Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Rafael menatap cincin pernikahan yang berkilau di jari kirinya, jari telunjuknya terus memutar‑mutar perhiasan itu perlahan.
"Besok…" gumamnya pelan, napasnya terhenti sejenak. "Aku ada banyak pekerjaan yang harus diurus. Tapi… aku akan usahakan datang."
Alina menatapnya dengan hati yang berdebar, tidak yakin apakah janji itu benar‑benar akan ditepati. "Hanya usahakan?" suaranya bergetar sedikit.
Rafael mendongak menatap wajah istrinya yang tampak lelah dan berharap itu. "Aku akan datang, Alina. Aku janji."
Ia mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri, melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Alina, mengusap lembut pipi istrinya itu. "Aku lelah. Aku mau ke kamar dulu untuk mandi. Kamu makanlah."
Sentuhan itu hangat. Terlalu hangat setelah seharian dingin.
Alina terdiam. Selama dua tahun menikah, ini sentuhan pertama setelah pertengkaran yang bukan karena Rafael butuh sesuatu.
Tapi entah kenapa, usapan itu tidak terasa seperti permintaan maaf. Terasa seperti membungkam.
"Baik," jawabnya pelan.
Rafael melewatinya begitu saja, langkahnya berat menuju tangga menuju kamar tidur. Suara langkah kakinya perlahan menghilang di lantai dua, meninggalkan Alina sendirian di ruang makan yang luas dan dingin itu.
-
-
-
Pagi ini cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, membelai ruangan yang kini terasa lebih tenang dan segar. Alina sudah berdandan rapi, mengenakan dress berwarna merah muda yang lembut, rambut panjangnya dibiarkan terurai. Ia melangkah pelan mendekati Rafael yang sedang berdiri di depan cermin rias besar, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang presisi dan dingin seperti biasanya.
Tanpa suara, Alina melingkarkan kedua lengannya di pinggang suaminya dari belakang, menempelkan pipinya lembut ke punggung bidang itu, menghirup aroma parfum yang selalu ia kenal baik. Rafael terhenti sejenak, namun tidak langsung berbalik, matanya tetap menatap pantulan mereka di cermin.
"Sayang..." suaranya terdengar lembut dan penuh harap. "Kamu benar akan datang kan nanti malam?"
Ia merapatkan pelukannya sedikit lebih erat, menatap mata Rafael lewat pantulan kaca itu.
"Ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kedua. Dua tahun... rasanya waktu berlalu begitu cepat. Dan selama ini, mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Aku ingin ada sesuatu yang berbeda malam ini, Rafael. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu, bisakah mulai sekarang kamu lebih fokus padaku? Memprioritaskan aku?"
Rafael berdiri diam sejenak, tangannya yang tadinya merapikan dasi terhenti di udara. Ia menatap wajah Alina di cermin, melihat kerinduan yang tulus bersinar di mata wanita itu. Namun bayangan wajah Amara samar-samar melintas di benaknya, membuat kata-kata yang hendak keluar terasa berat di lidah.
Ia meletakkan kedua tangan di atas lengan Alina yang melingkar di pinggangnya, namun tidak langsung melepaskan pelukan itu.
"Nanti malam..." gumamnya pelan. "Sebenarnya jadwalku masih cukup padat minggu ini, Alina. Tapi aku sudah janji akan datang. Aku pasti menepati janjiku."
Alina merasakan sedikit kelegaan menyelinap di dadanya, meskipun nada suara Rafael tidak terlihat penuh semangat. Ia sedikit melemaskan pelukannya, tapi masih mempertahankan jarak dekat di punggung suaminya itu.
"Terima kasih," bisiknya pelan di balik bahu Rafael. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku harap kali ini kamu tidak mengecewakanku."
Rafael mengangguk perlahan, lalu melepaskan pelukan Alina dengan lembut. Ia berbalik menghadap istrinya, tatapannya tampak bercampur antara rasa bersalah dan beban pikiran yang tidak bisa ia sampaikan.
"Aku akan berusaha, Alina. Tapi sekarang aku harus berangkat ke kantor."
Rafael tersenyum tipis, mengusap pelan puncak kepala istrinya, namun di balik senyum itu, hatinya terasa sedikit sesak. Ia tahu janji ini seharusnya mudah diucapkan, namun entah mengapa, perasaan gelisah mulai merayap pelan di dadanya.
"Kalau begitu ayo kita turun. Aku sudah terlambat untuk datang ke kantor."
Alina tersenyum lebar, masih terlihat begitu bahagia hingga matanya menyipit manis. Ia merapikan sedikit kerah jas suaminya dengan gerakan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu aku antar sampai teras, ayo."
Rafael hanya mengangguk pelan, senyumnya tetap tipis dan tak terlalu dalam, seakan ada beban yang tak terucap menekan pikirannya. Ia melangkah beriringan bersama Alina keluar kamar menuju lorong yang luas itu.
Saat mereka menuruni tangga, dari lantai bawah terlihat sosok Revan yang sudah berdiri rapi di dekat pintu utama, tangan kanannya memegang kunci mobil, menunggu seperti rutinitas biasanya. Begitu melihat mereka berdua turun, ia langsung menunduk sopan, namun matanya sempat menangkap kilau kebahagiaan di wajah Alina dan keraguan samar di wajah Rafael sekilas.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapanya tenang. "Mobil sudah siap di depan."
"Terima kasih, Revan," jawab Rafael singkat, lalu ia menoleh sepenuhnya ke arah Alina. "Ngomong-ngomong, hari ini asisten rumah tangga yang baru belum bisa datang, baru akan datang besok. Jadi sementara waktu, Revan akan tetap di sini untuk menemanimu dan memastikan kamu aman."
Kalimat itu meluncur ringan dari mulut Rafael. Praktis. Dingin. Seperti mengumumkan jadwal meeting.
Alina yang tadinya tersenyum lebar sambil merapikan kerah jas suaminya, tangannya berhenti di udara.
"Menemaniku?" ulangnya pelan.
"Ya," Rafael mengangguk, tidak menyadari perubahan nada suara istrinya. Ia melirik jam tangannya. "Aku sudah bilang ke Revan. Dia tidak usah ikut ke kantor hari ini. Fitting dengan Amara biar aku yang handle sendiri. Dia stay di sini. Rumah besar begini tidak aman kalau kamu sendirian."
Revan yang berdiri di dekat pintu utama, menunduk dalam. Tapi rahangnya mengeras.
Alina menatap Rafael, lalu menatap Revan sekilas.
"Rafael," Alina suaranya mulai kecil lagi, kebahagiaan yang tadi menyipitkan matanya perlahan hilang. "Hari ini... hari ulang tahun pernikahan kita. Kamu tinggalkan aku di rumah seharian dengan asistenmu?"
Rafael mendesah. Desahan lelah yang sama seperti semalam di ruang makan.
"Alina, justru karena hari ini anniversary, aku mau kamu tidak capek," jawabnya, mencoba terdengar logis. "Kamu bisa istirahat, siap-siap untuk malam ini. Revan bisa bantu kamu kalau perlu apa-apa. Anggap saja dia sopir pribadimu hari ini."
Alina terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia tidak mau bertengkar lagi pagi ini. Tidak di hari yang sudah ia siapkan selama seminggu.
"Baik," bisiknya. "Hati-hati di jalan."
Rafael tersenyum tipis, mengusap puncak kepala Alina lagi. Lalu ia melangkah turun, mengambil kunci mobil dari tangan Revan.
"Aku bawa mobil sendiri hari ini, Van. Kamu pakai mobil kedua saja kalau Alina perlu keluar," kata Rafael. "Aku berangkat dulu."
Revan mengangguk hormat, "Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nyonya Alina seharian ini."
Ia berjalan mendahului ke halaman, membukakan pintu mobil untuk Rafael. Setelah pria itu masuk dan menyalakan mesin, Revan berdiri dengan tegak, mengawasi mobil melaju hingga hilang di balik pagar besi.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangan matanya, sikap sopan yang tadi ia pakai luntur sedikit, digantikan senyum tipis yang penuh perhitungan. Ia berbalik perlahan dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
Alina masih berdiri di bawah anak tangga, tatapannya tajam dan penuh kecurigaan begitu melihat Revan masuk. Pria itu menatapnya dari atas sampai bawah, tangan kanannya melonggarkan dasinya dengan gerakan tenang. Terlalu tenang hingga membuat Alina meremang.
"Revan..." Alina mundur setengah langkah, tangannya yang gemetar tergenggam erat disisi tubuhnya. "Kenapa menatapku seperti itu?"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰