NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Rahasia yang Mengubah Segalanya (Flash Back Denis dan Siska #3#)

Siska yang telah terbangun memperhatikannya dalam diam, “Mas menyesal?” tanyanya.

Denis tidak segera menjawab. Ia ingin mengatakan tidak. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa kejadian semalam hanyalah sebuah kekhilafan yang tidak akan terulang. Namun, ia juga tidak bisa menyangkal rasa bersalah yang kini memenuhi pikirannya.

“Saya tidak tahu,” jawabnya jujur.

Siska menunduk, “Saya juga tahu ini salah.”

Denis memejamkan mata sebentar, “Seharusnya kita tidak melakukan ini.”

“Tapi kita sama-sama melakukannya, Mas.”

Kalimat itu membuat Denis terdiam. Siska tidak sepenuhnya keliru. Ia memang tidak bisa menimpakan seluruh kesalahan kepada perempuan itu. Denis telah membuat pilihannya sendiri, dan ia harus menanggung akibatnya.

Sebelum meninggalkan kamar, mereka sepakat untuk bersikap biasa saja selama pelatihan berlangsung. Tidak ada yang perlu mengetahui apa yang terjadi di antara mereka.

Mereka mengira rahasia itu dapat disimpan begitu saja, seolah sebuah kesalahan akan kehilangan maknanya apabila tidak diketahui orang lain. Padahal, mereka lupa bahwa sesuatu yang disembunyikan tidak selalu berhenti berkembang.

Hari kedua pelatihan berlangsung seperti biasa. Denis berusaha memusatkan perhatian pada materi yang disampaikan narasumber. Ia mencatat beberapa hal penting, berdiskusi dengan peserta lain, dan mengikuti evaluasi program sebagaimana mestinya.

Namun, pikirannya tidak benar-benar berada di dalam ruangan. Setiap kali melihat Siska, ia teringat malam sebelumnya. Setiap kali perempuan itu tersenyum kepadanya, ada kegelisahan yang muncul bersamaan dengan perasaan lain yang enggan ia akui.

Siska pun tidak lagi bersikap seperti sebelumnya. Ada kecanggungan di antara mereka, tetapi juga ada kedekatan yang seolah menjadi rahasia bersama. Mereka tidak banyak berbicara ketika berada di hadapan peserta lain. Namun, beberapa kali tatapan mereka bertemu, dan masing-masing memahami bahwa malam sebelumnya telah mengubah sesuatu.

Denis berharap kejadian itu cukup menjadi satu kesalahan yang tidak akan terulang. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga jarak setelah mereka kembali ke Pontianak. Namun, janji itu ternyata lebih mudah diucapkan daripada dijalankan.

Pada malam kedua, Siska mengirimkan pesan singkat kepadanya, “Mas, terima kasih sudah menemani saya. Saya senang bisa mengenal Mas lebih dekat.”

Denis membaca pesan tersebut cukup lama. Ia seharusnya tidak membalas. Ia seharusnya membiarkan jarak kembali terbentuk di antara mereka.

Namun, akhirnya ia mengetik, “Sama-sama. Kita tetap harus profesional setelah kembali bekerja.”

Balasan Siska datang tidak lama kemudian, “Saya mengerti, Mas. Tapi perasaan saya tidak bisa langsung berubah begitu saja.”

Denis meletakkan ponselnya. Ia tahu perempuan itu mulai mengharapkan sesuatu darinya. Ia juga menyadari bahwa kedekatan yang mereka bangun tidak lagi bisa dianggap sebagai percakapan ringan antara rekan kerja.

Malam itu, Denis tidak membalas lagi. Namun, diamnya tidak serta-merta menyelesaikan masalah.

Hari ketiga menjadi penutup pelatihan. Seluruh peserta mengikuti evaluasi akhir dan menyampaikan rencana tindak lanjut program CSR yang akan diterapkan di wilayah kerja masing-masing.

Denis berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mempresentasikan hasil diskusi, menjawab pertanyaan narasumber, dan menyelesaikan dokumen yang diperlukan.

Ketika kegiatan berakhir, ia merasa lega. Ia ingin segera pulang. Ia ingin kembali ke rutinitasnya, menemui Mita, dan meyakinkan dirinya bahwa kehidupan dapat berjalan seperti sebelumnya.

Namun, ia tidak menyadari bahwa dirinya telah membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berat daripada laporan pekerjaan.

Sebuah rahasia.

Dalam perjalanan kembali ke Pontianak, Denis lebih banyak diam. Beberapa kali ponselnya bergetar karena pesan dari Mita yang menanyakan perkiraan waktu kedatangannya.

“Sudah di bandara ya?”

“Hati-hati, ya Mas. Kalau sudah sampai, kabari aku.”

Denis membalas dengan singkat, berusaha menjaga nada pesannya tetap wajar, “Iya, sebentar lagi terbang.”

“Baik. Aku tunggu kabarnya. Semoga lancer di perjalanan dan kembali dengan selamat.”

Denis mematikan layar ponsel. Ia tahu Mita sedang menunggunya dengan perasaan rindu. Perempuan itu mungkin telah menyiapkan cerita tentang hari-harinya, tentang pekerjaan di sekolah, atau tentang sesuatu yang ingin mereka bicarakan ketika kembali bertemu.

Sementara itu, Denis justru sibuk menyusun alasan agar Mita tidak mengetahui apa yang terjadi selama perjalanan dinasnya. Ia ingin percaya bahwa satu kebohongan cukup untuk menutup semuanya. Padahal, ia baru saja membuka pintu bagi kebohongan-kebohongan berikutnya.

Hari-hari setelah perjalanan dinas itu berjalan seperti biasa, setidaknya dari luar. Denis kembali bekerja di kantor. Ia menghadiri rapat, menyusun laporan, dan melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Ia juga tetap berkomunikasi dengan Mita. Perempuan itu tidak melihat perubahan yang berarti. Denis masih menanyakan kabarnya, masih mengingatkan Mita agar tidak terlalu lelah, dan masih meluangkan waktu untuk berbicara ketika pekerjaan memungkinkan.

Namun, ada sesuatu yang berubah dalam diri Denis.

Ia mulai menyembunyikan layar ponselnya ketika menerima pesan dari Siska. Ia lebih berhati-hati dalam menjelaskan kegiatan kantor. Ia bahkan mulai menyusun jawaban sebelum Mita menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu disembunyikan.

Kedekatannya dengan Siska pun tidak benar-benar berhenti. Pesan-pesan pekerjaan mulai diselingi percakapan pribadi. Pertemuan yang semula tidak disengaja berubah menjadi kesempatan yang dicari-cari. Denis semakin sulit membedakan perhatian profesional dengan keinginan untuk kembali merasakan sensasi kebersamaan yang telah mereka mulai.

Siska pun tidak lagi memandang Denis sekadar sebagai rekan kerja yang menarik. Ia mulai berharap bahwa dirinya memiliki tempat khusus dalam kehidupan laki-laki itu.

Suatu sore, ketika mereka sempat berbicara setelah urusan pekerjaan selesai, Siska menatap Denis dengan serius, “Mas, sebenarnya hubungan kita ini mau dibawa ke mana?”

Denis menghela napas, “Kita sudah membicarakannya. Apa yang terjadi di hotel seharusnya tidak terulang.”

“Saya tahu. Tapi bagi saya, itu bukan sesuatu yang bisa dianggap tidak pernah terjadi.”

Denis terdiam.

“Saya tidak meminta Mas langsung meninggalkan Mita,” lanjut Siska. “Saya hanya ingin tahu apakah saya berarti bagi Mas.”

Pertanyaan itu membuat Denis gelisah. Ia tidak ingin kehilangan kedekatan yang selama ini memberinya sensasi yang menyenangkan sekaligus menantang. Namun, ia juga tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan melukai seseorang.

“Sis, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa.”

Perempuan itu tersenyum hambar, “Setidaknya Mas jujur tentang itu.”

Denis tidak menjawab. Ia seharusnya mengakhiri hubungan tersebut sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Namun, ia kembali memilih menunda keputusan. Dan penundaan itu menjadi awal dari persoalan yang jauh lebih besar.

Beberapa minggu kemudian, Siska mulai merasa ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Awalnya, ia menganggap keterlambatan datang bulan sebagai akibat kelelahan. Pekerjaan yang menumpuk, perubahan pola tidur, dan tekanan emosional belakangan ini membuatnya tidak terlalu memikirkan kemungkinan lain.

Namun, ketika hari-hari berlalu tanpa tanda-tanda menstruasi, kegelisahan mulai menguasainya.

Siska membeli alat tes kehamilan. Ia melakukan pemeriksaan itu seorang diri di kamar mandi tempat tinggalnya. Tangannya gemetar ketika menunggu hasilnya muncul.

Dua garis.

Siska menatap benda kecil di tangannya dengan napas tertahan. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa hasil itu mungkin keliru. Namun, setelah melakukan pemeriksaan lanjutan dengan orang terdekatnya, dugaan tersebut semakin menguat.

Ia hamil.

Kabar itu membuat dunianya seakan berhenti berputar. Siska duduk di tepi tempat tidur dengan mata berkaca-kaca. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya. Ia memikirkan masa depannya, pekerjaannya, keluarganya, dan laki-laki yang menjadi ayah dari anak yang sedang dikandungnya.

Denis.

Laki-laki itu masih memiliki hubungan dengan Mita. Sampai saat ini, ia belum pernah memberikan kepastian tentang masa depan mereka. Bagaimana Denis akan menerima kabar ini?

“Apakah ia akan bertanggung jawab? Ataukah ia justru akan menjauh dan membiarkan Siska menghadapi semuanya seorang diri?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Siska semakin gelisah. Setelah berulang kali menenangkan diri, ia akhirnya mengambil ponsel dan menghubungi Denis.

Panggilan pertama tidak dijawab. Ia mencoba lagi beberapa menit kemudian. Kali ini, Denis mengangkatnya, “Halo, Sis. Ada apa?”

Siska berusaha berbicara, tetapi suaranya tertahan oleh tangis.

“Sis? Kamu kenapa?”

“Mas, saya perlu bicara.”

“Bicara saja. Ada masalah di kantor?”

“Bukan.”

Denis mulai merasa tidak tenang.

“Lalu apa?”

Siska memejamkan mata, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat yang sejak tadi menghantui pikirannya, “Mas, saya terlambat datang bulan.”

Denis terdiam.

“Saya sudah melakukan pemeriksaan,” lanjut Siska dengan suara bergetar. “Hasilnya positif, Mas.”

Untuk beberapa saat, tidak ada suara dari seberang telepon.

Denis memandangi ponselnya seolah tidak memahami apa yang baru saja didengarnya, “Apa maksud kamu?” tanyanya akhirnya, meskipun ia sudah mengetahui jawabannya.

“Saya hamil, Mas.”

Dunia Denis seakan runtuh dalam sekejap. Ia berdiri dari kursinya, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di dekat jendela. Tangannya terasa dingin. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak pernah ia bayangkan akan dihadapinya.

Kehamilan.

Satu kata itu mengubah segalanya.

“Sudah periksa ke dokter?” tanyanya dengan suara yang terdengar asing di telinganya sendiri.

“Sudah. Hasilnya positif.”

Denis memejamkan mata.

“Mas Denis, sekarang bagaimana?” Siska bertanya sambil menangis.

Denis tidak segera menjawab. Ia memikirkan tanggung jawab, keluarga, pekerjaan, masa depan, dan terutama Mita—perempuan yang selama ini tidak pernah tahu bahwa kesetiannya  telah dikhianati.

Selama ini, Denis selalu menganggap kejadian di hotel sebagai kesalahan yang bisa ia tutupi. Ia meyakinkan dirinya bahwa selama tidak ada orang lain yang mengetahuinya, kehidupan akan tetap berjalan seperti biasa.

Namun, kenyataan di hadapannya kini tidak bisa disembunyikan hanya dengan sebuah pesan singkat atau alasan tentang pekerjaan.

Ada kehidupan yang mulai tumbuh, dan ada tanggung jawab yang tidak dapat dihindarinya.

“Saya akan menemui kamu,” katanya akhirnya.

“Mas tidak akan meninggalkan saya, kan?”

Pertanyaan itu membuat Denis terdiam cukup lama.

Ia ingin memberikan jawaban yang menenangkan. Ia ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia sendiri tidak tahu bagaimana menghadapi persoalan yang telah diciptakannya.

“Saya perlu waktu untuk berpikir, Sis.”

Tangis Siska semakin terdengar jelas.

“Saya juga takut, Mas. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau keluarga saya mengetahui ini.”

Denis menarik napas Panjang, “Kita bicarakan baik-baik. Jangan mengambil keputusan apa pun sebelum kita bertemu.”

Panggilan itu berakhir tanpa memberikan ketenangan kepada keduanya.

Denis masih berdiri di dekat jendela ketika layar ponselnya kembali menyala. Kali ini, nama Mita muncul di sana.

“Mas, nanti malam bisa telepon aku? Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan.”

Denis menatap pesan itu dengan dada semakin sesak.

Mita tidak mengetahui apa pun. Ia masih mempercayainya, masih menganggap Denis sebagai seseorang yang dapat diandalkan, dan masih merencanakan masa depan bersama laki-laki yang dicintainya.

Sementara Denis kini harus menghadapi kenyataan bahwa satu malam yang ia anggap sebagai kesalahan sesaat telah membuka persoalan yang jauh lebih besar.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya kepada Mita. Ia juga tidak tahu apakah hubungan mereka masih bisa diselamatkan setelah kebenaran terungkap.

Namun, satu hal tidak bisa lagi ia sangkal: dirinya telah membuat pilihan yang mengkhianati kepercayaan perempuan itu. Dan kini, ia harus bertanggung jawab atas akibatnya.

Malam itu, Denis tidak langsung membalas pesan Mita. Ia duduk sendirian di ruang kerjanya, memandangi layar ponsel yang perlahan meredup. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang, jabatan, atau kepandaian menyusun alasan.

Ia takut kehilangan Mita. Ia takut menghadapi keluarganya. Ia takut pada masa depan yang kini berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia kendalikan.

Namun, di balik semua ketakutan itu, ada satu kenyataan yang tidak boleh ia lupakan: ia bukan korban dari keadaan. Ia adalah orang yang memilih untuk mengabaikan batas. Ia adalah orang yang memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran. Dan ia adalah orang yang kini harus menentukan apakah akan terus hidup dalam kebohongan atau mulai menghadapi akibat perbuatannya.

Di tempat lain, Mita masih menunggu balasan Denis. Ia belum mengetahui bahwa hubungan mereka tidak lagi berdiri di atas kepercayaan yang utuh. Ia belum mengetahui bahwa ada perempuan lain yang kini membawa kabar yang akan mengubah kehidupan Denis.

Sementara itu, Siska menunggu kepastian dari laki-laki yang telah membuatnya berada dalam situasi rumit.

Tiga kehidupan kini berada di persimpangan yang sama.

Denis mungkin masih bisa memilih bagaimana ia menghadapi kenyataan, tetapi ia tidak lagi bisa mengembalikan waktu ke saat sebelum perjalanan dinas itu dimulai.

Malam di luar kota tersebut telah berlalu.

Namun, akibatnya baru saja dimulai.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!