Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa benar
Kata cerai menempel di kepala Rizal seperti permen karet di sol sepatu.
Ia membawanya ke kantor, ke jalan, ke meja makan, ke ranjang. Di sela rapat, saat membaca laporan, ketika menyetir pulang, kata itu muncul begitu saja. Dan setiap kali ia muncul, ada hal lain yang ikut menyertainya... daftar. Daftar panjang yang tanpa ia sadari ia susun setiap hari di dalam kepala, berisi hal-hal yang menurutnya salah dari Danti.
Daftar itu bertambah setiap hari. Tapi ada satu hal yang tak pernah masuk di dalamnya... apa yang ia sendiri lakukan hingga semua itu terjadi.
Memori manusia punya cara kerja yang licin. Ia menyimpan rapat setiap luka yang kita terima, tapi membiarkan luka yang kita beri menguap seperti embun di bawah matahari pagi.
---
Sore itu Rizal pulang lebih cepat dari biasanya.
Rapat terakhir dibatalkan, dan Vanya yang katanya ada urusan keluarga, tak bisa menemuinya. Ia tak punya tujuan lain, maka mobilnya meluncur pulang sebelum langit sempat berubah jingga.
Pintu depan tak terkunci. Di ruang tamu, televisi mati. Cahaya matahari sore menerobos tirai dan jatuh di lantai dalam kotak-kotak keemasan.
Danti duduk bersila di sofa, menghadap meja kecil, dengan laptop terbuka di depannya dan headset terpasang di kedua telinga. Rambutnya diikat rapi, kaus abu-abunya sederhana, dan jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik dengan konsentrasi penuh.
Rizal berhenti di ambang pintu dan menatapnya.
Laptop. Headset. Layar menyala. Seorang perempuan yang tenang menatap benda itu sambil sesekali mengangguk kecil.
Kesimpulan datang secepat kilat, tanpa melewati proses berpikir mana pun. Nonton drama.
"Jadi ini yang dia kerjakan seharian? Sementara aku banting tulang di kantor, dia santai-santai di rumah menonton film?"
Darahnya langsung mendidih.
Ia tak melihat bahwa jendela di layar itu dipenuhi kolom-kolom data. Tak melihat tumpukan berkas yang sudah ditandai dengan warna-warna rapi di samping laptop. Tak menyadari buku catatan kecil berisi jadwal tenggat dan rekapitulasi honor yang tergeletak terbuka di sisi meja. Ia hanya melihat apa yang sudah ia putuskan untuk dilihat.
"Danti."
Danti tak mendengar. Headset itu menyumbat telinganya.
"DANTI!"
Danti tersentak, lalu menoleh. Ia buru-buru melepas headset dan mengerjap. "Mas? Kok sudah pulang?"
"Kamu dari tadi ngapain?"
"Aku lagi..."
"Nonton? Main-main di laptop sampai sore?" Rizal melempar tasnya ke sofa. "Aku capek-capek kerja dari pagi, dan kamu cuma duduk manis nonton drama?"
"Mas, bukan begitu. Aku lagi mengerjakan..."
"Jangan alasan!"
"Mas, tolong dengar dulu. Ini bukan..."
"Aku nggak mau dengar!" Rizal mengangkat tangan, memotong setiap kalimat sebelum sempat selesai. "Kamu selalu punya alasan! Selalu! Setiap kali aku tanya sesuatu, ada saja jawaban yang kamu siapin!"
Danti menutup mulutnya.
Ia menatap suaminya, yang berdiri dengan dada naik-turun dan wajah memerah. Dan untuk sesaat ia mempertimbangkan membuka layar, menunjukkan berkas-berkas, menyodorkan buku catatan. Tapi pertimbangan itu padam bahkan sebelum menyala. Ia sudah terlalu sering mencoba menjelaskan kepada orang yang tak ingin mengerti.
Satu hal lagi yang tak disadari Rizal, padahal berdiri sejengkal di depannya... perempuan yang ia bentak itu tak lagi seperti dulu. Pipinya lebih tirus. Bahunya lebih tegak. Lengan, pinggang, langkah kakinya, semuanya perlahan kembali menemukan bentuknya.
Beberapa minggu jalan pagi dan makan teratur telah mengubah banyak hal. Tapi Rizal terlalu sibuk mencari kesalahan hingga tak sempat melihat perubahan itu.
Ia tak melihat apa pun yang tak mendukung dakwaannya.
"Ternyata Ibu dan Rani benar," kata Rizal akhirnya, napasnya berat. "Semua yang mereka bilang itu benar."
Danti menunggu.
"Kamu cuma beban, Dan. Beban di rumah ini. Seharusnya dari dulu aku dengar kata Ibu. Seharusnya aku nggak pernah menikahi kamu."
Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan mentah.
Dulu, kalimat seperti ini akan meruntuhkan Danti. Ia akan menangis, memohon, bertanya apa yang bisa ia perbaiki. Tapi sore ini ia hanya duduk di sofa, menatap lelaki yang sudah ia kenal bertahun-tahun, dan merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan sakit, bukan marah, melainkan kelelahan yang sangat dalam. Seperti seseorang yang telah berjalan terlalu jauh di jalan yang salah dan akhirnya duduk di tepinya.
"Mas," ucapnya pelan.
"Apa?"
"Kalau seseorang sudah tidak menyukai orang lain, apa pun yang orang itu lakukan akan selalu salah." Ia menatap Rizal tanpa getar. "Kalau aku masak, salah. Kalau aku nggak masak, salah. Kalau aku diam, salah. Kalau aku bicara, salah. Kalau badanku gemuk, salah. Kalau badanku berubah, juga salah. Aku sudah lama berhenti mencari tahu mana yang benar."
Wajah Rizal menegang. "Maksudmu aku yang salah?"
"Aku nggak bilang begitu."
"Tapi itu maksudmu, kan?" Suaranya meninggi. "Kamu mau bilang semua ini salahku? Kamu yang berubah, Danti! Kamu yang menjauh! Kamu yang bikin rumah ini dingin! Aku begini gara-gara kamu!"
Danti menggeleng pelan.
Bukan gelengan marah, bukan pula membantah. Hanya gelengan lelah, gelengan seseorang yang sudah menebak jawaban sebelum pertanyaan selesai.
Ia sudah tahu. Dari awal, ia selalu tahu. Lelaki di hadapannya tak akan pernah mau berkata aku salah. Bukan karena ia jahat, tapi karena ia tak sanggup melihat dirinya dengan jernih.
Mereka terdiam.
Detik jam dinding terdengar nyaring di antara mereka. Di luar, suara anak-anak bermain bola bergema samar, bercampur dengan panggilan penjual bakso yang melintas. Dunia terus berjalan, tak peduli bahwa di ruang tamu kecil itu sedang terjadi sesuatu yang tak bisa dikembalikan.
Satu menit. Dua. Tiga.
Rizal menunduk menatap lantai. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal dan terbuka berulang-ulang. Ketika akhirnya ia berbicara, suaranya pelan dan datar, nyaris seperti bisikan.
"Lebih baik kita cerai."
Ruangan itu seolah menahan napas.
Danti mengangkat wajah.
Dan, perlahan, senyum tipis terbit di bibirnya.
Bukan senyum bahagia, bukan pula senyum sinis. Senyum seseorang yang sudah menunggu sesuatu begitu lama hingga ketika akhirnya tiba, rasanya nyaris anti-klimaks. Ia sudah tahu kalimat itu akan datang. Sejak pesan yang ia baca di ponsel malam itu, sejak struk restoran, sejak jepit rambut di jok mobil, ia sudah menunggu.
Hanya saja ia tak menyangka akan secepat ini.
"Oh," katanya lembut. "Jadi itu."
Rizal sedikit tersentak oleh ketenangannya. Ia mengira akan ada tangis, permohonan, atau amarah. Reaksi yang bisa ia lawan, yang bisa ia remehkan. Tapi senyum itu membuatnya merasa kehilangan pijakan.
Namun harga dirinya tak mau mundur.
"Iya," katanya tegas, menegakkan bahu. "Aku sudah pikirkan baik-baik. Dan aku punya alasan."
"Silakan."
Rizal menarik napas, lalu mulai berbicara. Kalimatnya mengalir lancar, seolah sudah lama dilatih.
"Pertama, kamu nggak bisa kasih aku anak. Dua tahun program, nggak ada hasil. Kedua, kamu sudah nggak menghormati Ibu. Kamu bikin ibuku malu di depan keluarga. Ketiga, kamu boros dan selalu minta uang. Keempat, kamu nggak mau ngurus rumah seperti dulu. Kamu masak seadanya, kamu pergi-pergi seenaknya, kamu cuma duduk nonton film seharian. Kelima, kamu keras kepala, kamu suka membantah, kamu nggak mau nurut. Keenam..."
Ia menghitung dengan jari, satu per satu, seperti guru yang membacakan dosa muridnya.
"...kamu sudah nggak pernah mau ngelayani aku sebagai suami. Kamu dingin. Kamu cuek. Kamu bikin rumah ini nggak nyaman. Dan terakhir..." Ia menelan ludah. "...kamu sudah nggak seperti Danti yang dulu aku nikahi."
Daftar itu selesai.
Ruangan kembali sunyi.
Danti mendengarkan dari awal sampai akhir tanpa memotong, tanpa menyela, tanpa mengubah ekspresi wajah. Ia menyimak setiap poin seperti seseorang yang menerima laporan, dan di dalam kepalanya, ia mencocokkannya satu per satu dengan buku catatan yang tersembunyi di balik panci besar.
Setelah Rizal selesai, ia mengangguk kecil.
"Sudah, Mas? Itu semua?"
"Iya. Itu semua."
"Aku boleh tanya satu hal?"
"Apa?"
Danti merapikan duduknya, kedua tangan terlipat tenang di pangkuan. Tatapannya lurus, tak lagi lembut, tak lagi marah.
"Selama ini..." ia berkata pelan, memberi jeda di antara tiap kata, "pernahkah Mas bertanya kepadaku, kenapa aku berubah? Siapa yang membuatku seperti ini? Atau apa yang membuat aku jadi sedingin ini?"
Rizal membuka mulut.
Dan menutupnya.
Pertanyaan itu menghantamnya dengan cara yang tak ia duga. Bukan keras, tapi tepat, seperti jarum yang menusuk di satu titik yang selama ini ia hindari menyentuhnya.
Dan reaksi pertamanya bukan merenung. Reaksi pertamanya adalah menolak.
"Aku nggak perlu tanya," ujarnya cepat, nadanya defensif. "Karena aku nggak merasa pernah melakukan kesalahan apa pun."
"Oh ya?"
"Iya! Aku nggak pernah selingkuh..."
Kalimat itu tersangkut di ujung lidahnya hanya sepersekian detik. Entah karena sesuatu bergejolak di dadanya atau karena wajah Vanya sempat melintas. Tapi ia cepat melanjutkan.
"...aku nggak pernah memukul kamu. Aku nggak pernah main tangan. Aku kerja tiap hari, aku kasih kamu makan, aku tanggung semua kebutuhan rumah ini. Aku sudah bertanggung jawab, Dan. Lebih dari kebanyakan suami di luar sana! Jadi jangan coba-coba bikin aku merasa salah!"
Danti menatapnya lama.
Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, bukan marah, bukan sedih. Lebih seperti pengakuan pahit atas sebuah kenyataan yang akhirnya ia lihat dengan jelas.
Bagi lelaki ini, ukuran menjadi suami yang baik hanyalah tidak memukul dan membayar tagihan. Seolah menghormati, mendengarkan, membela, dan melindungi bukan bagian dari tanggung jawabnya.
Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu mengangguk.
"Aku mengerti, Mas," katanya lirih.
Dan itulah kalimat paling mengerikan yang bisa ia ucapkan, karena di dalamnya tak ada lagi ruang untuk diskusi.
Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍