Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUM DI BALIK PAGAR
Pagi itu Laras menyiapkan sarapan seperti biasa.
Nasi goreng dengan telur mata sapi untuk Kenzo, roti panggang untuk Dimas, kopi hitam tanpa gula di cangkir yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya berada jauh di tempat lain. Setiap kali ia mendengar langkah Dimas dari kamar, jantungnya berdegup keras, lalu ia memaksa dirinya tersenyum.
"Mama, kok mata mama bengkak?" tanya Kenzo sambil menyendok nasi goreng.
Laras terdiam sejenak. "Mama kurang tidur, Sayang. Semalam nyamuknya banyak."
"Kenapa nggak pakai obat nyamuk?"
"Iya, nanti Mama beli yang baru." Ia mengusap rambut anaknya, menahan sesuatu yang mendesak naik ke tenggorokannya.
Dimas muncul dengan koper kecil di tangan. Kemeja birunya licin, rambutnya rapi, dan aroma parfum yang belum pernah Laras cium sebelumnya menguar dari tubuhnya. Parfum baru. Laras mencatat itu dalam hati, seperti seorang akuntan mencatat selisih angka.
"Sudah semua, Mas? Charger, obat maag, kaus kaki cadangan?"
"Sudah." Dimas meneguk kopinya cepat-cepat, lalu menatap jam. "Aku harus berangkat, keretanya berangkat jam sembilan."
"Kereta? Bukannya naik pesawat?"
Ada jeda sepersekian detik. Laras melihatnya jelas, kedipan kecil di mata suaminya.
"Pesawat lagi penuh. jadi Kantor ambilkan kereta," jawab Dimas. Ia mencium kepala Kenzo. "Jangan nakal ya, Jagoan."
"Papa pulang bawa oleh-oleh?"
"Iya, bawa."
Lalu Dimas menoleh pada Laras. Ia ragu sebentar, seolah hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya berkata, "Jaga rumah."
Pintu tertutup. Suara mesin mobil terdengar, lalu menjauh.
Laras berdiri diam di ambang pintu, memandangi jalanan yang sudah kosong. *Pesawat penuh. Kantor ambilkan kereta.* Kemarin malam, dalam struk hotel itu, ia tidak melihat tiket apa pun. Dan Dimas bukan orang yang pandai berbohong. Ia hanya terlalu lama dipercaya.
"Mama, aku telat!" seru Kenzo dari dalam.
"Iya, Sayang. Sebentar."
Ia menutup pintu. Ada banyak hal yang harus ia lakukan hari ini, dan menangis bukan salah satunya.
---
Sekolah Kenzo hanya sepuluh menit berjalan kaki dari rumah. Laras menggandeng tangan kecil itu menyusuri gang perumahan yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Daun-daun menjatuhkan titik air di bahu mereka.
Ketika mereka melewati pagar rumah nomor 14, rumah tetangga baru itu, sebuah suara riang memanggil dari balik tanaman bugenvil.
"Mbak Laras! Selamat pagi!"
Laras berhenti. Jantungnya mencelos, tapi wajahnya sudah lebih dulu belajar bersandiwara.
Vania berdiri di teras dengan daster putih sederhana, rambut bergelombangnya diikat longgar, wajahnya tanpa riasan tapi tetap segar. Di tangannya ada selang air untuk menyiram pot-pot bunga. Gelang perak berliontin V itu berkilau di pergelangan tangannya.
"Pagi, Vania," jawab Laras. Suaranya mantap, dan ia sendiri terkejut betapa mudahnya itu keluar. "Rajin sekali pagi-pagi sudah menyiram."
"Biar tanamannya nggak stres, Mbak. Kayak aku." Vania tertawa kecil, lalu membungkuk menyapa Kenzo. "Halo, Ganteng. Mau sekolah ya? Tante punya cokelat nih, mau?"
Kenzo menoleh pada ibunya, meminta izin. Laras mengangguk.
Ketika Vania menyodorkan cokelat dan mengusap kepala anaknya, Laras memperhatikan setiap geraknya dengan teliti. Cara ia menunduk. Cara ia tersenyum. Cara matanya sesekali melirik ke arah mobil Dimas yang sudah tak ada di garasi.
Hanya sekilas. Tapi Laras melihatnya.
"Suami Mbak sudah berangkat?" tanya Vania ringan, terlalu ringan.
"Sudah. Dinas ke Surabaya, mendadak."
"Oh, ya ampun. Kasihan Mbak ya, ditinggal sendirian."
*Ditinggal sendirian.* Laras menahan senyumnya agar tidak berubah menjadi sesuatu yang lain. "Nggak apa-apa. Sudah biasa."
"Kalau butuh teman ngobrol, mampir aja ya, Mbak. Aku sering sendirian juga. Mas Reza kan sibuk terus."
Reza. Jadi begitu nama suaminya.
"Pasti," kata Laras. "Terima kasih, Vania. Kami duluan ya, takut Kenzo telat."
Ia menggandeng anaknya dan berjalan menjauh. Baru setelah belokan gang, ia menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Telapak tangannya basah dingin.
"Tante Vania baik ya, Ma," kata Kenzo sambil mengunyah cokelat.
Laras menatap anaknya, dan untuk sesaat, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Tante Vania memang baik."
---
Setelah mengantar Kenzo, Laras tidak langsung pulang. Ia duduk di bangku taman kecil dekat sekolah dan menelepon satu-satunya orang yang bisa ia percaya.
"Mira? Kamu lagi sibuk?"
Dari seberang terdengar suara Mira, sahabatnya sejak kuliah, yang kini bekerja sebagai staf administrasi di sebuah firma hukum. "Lagi nggak. Kenapa, Ras? Suaramu aneh."
Laras menatap burung-burung yang melompat di atas rumput basah. "Aku butuh bantuanmu. Tapi kamu harus janji dulu, jangan kaget dan jangan langsung marah-marah."
Hening. Lalu suara Mira berubah serius. "Ras, ada apa?"
Laras menceritakan semuanya, pelan, tanpa menangis. Pesan itu. Struk hotel. Kebohongan soal kereta. Gelang perak. Tetangga baru.
Mira terdiam lama sekali. Lalu, "Aku ke sana sekarang."
"Jangan. Dimas bisa curiga kalau kamu tiba-tiba datang. Aku cuma butuh satu hal."
"Apa?"
"Nama hotel itu. Hotel Mahkota Indah di Surabaya. Bisa kamu cari tahu apakah ada nama lain yang memesan kamar atas nama Dimas pada tanggal itu? Atau kalau bisa, siapa yang menginap bersamanya."
"Ras, itu bisa dianggap melanggar privasi."
"Aku tahu. Makanya aku nggak minta kamu melanggar apa pun. Aku cuma minta kamu cari tahu dengan cara yang benar. Kamu kenal banyak orang di sana."
Mira menghela napas. "Aku coba. Tapi kamu harus janji satu hal juga."
"Apa?"
"Jangan bertindak gegabah. Kamu bukan perempuan yang biasa menyakiti orang. Jangan sampai balas dendam mengubah kamu jadi orang lain."
Laras tersenyum pahit, meski sahabatnya tak bisa melihatnya. "Mir, aku sudah berubah sejak semalam. Aku cuma belum tahu seberapa jauh."
Sambungan terputus. Laras menggenggam ponselnya lama, lalu bangkit.
---
Pukul sembilan lewat, ketika Laras kembali ke gang rumahnya, ia melihat pemandangan yang membuatnya berhenti.
Vania keluar dari rumah nomor 14 dengan koper besar berwarna krem. Ia mengenakan gaun santai yang jelas bukan pakaian untuk berdiam di rumah, rambutnya tergerai rapi, dan wajahnya kini berias tipis. Sebuah taksi daring sudah menunggu di depan pagar.
Laras bersembunyi di balik pohon mangga besar di tikungan gang, jantungnya berdetak kencang.
Dari pintu, seorang pria keluar mengantar. Postur tinggi, kemeja putih digulung sampai siku, wajah tegas tapi lembut di sekitar mata. Reza.
"Hati-hati di jalan, Sayang," katanya sambil memeluk Vania. "Salam buat Kak Rina ya. Kabari kalau sudah sampai."
"Iya, Mas. Cuma tiga hari kok. Kak Rina lagi sakit, kasihan sendirian di Surabaya."
*Surabaya.*
Laras menggigit bibirnya sampai terasa sakit.
Reza mencium kening istrinya, lalu membukakan pintu taksi. Ia berdiri di sana, melambaikan tangan, sampai mobil itu menghilang di tikungan. Wajahnya tulus, tanpa sedikit pun curiga. Setelah taksi tak terlihat, ia menarik napas, menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, lalu masuk ke dalam rumah.
Laras masih berdiri di balik pohon, tak bergerak.
Surabaya. Kereta jam sembilan. Dinas mendadak. Kakak yang sakit.
Dua kebohongan yang dirangkai begitu rapi, dari dua rumah yang bersebelahan.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang tadinya masih berharap. Harapan kecil yang diam-diam menyelinap semalam, bahwa mungkin semua ini salah paham, bahwa mungkin ada penjelasan lain. Dan kini, pelan-pelan, harapan itu mati.
Yang tersisa hanya kejelasan.
---
Siang harinya, Laras sedang menjemur pakaian di halaman belakang ketika terdengar suara dari balik pagar pembatas.
"Permisi? Mbak Laras, ya?"
Ia menoleh. Di seberang pagar rendah yang memisahkan dua halaman belakang, berdiri Reza, memegang sebuah kotak plastik dan tersenyum canggung.
"Maaf mengganggu. Saya Reza, suami Vania. Tadi pagi istri saya cerita kalau Mbak tinggal di sebelah. Ini ada kue sisa dari toko roti langganan kami. Vania titip bilang, dia nggak sempat kasih sendiri karena buru-buru berangkat."
Laras menatap pria itu. Dari dekat, ia terlihat lebih letih daripada yang tadi terbayang. Ada garis halus di sudut matanya, tanda orang yang sering bekerja terlalu keras. Tapi senyumnya hangat, benar-benar hangat, seperti seseorang yang tak pernah belajar menyembunyikan ketulusan.
"Terima kasih, Mas Reza. Repot-repot sekali."
"Nggak repot. Justru saya yang berterima kasih. Vania bilang Mbak baik sekali sama dia sejak pindah." Reza tertawa kecil. "Dia memang gampang kesepian kalau saya kerja. Syukurlah sekarang ada tetangga baik."
Laras menerima kotak itu. Jari mereka tak sengaja bersentuhan, dan ia merasakan sesuatu yang aneh, bukan getaran, bukan ketertarikan, melainkan rasa bersalah yang menusuk. Pria ini begitu baik. Begitu percaya.
Dan justru karena itulah, ia merasakan sesuatu yang lain di balik rasa bersalah itu: kemarahan yang pelan-pelan mengeras.
"Mas Reza sendiri nggak ikut ke Surabaya?" tanyanya hati-hati.
"Saya? Nggak. Ada proyek yang nggak bisa saya tinggal. Lagi pula, Vania cuma tiga hari." Reza menggaruk tengkuknya. "Kakaknya sakit, jadi dia buru-buru berangkat. Saya kasihan lihat dia khawatir sekali."
*Khawatir sekali*, pikir Laras. Ia hampir tertawa getir.
"Semoga kakaknya lekas sembuh," katanya.
"Terima kasih, Mbak."
Reza mengangguk sopan dan berbalik pergi. Laras memperhatikan punggungnya yang menjauh, bahu lebar yang tampak menanggung terlalu banyak, namun tak pernah mengeluh.
Ia menunduk menatap kotak kue di tangannya. Di dalamnya ada brownies cokelat, masih hangat. Kue kesukaan Kenzo.
*Aku bisa memberitahunya sekarang*, pikir Laras. *Kuberikan semua bukti, kubuka matanya. Dia akan hancur, tapi setidaknya dia tahu.*
Tapi suara lain di kepalanya berbisik lebih pelan, lebih dingin.
*Belum. Kalau kau beri tahu sekarang, Vania akan punya waktu menyusun cerita. Dimas akan sempat menghapus jejak. Dan kau akan jadi istri yang dikasihani, bukan perempuan yang menang.*
Laras menutup kotak itu pelan-pelan. Di balik pagar, dari kejauhan, ia melihat Reza duduk di teras rumahnya, menunduk memandangi ponsel, mungkin menunggu kabar dari istri yang sedang berbohong padanya.
Pria itu tampak kesepian.
Dan di dalam dada Laras, sesuatu yang berbahaya mulai menemukan bentuknya.