Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAGA HITAM VS BERUANG BAJA 2
Axel menyeringai lebar menatap sang Kolonel, matanya berkilat antusiasme. "Tuan Kolonel, pertarungan ini sungguh luar biasa serunya... jarang sekali kita semua berkumpul seperti ini. Bagaimana kalau kita bertaruh?" Tanyanya.
Kolonel tertawa keras hingga bergema di dinding batu.
"Hahaha... masih saja kau memikirkan botol arak luhur pemberian atasan tertinggiku ya? Baiklah, melihat semua orang sedang dalam suasana hati yang baik, aku pertaruhkan dua botol sekaligus!"
Axel tertawa puas menepuk pahanya. "Wah, separuh simpanan berharga Tuan Kolonel rupanya! Kalau begitu kami pun tak boleh pelit. Kami para penghuni neraka ini memang tak punya barang mewah, tapi kami punya harta yang tak habis dimakan meski mati kelaparan. Aku takkan pernah keluar dari sini lagi, jadi apa ruginya?" Ia condong ke depan matanya berkilat tajam. "Aku bertaruh seratus ribu keping emas untuk kemenangan Ivan Dragos, pemimpin misterius Black Dragon!"
Kolonel mengangguk mantap. "Baiklah kalau begitu, aku pegang taruhan untuk Renzo. Aku tahu betul apa yang tersimpan di dalam dirinya — seorang prajurit yang tak pernah terukur batas kekuatannya. Ia tak akan tumbang semudah itu!" Jawab Sang Kolonel.
***
GRAAAAARRR!!!
Ivan meraung keras bagaikan naga yang marah, getarannya hingga menggetarkan tulang sumsum ribuan orang yang menyaksikan. Kakinya menghantam tanah memecah bebatuan, tubuhnya melesat bagai anak panah lepas lurus ke arah Renzo. Di udara ia berputar 360 derajat penuh, kakinya melengkung tajam mengarah tepat ke leher Renzo.
WHOOOOUUUSSSS!!!
Angin menderu tajam membelah udara, sapuan kakinya begitu cepat hingga meninggalkan bayang-bayang samar — satu serangan yang pasti mematahkan leher siapa pun yang terkenanya. Namun Renzo diam saja tak bergerak sedikitpun. Hanya saat ujung kaki itu nyaris menyentuh lehernya — barulah ia bergerak.
KRAK!
Tanah di bawah kakinya amblas saat ia melompat mundur selangkah tepat. Tendangan maut Ivan melesat di hadapan hidungnya, anginnya membelai rambutnya. Belum Ivan mendarat, ia sudah memutar pinggang kembali — tendangan demi tendangan beruntun meluncur deras ke kaki kiri Renzo, tak memberi celah bernapas.
Renzo tak diam. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, tubuhnya melayang berputar di udara lincah bagai daun terbawa angin.
SWISSHH!!!
Setiap tendangan lewat menyisir udara kosong. Renzo menghindar dengan gerakan halus teratur, tak tergesa-gesa sedikitpun. Presisi sempurna, seakan ia sudah melihat setiap gerakan itu sedetik sebelum Ivan melakukannya.
Ivan meraung makin keras menahan frustrasi. Ia meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah, mendorong tubuhnya ke atas lalu — dua kakinya sekaligus menghantam tanah melontarkannya ke udara. Tubuh besarnya melesat bagai peluru meriam menubruk dada Renzo. Cepat bagai kilat, kuat bagai badai.
Renzo tersenyum dingin.
Ia mundur selangkah lalu melompat dengan gesit.
WAAAAHHH!!! Sorak penonton meledak memecah keheningan.
Tuk! Tuk! Tuk! — suara tangan bertemu kaki terdengar berirama tiada henti. Bayangan kedua tubuh itu saling bertautan di bawah cahaya matahari hingga sulit dibedakan mana Renzo mana Ivan.
TUK! TUK! TUK! — tiga puluh enam kali tendangan berturut-turut, semuanya ditangkis Renzo satu persatu. Renzo tak mundur selangkahpun.
Tiba-tiba Ivan melompat mundur beberapa meter, jarak aman tercipta di antara mereka.
ROAAAARR!!! Ia mengaum mengguncang langit, kedua kakinya menghantam tanah bersamaan melontarkan tubuhnya ke udara — berputar tujuh ratus dua puluh derajat, tubuhnya menjadi pusaran kematian berbentuk spiral.
WHUSSS!!! Angin menderu histeris, debu beterbangan berputar mengelilinginya. Setiap ujung kaki yang meluncur membelah udara membawa ancaman maut.
Renzo tak mau kalah. Ia menjejak tanah sekuat tenaga dan melesat menyambutnya di udara, kepalan tangan kanannya terkepal erat sekuat tenaga lalu menghantamkannya ke tendangan spiral itu.
BOOOMMM!!!!
Dua kekuatan bertabrakan. Ledakan udara menyapu ke segala arah, debu tebal menutupi pandangan ribuan orang. Ketika lenyap — keduanya terdorong mundur sama jauhnya, lima langkah, tanah di belakang kaki mereka tergerus dalam.
Namun Ivan tak memberi waktu bernapas. Saat kakinya menyentuh tanah sepenuhnya, ia kembali meluncur ke depan seakan tak ada hukum fisika yang mengikatnya.
SWISSSHH!!!! Kaki kanannya melesat ke pelipis Renzo — ditangkis sempurna. Namun itu pengalih perhatian. Kaki kirinya bergerak diam-diam dari bawah, menendang paha kiri Renzo tepat di celah pertahanannya yang tertutup.
BAMM!!
Renzo terpental menyamping, tubuhnya menggeser tanah meninggalkan parit panjang di permukaan bumi. Belum berhenti meluncur, Ivan sudah datang kembali. Ia tak lelah, napasnya tak memburu — mesin pembunuh itu terus berputar tanpa henti.
Tendangannya kini berubah. Lebih licik. Lebih kejam. Setiap kali Renzo menangkis, kaki satunya menyelinap dari sudut tak terduga — bawah, samping, belakang, di balik telapak tangan Renzo sendiri.
CRAK! Suara mengerikan terdengar.. Kulit lengan Renzo terkoyak, darah segar memancar membasahi tanah.
HUAAAA!!! Para penonton terpekik ngeri. Belum pernah mereka melihat seni bertarung seindah sekaligus mematikan ini.
Ivan kini nyaris menempel pada Renzo. Kakinya bergerak begitu cepat hingga berbayang tak terlihat mata telanjang — puluhan serangan tiap detik, tak ada yang sama, tak ada yang dapat diprediksi.
Pangeran Kael menyipitkan matanya makin tajam, rahangnya menegang ia semakin serius. "Teknik Tendangan Shaolin..." gumamnya tak percaya.
Darren mengangguk pelan matanya tak lepas dari pertarungan. "Pantas saja ia begitu percaya diri. Ia menguasai Kung Fu Shaolin — seni bela diri kuno dari Tiongkok."
Damian menelan ludah pelan, matanya menyala penuh kagum sekaligus ngeri. "Mengerikan... benar-benar mengerikan. Akhirnya aku paham. Dialah satu-satunya lawan yang pantas berdiri berhadapan dengan Beruang Baja."
Belly melongo tatapannya seolah tak percaya pada pertarungan yang ia saksikan, "Kekuatan, kecepatan, ketahanan... semuanya sempurna. Apakah mereka berdua benar-benar manusia?"
Axel tersenyum bangga seakan dialah pelatihnya. "Pilihanku takkan pernah keliru. Ia adalah Ivan Dragos, pemimpin Black Dragon — nama yang hanya dibisikkan di kegelapan malam. Identitasnya tak pernah terlihat siapa pun. Namun aku tak menyangka... bahkan seni bela diri kuno tiongkok pun ia kuasai. Entah di neraka mana ia mempelajarinya."
Sang Kolonel tersenyum misterius, jari telunjuknya mengetuk pelan lengan kursi. "Namun jangan terlalu cepat bersorak, Axel. Kalian belum tahu separuhnya. Sosok yang berdiri di sana — Renzo — dialah orang yang mengalahkan Panglima Perang Belanda dalam duel satu lawan satu puluhan tahun silam."
Mata kelima penguasa membelalak serempak. Dahulu ada sosok misterius yang berhasil membunuh Panglima belanda.. namun tak ada yang tahu siapa pelakunya, karena pelakunya sangat menyembunyikan identitasnya demi melindungi keluarganya dari pembalasan para tentara Belanda hanya segelintir orang yang mengetahui siapa orang itu dan sebagai kolonel yang sudah lama ia jelas tau siapa pelakunya..
"Jika Renzo adalah orang itu..." suara Damian bergetar pelan, "Ivan tak akan pernah bisa menang?"
"Belum tentu," balas Axel tegas, matanya tak berkedip menatap arena, "kemampuan asli Ivan Dragos... kita belum melihat sepenuhnya bahkan saat ini ia berhasil membuat Renzo terdesak.."