Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman di Kala Ireng
"Tujuh murid Kala Ireng, ditambah satu bocah Geni Wening yang kau pungut di kedai," kata Mahesa, "Berapa yang pulang?"
"Li... lima, Guru Besar."
Bargowo berlutut di tengah aula batu hitam itu. Ia sudah berlutut di sana sejak matahari terbit, dan kedua lututnya kini kebas. Lengan baju kanannya terlipat kosong dan disematkan ke bahu. Tabib di kaki bukit memotong lengan yang hangus itu tiga hari lalu. Sejak itu, setiap malam jari-jari yang sudah tidak ada masih terasa terbakar.
"Lima," ulang Mahesa, "Dan kau pulang dengan satu lengan."
Mahesa Kalandra duduk bersila di atas alas batu yang lebih tinggi dari lantai aula. Rambutnya yang mulai beruban tersisir licin ke belakang, dan kelopak matanya tetap terkatup, sama seperti terakhir kali Bargowo menghadapnya. Di depannya ada cawan perunggu berisi dua kristal, satu hitam pekat dan satu hijau tua.
Tiang-tiang aula itu dipahat dari batu yang sama dengan lantainya, dan setiap tiang berukir sosok-sosok bayangan yang memanjang ke atas sampai hilang di langit-langit. Obor yang terpasang di setiap tiang membuat ukiran itu tampak bergerak. Puluhan murid Kala Ireng berdiri berjajar di sepanjang tiang-tiang itu dengan tangan di belakang punggung. Sarpa berdiri di barisan paling depan. Separuh wajahnya masih terbungkus kain. Di tiang yang paling dekat dengan alas batu, Raka Wisesa bersandar sambil mencabuti benang perak yang terlepas dari ujung lengan bajunya.
Bargowo menceritakan malam itu dengan suara serak. Ia menyebut Ki Arya yang menghadang di gerbang, dua anak buahnya yang mati oleh ajian api orang tua itu, dan bocah kecoak yang menyergapnya saat ia lengah. Soal izin, ia melewatinya.
"Lidah Geni," kata Mahesa, "Orang tua itu masih bisa memakainya?"
"Dua orang kami mati dalam satu serangan, Guru Besar. Tapi lidah apinya cuma keluar dua. Yang ketiga padam di tangannya, dan sesudah itu dia muntah darah."
"Dulu ketiganya tidak pernah padam."
Bargowo mengangkat wajah dan menunggu, tapi Mahesa sudah beralih.
"Menyergap saat kau lengah," Mahesa mengulang, "Sarpa menceritakannya dengan cara lain."
Bargowo menoleh ke barisan depan, ke arah Sarpa.
"Sarpa," kata Mahesa, "Ceritakan lagi. Biar Bargowo ikut dengar."
Sarpa maju selangkah. Jari-jarinya yang menyentuh kain di wajahnya gemetar.
"Bo... bocah itu sudah terkapar, Guru Besar. Kang Bargowo menginjak tangannya, lalu minta golok." Ia berhenti sebentar. "Aku yang memberikan goloknya."
Bargowo menatapnya. Sarpa menatap ujung kakinya sendiri.
"Lanjutkan," kata Mahesa.
"Tangan bocah itu tiba-tiba mencengkeram kaki Kang Bargowo. Waktu dia bangun, matanya merah. Bukan merah seperti orang habis menangis, Guru Besar. Merah seperti bara di dalam tungku." Sarpa menarik napas. "Dia memegang lengan Kang Bargowo, dan apinya... apinya masuk ke bawah kulit. Gerakannya pelan sekali, seperti kakek-kakek. Padahal sebelumnya dia bernapas saja sudah susah."
Bisik-bisik terdengar dari barisan belakang. Jemari Mahesa yang panjang mengetuk lututnya sekali, dan bisik-bisik itu berhenti.
"Kau sempat menyentuh pecahan itu?" tanya Mahesa.
Bargowo mengangkat tangan kirinya. Ujung-ujung jarinya masih merah dan mengelupas. "Pecahan itu menempel di telapak tangannya, Guru Besar. Waktu kucungkil, jariku melepuh."
"Menempel," gumam Mahesa.
"Orang-orang di pasar akan bilang pecahan itu melindungi tuannya. Biar saja mereka bilang begitu," katanya, "Aku cuma ingin tahu satu hal. Siapa yang menyuruhmu berangkat?"
"Ti... tidak ada, Guru Besar. Aku hanya ingin..."
"Ingin apa?"
"Membawa pecahan itu sendiri ke hadapan Guru Besar."
"Supaya kau yang dipuji," kata Mahesa, "Bukan Raka."
Jari Raka berhenti mencabuti benang. Alisnya naik sedikit, lalu ia kembali menunduk ke lengan bajunya.
Mahesa mengangkat tangan kanannya dari lutut dan menjentikkan jari, sekali saja.
"Belenggu Wewayangan."
Bayangan Bargowo yang jatuh di lantai batu bergerak. Bayangan itu merayap naik ke punggungnya, melewati bahunya yang terbebat, dan melilit lehernya seperti jari-jari hitam yang panjang.
"Hkk...!"
Bargowo mencakar lehernya dengan tangan kiri. Kukunya hanya menggaruk kulitnya sendiri, karena bayangan itu tidak bisa digenggam. Wajahnya memerah, kemudian berubah kebiruan. Urat-urat di pelipisnya menonjol.
"Am... ampun... Gu... ru..."
Murid yang berdiri paling dekat mundur selangkah. Seorang murid muda di barisan belakang memalingkan wajah. Sarpa memejamkan mata rapat-rapat. Mata Raka yang biasanya setengah terpejam kini terbuka penuh.
Mahesa menurunkan tangannya.
Bayangan itu meluncur turun dan kembali menempel di lantai. Bargowo tersungkur ke depan. Ia hendak menahan tubuhnya dengan tangan kanan, tapi yang menghantam lantai adalah bahunya yang terbebat.
"ARGHH!"
Ia meringkuk sambil terbatuk-batuk. Kain di bahunya mulai merembeskan darah.
"Mulai hari ini kau murid rendahan," kata Mahesa, "Kau tidur di barak bawah, dan kau menimba air bersama anak-anak yang baru masuk. Serahkan kampilmu."
Bargowo bangkit berlutut dengan napas tersengal. Tangan kirinya meraba tali kampil di pinggangnya. Simpulnya mati, dan satu tangan tidak cukup untuk membukanya. Ia mencoba dua kali, kemudian menunduk dan menggigit tali itu sampai simpulnya longgar.
Raka menguap. Suaranya terdengar sampai ke ujung aula.
Rahang Bargowo mengeras. Seorang murid muda maju, menerima kampil itu dari tangannya, dan membawanya ke alas batu dengan kedua tangan.
Mahesa membuka matanya.
Murid-murid di sepanjang tiang menegakkan punggung serentak. Mata itu bergerak pelan dari ujung barisan ke ujung yang lain.
"Dengar baik-baik," katanya, "Mulai hari ini, tidak ada yang menyentuh Geni Wening sampai Pertemuan Sepuluh Padepokan."
Gumaman kecil terdengar dari beberapa barisan, lalu cepat-cepat hilang.
"Pecahan itu dibiarkan saja, Guru Besar?" tanya Raka.
"Pecahan yang direbut diam-diam hanya membuat padepokan lain curiga," jawab Mahesa, "Pecahan yang diserahkan sendiri di depan sepuluh panji akan membuat mereka takut. Setelah itu, tidak ada lagi yang berani menolak surat kita."
"Kalau bocah itu tidak mau datang?"
"Dia akan datang. Gurunya sekarat, dan lumbungnya sudah jadi abu. Orang yang lapar tidak punya banyak pilihan."
Mahesa mengambil kristal hitam dari dalam cawan dan menggulirkannya di antara jari-jarinya.
"Di Sela Panangkep nanti, bocah itu sendiri yang akan mengulurkan tangannya," katanya, "Kalau pecahannya tetap tidak mau lepas, tangannya ikut diserahkan."
Raka membungkuk sedikit. "Baik, Guru Besar."
Mahesa meletakkan kristal itu ke dalam cawan, dan kelopak matanya kembali terkatup. Itu tanda pertemuan selesai.
Murid-murid keluar dari aula barisan demi barisan. Raka berjalan paling akhir. Saat melewati Bargowo yang masih berlutut, ia memperlambat langkahnya tanpa berhenti.
"Kau bilang dia kecoak," kata Raka, "Kecoak tidak membakar lengan orang sampai ke bahu."
Bargowo menatap lantai. Tangan kirinya mengepal sampai kuku-kukunya menancap ke telapak.
***
"Gentong dapur harus penuh sebelum gelap, Kang... eh."
Murid muda yang tadi membawa kampil Bargowo ke alas batu berdiri di depan barak bawah dengan dua ember kayu di tangan. Ia berhenti di tengah kalimat, lalu meletakkan kedua ember itu di tanah, di depan kaki Bargowo.
"Gentong dapur harus penuh sebelum gelap," ulangnya, tanpa sebutan Kakang.
Bargowo memungut satu ember. Yang satu lagi ia biarkan, karena tangannya hanya tinggal satu.
Sumur Kala Ireng ada di bawah tebing, di ujung tangga batu yang licin oleh lumut. Bargowo menurunkan ember itu dengan tali, tapi begitu ember itu penuh dan berat, tali di genggamannya merosot. Ember itu terhempas kembali ke dasar sumur dengan bunyi keras. Dari ujung tangga, dua anak baru menutup mulut menahan tawa.
"Itu yang dulu menendang gerbang Geni Wening, kan?" bisik salah satunya.
"Sekarang dia yang ditendang," balas yang lain.
Bargowo memunggungi mereka. Ia melilitkan tali itu ke lengan kirinya, menjepit ujungnya dengan gigi, lalu menarik dengan seluruh berat tubuhnya. Tali itu menggesek kulit lengannya sampai lecet. Ember itu naik sejengkal demi sejengkal.
Setelah ember itu sampai di bibir sumur, ia duduk bersandar ke dinding batu dengan napas tersengal. Tangan kirinya merogoh balik sabuk dan mengeluarkan secarik kain yang ujungnya hangus. Itu balutan yang ia robek dari telapak tangan bocah itu di Geni Wening. Entah kapan kain itu terselip di genggamannya waktu ia kabur. Kain itu masih berbau asap.
'Bocah itu punya teman yang gendut,' batin Bargowo. 'Yang suka bicara soal kambing.'
Ia meremas kain itu, menyelipkannya kembali ke balik sabuk, lalu bangkit untuk menimba ember berikutnya.
***
Malam itu, murid jaga memadamkan obor di sepanjang tiang aula satu per satu. Setelah murid terakhir keluar, cahaya di aula itu tinggal berasal dari pelita kecil di samping alas batu.
Mahesa masih duduk bersila dengan mata terpejam. Ujung kristal hijau di dalam cawan masih menghadap ke timur, ke arah yang sama sejak berhari-hari lalu.
Api pelita itu tiba-tiba condong ke arah sudut aula, padahal tidak ada angin yang masuk. Udara di sekitar alas batu mendingin. Saat Mahesa mengembuskan napas, uap tipis keluar dari hidungnya.
Mahesa memiringkan kepala sedikit, seperti orang yang sedang mendengarkan.
Ia membuka mata dan menoleh ke sudut itu. Sudut itu gelap, lebih gelap daripada sudut-sudut lain yang sama jauhnya dari pelita.
Bibir Mahesa tetap terkatup.
Api pelita itu kembali tegak, dan Mahesa memejamkan matanya lagi.