Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 Nasib Derita Istri Pekerja Kuli Bangunan
Dering alarm dari ponsel lama Burhan meraung nyaring pukul empat pagi. Tanpa membuang waktu, Burhan langsung bangkit dari kasur tipisnya.
Ia memandangi wajah Anisa yang masih tertidur lelap di sampingnya. Wajah istrinya terlihat pucat, namun ada ketenangan di sana.
Burhan menyelimuti Anisa perlahan, lalu melangkah ke dapur kecil mereka untuk menyeduh air hangat.
Hari-hari ini terasa begitu berat. Sebagai buruh pekerja kuli bangunan dipabrik dengan gaji pas-pasan, Burhan tahu persis bahwa pendapatan utamanya tidak akan cukup untuk menyambut kehadiran sang buah hati.
Kemarin sore, dokter di puskesmas mewajibkan Anisa mengonsumsi asupan bergizi tambahan susu hamil, buah-buahan, dan vitamin pemelihara kandungan.
"Mas... kok sudah siap-siap jam segini?" suara Anisa terdengar serak dari pintu kamar. Ia berjalan perlahan sambil memegangi perutnya yang mulai membuncit menuju ke dapur mendekati Burhan yang sedang minum teh hangat.
Burhan menoleh lalu tersenyum hangat, menyembunyikan rasa lelah yang menggelayut di kelopak matanya.
"Hari ini Mas harus berangkat pagi , kan mas baru kerja pertama kalinya di proyek bangunan gudang pabrik tekstil ini Nisa" ucap Dadang dengan nada lembut.
Anisa menghela napas panjang, tatapannya dipenuhi rasa cemas. "Mas, jangan memaksakan diri seperti itu. Tubuhmu bukan mesin. Nanti kalau Mas sakit, bagaimana?"
"Mas tidak apa-apa, Sayang. Mas masih muda, masih kuat," jawab Burhan seraya mengelus lembut pipi istrinya.
"Dokter bilang kamu dan bayinya butuh nutrisi bagus kan? Susu yang kemarin dibeli tinggal sedikit , mas juga kata mandor Dadang juga ada lemburan malam ini, Mas harus cari uang lebih minggu ini."
"Tapi kita bisa makan seadanya dulu, Mas. Yang penting Mas sehat," bisik Anisa, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tidak, Nisa Anak kita tidak boleh kekurangan gizi. Mas mau dia lahir sehat dan kuat," tegas Burhan lembut namun penuh keyakinan. Ia mengecup dahi Anisa sebelum berpamitan pergi kerja diproyek baru nya.
di dalam setiap pekerjaan menjadi kuli bangunan yang sering kepanasan dan kehujanan saat kerja sudah menjadi makanan sehari-hari Burhan.
" ya sudah mas berangkat dulu ya Nisa" ucap Burhan kepada Nisa sambil bersalaman
" ya mas, hati - hati dijalan" jawab nisa dengan nada ramah dan penuh senyuman.
Kemudian Burhan pun mengambil sepeda ontel nya , karena Burhan tidak memakai sepeda motornya lagi untuk menghemat minyak dan juga malam pulang kerja bisa mencari barang rongsokan agar tak menggangu warga dengan suara motor nya itu.
setelah sampai ditempat kerja, saat baru masuk lokasi mandor sip malam pak Usman menyapa Burhan kamu ambil lembur lagi hari ini?" tanya Pak Usman heran melihat wajah Burhan yang dibasahi keringat bercucuran karena baru datang mengontel sepeda nya.
"Iya, Pak Usman. Lumayan, uang lemburnya bisa buat tabungan persalinan dan beli susu Anisa," sahut Burhan sambil menyapu keringat di dahinya dengan kaos oblong yang memudar.
"Tapi ingat kesehatanmu, Han. Seminggu ini kamu cuma tidur tiga atau empat jam sehari. Jangan sampai roboh di tempat kerja."
"Tenang, Pak. Pikiran saya cuma satu: demi anak dan istri saya di rumah. Selama ada jalannya, capek ini tidak ada artinya."
Pak Usman menggeleng-gelengkan kepala penuh simpati. Ia menepuk bahu Burhan pelan. "Kamu suami yang hebat, Han. Tapi kalau kepala mulai pusing, langsung istirahat. Jangan dipaksa."
"Siap, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Burhan seraya tersenyum tipis.
Saat jam istirahat siang usai, Burhan kembali mengangkut tumpukan semen. Punggungnya terasa pegal luar biasa, dan tangannya agak gemetar.
Namun, setiap kali bayangan senyum Anisa dan calon anaknya melintas di pikiran, rasa lelah itu seolah menguap sementara. Ia kembali bekerja dengan semangat yang berlipat ganda.