Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Bulan berganti dimana Aira yang sudah pindah ke rumah dinasnya setelah ia memperkenalkan menu barunya ikan kerapu asam manis.
Jam menunjukkan pukul enam pagi dimana Aira terbangun dari tidurnya dengan kondisi tubuh yang terasa sangat pegal dan linu.
Sudah beberapa hari ia merasakan gejala ini, namun selalu menganggapnya sekadar kelelahan akibat lonjakan pesanan di dapur yang tak pernah surut semenjak menu barunya mendunia.
Saat berusaha bersiap-siap di kamar mandi, perutnya mendadak mual hebat hingga ia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Sensasi mual yang memburu itu membuat dadanya sesak dan kepalanya berputar hebat.
Dengan tubuh lemas dan rasa tidak nyaman yang masih menyangkut di tenggorokannya, Aira melangkah lunglai mendekati meja samping tempat tidur.
Ia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan izin tidak masuk kerja kepada Arum.
Jemarinya mulai mengetik beberapa pesan permohonan maaf.
Namun, saat hendak menekan tombol kirim, Aira mendadak teringat sesuatu.
Hari ini adalah hari kedatangan pemilik hotel, Lucas, yang terbang langsung dari Singapura untuk meninjau operasional hotel secara keseluruhan.
Aira menatap layar ponselnya sejenak, lalu menarik napas panjang.
Ia mengurungkan niatnya untuk izin. Baginya, rasa tanggung jawab dan profesionalisme jauh lebih utama di atas rasa tidak nyaman pada tubuhnya sendiri.
Demi profesionalisme, Aira memaksa dirinya bergegas mandi dengan air hangat.
Ia menatap wajahnya di depan cermin yang tampak sedikit layu, lalu memoleskan sedikit bedak dan gincu tipis agar tidak terlihat terlalu pucat di hadapan tim dan pimpinannya nanti.
Sebagai sentuhan terakhir, Aira mengoleskan minyak kayu putih ke leher serta dadanya untuk meredakan mual sebelum melangkah mantap berangkat ke Hotel Bintang Purnama.
Sesampainya di hotel, Arum langsung menghampiri Aira dengan raut wajah berbinar.
"Aira, Pak Lucas sudah landed di Soekarno-Hatta dan sedang dalam perjalanan menuju hotel dari bandara," ujar Arum berbisik antusias.
"Beliau minta disiapkan makanan khusus di ruang kerja pribadinya. Tolong kamu buatkan Ikan Kerapu Asam Manis Karamelisasi Nanas andalanmu ya."
"Baik, Bu Arum. Segera saya siapkan."
Aira melangkah masuk ke dapur utama dan mulai mengambil alih meja utamanya.
Jemarinya lincah meracik bahan, ia mulai dari memotong fillet kerapu segar, mengekstrak belimbing wuluh, hingga memanaskan reduksi nanas madu di atas wajan.
Namun, hawa panas dari kompor yang menyengat mendadak membuat rasa mual Aira makin memuncak.
Keringat dingin mulai membasahi dahi dan lehernya, sementara wajahnya berangsur kian pucat.
Koki Rizal yang memperhatikan gerak-gerik Aira sejak tadi merasa ada yang tidak beres.
Langkah Aira saat mengaduk saus tampak tidak setegas biasanya, sesekali wanita itu memegangi pinggiran meja untuk menopang tubuhnya.
Rizal mendekat dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Chef Aira. Anda tidak apa-apa? Wajah Anda pucat sekali dan keringat dinginnya keluar banyak begitu. Kalau Chef merasa tidak sehat, biar saya yang lanjutkan masakan ini."
Aira menyapu keringat tipis di dahinya dengan lengan seragam, lalu mengulas senyum tipis berusaha menenangkan asistennya.
"Saya tidak apa-apa, Rizal," tepis Aira halus.
"Mungkin cuma masuk angin biasa karena kemarin malam terlalu lelah. Tanggung, sebentar lagi sausnya selesai. Pak Lucas harus dapat sajian terbaik hari ini."
Meski rasa pusing dan Mual terus menghantam kepalanya, Aira tetap menyiramkan saus karamelisasi nanas yang berkilau di atas kerapu renyah dengan penuh ketelitian.
Ia menata piring saji dengan sempurna, menyembunyikan rasa sakitnya demi profesionalisme yang selalu ia pegang teguh.
Setelah hidangan siap, Aira didampingi Rizal membawa nampan masakan menuju ruangan Lucas.
Tok! Tok! Tok!
Arum membukakan pintu dan mempersilakan Aira serta Rizal masuk.
Di dalam ruangan, baru ada Arum dan Randy yang duduk.
Arum memberi tahu bahwa Lucas sedang berada di kamar mandi dalam untuk membersihkan diri setelah perjalanan jauh dari Singapura.
Aira meletakkan piring saji berisi Ikan Kerapu Asam Manis Karamelisasi Nanas yang harum membumbung di atas meja utama.
Namun, rasa pusing yang makin hebat dan gelombang keringat dingin yang membasahi pelipisnya membuat tubuh Aira bergetar hebat saat berdiri menanti.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Lucas melangkah keluar seraya merapikan kemeja kasual mewahnya.
Tatapan Lucas yang tajam langsung tertuju pada sosok Head Chef yang berdiri menunduk di hadapannya.
Pria itu mematung seketika dimana matanya melebar lebar saat mengenali raut wajah wanita di hadapannya.
Dialah wanita yang malam itu ia bawa ke hotel saat dirinya berada di bawah pengaruh obat perangsang, wanita yang selama berminggu-minggu dicari oleh Randy tanpa membuahkan hasil.
Aira yang mendongak dan menatap wajah Lucas turut terkejut luar biasa.
Tatapan mata mereka mengunci satu sama lain. Memori malam kelam dan membara itu berputar begitu cepat di dalam kepalanya—teringat jelas kehangatan pelukan dan bisikan tegas pria itu di telinganya 'Jangan takut, aku mandul.'
Syok yang mendalam dipadu dengan kondisi fisiknya yang amat lemas membuat pandangan Aira mendadak gelap.
Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat. Tubuhnya ambruk pingsan tepat di hadapan Lucas.
"CHEF!" jerit Rizal dan Arum panik seraya melangkah maju.
Namun, sebelum tubuh Aira menyentuh lantai marmer yang dingin, Lucas refleks melangkah cepat menahan dan merengkuh tubuh molek itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Dengan tatapan bergetar dan dada yang naik-turun menahan kepanikan, Lucas menoleh tajam pada asisten pribadinya.
"Randy, dia wanita yang selama ini aku cari! Cepat panggil dokter pribadiku sekarang!" perintah Lucas dengan suara tegas dan tak terbantahkan.
Lucas membopong tubuh Aira yang terasa begitu dingin dan membawanya ke sofa empuk di sudut ruangan.
Arum dengan sigap mengambil minyak kayu putih dari tasnya, mengusapkannya perlahan ke leher dan pelipis Aira dengan raut cemas yang tak tertutup.
Tak berselang lama, pintu ruangan terdorong cepat.
Dokter pribadi Lucas—seorang pria paruh baya berwajah tenang yang dikirim Randy—masuk membawa tas medisnya.
Tanpa membuang waktu, sang dokter langsung memeriksa denyut nadi, pupil mata, serta tekanan darah Aira yang terbaring tak berdaya.
Lucas berdiri mematung di samping sofa, menatap raut wajah pucat Aira dengan perasaan yang bergemuruh hebat.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa ada penyakit parah? Atau, apa?" tanya Lucas tak sabar, suaranya yang biasa dingin kini terdengar sarat cemas.
Dokter itu melepas stetoskopnya, lalu menatap Lucas dengan raut wajah serius namun tenang.
"Mari kita bicara di sana, Tuan Lucas."
Lucas menganggukkan kepalanya pelan. Ia menoleh ke arah Arum.
"Arum, jaga dia sebentar."
"Iya, Pak," jawab Arum sigap seraya terus mengoleskan aroma terapi ke hidung Aira.
Lucas melangkah ke sudut ruangan yang agak jauh bersama sang dokter.
"Ada apa, Dok? Katakan langsung."
"Tuan Lucas, dari hasil pemeriksaan awal, kondisi fisiknya melemah karena kelelahan ekstrem dan hipotensi. Namun penyebab utama mual, pusing, hingga pingsannya adalah tanda-tanda morning sickness. Nona Aira sedang mengandung, Tuan." jelas dokter
"Hamil?!"
Mata Lucas melebar seketika. Dalam sekejap, pikirannya memutar waktu—menghitung tepat hari di mana ia membawa Aira ke hotel malam itu. Tanggalnya sangat pas.
"Jadi, dia hamil anakku?" bisik Lucas bergetar.
Namun, sedetik kemudian keraguan besar menghantam dadanya.
Pria itu menatap dokternya dengan pandangan menuntut.
"Tapi bukankah beberapa tahun lalu kamu sendiri yang menyatakan kalau aku mandul?! Bagaimana mungkin dia bisa hamil anakku?!"
Dokter itu menghela napas berat, tampak mengerti keterkejutan klien utamanya.
"Sepertinya ada yang salah dengan hasil analisis laboratorium atau sampel darah Anda di masa lalu, Tuan. Dunia medis selalu memiliki kemungkinan margin kesalahan teknis. Saya menyarankan kita melakukan tes ulang sperma dan pemeriksaan hormon Anda secara menyeluruh untuk memastikan kondisi kesuburan Anda yang sebenarnya."
"Cek ulang sekarang juga dan beri aku jawaban secepatnya!" perintah Lucas tegas, tak ingin ada satu pun celah kebohongan atau keraguan dalam hidupnya.
"Baik, Tuan Lucas. Saya akan segera menyiapkan sampel dan tim laboratorium," jawab dokter itu menganggukkan kepalanya seraya pamit mundur.
Lucas berdiri membeku di tempatnya beberapa saat, menatap jemarinya yang gemetar.
Pria yang selama ini menganggap dirinya tidak akan pernah memiliki keturunan, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa wanita yang ia cari selama ini tengah mengandung buah hatinya.
Lucas melangkah kembali mendekati Aira yang masih pingsan di atas sofa.
Matanya menatap lembut perut ratu koki itu yang masih rata.
"Randy," panggil Lucas seraya menoleh pada asisten pribadinya yang berdiri di dekat pintu.
"Bukakan suite room terbaik. Aku akan membawanya ke sana." ucap Lucas
Randy menganggukkan kepalanya dan segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Lucas.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu