Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hari itu berlalu begitu saja, Nadia ikut terleleap bersama Jayden hingga sore hari.
"Euggh." Nadia terbangun karena merasa lenganya keram saat untuk alas kepala Jay.
"Jay bangun, lengan gue sakit anjir," keluh Nadia mencoba menarik lenganya sendiri.
Jay terbangun, ia cemas saat melihat raut wajah
Nadia yang kesakitan, " Mana yang sakit?" tanya jay yang kini sudah di posisi duduk.
Nadia mengulurkan lenganya, dan Jay beranjajak mnegambil baby oil untuk mengurut lengan Nadia.
"*Mau ngapain lo?'" ketus Nadia yang takkut jika tanganya akan semakin sakit*
"*Ngurut lengan lo, ini kan sakit gara-gara gue," Jay menarik lengan Nadia pelan*.
"*Nggak sakit kok, Bercanda doang tadi," Nadia kembali menarik lenganya, tapi di tahan oleh Jay*.
"*Lo takut gue salah ngurut? tenang aja, jemari gue udah ahli kalau masalah beginian*."
Dengan telaten Jay mengurut dan memberikan sedikit pijatan, Nadia yang awalnya takut pun kini malah menikmati setiap pijatan yang Jay berikan.
"*Enak?" tanya Jay dengan menarik sudut bibirnya, dan tanpa sadar Nadia mengangguk sebagai jawaban walau matanya terpejam*.
Nadia yang sadar langsung membuka matanya dan menggelengkan kepalanya.
"*Mau coba yang lain nggak?" pertanyaan Jay semakin membuat Nadia terbelalak*.
Jay tak memperdukikan nadia yang menggeleng pelan. dan Jay semakin mendekat. Tapi semuanya buyar saat tiba-tiba Jay mendengar suara keroncongan perut Nadia.
Kruk kruk kruk...
"*Gue laper," lirih Nadia menatap netra Jay dari dekat*.
Cup. sebelum bangkit Jay mengecup kilas kening Nadia, dan itu sukses membuat wajah sang empu merona.
"*Hem..." Jay mengulurkan tanganya meminta Nadia bangun*.
"*Lo duluan aja deh, nanti gue nyusul," tapi Jay tak menerima penolakan, cowok itu menggendong badan Nadia ala bridal style*.
Walaupun kaget, Nadia melingkarkan kedua tangan ke leher Jay agar tak terjatuh.
"*Lo kebiasaan maksa ya*?"
Jay mengangguk membenarkan." Tapi cuma sama lo! karena lo sealu berontak kalau sama gue," tambahnya.
Sampainya di dapur, jay meletakan badan Nadia di kursi Bar dengan ukuran tak begitu besaritu.
"*Mau makan apa?" tanya Jay mendekatkan wajanya dan selalau memberika kecupan kilas, entah itu di bi bir atau di pipi, atau bahkan di kening dan juga hidung Nadia*.
"*Muka lo kenapa jadi merah? kaya kepiting rebus," kekeh Jay menggoda Nadia dan cewek itu hanya menunduk malu*.
"*Sia lan, kenapa jadi malah gue yang salting begini sih?" gumam Nadia dalam hati*.
"*Masih ada Nasi, kita buat nasi goreng ya*?"
"*Terserah lo*."
Jay mulai meracik bumbu yang akan ia pakai untuk memasak nasi goreng andalanya saat ia berada di luar negri dulu, dan Nadia melihat Jay kagum, entah bagaimana cowok yang tampan, pinter masak, walau di sekolahan ia terlihat kaya murid yang malas,
"*Gue tahu kalau gue itu ganteng, jadi gimana*?
udah mulai terpesona kan?"jay mengedipkan satu matanya.
"*Ish kegeeran," cibir Nadia ketus*.
Jay meletakan nasi goreng buatanya iti di atas meja bar dan Jay duduk teapt di depan Nadia.
"*A....." Jay mengangkat satu sendok nasi goreng ke arah Nadia*.
"*Gue bisa makan sendiri," Nadia megambil sendok di tangan Jay, dan menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri*.
Jay hanya terlekeh dan mulai ikut makan bersama Nadia.
Setelah selesai makan, Nadia berinisiatif utuk mencuci piring bekas mereka berdua.
"*Biar gue yang cuci piring," Nadia mengambil piring kotor bekas mereka ke arah wastafel*.
Nadia terkejut saat tiba-tiba Jay memeluknya dari arah belakang, memberikan kecupan kilas di leher jenjang Nadia terekspos karena rambut kuncir kudanya..
"*Jay...! gue lagi cucui piring," protes Nadia yang jadi tak bisa fokuskarena deru nafas Jay yang menggelitik lehernya*
"*But I want you now," bisik Jayden membuat Nadia semakin merinding*.
"*Jangan macem-macem ya Jay," belum juga selesai mencuci piring, badan Nadia sudah di balikan oleh Jay dan kini menghadap ke arahnya*.
Kedua tangan Nadia ia genggam dengan satu telapak tanganya dengan mudah, lalu Jay tarik ke atas.
Netra jay begitu candu pada bi bir Nadia yang begitu ranum dan basah.
"*Jay...mmm..." Nadia terbelalak saat Jay benar-benar mendaratkan bi birnya kala itu juga*.
Nadia mencoba berontak, ia tak mau jika aksi mereka akan telrlihat oleh pembantu yang masih terjaga.
"*Jay ini dapur," protes Nadia saat melepas tautan mereka*.
"*So?" Jay menaikan satu alisnya*.
"*Nanti kalau ada mba yang masih bangun gimana? terus ngeliat kita lagi kaya gini, malu anjir*."
Jay menarik sudut bibirnya, "Kalau gitu kita pindah tempat," Jay tak mau menbuang waktu dengan meggendong badan Nadia ala koala menuju kamar.
Susah payah Nadia menelan ludahnya sendiri, ia merasa cowok di depanya kini auranya sangat berbeda, Jay terlihat lebih se xi dan mempesona saat itu juga. sampai netra Nadia tak isa beralih dari wajah tampan Jay yang akhirnya ia akui begitu terlihat sempurna.
Sampainya di kamar, Jay meletakan badan Nadia dia atas meja yang ada di kamar itu.
"*Gue udah bilang kalau gue minta waktu, karena gue belum siap." kata Nadia sedikit bergetar. jujur lah bahwa saat ini Nadia merasa ada desiran aneh pada hatinya*.
Jay menatap Nadia dengan begitu dalam dan juga lembut, ia meraih ikat rambut Nadia dan melepasnya hingga rambut panjag Nadia tergerai indah.
"*Gue selalu suka dengan semua yang ada di dirilo," suara Jay terdengar parau dan serak*.
"*You okay?" tanya Nadia khawatir karena begitu banyak buliran kecil yang timbul di wajah Jay*.
"*i am not okay, asal lo tahu, gue udah nahan ini sejak lama, laamaaa..... Nadia! tapi ketika gue udah dapetin lo, lo malah benci sama gue*."
"*Hah?" Nadia menatap Jay dengan kebingungan*.
"*Gue nggak akan maksa," Jay menjauh dan dari Nadia dan berjalan ke arah balkon, mengambil sesuatu dari sakunya dan menghidupkan korek*
Ya. Jay mero kok untuk sekedar melepas segala kepenatan hatinya yang terlalu sumpek ia rasa. Mengepulkan asap ke udara adalah salah satu ritual yang dapat Jay lakukan agar bebanya seolah ikut terbang ke atas.
Nadia hanya menatap punggung Jay dari pintu, ia tak berani mendekat, walau sebenarnya hatinya ingin sekali mendekat.
"*Dia aneh banget nggak sih? kadang kaya berasa dia nggak bisa nahan dan agresif, tapi bisa tiba-tiba cuek seketika dan ninggalin gue gitu aja, dasar cowok aneh!" gumam Nadia dalam hatinya*.
Sementara Jay berada di balkon, Nadia mencari keberadaan ponselnya yang ternyata ia menerima beberpa pesan dari Mela.
"*Lo nggak apa - apa kan anjir? itu cowok maen ngajak lo pergi gitu aja, dan buat satu sekolahanheboh,"- pesan Mela*.
"*Sorry gue baru bales, gue baru megang Hp ya njir, heboh gimana sih?''- balas Nadia yang pura-pura tidak tahu padahal ia sangat tahu dengan kejadian yang sebenanya*.
Baru saja nadia membalas pesan Mela, cewek itu langsung menelepon Nadia, tapi Nadia yang masih tak mau jika Mela tau bahwa mereka berdua tingal satu atap.
Tut, Nadia merijek telepon dari Mela.
lagi. "Jangan telepon, chat aja anjir," Balas Nadia
"*Lo masih sama Jay?" selidik Mela*.
"*Iya, makanya jangan telepon dulu," - Nadia*.
Nadia tergagap saat Jay sudah masuk lagi ke dalam kamar. "Jangan tidur malam-malam, gue pergi dulu bentar," kata Jay dengan lembut.
"*Lo mau kemana?" Tanya Nadia yang sebenarnya takut jika sendiri di rumah. Apa lagi rumah jay begitu besar*.
"*Mau ikut?" Nadia seolah tengah berpikir*.
" *Gue cuma takut kalau di rumah sendiri, tapi gue nggak pengen ikut," sahut Nadia. Dan Jay menghembuskan nafasnya panjang*.
Jay mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang Nadia sendiri juga tak tahu.
"*Malam ini kalian yang urus, istri gue nggak bisa di tinggal sendirian di rumah*."
Deg. Mendengar kata istri yang seolah mengatakan bahwa Nadia seutuhnya milik Jay. Membuat wajah Nadia kembali merona dan memanas.
"*Ehem..." Nadia berdehem untuk menetralkan situasi yang membuatnya salah tingkah*.
"*Gue nggak jadi pergi kok, lain kali lo cukup bilang kalau lo nggak mau gue pergi, karena gue nggak akan pergi tanpa izin lo," sudah di pastikan kini jay pasti melihat wajah Nadia yang sudah seperti kepiting rebus lagi*.
"*Muka lo kenapa merah?" Jay terkekeh dan naik ke atas tempat tidur*.
Tapi dengan cepat Nadia menutupi dirinya dengan selimut. "Nggak usah hgeledek gue!" Tegas Nadia yang malah terlihat lucu di mata Jayden.
"*Emang siapa yang mau ngeledek? Orang gue pengenya masukin," goda Jay yang sukses membuat Nadia membuka selimutnya*.
"*Stres ya lo!" Ketus Nadia yang ingin beranjak dan jauh-jauh dari cowok mes um itu*.
11 Gue stres juga karena nahan kelamaan baby, pengen di keluarin ini loh," Nadia terbelalak saat Jay menarik lengannya.
"Lepasin tangan gue nggak?!" Tegas Nadia."Lepasin tangan gue nggak?!" Tegas Nadia.
"Enggak mau, maunya kamu kesini dulu terus masukin dikit-dikit, ehh bablas deh." Nadia menepis lengan Jay yang menahanya dan bernajak dari sana.
"Beneran stres!" Nadia pindah ke sofa dan duduk di sana.
"Yah... Solo lagi ini mah, punya bini kaya nggak punya bini aja gue, nasib.. nasib..."