Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dan benar saja, di depan pintu rumah Zayn dan Bella. Pria yang terus menekan bel dari tadi adalah Zayn. Itu memang rumahnya, tapi dia tidak diijinkan masuk oleh Bella. Bella masih marah pada suaminya itu. Bisa-bisanya selama tiga tahun lebih, Zayn juga membohongi Bella.
Padahal dulu sebelum mereka menikah, Zayn sudah bersumpah tidak akan pernah menyembunyikan apapun dari Bella. Yang meminta Bella mengenalkan Kinan pada Bima juga Zayn. Tahu kalau sahabatnya hanya dijadikan alat yang di manfaatkan untuk kebebasan cinta pertama Bima, Bella tidak akan pernah mengenalkan Kinan pada sahabat suaminya itu.
"Nyonya... tuan terus menekan bel. Bahkan tuan duduk di lantai, tuan terlihat kacau sekali. Nyonya, apa tidak sebaiknya..."
Ucapan bibi Dona terjeda, karena mendapatkan lirikan tajam dari Bella.
"Kenapa? bibi kasihan sama dia? kalau gitu bibi suruh dia masuk dan bibi yang keluar dari rumah ini!"
Bibi Dona langsung membungkam rapat mulutnya. Dia sungguh tidak ingin keluar dari rumah ini dan pekerjaannya. Kadang kata-kata Bella memang ketus dan terdengar pedas. Tapi sebenarnya Bella adalah majikan yang sangat baik. Gaji bibi Dona saja setiap tahun naik, belum tunjangan lainnya. Biaya sekolah anak-anaknya bahkan Bella yang menanggungnya. Jangan kata hanya masalah fasilitas kesehatan, asuransi saja juga didaftarkan oleh Bella untuk semua anggota keluarga bibi Dona.
"Maaf nyonya!"
"Pokoknya jangan biarkan manusia menyebalkan itu masuk ke dalam rumah. Masih bagus aku hanya mengeluarkannya dari rumah, belum juga aku keluarkan dia dari kartu keluarga. Sudah drama sekali duduk di lantai mencari simpati orang. Biar dia rasakan, kesalahannya terlalu besar. Dia harus di beri sedikit pelajaran!"
"Ba... baik nyonya!"
Bella menghela nafas pendek, dia segera berbalik dan berjalan menuju ke arah kamarnya. Bella sama sekali tidak punya rencana untuk membuka pintu rumahnya malam ini untuk suaminya. Dia terlalu kecewa pada Zayn. Masa iya pria yang sudah punya anak berusia tiga tahun tidak bisa membedakan benar dan salah. Bersahabat, setia kawan sih boleh. Tapi kalau Bima salah, kenapa dia malah menutupinya bukan mengatakan semua itu pada Bella. Bella kesal sekali.
Zayn kembali duduk di lantai, bersandar di pintu utama rumahnya yang besar itu.
"Bella, tega sekali kamu sayang. Aku kedinginan, aku juga belum makan" gumam Zayn.
Wajahnya sungguh tampak menyedihkan, dia bahkan belum mandi dan ganti pakaian. Kalau bukan tertolong wajah tampannya, tidak akan ada yang percaya kalau dia adalah seorang Presdir perusahaan besar di kota ini.
Sampai pagi, Bella sama sekali tidak membuka pintu. Pelayan juga tidak ada yang berani membuka pintu. Bahkan Sasha saja tidak bertanya dimana ayahnya, karena memang Zayn kan orang yang sangat sibuk. Shasha belum bangun dia sudah berangkat kerja, dan ketika dia pulang anaknya itu sudah tidur. Hanya weekend saja waktu mereka bisa bersama. Jadi karena ini memang bukan weekend, Sasha sama sekali tidak bertanya tentang ayahnya pada Bella.
Bibi Dona membawa sebuah koper yang sudah disiapkan oleh Bella keluar pintu. Zayn yang melihat pintu dibuka, segera berdiri dan menghampiri bibi Dona. Dia melihat ke arah belakang bibi Dona, berharap ada Bella di sana.
"Bella mana, bi?" tanya Zayn.
"Tuan maaf, tapi nyonya bilang tuan memang tidak boleh masuk ke dalam rumah. Ini koper yang isinya beberapa pakaian tuan. Kata nyonya, tuan tinggal saja di perusahaan, atau di hotel terserah pada tuan. Nyonya tidak mau bertemu dengan tuan!"
Rahang Zayn nyaris jatuh, dia merasa hatinya patah. Istrinya mengusirnya dari rumah. Bilang dia tinggal di kantor atau di hotel saja. Zayn sungguh merasa sedih.
"Bella sayang, aku minta maaf. Aku tahu aku salah berteman dengan si brengsekk itu! aku akan putuskan hubungan pertemanan ini, jangan usir aku sayang. Aku mana bisa hidup tanpa kamu dan Sasha...!"
Prangg
Zayn dan bibi Dona sama-sama terjingkat, terdengar suara benda pecah dari dalam rumah.
Bibi Dona panik, dia yakin yang melemparkan barang itu adalah majikannya. Bella pasti marah karena bibi Dona masih membiarkan Zayn berada di depan pintu.
"Tuan, cepat pergi. Bibi tidak mau di pecat. Sana... sana!"
Bibi Dona mendorong koper Zayn dan mengusir Zayn dengan gerakan tangan seperti mengusir kucing.
Mata Zayn melebar, mata pria itu membelalak lebar. Kenapa pembantunya berani mengusirnya seperti mengusir kucing liar dari rumah.
"Heh, bibi Dona. Aku juga majikan mu loh..."
Tak
Pintu rumah itu di tutup dengan cepat oleh bibi Dona. Semua ucapan Zayn sama sekali tidak berguna.
Zayn mendesah kasar kemudian mendengus kesal. Bahkan meninjukan tangannya ke udara.
"Semua ini gara-gara si brengsekk itu! Aku benar-benar harus memukul Bima Dirgantara!"
Zayn kesal sekali, dia menarik kopernya dan berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Istrinya itu wanita yang kalau dia bilang A, maka meski ada badai Carolina di depan wajahnya, ucapannya tidak akan pernah berubah menjadi B. Jadi, tetap berada di depan rumah juga sia-sia. Bella itu orangnya keras sekali, tidak mungkin membuatnya luluh hanya satu dua kalimat permintaan maaf dari Zayn.
Begitu mobil Zayn pergi, Bella menutup tirai jendela. Dari tadi dia juga melihat tingkah konyol suaminya dari sana.
"Bilang mau pukul, mau pukul. Tapi tidak dipukul juga. Dasar menyebalkan!" gerutu Bella kesal.
Sementara itu di perusahaan. Bima juga masih berada di tempat duduknya. Dengan kemeja yang sama. Ya, dengan pakaian yang sama karena dia juga sama sekali tidak pulang ke rumah. Dia sudah memantau rekaman kamera pengawas di rumahnya sejak semalam. Dan tidak ada tanda-tanda kalau Kinan pulang ke rumah.
Dia juga melihat rekaman kamera pengawas di koridor menuju ruangannya. Cukup lama Kinan berada di depan pintu. Mungkin sudah banyak hal yang Kinan dengar ketika Bima dan Zayn membicarakan Agnes.
Bima mengusap wajahnya dengan kasar.
Suara pintu kantor itu terbuka, Leo datang dengan membawakan pakaian ganti dan sarapan untuk Bima.
"Tuan, ini pakaian dan sarapan..."
"Sudah ada kabar dimana Kinan?" tanya Bima menyela Leo.
"Belum tuan. Ponsel nyonya belum aktif, tidak bisa dilacak. Tidak ada pengeluaran juga dari kartu bank" jawab Leo.
Bima memijat keningnya yang terasa pusing.
"Terus cari dimana dia, dia sedang hamil..." ucapan Bima terjeda. Wajahnya yang datar itu menunjukkan ekspresi lain.
Dia melihat Kinan membawa kertas saat berada di luar pintu, dia lihat itu di kamera pengawas. Di saat harusnya Kinan sangat senang. Wanita itu malah menjadi sangat sedih.
"Leo, menurutmu... setelah dia tahu semuanya. Dia akan mempertahankan anakku?" Tanya Bima pada Leo.
Leo tergagap. Kenapa bosnya memberikan pertanyaan yang tidak bisa dia jawab begitu.
***
Bersambung...