Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Tiran Berjubah Hitam
Darah mengalir membasahi tanah berbatu di pelataran Benteng Utara, membentuk genangan merah pekat yang memantulkan langit fajar. Pangeran Pertama Lin Feng terhuyung, menggunakan pedangnya yang sudah retak sebagai tongkat penyangga. Napasnya terdengar seperti puputan pandai besi yang rusak. Di belakangnya, hanya tersisa belasan prajurit yang berdiri merapatkan perisai, tubuh mereka dipenuhi luka cabikan.
Di depan mereka, ribuan monster berbentuk anjing bayangan dengan mata merah menyala menggeram, bersiap untuk gelombang serangan terakhir.
"Pangeran! Pergilah! Kami akan menahan mereka!" teriak seorang letnan yang kehilangan satu lengannya.
"Diam! Aku adalah Pangeran Kerajaan Chen! Aku mati bersama rakyatku!" raung Lin Feng, memaksa tubuhnya untuk kembali berdiri tegak. Darah mengalir dari pelipisnya, menutupi separuh pandangannya.
Namun, keberanian fana tidak memiliki arti di hadapan sisa-sisa hukum Sektor Langit.
Makhluk berwajah polos yang memancarkan aura Golden Core (Inti Emas) itu melangkah maju. Tidak ada suara langkah kaki, ia melayang satu inci di atas tanah. Makhluk itu mengangkat tangannya, dan seberkas energi hitam legam memadat di telapak tangannya, siap meluluhlantakkan Lin Feng beserta sisa pasukannya menjadi abu.
Tepat pada detik keputusasaan absolut itu turun...
WUUUSSSSH! TRANG!
Dua siluet melesat dari balik kabut.
Seorang remaja berpakaian putih bersih mendarat tepat di depan barisan prajurit. Sebilah pedang kayu yang telah dilapisi Qi Kondensasi menebas udara, menciptakan gelombang pedang berbentuk bulan sabit yang langsung membelah belasan anjing bayangan menjadi dua bagian! Itu adalah Shen Lu.
Di sisi lain, bayangan hitam meluncur di tanah layaknya ular piton. Mo Yuan bergerak di antara kerumunan monster dengan kelenturan yang tidak masuk akal. Belati karatannya memotong tenggorokan puluhan monster bayangan dalam hitungan detik.
"Paviliun Pedang, bersihkan sayap kiri! Jangan biarkan satu pun sampah ini menyentuh pasukan!" teriak Mo Yuan, matanya yang abu-abu memancarkan kegilaan bertarung.
"Tidak usah memerintahku, dasar berandalan," balas Shen Lu datar, tubuhnya berputar menebas puluhan monster lainnya layaknya tarian kematian.
Lin Feng dan para prajuritnya mematung. Dua remaja yang usianya bahkan lebih muda dari Lin Feng sedang membantai monster-monster yang nyaris memusnahkan satu batalion pasukan elit kerajaan!
Makhluk berwajah polos itu memiringkan kepalanya. Ia menyadari kehadiran Qi yang murni dari kedua remaja itu. Mengabaikan Lin Feng, makhluk tingkat Golden Core itu menjentikkan jarinya ke arah Mo Yuan dan Shen Lu.
Dua pilar energi hitam melesat dengan kecepatan suara, membawa tekanan tekanan Golden Core yang membuat udara di sekitar alun-alun membeku. Mo Yuan dan Shen Lu membelalakkan mata. Perbedaan tingkatan antara Kondensasi Qi dan Golden Core terlalu jauh; tubuh mereka terkunci oleh tekanan hukum, tidak bisa menghindar!
Namun, sebelum pilar energi itu menyentuh kedua komandan bayangan tersebut, sebuah ledakan merobek langit.
BZZZ-BLAAAAAARRR!!!
Sesosok tubuh mungil berbalut jubah hitam legam jatuh dari tebing layaknya meteor yang murka, menghantam tanah tepat di antara makhluk berwajah polos itu dan kedua bawahannya.
Gelombang kejut dari pendaratan itu menghancurkan tanah berbatu dalam radius dua puluh tombak, memantulkan kedua pilar energi hitam itu hingga hancur berkeping-keping murni hanya karena tekanan angin dari pendaratannya!
Debu mengepul tebal. Saat angin menyapu kabut, Lin Feng menahan napasnya.
Berdiri di tengah kawah yang baru saja terbentuk, adalah sesosok anak kecil berjubah hitam. Wajahnya tertutup kain, hanya memperlihatkan sepasang mata keemasan yang menatap makhluk Golden Core itu seolah menatap serangga mati.
"T-Tuan..." Lin Feng bergumam, mengira anak kecil itu adalah monster tua yang meremajakan diri, sebuah legenda yang sering ia dengar dari dongeng kultivator. "Tolong... selamatkan pasukanku..."
Lin Chen tidak menoleh pada kakaknya. Mendengar suara Lin Feng yang serak dan penuh kesakitan, Niat Membunuh di dalam lautan jiwa sang Penguasa Keheningan meledak, menembus langit fajar.
"Makhluk cacat ciptaan Kuil Wajah Kosong," suara Lin Chen terdengar kecil namun menggema ke setiap sudut lembah. "Di kehidupan laluku, anjing tingkat Golden Core bahkan tidak pantas menyapu lantai di istanaku. Dan kau berani melukai keluargaku?!"
Makhluk berwajah polos itu mendesis marah. Ia tidak memiliki akal sehat, hanya insting membunuh. Ia meledakkan seluruh Qi Golden Core-nya, memadatkan sebuah telapak tangan raksasa berwarna hitam yang membentang menutupi langit, lalu menekannya ke arah Lin Chen.
Tekanan dari telapak itu membuat Lin Feng dan pasukannya jatuh berlutut, memuntahkan darah hanya karena auranya.
Namun Lin Chen berdiri tegak. Di dunia ini, Dantian-nya mungkin hanya berada di Kondensasi Qi, namun fisiknya adalah peleburan kiamat.
Lin Chen menekuk lututnya, tangan kanannya mengepal ditarik ke belakang. Otot-otot di balik jubahnya mengeras, memancarkan resonansi dari Darah Naga Primordial dan Esensi Phoenix Abadi. Tidak ada qi gemerlap. Tidak ada mantra yang dirapal.
Lin Chen hanya memukul ke atas.
CRAAAACK-BOOOOOOOM!!!
Pukulan fisik murni itu menghantam ruang hampa. Kepadatan ototnya menentang hukum alam semesta fana, menciptakan meriam udara terkompresi yang melesat lurus ke atas.
Telapak tangan raksasa dari energi Golden Core itu berbenturan dengan pukulan fisik Lin Chen. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Lalu... telapak energi itu retak, hancur, dan meledak menjadi ribuan partikel cahaya hitam!
Bukan hanya itu, daya tolak dari pukulan Lin Chen terus melesat, menghantam dada makhluk berwajah polos tersebut.
KRAASSH!
Tulang rusuk makhluk Golden Core itu hancur berantakan. Ia terlempar ke belakang sejauh puluhan tombak, menabrak sisa tembok benteng hingga runtuh menimpanya.
Mo Yuan, Shen Lu, dan terutama Lin Feng, membeku di tempat. Otak mereka tidak sanggup memproses apa yang baru saja terjadi. Seorang anak kecil baru saja menghancurkan qi entitas legendaris hanya menggunakan satu pukulan tangan kosong!
Makhluk Wajah Kosong itu meronta keluar dari reruntuhan. Ia belum mati, Inti Emas-nya mencoba meregenerasi lukanya.
Namun Lin Chen tidak memberinya kesempatan. Ia melesat dengan kecepatan, muncul tepat di hadapan makhluk tersebut. Mata keemasan Lin Chen menyipit tanpa belas kasihan. Tangan kecilnya menembus dada makhluk itu layaknya pisau panas menembus mentega, langsung meraih bongkahan Inti Emas yang berdenyut di dalam Dantian musuhnya.
"Mati."
KRAAK!
Lin Chen meremukkan Inti Emas itu di dalam dada makhluk tersebut. Tubuh sang monster menegang kaku, lalu menguap menjadi kabut hitam yang tersapu oleh angin fajar, lenyap tanpa sisa dari dunia.
Melihat pemimpin mereka musnah, ribuan anjing bayangan yang tersisa langsung melolong panik dan berubah menjadi abu kelabu, kehilangan jangkar energi mereka.
Pertempuran malam itu berakhir dengan keheningan.
Lin Chen berdiri membelakangi kakaknya, membersihkan sisa debu dari jubah hitamnya. Darah naga di nadinya perlahan tenang.
Lin Feng, dengan sisa tenaga yang ia miliki, memaksakan diri untuk berjalan tertatih mendekati sosok mungil berjubah hitam itu. Ia menjatuhkan diri dengan satu lutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Senior... hamba Lin Feng, Pangeran dari Kerajaan Chen, berutang nyawa pada Senior dan kedua murid Senior," ucap Lin Feng dengan suara bergetar dipenuhi rasa syukur. "Jika hamba boleh tahu... siapakah nama pahlawan yang telah menyelamatkan Kerajaan ini?"
Lin Chen membelakangi kakaknya. Matanya memancarkan rasa hangat sekaligus kepedihan yang asing. Ia ingin memeluk kakaknya, menyuruhnya pulang untuk diobati oleh ibunda mereka. Namun ia tahu, jika ia membalikkan badan dan membuka kain penutupnya, kehidupan yang ia hargai akan hancur lebur.
Lin Chen tetap diam. Ia hanya melirik sedikit ke arah Mo Yuan dan Shen Lu.
Mengerti isyarat tersebut, Mo Yuan melangkah maju, menghalangi pandangan Lin Feng. "Tuan kami tidak membutuhkan penghormatan dari manusia fana. Bawa sisa pasukanmu dan kembalilah ke ibukota, Pangeran Kecil. Utara bukanlah tempat bagi anak-anak."
Lin Feng menelan kekecewaannya, namun ia mengangguk paham. Kultivator abadi memang selalu eksentrik. Ia membungkuk sekali lagi sebelum kembali ke arah pasukannya untuk menolong yang terluka.
Lin Chen kembali menatap ke arah utara. Misinya belum selesai. Makhluk tadi hanyalah produk gagal yang merangkak keluar dari pinggiran jurang.
Namun, sebelum Lin Chen bisa memberikan perintah selanjutnya pada bawahannya, tanah di bawah kaki mereka bergetar luar biasa hebat. Jauh di kedalaman lembah, tepat dari pusat Jurang Kematian Utara, sebuah pilar cahaya berwarna ungu pekat meledak menembus awan!
Pilar itu memancarkan aura Qi Spiritual yang begitu kental hingga mengubah cuaca di sekitarnya menjadi badai petir kosmik. Suara raungan kuno yang bukan berasal dari binatang fana maupun Sektor Langit bergema dari dalam pilar cahaya tersebut, seolah sebuah gerbang menuju dunia lain baru saja dipaksa terbuka dari dalam jurang.
Mata keemasan Lin Chen membelalak.
"Kakak Pertama... apa itu?!" teriak Shen Lu, harus menutup telinganya karena suara raungan yang memekakkan telinga.
"Sebuah undangan," bisik Lin Chen, jubah hitamnya berkibar liar diterpa badai petir. "Undangan dari pusaka masa lalu yang memanggil kehancuran kembali ke tanganku."
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣