiarkan dirinya beristirahat tanpa alasan yang jelas. Baginya, waktu adalah sumber daya yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Namun, setelah kembali ke usia dua puluh tahun, ia mulai menyadari bahwa kebiasaan lamanya tidak selalu cocok dengan kehidupannya sekarang.
Tubuhnya memang kembali muda, tetapi ia masih membawa kecenderungan seorang pria berusia delapan puluh tahun yang pernah mengorbankan hampir seluruh hidupnya demi mengejar kekayaan.
Dan kali ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Arthur bangkit, membuat kopi instan, kemudian duduk di depan laptop. Ia membuka halaman informasi pasar dan mencari kabar terbaru mengenai Aurelia Therapeutics.
Tidak ada pengumuman penting.
Harga saham perusahaan itu masih bergerak di atas level beberapa hari sebelumnya. Aktivitas perdagangan juga belum kembali sepenuhnya normal. Posisi opsi beli yang dimilikinya masih menunjukkan keuntungan di atas kertas, tetapi nilainya dapat berubah dengan cepat.
Arthur menatap angka-angka di layar selama beberapa saat.
Dalam ingatan kehidupan pertamanya, ia mengetahui bahwa perusahaan tersebut akan mengumumkan hasil uji klinis yang menggembirakan. Namun, ingatan itu tidak memberinya semua detail yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan sempurna.
Ia tidak mengingat harga setiap transaksi, besarnya perubahan volatilitas, ataupun bagaimana setiap pelaku pasar bereaksi menjelang pengumuman.
Ia hanya mengingat peristiwa besarnya.
Itu perbedaan yang penting.
Pasar tidak bergerak hanya karena sebuah peristiwa benar-benar terjadi. Pasar juga bergerak berdasarkan ekspektasi, posisi investor, likuiditas, dan seberapa banyak kabar baik sudah tercermin dalam harga.
Bahkan jika hasil uji klinis Aurelia positif, harga sahamnya belum tentu terus naik.
Arthur membuka buku catatan hitamnya dan menulis tiga kemungkinan.
Skenario pertama: hasil uji klinis positif, tetapi kenaikan harga sebelum pengumuman sudah terlalu besar sehingga investor mengambil keuntungan.
Skenario kedua: hasil uji klinis positif dan pasar bereaksi lebih kuat daripada perkiraan, tetapi volatilitas opsi turun setelah ketidakpastian terjawab.
Skenario ketiga: hasil uji klinis mengecewakan, menyebabkan harga saham jatuh dan opsi beli kehilangan sebagian besar, bahkan seluruh, nilainya.
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan satu kalimat di bawah ketiga skenario tersebut.
Mengetahui arah suatu peristiwa tidak berarti mengetahui seluruh jalur yang akan ditempuh pasar.
Arthur menutup buku itu.
Ia belum mendapatkan uang dari investasi tersebut. Belum ada keuntungan yang benar-benar bisa dipindahkan ke rekeningnya. Jika ia ingin membayar sewa, membeli makanan, atau mengganti laptop yang rusak, ia tetap harus mengandalkan uang yang tersedia sekarang.
Keadaan itu membuatnya tidak punya banyak ruang untuk melakukan kesalahan.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Daniel Brooks muncul di layar.
Daniel: Kau sudah bangun? Aku punya ide untuk proyek Lawson Market. Jangan tertawa sebelum mendengarnya.
Arthur tersenyum kecil.
Arthur: Kalimat pembuka yang meyakinkan. Aku sudah siap menertawakanmu.
Balasan Daniel datang hampir seketika.
Daniel: Bagus. Berarti kau sudah siap berpikir terbuka.
Arthur: Langsung ke intinya.
Daniel: Lawson bilang penjualan toko keduanya turun terutama pada sore hari. Bagaimana kalau kita membuat promosi khusus untuk jam itu? Misalnya, diskon untuk beberapa barang tertentu.
Arthur membaca pesan tersebut dengan saksama sebelum mengetik balasan.
Arthur: Kita belum tahu apakah masalahnya benar-benar jumlah pelanggan, jenis barang yang tersedia, atau harga. Kalau langsung memberikan diskon, kita bisa membuat penjualan terlihat meningkat tanpa meningkatkan keuntungan.
Daniel: Aku tahu kau akan mengatakan sesuatu seperti itu.
Arthur: Lalu kenapa bertanya?
Daniel: Karena terkadang aku berharap kau menjadi manusia normal selama lima menit.
Arthur tertawa pelan.
Ia kemudian mengetik kembali.
Arthur: Kita bisa mengusulkan uji coba kecil. Catat jumlah transaksi pada jam tertentu, barang yang paling sering dibeli, dan barang yang jarang terjual. Setelah itu baru tentukan promosi yang masuk akal.
Daniel: Jadi, bukan diskon untuk semua barang?
Arthur: Jangan mengorbankan margin untuk mengejar angka penjualan. Kalau kita ingin membantu bisnis Lawson, kita harus tahu masalah yang sedang diselesaikan.
Beberapa detik kemudian, Daniel mengirimkan balasan singkat.
Daniel: Baiklah, Tuan Konsultan. Kita bahas besok.
Arthur meletakkan ponselnya.
Percakapan singkat itu mengingatkannya pada satu hal yang sering terlupakan oleh para pengusaha muda: memiliki ide bukanlah hal yang sama dengan memahami masalah.
Ia bisa menggunakan pengetahuannya tentang masa depan untuk membangun kekayaan. Namun, jika ia tidak mampu mengubah pengetahuan itu menjadi keputusan yang masuk akal dalam keadaan sekarang, semua ingatannya hanya akan menjadi kumpulan fakta yang tidak berguna.
Menjelang siang, Arthur pergi ke sebuah kedai kopi kecil tidak jauh dari apartemennya.
Ia membawa laptop dan beberapa catatan kuliah. Kedai itu tidak terlalu ramai, hanya dipenuhi beberapa mahasiswa, seorang pria yang sedang membaca koran, dan dua pekerja kantor yang duduk dekat jendela.
Arthur memilih meja di sudut ruangan, memesan kopi termurah, lalu mulai mengerjakan tugas kuliah yang sempat tertunda.
Ia baru menyelesaikan setengah halaman ketika ponselnya bergetar.
Kali ini, pesan tersebut berasal dari Clara Vance.
Clara: Hai, Arthur. Maaf mengganggu hari Minggumu. Aku ingin bertanya tentang tabel pencatatan milik Samuel. Apakah menurutmu kita perlu menambahkan bagian untuk mencatat jumlah pelanggan setiap hari?
Arthur membaca pesan itu dua kali.
Clara rupanya terus memikirkan proyek kecil tersebut, meskipun tidak ada kewajiban baginya untuk melakukannya. Ia sudah membantu menyusun tabel arus kas dan menambahkan kolom untuk makanan yang terbuang. Kini ia ingin memperbaikinya lagi.
Arthur tidak ingin antusiasmenya berubah menjadi pekerjaan tanpa batas yang dilakukan Clara secara gratis.
Arthur: Menurutku itu bisa berguna, tetapi tergantung pada informasi yang ingin kita dapatkan. Samuel perlu tahu apakah masalahnya jumlah pelanggan, nilai belanja rata-rata, atau biaya yang terlalu tinggi.
Clara: Berarti kita perlu mencatat semuanya?
Arthur: Tidak sekaligus. Kalau terlalu rumit, dia mungkin berhenti menggunakannya setelah tiga hari.
Clara membalas dengan sebuah emotikon tertawa.
Clara: Kau benar. Aku membuat tabel yang sederhana, lalu entah bagaimana mulai berpikir seperti sedang menyusun laporan untuk perusahaan besar.
Arthur tersenyum membaca kalimat itu.
Arthur: Itu bukan hal buruk. Hanya saja, alat yang bagus harus sesuai dengan orang yang menggunakannya.
Beberapa saat kemudian, Clara mengirimkan pesan baru.
Clara: Aku sedang berada di perpustakaan kampus. Kalau kau tidak sibuk, mau datang sebentar? Aku ingin menunjukkan perubahan yang kubuat. Tidak harus hari ini kalau kau punya rencana lain.
Arthur memandang layar laptopnya.
Sebenarnya, ia masih memiliki tugas yang harus diselesaikan. Ia juga sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan setiap kesempatan sosial mengacaukan jadwalnya.
Namun, menemui Clara bukanlah gangguan yang harus dihindari.
Ia menutup dokumen kuliahnya, merapikan barang-barang, kemudian membalas.
Arthur: Aku bisa datang sekitar tiga puluh menit lagi.
Clara: Baik. Aku menunggu di lantai dua.
Arthur memasukkan laptop ke dalam tas.
Saat berjalan meninggalkan kedai, ia menyadari bahwa perubahan terbesar dalam hidupnya mungkin bukan sekadar kesempatan untuk menjadi kaya lebih cepat.
Ia juga sedang belajar untuk tidak selalu menempatkan pekerjaan di atas segala sesuatu.
Perpustakaan kampus cukup tenang ketika Arthur tiba.
Ia menemukan Clara di meja dekat jendela, dengan sebuah buku catatan terbuka di hadapannya. Rambut gelapnya diikat longgar, sementara beberapa lembar kertas berisi tabel tersusun rapi di sebelah laptop.
Clara mengangkat kepala ketika melihatnya.
"Kau datang lebih cepat daripada perkiraanku."
"Jalanan tidak terlalu ramai," jawab Arthur sambil menarik kursi di seberangnya. "Jadi, apa penemuan terbarumu?"
Clara memutar laptopnya agar Arthur bisa melihat layar.
"Aku membuat dua versi. Yang pertama hanya mencatat pemasukan, pengeluaran, dan uang yang tersisa. Yang kedua menambahkan jumlah transaksi, perkiraan pelanggan, serta makanan yang terbuang."
Arthur memperhatikan kedua tabel itu.
Versi kedua memang memberikan lebih banyak informasi, tetapi ia segera melihat satu masalah. Kolom jumlah pelanggan berpotensi membuat Samuel menghabiskan terlalu banyak waktu menghitung orang yang masuk dan keluar, sementara tidak semua pengunjung benar-benar melakukan pembelian.
"Bagaimana Samuel akan menghitung pelanggan?" tanya Arthur.
Clara mengerutkan kening.
"Aku belum memikirkannya. Mungkin dia bisa mencatat setiap orang yang masuk."
"Kalau begitu, bagaimana dengan pelanggan yang hanya bertanya, lalu pergi? Atau orang yang datang bersama keluarga, tetapi hanya melakukan satu transaksi?"
Clara memandangi tabelnya, lalu menghela napas pendek.
"Baiklah. Itu tidak sesederhana yang kubayangkan."
"Tujuannya bukan membuat sistem pencatatan sempurna. Kita hanya perlu membuat sistem yang cukup baik untuk membantu Samuel mengambil keputusan."
Arthur menunjuk kolom jumlah transaksi.
"Bagaimana kalau kita mulai dari sini? Dia cukup mencatat jumlah transaksi per hari, bukan jumlah orang yang masuk. Informasinya memang tidak sama, tetapi jauh lebih mudah dikumpulkan. Setelah itu, kita bandingkan dengan total penjualan."
Clara mengangguk perlahan.
"Jadi kita bisa menghitung rata-rata nilai transaksi."
"Tepat. Jika jumlah transaksi meningkat, tetapi total penjualan tidak banyak berubah, berarti nilai rata-rata setiap transaksi mungkin turun. Sebaliknya, kalau jumlah transaksi tetap tetapi penjualan meningkat, kita bisa memeriksa apakah pelanggan membeli lebih banyak barang."
Clara segera membuat beberapa perubahan.
"Kau selalu memikirkan hal-hal seperti ini?"
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi Arthur menangkap rasa ingin tahu di baliknya.
Ia bersandar pada kursi.
"Tidak selalu. Aku hanya mencoba membayangkan bagaimana seseorang akan menggunakan informasi yang kita berikan."
"Kadang-kadang aku merasa kau bukan mahasiswa yang sedang belajar bisnis, melainkan seseorang yang sudah menghabiskan puluhan tahun mengurus perusahaan."
Arthur hampir tertawa, tetapi ia menahan diri.
Kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan yang tidak mungkin ia jelaskan.
"Aku hanya pernah melihat banyak orang membuat keputusan buruk karena terlalu percaya pada angka yang tidak mereka pahami," jawabnya akhirnya. "Mungkin itu membuatku sedikit berhati-hati."
Clara menatapnya selama beberapa detik, seolah sedang mempertimbangkan apakah ada sesuatu yang tidak ia ceritakan.
Namun, ia tidak mendesak.
"Aku mengerti," katanya. "Aku juga tidak ingin membantu Samuel dengan sesuatu yang akhirnya malah merepotkannya."
"Kalau begitu, kita punya tujuan yang sama."
Mereka menghabiskan hampir satu jam untuk menyederhanakan tabel tersebut. Clara memperbaiki susunan kolom, sedangkan Arthur mengusulkan agar Samuel cukup mencatat tiga hal setiap hari: total penjualan, jumlah transaksi, dan perkiraan nilai bahan makanan yang terbuang.
Pengeluaran besar tetap dicatat secara terpisah.
Mereka juga menambahkan kolom kecil untuk catatan kejadian khusus, seperti cuaca buruk, pesanan kelompok, atau perubahan jam operasional. Informasi itu dapat membantu menjelaskan mengapa angka penjualan berubah tanpa langsung menyimpulkan bahwa suatu promosi berhasil atau gagal.
Setelah selesai, Clara memeriksa hasilnya dengan wajah puas.
"Ini jauh lebih sederhana."
"Dan lebih mungkin digunakan."
Clara menutup laptopnya.
"Terima kasih sudah membantu."
"Sama-sama. Tapi, Clara?"
"Ya?"
"Kalau kau terus mengembangkan alat seperti ini, kita perlu membicarakan bagaimana pekerjaanmu dihargai. Aku tidak ingin kau merasa harus terus membantu kami tanpa mendapatkan apa-apa."
Clara tampak sedikit terkejut.
"Aku belum menganggapnya sebagai pekerjaan. Aku hanya tertarik mempelajarinya."
"Aku tahu. Dan aku menghargai itu. Tapi kalau nanti hasil kerjamu benar-benar digunakan untuk membantu bisnis kami, kita sebaiknya membicarakan kesepakatan yang adil."
Clara terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Baiklah. Kalau memang sampai ke tahap itu, kita bicarakan."
Arthur mengangguk.
Ia tidak ingin memaksanya menerima uang yang belum tentu bersedia ia terima. Namun, ia juga tidak ingin menganggap waktu dan kemampuan Clara sebagai sumber daya gratis hanya karena mereka mulai akrab.
Dalam kehidupan sebelumnya, Arthur pernah menyaksikan bagaimana hubungan baik hancur ketika uang, kekuasaan, dan rasa berutang budi bercampur tanpa batas yang jelas.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan semacam itu.
Sore harinya, Arthur kembali ke apartemennya.
Ia menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah, merapikan catatan bisnis, dan menyusun daftar hal-hal yang perlu dibahas bersama Daniel keesokan harinya.
Sekitar pukul enam, ia membuka kembali halaman informasi Aurelia Therapeutics.
Tidak ada pengumuman resmi.
Harga sahamnya bergerak dalam kisaran yang relatif sempit dibandingkan kenaikan sebelumnya. Arthur memeriksa nilai posisi opsinya, lalu menuliskan perubahan tersebut di buku catatan.
Keuntungan di atas kertas masih ada.
Namun, tidak ada uang baru yang masuk ke rekeningnya.
Ia menutup halaman itu tanpa melakukan transaksi.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Arthur tidak merasa perlu memeriksa harga saham tersebut lagi.
Ia masih memiliki alasan kuat untuk mempercayai ingatannya tentang hasil uji klinis. Namun, semakin dekat tanggal yang diperkirakan, semakin penting baginya untuk menjaga jarak antara keyakinan pribadi dan keputusan keuangan.
Jika ia terus-menerus memeriksa harga, kenaikan kecil bisa membuatnya serakah, sementara penurunan sesaat bisa memancing kepanikan.
Keduanya tidak akan mengubah hasil uji klinis.
Keduanya hanya akan mengubah cara dirinya bereaksi.
Arthur membuka buku catatan dan menambahkan satu baris.
Tidak ada perubahan posisi tanpa alasan baru yang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah itu, ia mengalihkan perhatiannya ke proyek Lawson Market.
Ada sesuatu yang menarik dari bisnis kecil itu. Ia tidak perlu menunggu pengumuman perusahaan farmasi, pergerakan pasar, atau keputusan investor besar untuk melihat apakah pekerjaannya memberikan manfaat.
Ia bisa berbicara langsung dengan pemilik toko, memeriksa data penjualan, memperbaiki informasi bisnis, lalu mengukur hasilnya.
Keberhasilannya mungkin hanya bernilai beberapa ratus dolar pada tahap awal.
Namun, prosesnya dapat dipelajari, diperbaiki, dan diulang.
Sementara itu, investasi Aurelia bergantung pada satu peristiwa yang berada di luar kendalinya.
Arthur mulai memahami perbedaan antara mengambil peluang dan membangun sesuatu.
Keduanya dapat menghasilkan uang, tetapi hanya salah satunya yang bisa menjadi dasar bagi bisnis jangka panjang.
Senin, 24 Oktober 2016.
Arthur tiba di kampus lebih awal daripada biasanya.
Ia membawa daftar pertanyaan untuk Peter Lawson, pemilik dua toko kelontong yang mempercayakan proyek kecil kepada mereka. Daniel telah mengirimkan pesan bahwa ia akan tiba beberapa menit kemudian, jadi Arthur duduk di bangku dekat halaman kampus sambil membaca ulang catatannya.
Ia ingin memastikan mereka tidak datang dengan membawa solusi yang sebenarnya belum dibutuhkan Lawson.
Ketika Daniel akhirnya muncul, ia membawa dua cangkir kopi.
"Satu untukmu," katanya sambil menyerahkan cangkir itu. "Anggap saja sebagai investasi untuk menjaga kemampuan berpikirmu."
Arthur menerima kopi tersebut.
"Berapa tingkat pengembaliannya?"
"Satu jam mendengarkan ide-ide brilianku tanpa menyela."
"Itu investasi berisiko tinggi."
Daniel duduk di sampingnya.
"Baiklah, bercanda selesai. Aku sudah menyiapkan draf halaman promosi Lawson Market. Tidak ada iklan berbayar, hanya informasi toko, foto produk, dan beberapa penawaran yang bisa kita ubah setelah berbicara dengannya."
Arthur membuka laptop Daniel.
Desainnya sederhana, tetapi rapi. Informasi alamat, jam buka, dan nomor telepon ditempatkan di bagian atas. Beberapa foto rak barang memperlihatkan kondisi toko yang bersih, meskipun pencahayaannya masih bisa diperbaiki.
"Bagus," kata Arthur. "Tapi jangan langsung menuliskan promosi sebelum Lawson menyetujuinya."
"Aku tahu. Aku hanya menyiapkan contoh."
Arthur memeriksa draf itu sekali lagi.
"Kita juga harus memastikan informasi di halaman ini sama dengan informasi di tempat lain. Kalau jam bukanya berbeda, pelanggan bisa datang ketika toko tutup."
Daniel mengangguk.
"Sudah kupikirkan. Aku akan membuat daftar semua tempat yang perlu diperbarui."
Mereka kemudian membahas pertanyaan yang harus diajukan kepada Lawson. Arthur ingin mengetahui jam-jam ketika transaksi paling sedikit, jenis barang yang memiliki margin lebih baik, dan apakah penurunan penjualan terjadi di kedua toko atau hanya di toko kedua.
Daniel mengusulkan agar mereka meminta catatan penjualan selama beberapa minggu terakhir.
"Kalau dia bersedia memberikannya," kata Arthur. "Kita tidak perlu meminta data yang terlalu rumit. Cukup data yang bisa membedakan dugaan kita."
"Dan kalau ternyata masalahnya bukan pemasaran?"
Arthur menatap temannya.
"Berarti kita harus jujur tentang itu."
Daniel mengangkat kedua alisnya.
"Kau sadar kita bisa kehilangan pelanggan kalau mengatakan bahwa masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan pekerjaan kita?"
"Aku sadar. Tapi akan lebih buruk kalau kita menerima uang untuk pekerjaan yang tidak membantu, lalu berpura-pura berhasil."
Daniel tidak langsung menjawab.
Ia menatap halaman promosi di laptopnya, kemudian mengangguk perlahan.
"Baiklah. Kita cari masalahnya dulu. Setelah itu baru bicara soal solusi."
Arthur tersenyum.
Itulah jenis keputusan yang ingin ia bangun bersama Daniel. Bukan keputusan yang selalu menguntungkan dalam jangka pendek, melainkan keputusan yang membuat orang lain punya alasan untuk mempercayai mereka dalam jangka panjang.
Mereka tidak memiliki kantor megah, modal besar, atau nama yang dikenal di dunia bisnis.
Yang mereka miliki hanyalah kemampuan yang masih berkembang, waktu yang terbatas, dan beberapa pelanggan pertama yang bersedia memberi mereka kesempatan.
Untuk sekarang, itu sudah cukup.
Menjelang siang, ketika Arthur sedang berjalan menuju gedung kuliah, sebuah surel masuk ke ponselnya.
Pengirimnya tidak tercantum dalam daftar kontak.
Subjeknya singkat.
Pertanyaan Lanjutan Mengenai Aurelia Therapeutics
Arthur berhenti di dekat tangga.
Ia membuka pesan itu.
Tuan Sterling,
Saya menghubungi Anda kembali mengenai aktivitas opsi Aurelia Therapeutics yang sebelumnya saya sebutkan.
Saya memahami bahwa Anda menyatakan analisis Anda didasarkan pada informasi publik. Namun, menjelang kemungkinan pengumuman klinis, saya ingin mengetahui apakah ada perubahan dalam pandangan Anda mengenai risiko perusahaan tersebut.
Saya tidak meminta Anda mengungkapkan posisi pribadi atau informasi yang bersifat rahasia. Saya hanya tertarik pada cara Anda menilai risiko menjelang peristiwa penting.
Jika Anda bersedia memberikan tanggapan singkat, saya akan menghargainya.
Arthur membaca pesan tersebut hingga selesai.
Pengirim itu tidak menuduhnya melakukan sesuatu yang salah. Tidak ada ancaman, tidak ada tuntutan, dan tidak ada bukti bahwa orang tersebut mengetahui apa pun mengenai ingatan Arthur.
Bisa jadi pengirimnya hanya seorang analis yang ingin memahami pergerakan pasar. Aktivitas opsi yang tidak biasa menjelang pengumuman klinis memang dapat menarik perhatian.
Namun, Arthur juga tidak dapat memastikan apakah pesan itu berasal dari orang yang sama dengan pengirim surel sebelumnya.
Ia tidak memiliki alasan untuk menganggap semua orang yang bertanya sebagai satu kelompok.
Arthur mengetik balasan singkat.
Terima kasih atas pesan Anda.
Pandangan saya mengenai risiko belum berubah secara mendasar. Hasil uji klinis, kebutuhan pendanaan, potensi dilusi, dan prospek komersial tetap perlu dinilai secara terpisah. Bahkan hasil klinis yang positif tidak otomatis menjamin persetujuan regulator atau keberhasilan komersial.
Saya tidak memiliki informasi nonpublik untuk dibagikan. Saya juga tidak dapat memberikan kepastian mengenai hasil pengumuman yang belum dirilis.
Hormat saya,
Arthur Sterling
Ia membaca kembali jawabannya sebelum mengirimkannya.
Tidak ada alasan untuk menjelaskan lebih banyak daripada yang diperlukan.
Setelah surel terkirim, Arthur menyimpan salinan pesan itu bersama korespondensi sebelumnya. Kemudian ia memasukkan ponsel ke dalam saku dan melanjutkan perjalanan menuju kelas.
Untuk sementara, ia tidak akan mengubah strategi hanya karena seseorang mengajukan pertanyaan.
Namun, ia juga tidak akan mengabaikan kenyataan bahwa tindakannya mulai menarik perhatian.
Malam itu, Arthur duduk di depan jendela apartemennya.
Lampu-lampu gedung di kejauhan mulai menyala, sementara suara kendaraan terdengar samar dari jalan di bawah. Di atas meja terdapat buku catatan investasi, draf halaman promosi Lawson Market, dan tugas kuliah yang belum selesai sepenuhnya.
Tiga hal itu mewakili tiga jenis masa depan yang sedang ia bangun.
Investasi Aurelia menawarkan kesempatan untuk mendapatkan modal lebih besar dalam waktu singkat, tetapi risikonya tinggi dan hasilnya tidak berada dalam kendalinya.
Bisnis kecil bersama Daniel menawarkan pendapatan yang lebih lambat, tetapi setiap proyek memberinya pengalaman, hubungan, dan kemampuan yang dapat dikembangkan.
Sementara itu, hubungan dengan Clara tumbuh tanpa kepastian dan tanpa jadwal yang bisa ia tentukan sendiri.
Arthur pernah menjadi pria yang percaya bahwa semua hal dapat diselesaikan dengan uang, strategi, dan ketekunan.
Pada usia delapan puluh tahun, ia akhirnya memahami bahwa ada keputusan yang tidak bisa diperbaiki setelah kesempatan berlalu.
Kekayaan tidak bisa membeli kembali waktu yang telah hilang.
Dan kali ini, ia memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang berbeda.
Ia membuka buku catatan hitamnya dan menulis sebuah kalimat di halaman terakhir.
Jangan biarkan satu peluang menentukan seluruh masa depanmu.
Arthur menutup buku itu.
Di luar sana, pasar akan segera menghadapi pekan yang mungkin menentukan nasib investasinya di Aurelia Therapeutics. Beberapa hari lagi, ia akan mengetahui apakah ingatannya tentang masa depan masih cukup akurat untuk memberinya keuntungan.
Namun, ia tidak lagi ingin menaruh seluruh harapannya pada satu hasil.
Ia akan tetap mengamati pasar, mengelola risiko, dan menjaga kerahasiaan hal-hal yang tidak dapat ia jelaskan kepada siapa pun.
Tetapi ia juga akan terus membangun bisnisnya, menjaga persahabatannya dengan Daniel, dan memberi Clara ruang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arthur merasa bahwa ia tidak hanya sedang mengejar masa depan yang pernah ia miliki.
Ia sedang membangun masa depan yang benar-benar ingin ia jalani.
Dan waktu, yang dahulu selalu ia perlakukan sebagai musuh, kini memberinya kesempatan kedua.
Kesempatan itu tidak akan bertahan selamanya.