NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Elang menutup pintu balkon di belakangnya dan memasuki ballroom lewat sisi kiri, tempat tirai tebal menutupi satu jalur sempit menuju tangga pelayan. Musik masih mengalun dan para tamu masih berbincang tanpa sadar apa pun. Di ujung ruangan, Pak Wijaya berdiri di depan panggung kecil sambil mengangkat gelas untuk menyapa seorang pengusaha, dan Lastri berdiri di sampingnya dengan wajah gembira.

Insting Dewa berdenyut lagi, dan kali ini arahnya jelas. Bukan menuju Elang, melainkan lurus ke arah Pak Wijaya.

"Permisi," kata Elang kepada seorang pelayan yang menghalangi jalannya, dan mendorong nampan perak itu ke satu sisi dengan satu jari. Pelayan itu terhuyung dan menahan gelas-gelasnya tanpa sempat protes. Elang sudah berada di tangga.

Ia menaiki anak tangga dua sekaligus, kemudian tiga. Tangga itu sempit, berbau cat baru dan debu, dan lampunya redup. Di lantai dua, sebuah pintu besi kecil setengah terbuka menuju galeri yang mengelilingi ballroom dari ketinggian. Dari celah itu, cahaya kuning dari bawah menyorot sesosok bayangan yang berlutut di dekat pagar besi.

Seorang pria berpakaian pelayan, tetapi tubuhnya terlalu tegap untuk membawa nampan. Di tangannya ada senapan pendek dengan peredam yang dibongkar dari tas biola. Ia sedang mengatur napas dan membidik ke bawah, ke arah panggung kecil tempat Pak Wijaya berdiri. Jarinya sudah menyentuh pelatuk.

Elang tidak menghitung lagi. Ia melesat sepanjang galeri dengan langkah yang nyaris tak bersuara, dan pria itu menoleh tepat ketika Elang sudah berada satu langkah di belakangnya. Matanya membelalak. Ia mencoba memutar laras senapan ke arah Elang, tetapi telapak tangan kanan Elang sudah menahan lengannya dan memutar pergelangannya ke arah yang tidak seharusnya.

Senapan itu jatuh ke lantai dengan bunyi pendek. Pria itu menarik pisau dari pinggang kirinya dengan tangan satunya. Elang menunduk di bawah ayunan itu, menangkap lengannya, dan menekan nadinya sampai jari-jarinya terbuka. Pisaunya ikut jatuh. Lalu ia menghantamkan sisi telapak tangannya ke tengkuk pria itu, cukup keras untuk membuatnya terkulai tanpa suara.

Elang menahan tubuh itu sebelum jatuh ke pagar, menurunkannya pelan ke lantai galeri, dan memeriksa napasnya. Teratur. Ia hanya pingsan.

Dari bawah, musik masih mengalun. Tidak ada satu orang pun yang mendongak.

Elang berlutut di samping tubuh itu dan memeriksa saku-sakunya satu per satu. Dompet kosong tanpa kartu identitas, kunci kecil, sebuah alat komunikasi yang sudah mati, dan di saku dalam jas pelayan itu, selembar foto yang dilipat dua. Ia mengambilnya dan membuka lipatannya di bawah cahaya remang.

Foto itu menampilkan dirinya sendiri, sedang berjalan keluar dari mall Wijaya dengan sarung tangan hitam di tangan kanan. Wajahnya diberi lingkaran merah dengan spidol, dan di sudut foto ada coretan tangan. Elang membalik fotonya.

Di belakangnya, dalam tulisan tegak yang rapi, hanya ada satu kalimat.

Pemilik sebelah kiri.

Elang menatap tulisan itu lama sekali. Wajahnya tidak berubah, tetapi jari-jarinya perlahan mengepal, dan foto itu sedikit kusut di antara jemarinya.

Ia turun kembali ke ballroom dengan penembak yang pingsan di pundak kirinya, ditutupi sepotong tirai yang ia ambil dari galeri. Para tamu yang berdiri paling dekat dengan tangga berhenti berbicara satu per satu, dan musik sempat tersendat ketika pemain biola menyadari ada sesuatu yang aneh.

Pak Wijaya memutar badan dan berjalan menghampiri dengan langkah cepat. Lastri mengikutinya di belakang dengan kedua tangan menutup mulut.

"Elang?" Suara Pak Wijaya rendah, dan wajahnya sudah kehilangan sebagian warna. "Apa ini?"

"Orang ini bersembunyi di galeri atas." Elang menurunkan tubuh itu dengan hati-hati di lantai marmer. Penutup tirai terlepas, dan seorang pengawal Wijaya berseru ketika melihat senapan pendek yang ia taruh di samping tubuh itu. "Dia mengarahkan senjatanya ke panggung tempat Bapak berdiri. Aku sempat menghentikannya sebelum menembak."

Suasana ballroom berubah sepenuhnya. Beberapa tamu mundur sambil memegangi tas dan gelas mereka, dan seorang wanita berseru meminta polisi. Para pengawal Wijaya mengepung pria itu dengan wajah tegang, sementara dua di antaranya segera menempatkan diri di depan Pak Wijaya.

Pak Wijaya tidak bergerak dari tempatnya. Ia menatap senapan itu, lalu menatap Elang, dan sorot matanya tidak lagi hanya terkejut. Ia menarik napas panjang seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu dengan hati-hati.

"Pertama truk di mall," katanya pelan. "Lalu putriku di rumah sakit. Dan sekarang ini." Ia mengangkat wajah. "Tiga kali, Nak. Tiga kali kau menyelamatkan nyawa keluargaku."

"Aku kebetulan ada di sini, Pak."

"Tidak ada yang kebetulan tiga kali berturut-turut." Pak Wijaya menggeleng, tetapi senyum samar terbit di sudut bibirnya. "Ini bukan sekadar utang lagi."

Elang tidak menjawab. Di belakang Pak Wijaya, Lastri menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dan ia memalingkan wajah ke arah lain. Tetapi dari sudut matanya, ia menangkap satu hal yang lebih penting.

Di sudut ruangan, Ray berdiri sendirian dengan tongkat di tangan. Wajahnya pucat dan tidak lagi tampak kaku seperti tadi. Matanya bergerak pelan dari penembak yang pingsan ke wajah Elang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!