Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Pendekar yang Terluka
Boqin Changing dan Wang Tian segera meninggalkan wilayah Sekte Dua Pedang Petir. Keduanya bergerak cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh, melintasi jalan pegunungan dan hutan yang membentang menuju Kota Jianpeng.
Sosok mereka sesekali melesat melewati pepohonan. Setiap kali kaki mereka menapak tanah, tubuh keduanya kembali meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.
Wang Tian yang berada di depan sesekali melirik muridnya.
"Chang'er, dengan kemampuanmu sekarang, bukankah perjalanan ini bisa dipersingkat jika kau terbang saja?"
“Aku tidak masalah jika kau sampai duluan...”
Boqin Changing tersenyum tipis.
"Guru, kita tidak sedang terburu-buru. Lagipula, sudah lama sekali kita tidak melakukan perjalanan bersama seperti ini."
Wang Tian mengangguk pelan.
Ia tidak mengetahui bahwa sebenarnya ada alasan lain di balik keputusan muridnya itu. Pertama, Boqin Changing memang ingin bernostalgia. Ia ingin merasakan kembali pengalaman berpetualang bersama gurunya, seperti yang pernah mereka lakukan bertahun-tahun lalu saat dirinya juga belum bisa terbang..
Kedua, Wang Tian sendiri belum meminta dirinya untuk membawa mereka terbang. Boqin Changing tidak berniat membuat gurunya merasa canggung hanya karena perbedaan kemampuan mereka sekarang.
Wang Tian masih berada di ranah pendekar suci awal. Pada tingkat tersebut, seorang pendekar belum mampu terbang bebas di udara. Kemampuan itu baru mulai dapat dikuasai setelah seorang pendekar mencapai Pendekar suci dengan lima gerbang terbuka.
Bagi Boqin Changing, hal itu sama sekali bukan masalah. Ia justru menikmati perjalanan mereka dengan cara seperti ini.
Keduanya terus bergerak dengan kecepatan tinggi. Sesekali, mereka berhenti untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan, Wang Tian bercerita tentang beberapa kejadian di sekte, sedangkan Boqin Changing sesekali menanggapi dengan santai. Percakapan mereka tidak jauh berbeda dari masa lalu, ketika Boqin Changing masih menjadi murid kecil yang selalu mengikuti arahan gurunya menjalankan berbagai tugas.
Tanpa terasa, matahari perlahan bergerak ke arah barat. Ketika langit mulai berwarna jingga, keduanya tiba di sebuah desa kecil yang terletak tidak jauh dari jalan menuju Kota Jianpeng.
Mereka masih belum sampai ke kota tujuan. Jika terus melanjutkan perjalanan dalam keadaan gelap, mereka mungkin akan kesulitan menemukan tempat yang layak untuk beristirahat.
Wang Tian akhirnya memperlambat langkahnya.
"Sepertinya kita menginap di desa ini saja malam ini."
Boqin Changing memandang desa di hadapan mereka, lalu mengangguk.
"Baik, Guru."
Sebelum mencari penginapan atau rumah penduduk yang bisa mereka sewa untuk bermalam, keduanya memutuskan untuk mencari kedai makan terlebih dahulu.
Setelah berjalan menyusuri jalan utama desa, mereka akhirnya menemukan sebuah kedai sederhana di pinggir jalan. Bangunannya terbuat dari kayu dengan beberapa meja dan bangku yang diletakkan di bagian dalam.
Asap tipis mengepul dari dapur belakang, sementara aroma makanan sederhana tercium hingga ke luar. Melihat keadaan desa yang tidak terlalu besar, kedai itu mungkin satu-satunya tempat makan yang masih buka pada jam tersebut.
Boqin Changing dan Wang Tian tidak mempermasalahkannya. Mereka masuk ke dalam kedai, memilih meja di sudut ruangan, lalu duduk berhadapan.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka.
"Selamat datang, Tuan-Tuan. Apa yang ingin kalian pesan?"
Wang Tian melihat daftar makanan yang tertempel di dinding. Setelah mempertimbangkannya sebentar, ia memesan beberapa hidangan.
"Berikan kami dua porsi daging rebus, sayuran tumis, sup, dan beberapa mangkuk nasi."
Boqin Changing menambahkan beberapa pesanan sebelum pelayan itu pergi ke dapur.
Tak lama kemudian, makanan mulai disajikan di atas meja. Hidangan yang mereka pesan terlihat sederhana. Tidak ada bahan makanan langka yang biasa ditemukan di kedai-kedai besar dalam kota. Namun, keduanya tidak terlalu memedulikannya.
Boqin Changing mengambil sumpit dan mencicipi daging rebus di hadapannya.
"Rasanya lumayan, Guru."
Wang Tian mengangguk sambil mengambil semangkuk nasi.
"Selama bisa mengenyangkan perut, makanan sederhana seperti ini sudah cukup."
Boqin Changing tertawa kecil.
"Guru masih sama seperti dahulu. Aku ingat ketika kita menjalankan misi mencari permata siluman, Guru juga pernah mengajakku makan di kedai yang jauh lebih sederhana daripada ini."
Wang Tian langsung mengangkat kepalanya.
"Kau masih mengingat kejadian itu?"
"Tentu saja. Bukankah saat itu Guru mengatakan bahwa kita harus menghemat uang kita...”
Wang Tian terbatuk kecil.
"Itu karena dulu kita tidak sekaya sekarang!"
Boqin Changing tertawa mendengar itu.
Wang Tian menggelengkan kepala, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.
"Jangan mengungkit kejadian memalukan itu."
Percakapan ringan pun berlanjut di antara mereka.
Keduanya mengenang berbagai pengalaman lama, mulai dari perjalanan yang berjalan lancar hingga misi yang berakhir dengan kejadian tidak terduga. Wang Tian sesekali menegur muridnya ketika Boqin Changing mengungkit peristiwa yang membuatnya malu, sedangkan Boqin Changing hanya tertawa menanggapi teguran tersebut.
Suasana di meja mereka terasa hangat. Untuk sesaat, Wang Tian bahkan merasa seolah-olah kembali ke masa ketika Boqin Changing masih menjadi murid kecilnya.
Namun, percakapan mereka tiba-tiba terhenti ketika terdengar suara seseorang dari luar kedai.
" Apakah kalian masih memiliki makanan yang murah?"
Suara itu terdengar lelah.
Boqin Changing dan Wang Tian secara bersamaan menoleh ke arah pintu.
Seorang pria berdiri di luar kedai sambil berbicara dengan pelayan yang bertugas di bagian depan. Pakaiannya berupa jubah putih yang telah kotor, sementara beberapa bagian kainnya tampak robek.
Pria itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan beberapa keping uang perunggu.
"Uang yang kumiliki hanya sebanyak ini. Apakah cukup untuk membeli semangkuk nasi dan sedikit sayuran?"
Pelayan kedai memandangi uang di tangan pria tersebut. Ia kemudian melihat penampilan tamunya dari atas hingga bawah.
"Semangkuk nasi dan sayuran sebenarnya tidak mahal. Namun, uang sebanyak itu mungkin hanya cukup untuk satu porsi."
Pria itu terdiam sejenak sebelum mengangguk.
"Kalau begitu, berikan saja satu porsi. Tidak perlu menambahkan apa pun."
Boqin Changing yang memperhatikan dari dalam kedai menyipitkan mata.
Dari penampilan dan sikapnya, pria itu jelas bukan orang biasa. Ia merupakan seorang pendekar yang memiliki dasar kultivasi, meskipun kondisinya sekarang tampak sangat buruk.
Wajah pria tersebut terlihat terluka. Ada bekas luka di dekat pelipisnya, sedangkan sudut bibirnya masih menyisakan noda darah yang telah mengering.
Jubah putih yang dikenakannya juga menarik perhatian Boqin Changing. Pada bagian dada jubah itu terdapat lambang sebuah sekte aliran putih, Sekte Lembah Angin.
Boqin Changing cukup mengenal nama sekte tersebut. Sekte Lembah Angin merupakan salah satu kelompok yang berada di jalur aliran putih, meskipun kedudukannya tidak termasuk yang paling kuat.
Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah kondisi pria itu. Seorang pendekar dari sekte aliran putih yang sampai harus menghitung beberapa keping uang perunggu hanya untuk membeli makanan jelas sedang mengalami kesulitan besar.
Terlebih lagi, pria itu tidak mengenakan cincin ruang yang biasanya dimiliki para pendekar untuk menyimpan barang-barang berharga. Entah cincin itu memang tidak pernah dimilikinya atau telah dirampas seseorang. Apa pun penyebabnya, keadaannya sekarang jelas tidak wajar.
Wang Tian juga memperhatikan pria tersebut. Ekspresinya perlahan berubah serius ketika melihat luka-luka di tubuh orang itu.
Boqin Changing mengalihkan pandangan kepada gurunya.
"Guru..." panggilnya pelan.
Wang Tian mengangguk seakan mengerti maksud muridnya itu.