NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - Ta'aruf yang Diterima Terpaksa

Habis Isya, biasanya Jay ada di masjid. Mengajar ngaji kitab untuk santri putra yang kecil-kecil.

Malam itu beda. Belum sempat dia membuka kitab, santri ndalem menghampiri.

"Gus, dipanggil Kiai di ndalem," katanya pelan.

Jay mengangguk. Dia merapikan sarungnya, melipat kitabnya, lalu jalan ke ndalem. Perasaannya sudah tidak enak. Kalau Abi memanggil habis Isya begini biasanya bukan soal jadwal mengajar. Pasti soal pesantren cabang atau soal tamu.

Di ruang tamu ndalem, Kiai Hasyim sudah duduk di kursi kayu. Di depannya ada teh hangat yang masih mengepul. Nyai Maryam duduk di samping, tidak banyak bicara, hanya tersenyum.

"Duduk, Jay," kata Kiai Hasyim.

Jay duduk. Punggungnya tegak seperti biasa. Tangan di atas lutut.

"Abi memanggil ada apa?" tanya Jay.

Kiai Hasyim melihat anaknya sebentar. Anak satu-satunya yang dia didik keras agar bisa meneruskan pesantren ini.

"Jay, kamu sudah balik dua minggu. Abi lihat kamu sudah bisa adaptasi lagi, mengajar jalan, santri juga hormat sama kamu. Abi bersyukur," Kiai Hasyim memulai pelan.

Jay diam, menunggu.

"Dan... Abi mau bicara soal masa depan kamu," lanjut Kiai Hasyim.

Nyai Maryam yang dari tadi diam, menatap Jay dengan tatapan yang... kasihan? Jay jadi makin tidak enak.

"Masa depan bagaimana, Bi?"

Kiai Hasyim menarik napas.

"Abi sama Pak Haris, ayahnya Muthi'ah Azzahra, dulu pernah janji waktu kalian masih bayi. Kalau kalian jodoh, kita satukan. Janji di atas sajadah. Sampai sekarang Pak Haris masih memegang janji itu. Abi juga."

Jay merasa seperti disiram air es.

Muthi'ah Azzahra.

Nama yang kemarin sempat disebut Jungwon. Santri pendiam yang nunduknya beda itu.

"Abi ingin kamu mengenal Muthi'ah. Dengan cara yang baik. Dengan adab. Kalau cocok, kita lanjutkan ke khitbah. Kalau tidak... ya kita bicarakan lagi."

Ruangan itu hening. Jam dinding ndalem terdengar detiknya.

Jay mengerti. Ini bukan tawaran. Ini penugasan. Seperti waktu dia ditugaskan mengasuh cabang di Jawa Tengah dulu. Abi bilang, "Berangkat," dia berangkat. Abi bilang, "Mengajar Alfiyah," dia mengajar. Sekarang Abi bilang, "Kenali Muthi'ah," ya dia harus mengenali.

Tapi kali ini beda. Ini bukan soal kitab. Ini soal orang. Soal hidupnya sendiri.

Di kepalanya berputar banyak hal. Dia baru 20. Dia masih ingin belajar lagi. Dia masih ingin mengembangkan cabang pesantren. Dia masih ingin dikenal sebagai Jay, bukan cuma "putra Kiai Hasyim". Dan sekarang tiba-tiba harus menikah? Dengan perempuan yang bahkan belum pernah diajak bicara benar?

Tapi mulutnya, karena sudah terbiasa disiplin, refleks menjawab.

"Saya laksanakan, Abi."

Suaranya datar. Tenang.

Kiai Hasyim tersenyum lega. "Alhamdulillah. Abi tahu kamu anak yang taat. Besok Abi atur waktunya, kamu bisa mulai ta'aruf lewat Bu Nyai dan Ustazah Khadijah. Jaga adab."

"Inggih, Bi," jawab Jay lagi.

Setelah keluar dari ndalem, Jay tidak langsung balik ke asrama putra. Dia jalan ke pos belakang, tempat biasanya dia dan sahabat-sahabatnya berkumpul kalau malam.

Heeseung, Jake, Sunghoon, Sunoo, Jungwon, dan Ni-ki sudah di sana. Duduk di atas tikar, ada kopi sachet.

"Gimana? Dimarahi Kiai gara-gara telat ngajar?" Jake bertanya usil.

Jay duduk, menyender ke tembok. Mukanya masih datar, tapi Heeseung yang paling dewasa langsung tahu ada yang tidak beres.

"Kenapa, Jay? Mukamu seperti habis disuruh hafalin 1000 bait Alfiyah semalam," kata Heeseung.

Jay diam lama. Lalu akhirnya bicara pelan.

"Abi menyuruhku ta'aruf. Sama Muthi'ah Azzahra."

Langsung...

"HAH?!"

Sunoo hampir tersedak kopi. Ni-ki yang lagi tiduran langsung duduk tegak.

"Serius lu? Yang juara kitab kuning itu? Yang kemarin nunduk sampai mau sujud itu?" kata Jake, matanya berbinar.

Jungwon yang paling kalem langsung bertanya, "Ta'aruf yang bagaimana? Yang dijodohin itu?"

Jay mengangguk. "Janji dari bayi katanya. Abi sama ayahnya Muthi'ah sahabatan. Sudah janji mau jodohin anaknya."

Sunghoon yang dari tadi diam sambil mengaduk kopi akhirnya bicara, "Berat."

"Terus lu jawab apa?" tanya Heeseung.

"Gue bilang, saya laksanakan, Bi," jawab Jay.

Heeseung langsung menepuk jidat.

"Jay, denger ya. Ini nikah, bukan jadwal piket masjid. Bukan 'siap laksanakan' terus beres. Ini hidup lu. Hidup dia juga," kata Heeseung. Nadanya serius. "Lu nggak bisa anggap ini tugas. Kalau lu anggap tugas, yang ada lu sama Muthi'ah sama-sama capek."

Jay menunduk. Dia tahu Heeseung benar.

"Gue tahu, Hyung. Tapi gimana? Di depan Abi gue nggak bisa nolak. Dari kecil gue diajarin, kalau Abi ngomong, laksanain dulu. Mikirnya belakangan."

"Taat itu bukan berarti nggak punya suara," Heeseung melanjutkan. "Lu harus kenal dia dulu sebagai Muthi'ah, bukan sebagai 'anak Pak Haris yang dijodohin sama gue'."

Jake menambahkan, "Benar kata Heeseung, Jay. Kasian kalau dia dipaksa. Apalagi Muthi'ah itu pendiam. Nggak bakal berani nolak."

Sunoo menimpali, "Tapi jujur ya, Jay, dari yang gue lihat kemarin, dia anaknya baik lho. Anteng."

Jay diam. Dia ingat lagi momen kemarin di halaman. Cara Muthi'ah menunduk. Kitab yang dipeluk kencang.

"Gue nggak nolak orangnya," kata Jay akhirnya, suaranya pelan sekali. "Gue cuma... nggak mau dia merasa ini beban. Gue nggak mau dia merasa masa depannya ditentukan tanpa dia ditanya dulu. Gue saja merasa nggak enak, apalagi dia yang perempuan."

Semua sahabatnya diam.

Jungwon berkata, "Kalau begitu, lu bicara jujur saja sama dia. Jangan lewat Abi. Ketemu langsung, tapi tetap jaga adab. Bilang kalau lu juga bingung. Ajak dia buat sepakat dulu, mau kenal pelan-pelan, bukan langsung nikah."

Malam itu Jay balik ke kamarnya, tapi tidak bisa tidur. Dia menggelar sajadah, sholat tahajud lama. Di dalam doanya, dia tidak minta dijodohkan atau tidak. Dia hanya minta dikasih jalan yang tidak menyakiti siapa-siapa.

Di kepalanya masih terputar kata-katanya sendiri tadi: Saya laksanakan, Abi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kata-kata yang biasanya bikin dia bangga karena taat, sekarang terasa seperti memborgol tangannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!