NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​Pukul sepuluh pagi, ruang rapat utama NesAura Skincare dipenuhi oleh aroma kopi segar dan deru percakapan profesional dari tim pemasaran. Nesa duduk di kursi utama dengan mengenakan setelan blazer berwarna beige lembut.

Rambutnya disanggah rapi, memperlihatkan garis leher dan anting mutiara kecil yang elegan.

​Di hadapannya, lembar demi lembar proyeksi kampanye pemasaran kolaborasi Skincare & Perfume terpampang jelas di layar proyektor.

​Hari ini adalah agenda meeting koordinasi lanjutan antara tim internal NesAura dan perwakilan kreatif dari Aethel & Co. Sesuai janjinya kemarin, Arsen tidak datang sendiri; ia membawa serta kepala divisi kreatif dan manajer logistik perusahaannya untuk mematangkan strategi bundling produk yang akan diluncurkan bulan depan.

​Pintu ruang rapat terbuka. Arsen melangkah masuk dengan gaya santainya yang khas mengenakan kemeja katun hitam berlengan panjang yang digulung sampai siku, celana bahan gelap, dan senyuman miring yang langsung membuat beberapa staf perempuan di sudut ruangan menunduk malu-malu karena salah tingkah.

​Begitu tiba di kursi seberang Nesa, Arsen tidak langsung duduk. Ia justru meletakkan sebuah kantong kertas kecil bermerek kue artisan di samping meja Nesa, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat.

​"Pagi, Ratu Nes. Brownies kiriman mamaku kemarin habis nggak?" bisik Arsen setengah berbisik, namun cukup jelas untuk didengar oleh Bila dan beberapa staf terdekat.

​Nesa melirik sekilas ke arah Arsen, berusaha mempertahankan ekspresi wajah sedingin es meskipun ia tahu sudut bibirnya nyaris berkedut ingin tersenyum. "Habis. Dan asisten saya bilang rasanya lumayan. Terima kasih, sampaikan salam saya ke ibu kamu," jawab Nesa formal.

​Arsen terkekeh pelan, lalu menarik kursinya dan duduk dengan santai. "Sopan banget. Padahal bilang aja kalau sebenarnya kangen sama orang yang ngirim, bukan cuma sama kuenya."

​"Mr. Vance, kita di ruang rapat kantor, bukan di kafe," tegur Nesa tegas, meski tidak ada nada kemarahan yang nyata di dalam suaranya.

​"Baik, Bu CEO. Ampun, saya simpan gombalannya buat nanti siang pas jam istirahat," balas Arsen sambil mengangkat kedua tangannya menyerah, meski matanya masih berbinar penuh keusilan.

​Meeting koordinasi pun dimulai. Suasana berlangsung dinamis dan sangat produktif. Di balik sikap slengeannya saat menggoda Nesa, Arsen terbukti adalah seorang direktur muda yang sangat tajam, visioner, dan perfeksionis ketika membahas bisnis. Setiap ide kampanye digital yang dipresentasikan oleh tim kreatifnya mendapat apresiasi positif dari dewan direksi NesAura. Kolaborasi antara keanggunan skincare matang dan daya tarik modern perfume lokal itu tampak begitu sempurna di atas kertas.

​Namun, di tengah kesibukan persiapan korporat tersebut, tidak ada yang menyadari bahwa ada sepasang mata lain yang tengah mengawasi dari kejauhan menyimpan dendam kesumat, rasa iri dan bara cemburu yang siap membakar kapan saja.

​Jauh dari gedung pencakar langit tempat Nesa bekerja, di balik dinding-dinding dingin Rumah Tahanan Negara Kelas I Jakarta, suasana terasa sangat kontras.

​Di dalam sel tahanan yang sempit dan berbau apek, Dika duduk meringkuk di atas dipan semen. Pakaian tahanan oranye yang ia kenakan tampak kusam dan kedodoran di tubuhnya yang semakin mengurus. Sejak kejatuhannya di malam peluncuran dan penolakannya di pengadilan, hidup Dika berubah menjadi neraka kecil setiap hari.

​Pagi ini, seorang petugas rutan memanggil namanya dari balik teralis besi.

​"Tahanan nomor empat puluh dua, ada kunjungan khusus dari penasihat hukum. Silakan ke ruang konseling."

​Dengan langkah lunglai dan bahu yang merosot, Dika menyeret kakinya mengikuti petugas menuju bilik kaca kunjungan. Ia menduga orang yang datang adalah pengacara sisa yang mengurus pemberkasan banding terakhirnya yang sudah hampir pasti ditolak mentah-mentah.

​Namun, begitu ia duduk di kursi bilik kaca dan mengangkat gagang telepon interkom, sosok di balik kaca seberang bukanlah pengacaranya.

​Itu adalah seorang pria paruh baya berjas rapi mantan mitra bisnis lama yang dulu pernah bekerja sama dengan NesAura sebelum akhirnya menarik diri akibat skandal yang dibuat Dika.

​Dika mengerutkan keningnya, menempelkan gagang interkom ke telinganya. "Pak Hendra? Untuk apa Anda datang ke sini? Mau menertawakan saya?" ucap Dika sinis, suaranya parau.

​Pria paruh baya di seberang kaca itu menghela napas panjang, menatap Dika dengan pandangan penuh rasa jijik bercampur iba. "Saya tidak punya waktu untuk menertawakan orang bodoh yang menghancurkan kariernya sendiri, Dika. Saya datang ke sini karena saya baru saja membaca berita bisnis pagi ini."

​Dika tertegun. "Berita bisnis apa?."

​"Tentang NesAura Skincare," jawab Pak Hendra dingin. "Perusahaan mantan istri mu itu bukan cuma bangkit, Dika. Mereka sekarang sedang merajai pasar lewat kolaborasi eksklusif dengan brand parfum milenial yang sedang viral Aethel & Co. Pemiliknya anak muda brilian bernama Arsenio Vance. Dan tahukah kamu apa yang paling ramai dibicarakan di media sosial sekarang?."

​Jantung Dika berdegup kencang secara tidak beraturan. "Apa maksudmu?"

​"Media sosial ramai memberitakan kedekatan personal antara Nesa dan si pemuda pemilik brand parfum itu," lanjut Pak Hendra tanpa belas kasihan. "Mereka sering terlihat bersama di luar jam kantor, makan malam di restoran mewah, dan dikabarkan menjalin hubungan khusus. Mantan istri yang dulu kamu remehkan dan sakiti itu... sekarang bukan cuma sukses besar, tapi juga dikelilingi oleh pria muda, kaya, terkenal, dan jauh lebih hebat darimu."

​Deg!

​Kalimat itu menghantam dada Dika bagaikan palu godam berukuran besar. Darahnya mendesak naik ke kepala, membuat penglihatannya mendadak berkunang-kunang.

​Nesa... berkencan dengan pria lain? Pria yang lebih muda, sukses dan memuja-mujikannya di hadapan publik?

​Selama ini, di dalam alam bawah sadarnya yang egois, Dika selalu merasa bahwa Nesa akan tetap terpaku pada bayang-bayang masa lalu mereka bahwa seorang perempuan yang tersakiti dan baru saja kehilangan segalanya akan merana sendirian. Dika tidak pernah membayangkan bahwa Nesa bisa bangkit secepat ini, memegang kendali penuh atas perusahaan, dan melangkah maju menggandeng pria lain yang jauh lebih bersinar.

​"Tidak... Tidak mungkin!" geram Dika tertahan dari balik gagang interkom, urat-urat di lehernya mencuat keluar menahan amarah yang meledak-ledak. "Nesa itu milikku! Perusahaan itu seharusnya menjadi milikku."

​"Bangun dari mimpimu, Dika!" bentak Pak Hendra tajam dari balik kaca. "Kamu sudah di dalam sini, mendekam di balik jeruji besi sebagai pesakitan koruptor. Hidupmu sudah habis. Sementara Nesa... dia sedang menikmati puncak kemenangannya."

​Klik.

​Pak Hendra langsung meletakkan gagang interkom tanpa menunggu jawaban lagi, lalu bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruangan, membiarkan Dika terduduk lemas di balik kaca dengan napas memburu dan air mata kemarahan yang tumpah membasahi pipinya.

​Di dalam sel tahanan yang sempit itu, Dika mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Rasa cemburu yang membara, kebencian yang pekat, dan rasa frustrasi akibat kehilangan segalanya bergejolak menjadi satu, mengubahnya menjadi monster penuh dengki yang bersumpah di dalam hati untuk menghancurkan kebahagiaan Nesa dengan cara apa pun meski ia sendiri harus binasa di dalam penjara.

​Kembali ke kantor pusat NesAura Skincare, jarum jam dinding kini menunjukkan pukul satu siang. Meeting panjang bersama tim kreatif Arsen telah resmi berakhir sepuluh menit yang lalu. Satu per satu staf meninggalkan ruang rapat, menyisakan Nesa yang masih membereskan dokumen di meja, didampingi oleh Bila.

​"Bu Nesa, jadwal setelah ini adalah kunjungan lapangan ke gudang pengemasan lini baru di Cikarang," lapor Bila sambil merapikan tablet di tangannya. "Mobil jemputan sudah disiapkan di lantai bawah."

​Sebelum Nesa sempat menjawab, pintu ruang rapat yang tidak tertutup rapat tiba-tiba didorong dari luar.

​Sosok Arsen melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan senyumen miring yang sangat familier. Di tangannya, ia membawa dua cangkir kopi takeaway dan sekantong roti isi alpukat.

​"Kunjungan lapangan ke Cikarang dibatalkan, atau setidaknya... ditunda satu jam," potong Arsen santai tanpa dosa.

​Bila langsung menoleh, mengerjap kaget. "Dibatalkan? Mr. Vance, jadwal Ibu Nesa hari ini sangat ketat. Kita tidak bisa seenaknya mengubah agenda korporat hanya karena..."

​"Bukan seenaknya, Bila," potong Arsen lembut namun tegas, mengalihkan pandangannya menatap Bila sekilas sebelum beralih sepenuhnya ke arah Nesa. "Saya baru saja menelepon kepala logistik di Cikarang. Sistem conveyor belt utama di sana sedang mengalami pemeliharaan darurat selama dua jam ke depan. Jadi, kalau Bu Nesa ke sana sekarang, Ibu cuma akan mendapati para pekerja berdiri bengong melihat mesin mati."

​Nesa mengerutkan keningnya, menatap Arsen dengan pandangan menyelidik. "Kamu tahu dari mana soal pemeliharaan mesin di pabrik Cikarang? Itu informasi internal operasional kita."

​Arsen tersenyum kecil, meletakkan cangkir kopi dan kantong roti di atas meja rapat tepat di depan Nesa. "Saya punya 'mata-mata' andal di tim operasional Ibu. Lagian, ngapain buru-buru ke Cikarang kalau perut CEO cantik ini dari pagi belum diisi makanan berat?."

​Bila melirik ke arah Nesa, lalu melirik ke arah Arsen, sebelum akhirnya tersenyum kecil penuh arti. "Ah... sepertinya saya ada urusan mendesak di lantai bawah untuk memeriksa laporan logistik. Permisi, Bu Nesa, Pak Arsen," ucap Bila cepat, lalu berbalik melangkah keluar ruangan, sengaja meninggalkan kedua orang itu berdua saja.

​Nesa mendengus pelan melihat kelicikan asistennya yang dengan mudah menyerah pada sogokan suasana. Ia menatap Arsen tajam. "Kamu sengaja menyuruh Bila pergi, ya?."

​"Saya tidak menyuruh, dia sendiri yang berinisiatif karena tahu bosnya butuh perhatian khusus," jawab Arsen tanpa rasa bersalah, lalu menarik kursi di sebelah Nesa bukan lagi di seberang, melainkan tepat di sampingnya.

​Arsen membuka kantong kertas roti, mengeluarkan sepotong roti isi alpukat hangat, lalu menyodorkannya ke hadapan Nesa.

​"Makan, Nesa. Jangan bikin saya harus menyuapi Ibu di hadapan staf kantor kalau mau Ibu patuh," ancam Arsen setengah bergurau dengan nada suara yang lembut.

​Nesa merasa wajahnya sedikit menghangat. Ia menerima roti tersebut dengan gerakan canggung, lalu menggigitnya perlahan. Rasanya memang lezat pas, tidak berlebihan, dan sangat membantu perutnya yang memang mulai terasa lapar.

​Arsen memperhatikan Nesa yang sedang makan dengan sorot mata yang begitu teduh. Tidak ada lagi guratan tengil di wajah pemuda itu yang ada hanyalah kelembutan tulus yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa dilindungi.

​"Nesa..." panggil Arsen pelan setelah beberapa saat mereka terdiam dalam suasana yang nyaman.

​"Hm?" gumam Nesa tanpa menoleh, masih menikmati rotinya.

​"Akhir pekan ini... mau jalan-jalan keluar kota sebentar?" tanya Arsen hati-hati. "Tidak ada urusan kantor, tidak ada meeting evaluasi, murni refreshing. Udara segar di daerah Puncak sepertinya bagus buat kesehatan paru-paru CEO workaholic seperti Ibu."

​Nesa menghentikan kunyahannya. Ia menoleh, menatap manik mata Arsen yang berbinar penuh pengharapan. Ada keraguan sejenak di dalam hatinya. Keluar kota berdua saja dengan seorang pemuda yang sedang gencar mengejarnya? Itu adalah langkah besar bagi Nesa perempuan yang selama ini selalu menjaga jarak aman dari dunia percintaan.

​Namun, saat ia menatap mata Arsen yang begitu tulus, keraguan itu perlahan mencair. Nesa tahu, ia tidak bisa selamanya bersembunyi di balik benteng es masa lalu. Hidupnya telah diberi kesempatan kedua, dan mungkin... sudah saatnya ia membiarkan seseorang membawanya melihat indahnya dunia di luar sana.

​Sudut bibir Nesa perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis.

​"Tergantung..." jawab Nesa dengan nada suara yang sedikit menggoda. "Kamu janji nggak bakal bikin aku pusing kepala gara-gara ulah ugal-ugalanmu di jalan?."

​Mendengar jawaban itu, senyuman paling lebar dan paling cerah seketika terkembang di wajah Arsen. Ada kilatan kebahagiaan yang luar biasa terpancar dari mata pemuda itu.

​"Janji seratus persen, Ratu Nes!" seru Arsen penuh semangat, membuat Nesa mau tidak mau tertawa kecil.

​Di balik dinding kaca ruang rapat itu, badai di luar sana mungkin sedang bersiap meredup, namun di dalam dada Nesa, sebuah musim semi yang hangat baru saja resmi dimulai.

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!