“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Langkah Baru di Bawah Langit Jakarta
Pagi itu, sinar matahari menembus lembut celah tirai kamar tidur yang selama beberapa minggu terakhir ini menjadi tempat bernaungku. Sebuah pesan singkat dari Mbak Dinar masuk ke ponselku, mengabarkan bahwa seluruh urusan sewa dan kunci unit apartemen di kawasan Kuningan sudah siap.
Apartemen itu terletak sangat strategis, hanya berjarak lima belas menit dari kantor pusat Arjowibowo Group. Proyek pengerjaan K-Sambal Fusion dan kampanye Pemasaran ke Seoul masih menyisakan waktu sekitar dua bulan lagi. Sisa waktu dua bulan itu terasa terlalu panjang jika aku harus terus-menerus menumpang dan berdiam diri di rumah keluarga Dimas dengan kecanggungan yang membeku di antara kami.
Aku memandangi dua koper sedangku yang sudah terkemas rapi di sudut kamar. Ada perasaan berat yang menggelayuti dada saat harus melangkah pergi dari rumah ini—bukan karena kemewahannya, melainkan karena kehangatan Mami yang begitu tulus menerimaku sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di Jakarta.
Namun, bertahan di sini dengan pura-pura baik-baik saja di depan Mami hanya akan menambah beban batin. Pindah ke apartemen adalah keputusan terbaik agar aku dan Dimas bisa mendapatkan ruang untuk berpikir jernih tanpa tekanan.
Aku melangkah turun membawa salah satu koperku, sementara Adam membantu membawakan koper lainnya di belakangku. Mami yang sedang menyiram tanaman di teras belakang seketika menghentikan kegiatannya saat melihat kami membawa barang-barang ke ruang tamu.
"Lho, Mei... Nduk, ini koper-koper mau dibawa ke mana?" tanya Mami kaget, melangkah terburu-buru menghampiri kami dengan raut wajah panik bercampur cemas.
Aku mengulas senyuman manis, berusaha menutupi getar di suaraku. Aku meraih kedua tangan Mami, menggenggamnya hangat.
"Mami... Mei mau pamit," tuturku lembut. "Mbak Dinar sudah dapatkan unit apartemen sewa yang cocok buat Mei di dekat kantor. Hari ini Mei mau pindah ke sana."
Mami menggelengkan kepala dengan cepat, matanya seketika berkaca-kaca. Beliau memegang erat kedua bahuku.
"Kenapa harus pindah to, Nduk? Apa rumah Mami kurang nyaman buat kamu? Atau ada pelayanan orang rumah yang bikin kamu ndak enak hati?" cecar Mami berturut-turut, suaranya sarat akan rasa berat hati.
"Ndak sama sekali, Mami," balasku cepat, menahan genangan air mata yang mulai berkaca-kaca di mataku. "Rumah Mami sangat nyaman, hangat, dan Mami sudah seperti ibu kandung buat Mei di Jakarta. Tapi... proyek Mei di Jakarta kan masih sekitar dua bulan lagi, Mami. Mei ndak enak kalau terus-menerus menumpang di sini, apalagi sebentar lagi kegiatan riset dan produksi bakal bikin Mei sering pulang melintas malam."
Mami menghela napas panjang, menatapku dengan pandangan yang begitu dalam. Sebagai wanita paruh baya yang matang, Mami tentu bisa merasakan ketegangan diam yang terbentang di antara aku dan Dimas selama beberapa hari terakhir ini.
"Mei... Mami tahu kamu dan Dimas lagi ada masalah," bisik Mami lirih, mengusap pipiku dengan telaten. "Anak Mami itu memang keras kepala dan kaku, Nduk. Tapi Mami mohon... jangan tinggalkan Dimas hanya karena sikap bodohnya ya?"
Dada dan tenggorokanku seketika meremas sakit mendengar penuturan tulus Mami. Aku menundukkan kepala sejenak, meremas jemari Mami.
"Mei tidak meninggalkan Mas Dimas, Mami," bisikku jujur dari lubuk hati yang paling dalam. "Mei hanya butuh ruang untuk diri Mei sendiri. Agar kami berdua bisa mengerti apa arti saling menghargai yang sebenarnya."
Mami mendesah pelan, lalu merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangat yang begitu erat. Beliau menepuk-nepuk punggungku dengan penuh rasa sayang.
"Ya sudah kalau itu memang keputusan terbaik buat kamu, Nduk. Mami ndak bisa memaksa. Tapi janji sama Mami, kamu harus tetap sering main ke sini ya? Mami bakal kangen banget sama kamu," bisik Mami parau.
"Iya, Mami... Mei janji," balasku tulus dalam pelukan hangat itu.
Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar turun dari anak tangga kayu lantai dua.
Dimas berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja formal berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang tergulung rapi. Wajah tampannya tampak agak pucat, dan lingkaran hitam tipis di bawah matanya memperlihatkan betapa buruknya kualitas tidurnya beberapa malam terakhir ini.
Mata hitam pekat milik Dimas langsung terkunci lurus pada dua koper di dekat sofa, lalu beralih menatapku. Ada pendar terkejut dan ketakutan yang terpancar sangat nyata dari balik tatapan dinginnya.
"Dimas," panggil Mami, mengusap sudut matanya seraya menatap putranya. "Mei hari ini mau pindah ke apartemen sewanya. Kamu antar calon istrimu sekarang."
Dimas tidak menjawab Mami dengan kata-kata. Pria jangkung itu melangkah mendekati kami, berdiri tepat di hadapanku dengan jarak yang begitu dekat. Aura dominan dan kehangatan parfum woody-citrus miliknya seketika mengepung udaraku.
"Kenapa mendadak sekali, Mei?" tanya Dimas dengan suara berat yang parau, berusaha keras menahan getar emosi di dalam dadanya.
Aku menatap tepat ke dalam manik matanya, membentengi diriku dengan ketenangan yang kaku.
"Ini tidak mendadak, Mas Dimas," sahutku tenang dan profesional. "Sejak awal Mbak Dinar memang sudah carikan apartemen sewa untukku selama bertugas di Jakarta. Karena unitnya sudah siap hari ini, jadi aku langsung pindah."
Dimas memejamkan matanya sejenak, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. "Sisa waktu proyek dua bulan lagi. Rumah ini cukup luas untuk kamu dan Adam."
"Tapi apartemen itu lebih dekat ke kantor, Mas," potongku halus namun tegas tanpa memberi celah untuk perdebatan. "Lagipula, Adam besok sudah harus kembali ke Jogja karena libur semesternya habis. Jadi aku bisa fokus menyelesaikan draf proyek K-Sambal Fusion kita tanpa merepotkan keluarga Mami lagi."
Mendengar kata merepotkan keluarga Mami, raut wajah Dimas makin membeku. Pria itu tahu betul bahwa alasanku pindah bukanlah soal jarak atau kepraktisan, melainkan karena benteng diam dan luka yang diciptakannya sendiri di Seoul kemarin.
Adam yang berdiri di samping koper menyentuh bahuku pelan. "Mbak Mei, taksi komersial yang kita pesan sudah sampai di depan gerbang."
Aku mengangguk pelan pada Adam, lalu berbalik menatap Mami sekali lagi untuk mencium tangannya. "Mami... Mei pamit dulu ya. Matur nuwun sanget untuk semuanya."
"Hati-hati ya, Nduk," usap Mami penuh kasih.
Aku lalu berbalik menghadap Dimas. Aku membungkukkan badan sedikit secara sopan, memperlakukannya persis seperti pimpinan perusahaan.
"Terima kasih atas tumpangannya selama ini, Mas Dimas. Sampai bertemu di kantor esok hari," ucapku dengan nada suara yang begitu teratur dan berjarak.
Dimas bergerak cepat meraih dua koper sedangku dari tangan Adam sebelum kami sempat mengangkatnya.
"Saya yang antar kamu sampai ke unit apartemenmu," ujar Dimas dengan nada suara rendah yang tak mau dibantah, matanya menatapku tajam. "Jangan menolak, Maizara. Ini batas toleransi terakhir saya hari ini."
Aku menatapnya sejenak, melihat ketegasan bercampur rasa putus asa di matanya. Aku menghela napas pendek dan akhirnya memberikan anggukan pelan.
Perjalanan dari rumah Dimas menuju kawasan Kuningan di dalam mobil SUV hitam milik Dimas berlangsung dalam keheningan yang serasa membekukan udara. Adam duduk di kursi belakang, sibuk dengan ponselnya dan dengan bijak memilih tidak mengusik atmosfer tegang di antara kami.
Dimas mengemudikan mobil dengan tenang, namun pegangan tangannya pada kemudi begitu erat hingga berurat. Sesekali, matanya melirik ke arahku melalui kaca spion tengah atau secara langsung saat lampu merah menyala.
Aku hanya diam, memandangi deretan gedung-gedung tinggi Jakarta dari balik jendela kaca mobil yang temaram.
Setibanya di kompleks apartemen, Dimas membantuku membawa koper menuju unit di lantai delapan. Mbak Dinar sudah menunggu di depan pintu unit, menyerahkan kunci elektronik dan kartu akses padaku sebelum dia pamit kembali ke kantor agensi.
Unit apartemen itu sangat bersih, rapi, dan modern. Ruang tengahnya menghadap langsung ke pemandangan kota Jakarta, dilengkapi sofa krem yang empuk dan dapur bersih yang minimalis.
"Unitnya bagus dan aman banget, Mbak Mei," puji Adam saat menaruh koperku di dalam kamar utama. "Kalau begitu aku keluar sebentar ya, mau beli makan siang di bawah."
Adam melangkah keluar dari unit, sengaja memberi ruang bagi kami berdua.
Kini, di dalam ruang tengah apartemen yang sunyi itu, hanya menyisakan aku dan Dimas.
Dimas berdiri di dekat meja konsol, memandangi sekeliling ruangan dengan raut wajah yang amat berat. Pria jangkung itu lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku.
"Kamu benar-benar memilih keluar dari rumah saya, Mei?" tanya Dimas parau, melangkah dua tapak mendekatiku.
Aku merapikan posisi berdiriku di dekat jendela. "Ini tempat yang tepat untukku fokus bekerja selama dua bulan ke depan, Mas."
"Fokus bekerja... atau lari dari saya?" tembak Dimas langsung dengan pandangan mata yang menusuk.
Aku terkekeh tipis, sebuah tawa kering yang sarat akan kekecewaan. "Aku tidak pernah lari, Mas Dimas. Kalau aku mau lari, aku sudah minta ditarik kembali ke agensi Jogja sejak kita tiba dari Seoul. Aku tetap di sini, menjalankan kewajibanku secara profesional untuk proyek perusahaanmu."
Dimas mengepalkan tangannya, melangkah makin mendekat hingga jarak kami hanya tersisa satu meter.
"Saya tidak butuh profesionalitasmu yang dingin seperti ini, Maizara!" tegas Dimas dengan suara rendah yang bergetar emosi. "Saya butuh calon istri saya! Saya butuh wanita yang biasanya tersenyum dan menyambut saya!"
"Pria mana yang Mas maksud?" balasku dengan nada suara yang meninggi, mataku mulai berkaca-kaca menahan amarah yang selama ini kupendam. "Pria yang mau mendengarkan dan menghargai batasanku? Atau pria yang memaksakan egonya di Seoul dan menganggap kehormatanku bisa dibeli begitu saja?!"
Kalimat menohok itu seketika membuat Dimas terbungkam kaku. Wajahnya memucat, raut bersalah yang sangat dalam terpancar dari matanya.
"Mei... soal Seoul... saya."
"Cukup, Mas Dimas," potongku lirih, menyapu air mata tipis di sudut mataku sebelum menetes. "Aku tidak ingin kita bertengkar lagi. Tempat ini adalah batasku. Selama dua bulan ke depan, mari kita selesaikan proyek K-Sambal Fusion ini secara profesional sebagai rekan kerja. Setelah proyek ini selesai... baru kita bicarakan lagi kelanjutan dari hubungan dan pernikahan kita."
Dimas menatapku dengan pendar mata yang hancur. Pria yang biasanya selalu berkuasa, tenang, dan mendominasi itu kini tampak begitu rapuh di hadapanku. Dia menyadari bahwa kepindahanku ke apartemen ini bukan sekadar urusan tempat tinggal, melainkan sebuah jarak tebal yang sengaja kupasang untuk menguji sejauh mana dia bisa meruntuhkan egonya sendiri demi memperjuangkan cintaku.
Dimas menghembuskan napas panjang yang amat berat. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, merogoh saku jasnya, lalu meletakkan sebuah kartu akses cadangan dan kunci cadangan di atas meja konsol.
"Saya menghargai keputusanmu untuk tinggal di sini, Mei," tutur Dimas dengan suara parau yang sarat akan penyesalan tulus. "Tapi ingat satu hal... saya tidak akan pernah melepasmu. Saya akan buktikan bahwa saya pantas menjadi pria yang kamu percayai sepenuhnya."
Dimas menatap wajahku untuk terakhir kalinya sore itu, memandangiku dengan pendar rasa cinta dan tekad yang kuat, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari unit apartemenku.
Saat pintu apartemen tertutup rapat, aku menghembuskan napas panjang dan terduduk pelan di atas sofa. Lembaran baru di kota Jakarta kini resmi dimulai. Di dalam kesunyian unit apartemen ini, aku akan fokus membuktikan kapasitas diriku sambil menanti apakah waktu dan takdir akan membawa Dimas kembali padaku sebagai pria yang utuh dan bijaksana.