Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 007 - Pil Penahan Luka
Suara derap sepatu bot kulit Luo Biao dan rekannya perlahan menjauh di pelataran luar, disusul derak pintu utama gudang yang ditarik menutup dari luar. Grendel kayu jati yang berat terdengar jatuh ke posisinya dengan bunyi benturan tumpul yang menggetarkan kusen.
Gudang obat kembali diselimuti keheningan yang dingin dan pengap. Cahaya matahari siang hanya menyelinap lewat celah-celah genting tanah liat di atap, memproyeksikan garis-garis debu halus yang melayang lambat di udara.
Gu Yuan mengulurkan tangannya dari kolong rak arang. Jemarinya yang berlumur jelaga hitam mencengkeram seikat kunci kuningan tersebut erat-erat. Logam kunci terasa dingin dan berat di telapak tangannya. Terdapat lima anak kunci pada ikatan cincin tembaga itu. Salah satunya berukuran paling besar dengan ukiran kepala banteng bergerigi rumit—kunci master yang biasa digunakan oleh para pengawas senior untuk membuka pintu-pintu besi berat di kompleks barak luar dan sel tahanan bawah tanah.
Gu Yuan bangkit berdiri secara perlahan. Setiap gerakannya dihitung dengan cermat agar tidak menimbulkan bunyi gesekan pasir di lantai batu. Matanya melirik ke arah celah jendela kisi-kisi kayu di dinding samping, memastikan bayangan para pengawas benar-benar telah lenyap dari pelataran. Setelah yakin situasi aman untuk beberapa saat, ia melangkah tanpa suara menuju peti kayu berukir di sudut paling gelap di balik deretan karung herba kering.
Peti kayu itu terbuat dari balok kamper hitam yang kokoh dan tahan rayap, terikat oleh gembok tembaga berbentuk silinder pendek. Gu Yuan mencoba anak kunci ketiga yang berukuran sedang dan memiliki gerigi ganda. Dengan sedikit dorongan hati-hati dan putaran searah jarum jam, pasak jebakan dalam gembok bergeser halus dengan bunyi klik yang hampir tak terdengar.
Gu Yuan mengangkat tutup peti kayu tersebut. Aroma obat-obatan yang pekat seketika menyengat hidungnya.
Di dalamnya tidak ada tumpukan batu roh berkilau atau manual kultivasi pusaka tingkat tinggi. Namun bagi seorang murid luar yang sedang terluka parah dan diburu waktu, benda-benda di dalam peti ini jauh lebih berharga daripada bongkahan emas murni: terdapat tiga botol porselen putih berukuran jempol tangan dan beberapa toples gerabah yang disegel lilin lebah merah.
Gu Yuan mengambil botol porselen pertama dan mencabut sumbat gabusnya dengan hati-hati. Bau khas akar tanah bercampur aroma sengak darah kering seketika menyeruak ke hidungnya. Tiga butir pil bulat berwarna merah kecokelatan mengilat tergeletak di dasar botol. Itu adalah Pil Penahan Darah kelas fana—pil obat berharga yang biasa dibagikan secara sangat terbatas hanya kepada para murid dalam yang menderita cedera organ atau pendarahan dalam saat perburuan binatang buas di jurang selatan.
Di samping botol pil, Gu Yuan menemukan satu toples gerabah kecil bertuliskan huruf kuas hitam yang ditulis kasar: Salep Penghilang Bau Hutan. Salep ini diramu dari lemak kijang liar, arang bambu bakar, dan getah pohon damar dingin. Para pemburu sekte biasa melumuri tubuh dan pakaian mereka dengan pasta ini untuk mematikan bau keringat, darah, dan hawa panas tubuh manusia agar tidak tercium oleh hidung tajam binatang buas atau anjing pelacak penegak hukum yang berpatroli di perbatasan.
Kondisi fisik Gu Yuan saat ini berada di ambang batas kritis. Dua kali mengalami kematian di dalam simulasi cermin perunggu dalam waktu kurang dari satu jam telah memindahkan beban trauma fisik dan mental yang luar biasa berat ke tubuh nyatanya. Tulang rusuk sebelah kirinya terasa nyeri berdenyut seperti mengalami retakan halus, meridian di dadanya tersumbat oleh sisa benturan tenaga Qi, dan rasa asin tembaga masih terasa menetes di pangkal kerongkongannya. Jika ia memaksakan diri berlari menuruni tebing curam dengan tubuh yang remuk seperti ini, meridiannya bisa robek di tengah jalan sebelum sempat mencapai sungai perbatasan.
Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, Gu Yuan menuang satu butir Pil Penahan Darah ke telapak tangannya, lalu melemparkannya ke dalam mulut.
Pil itu terasa pahit pekat di lidah, namun begitu tertelan, cairan obat yang sejuk seketika merembes menuruni kerongkongan menuju rongga dadanya. Aliran energi herbal yang tenang dan lembut menyebar menyusuri pembuluh darah serta meridian yang meradang, meredakan nyeri retakan tulang rusuknya secara berangsur-angsur. Rasa mual yang menggulung di perutnya mulai surut, rasa pening di pelipisnya mereda, dan detak jantungnya yang sempat berdegup liar kini kembali berdetak stabil pada ritme yang teratur.
Gu Yuan memasukkan dua butir pil yang tersisa dan toples salep penghilang bau ke dalam saku kain di balik jubah abu-abunya. Kunci kuningan master ia selipkan ke dalam lipatan sabuk kain di pinggangnya, lalu menjepitnya dengan simpul tali agar cincin tembaganya tidak bergemerincing saat ia melangkah.
Sekarang adalah waktunya keluar dari gudang obat sebelum rombongan pembawa minyak pembakar kembali untuk mengangkut gentong-gentong minyak ke gua air terjun.
Pintu depan dan pintu samping berada di bawah sudut pengawasan menara jaga barak timur yang sewaktu-waktu bisa melihat bayangannya jika ada pengawal yang menoleh dari lantai atas. Satu-satunya rute pelarian yang tidak terpantau dari pelataran utama adalah lubang hawa di langit-langit atap gudang—sebuah bukaan kisi-kisi kayu di bawah genting yang menghubungkan bagian dalam gudang dengan lereng tebing belakang yang dipenuhi semak berduri.
Gu Yuan melangkah ke tumpukan peti kayu kosong di dekat dinding barat, menaiki tumpukan kayu tersebut dengan langkah seringan kucing liar untuk mencapai balok kayu penyangga atap. Tangannya yang kuat terangkat meraih balok kayu jati, jemarinya mencengkeram permukaan kayu yang kasar dan bersiap menarik bobot tubuhnya ke atas menuju celah kisi-kisi angin.
Kring… klank!
Suara gemerincing rantai besi yang beradu dengan lempengan batu mendadak bergema dari arah lantai bawah ruangan gudang.
Suara itu merambat naik dari pintu palka batu rahasia di sudut lantai gudang yang terhubung langsung ke lorong bawah tanah sekte. Gemerincing rantai tersebut berulang secara monoton, disusul oleh suara seretan alas kaki manusia yang lemas dan rintihan tertahan yang sarat penderitaan dari dalam kegelapan lorong di bawah sana.