NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Pertengkaran Pagi Hari

Pagi itu, cahaya matahari merembes masuk melalui celah gorden jendela besar penthouse mereka, menimpa lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat.

Nala mengerjap pelan, masih setengah sadar. Matanya otomatis melirik ke samping. Junho masih tertidur pulas di sisinya. Dada telanjang pria itu naik turun teratur, wajahnya rileks, dengan garis-garis lelah yang hanya terlihat ketika ia benar-benar kehabisan tenaga dan membiarkan dirinya lengah. Pemandangan yang jarang, dan biasanya selalu membuat Nala diam sejenak lebih lama.

Hari ini... bukan hari untuk diam.

Nala bangkit perlahan agar tidak membangunkan Junho. Ia mengikat rambutnya asal, menyampirkannya ke belakang, lalu melangkah menuju kamar mandi. Air mengalir membasahi kulitnya, dingin, menyadarkan pikirannya yang masih setengah mengawang.

Presentasi Jun-seok.

Nala terus mengulang dua kata itu dalam benaknya, seperti sebuah janji yang menjadi pengingat atas perannya sebagai seorang ibu. Beberapa menit kemudian, Nala keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya dari meja samping ranjang.

Ia langsung berhenti matanya membulat saat melihat belasan panggilan tak terjawab dan pesan yang menumpuk dari ORIONA, muncul berulang kali di layar. Dada Nala seketika mengencang. Tanpa menunggu lebih lama, ia menekan tombol panggil ulang.

“Yeoboseo?” ucapnya begitu sambungan terhubung.

“Nala-ssi. Maaf mengganggu sepagi ini, tapi ini darurat.”

Suara di seberang terdengar tegang—terlalu tegang untuk ukuran pagi hari.

“Ada apa?” tanya Nala, nadanya langsung berubah profesional.

“File Revisi 3 ASTRAE... hilang. Padahal, kemarin masih ada saat rapat terakhir sore itu,” ucapnya. Langkah Nala seketika terhenti. Satu tangannya yang sedang meraih gagang lemari menggantung begitu saja.

“...Hilang?” ulangnya pelan.

“Kami sudah mengecek server utama, cloud internal, dan backup otomatis. File itu seharusnya tersinkronisasi semalam, tetapi sekarang tidak ada di sistem. Seperti... terhapus sebelum final save,” jelasnya, dan penjelasan itu terdengar tidak masuk akal.

Sistem ORIONA bukan sistem sembarangan. Redundansinya berlapis. Hampir mustahil terjadi kesalahan pada seluruh jalur sekaligus.

“Kapan terakhir diakses?” tanya Nala cepat.

“Sekitar pukul dua dini hari. Tapi tidak ada log penghapusan,” jawabnya.

Nala memejamkan mata sejenak. Pukul dua dini hari. Tidak ada log penghapusan. Semakin ia memikirkannya, semakin tidak masuk akal.

“Baik, aku ke kantor. Jangan sentuh apa pun dulu,” katanya akhirnya, suaranya datar, tetapi dingin.

Panggilan terputus.

Sunyi kembali mengisi kamar—sunyi yang kali ini terasa lebih berat. Nala berdiri diam selama beberapa detik, lalu menoleh ke arah ranjang. Di sana, Junho sudah terbangun. Pria itu duduk setengah bersandar, rambutnya sedikit berantakan dan matanya masih setengah terpejam. Namun, begitu pandangannya menangkap wajah Nala, sorot matanya perlahan berubah. Rasa kantuk yang tersisa seolah menghilang, digantikan perhatian.

“Telepon dari siapa?” tanyanya pelan.

Nala menunduk sejenak sebelum menjawab.

“Kantor,” jawabnya.

“Kantor?” ulang Junho. Suaranya rendah. Ia memang belum sepenuhnya sadar, tetapi sudah bisa membaca perubahan pada wajah istrinya.

Nala menelan ludah.

“Ada masalah sistem. File ASTRAE hilang. Kemarin aku sudah menyelesaikan draf terakhirnya karena hari ini aku akan libur, tetapi barusan orang kantor mengabari kalau file-nya hilang,” ucap Nala.

Junho mengusap wajahnya, kemudian menyingkirkan selimut dan berdiri.

“Hari ini?” tanyanya pelan.

Nala menunduk, lalu mengangguk.

“Iya.”

“Hari ini juga presentasi Jun-seok,” ucap Junho. Nadanya masih tertahan, tetapi ada sesuatu yang mulai mengeras di balik suaranya.

“Aku tahu,” jawab Nala cepat. “Aku cuma ke kantor sebentar. Aku usahakan—”

“Kamu sudah janji, kan?” potong Junho.

Kata-kata itu jatuh berat dan membuat Nala terdiam. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Namun, ia juga tidak bisa hanya diam dan membiarkan masalah itu begitu saja. Ada pekerjaan penting yang sama sekali tidak bisa ia tunda.

“Kemarin kamu bilang ke Jun-seok,” lanjut Junho, kini benar-benar terjaga. “Kamu bilang kamu akan datang. Kamu bilang kamu tidak akan membatalkan.”

Nala menggeleng cepat.

“Aku tidak membatalkan. Aku hanya akan ke kantor sebentar karena ini darurat,” balas Nala. Suaranya naik setingkat, meski ia masih berusaha menahannya.

“Bagimu,” sahut Junho tajam. “Tapi bagi Jun-seok, ini hari penting. Kau lupa? Kamu sudah janji padanya.”

Nala mengangkat kepala tatapannya mulai berubah.

“Kamu pikir aku tidak tahu itu? Aku juga ingat, oppa, tap—”

“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan berpikir ‘sebentar’.” Junho memotongnya lagi. Kali ini suaranya benar-benar mengeras. “Nala, aku tahu pekerjaanmu penting, tapi kau tidak boleh lupa tugasmu sebagai orang tua, sebagai ibu!”

Mereka saling menatap jarak mereka dekat bahkan terlalu dekat untuk percakapan yang mulai kehilangan kendali. Jun-seok masih tertidur di kamar atas. Dan hanya karena itu, suara mereka masih tertahan agar tidak sampai terdengar ke lantai atas.

“Aku tidak bisa membiarkan satu tim jatuh hanya karena—”

“Karena apa?” potong Junho. “Karena kamu seorang ibu? Karena kau lebih peduli pada orang asing daripada anak kita?”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang Junho sadari, Nala menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun perlahan, berusaha menahan sesuatu yang mulai mendesak keluar bersama emosinya.

“Jangan jadikan ini seperti itu, Oppa,” katanya lirih.

“Lalu jadikan seperti apa?” Junho mendekat satu langkah. “Seperti biasa? Kamu memilih datang setelah semuanya selesai dan bilang kamu sudah berusaha?” tanyanya.

Rahang Nala mengeras.

“Aku hanya sebentar, oppa. Aku tidak bisa memilih ini,” ucapnya.

Junho menggeleng pelan.

“Tapi kamu akan tetap pergi,” balasnya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Nala akhirnya berbalik dan berjalan menuju walk-in closet untuk mengambil pakaian. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia berhenti dan berkata lirih, tetapi tegas,

“Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin. Aku tetap akan datang. Aku janji.” Nala menoleh kepada Junho. Pria itu justru tertawa pendek, tanpa sedikit pun nada humor.

“Kamu selalu bilang begitu.” Ia berbalik, kemudian mengenakan kaus pendeknya dengan gerakan kaku. “Nala, aku bisa menghadapi kekecewaanku sendiri. Tapi jangan buat anak itu belajar bahwa janji bisa dinegosiasikan,” katanya lagi tanpa menoleh.

Junho melangkah keluar kamar, meninggalkan Nala berdiri sendirian—ponsel masih berada di tangannya, pekerjaan di satu sisi, dan janji seorang ibu di sisi lain.

Pagi yang seharusnya hangat berubah dingin sebelum benar-benar dimulai. Namun, Nala tahu satu hal dengan pasti. Ia tidak bisa mengorbankan banyak orang hanya karena urusan pribadinya. Ia tidak ingin dicap egois, bukan oleh rekan kerjanya, bukan oleh sistem yang ia bangun sendiri, dan bukan pula oleh dirinya sendiri.

Ini penting dan untuk sekarang ia hanya membutuhkan waktu.

Nala bersiap dengan gerakan terukur. Blus putih, setelan kerja berwarna gelap, rambut diikat rapi. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang pikirannya masih dipenuhi percakapan beberapa menit lalu. Ia menatap bayangannya di cermin sebentar. Bukan untuk memastikan penampilannya, melainkan untuk meneguhkan keputusan yang sudah dibuatnya.

Sebentar saja, pikirnya.

Setelah itu aku langsung ke sekolah.

Saat Nala melangkah keluar dari kamar, suasana ruang tamu seketika terasa berbeda. Junho duduk di sofa dengan tubuh sedikit condong ke depan, kedua sikunya bertumpu pada lutut. Pakaiannya belum sepenuhnya rapi, tetapi sorot matanya sudah tajam. Dingin. Sama sekali tidak bersahabat, tatapan itu langsung tertuju kepada Nala begitu perempuan itu muncul.

“Kamu jadi pergi,” ucap Junho.

Bukan pertanyaan, melainkan penegasan yang menyimpan keberatan. Nala berhenti sejenak, lalu mengangguk.

“Iya.”

Nala menunduk sebentar, kemudian kembali menatap Junho yang sudah berdiri. Gerakannya cepat dan tegas, seolah setiap detik tambahan hanya akan membuat kemarahan yang sejak tadi ditahan semakin sulit dikendalikan.

“Tidak perlu jelaskan. Aku sudah tahu semua alasanmu,” katanya segera, memotong bahkan sebelum Nala sempat membuka mulut.

“Nah, justru itu...”

“Aku bilang tidak perlu,” potong Junho lagi. Kali ini suaranya lebih keras, meski masih berusaha mempertahankan kendali. Namun, kendali itu terasa rapuh.

“Setiap kali kamu bicara, selalu ada ‘tanggung jawab’, selalu ada ‘banyak orang’, selalu ada sesuatu yang lebih besar dari rumah ini. Kau tidak peduli padaku, pada anak kita. Yang kau pikirkan hanya ambisimu sendiri. Kamu tidak ingin mengecewakan semua orang, tetapi mengecewakan dua orang yang seharusnya kamu prioritaskan.”

Ia berhenti sejenak. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya nama itu keluar dengan tekanan yang membuat udara di antara mereka terasa semakin berat.

“Kim Nala!”

Nala menahan napas. Kalimat terakhir itu terasa seperti tamparan yang menghantam tepat ke dalam dirinya. Namun, ia tetap berusaha bicara, berharap masih ada sedikit ruang bagi Junho untuk mendengarkannya.

“Oppa, ini bukan soal—”

“Bukan soal apa?” Junho tertawa pendek, pahit. “Bukan soal kamu memilih pekerjaan lagi?”

Ia melangkah mendekat satu langkah.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan karena kamu pergi. Tapi karena kamu selalu yakin keputusanmu paling masuk akal. Seolah-olah perasaan orang lain bisa menunggu.”

Nala menatapnya. Matanya mulai memerah, tetapi suaranya tetap stabil.

“Aku tidak menganggap perasaan siapa pun remeh. Tidak pernah.”

Junho kembali maju, memangkas jarak di antara mereka.

“Lalu kenapa kamu tetap melangkah? Kenapa kamu tetap berdiri di sini dengan tas kerja di tanganmu?” balasnya cepat, nyaris tidak memberinya celah untuk bernapas.

Karena jika ia berhenti sekarang, sistem akan runtuh.

Karena jika ia tidak datang, satu tim akan disalahkan.

Karena dunia tidak berhenti hanya karena seorang ibu harus memilih.

Begitulah jawaban yang menunggu untuk dikeluarkan dari kepalanya. Namun, Nala tahu apa pun yang ia katakan, tidak akan didengar.

“Aku akan kembali secepat mungkin. Aku janji tidak akan terlambat,” katanya akhirnya.

Junho menggeleng pelan, jelas tidak percaya pada ucapan Nala.

“Janji lagi.” Junho berbalik, lalu menaiki tangga menuju lantai atas, ke kamar Jun-seok. “Aku yang akan mengantar Jun-seok. Aku yang akan duduk di sana. Kamu... lakukan saja apa yang menurutmu benar. Selamatkan semua orang yang menurutmu lebih penting daripada aku dan anakku!”

Kalimat terakhir itu ia ucapkan tanpa menoleh sedikit pun.

Nala terdiam karena tanpa sadar kata 'anakku' yang meluncur dari mulut pria yang sudah belasan tahun menjadi suaminya itu terasa mengganjal di dadanya. Bukan karena ia tidak tahu Jun-seok adalah anak Junho, tetapi karena untuk sesaat, kalimat itu terdengar seolah-olah hanya Junho yang memiliki hak atas anak mereka.

Ia ingin mengatakan bahwa kebenaran tidak selalu hitam-putih, bahwa ia juga terluka. Bahwa ia juga ingin berada di sana. Namun, pagi ini tidak ada ruang untuk saling memahami dan Nala tetap melangkah menuju pintu, tetapi berhenti sejenak di ambangnya.

“Oppa,” panggilnya pelan namun Junho tidak menoleh dia tetap berjalan cepat menaiki tangga.

Nala menunduk sedikit, kemudian melangkah keluar pintu tertutup perlahan di belakangnya. Dan di ruang tamu yang kembali sunyi, dua orang dewasa yang saling mencintai berdiri di sisi keputusan masing-masing yang sama-sama yakin, sama-sama terluka, dan sama-sama tidak sedang menang.

⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹

Junho berhenti di anak tangga terakhir pandangannya tertuju pada pintu utama yang baru saja tertutup, tempat Nala menghilang beberapa saat lalu. Ia menghela napas panjang. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya tampak menonjol.

Beberapa saat ia hanya berdiri di sana, membiarkan kemarahan yang tersisa perlahan bercampur dengan sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Penyesalan.

Namun, ia segera mengembuskan napas dan melanjutkan langkah menuju kamar putranya, di dalam kamar, Jun-seok baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah, beberapa helai menempel di dahinya. Begitu melihat Junho berdiri di ambang pintu, bocah itu langsung tersenyum lebar.

“Daddy, kita akan pergi sebentar lagi, kan?” tanyanya antusias.

Junho terdiam cukup lama. Senyum putranya begitu polos hingga ia merasa tidak sanggup menjadi orang yang menghancurkannya sepagi ini.

“Iya. Setelah sarapan,” jawab Junho pelan.

“Yeay...” Jun-seok berseru kecil. Kemudian, seolah baru mengingat sesuatu, ia menoleh kepada ayahnya. “Oh, ya, Daddy. Mommy di mana? Seok ingin menunjukkan lukisan yang akan Seok presentasikan nanti.”

Senyumnya masih merekah ketika menanyakan itu, namun justru itu yang membuat Junho menghela napas panjang. Ia terdiam sejenak, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun, ia tidak ingin membohongi anak itu lagi.

“Mommy ke kantor. Katanya ada urusan sebentar. Dia akan menyusul nanti,” kata Junho.

Senyum Jun-seok seketika meredup tangan kecilnya yang tadi hendak meraih map berisi lukisan yang begitu antusias ingin ia tunjukkan menggantung di udara.

“Oh.”

Hanya satu kata. Setelah itu, Jun-seok kembali tersenyum tipis. Bukan senyum lebar seperti sebelumnya, melainkan senyum kecil yang muncul seolah-olah ia sudah tahu bagaimana caranya menyembunyikan kekecewaan agar tidak terlihat terlalu jelas.

“Seok akan pakai baju,” katanya sembari berjalan menuju lemari tanpa menoleh lagi kepada Junho.

Junho tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya mengikuti punggung kecil putranya yang kini sibuk memilih pakaian. Tidak ada protes. Tidak ada rengekan. Tidak ada pertanyaan lain tentang mengapa Mommy harus pergi.

Justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin berat. Junho menghela napas panjang. Ada penyesalan yang datang terlambat, menyusup di sela-sela amarah yang belum sepenuhnya padam.

Mungkin seharusnya sejak awal ia tidak pernah mengizinkan Nala kembali bekerja. Namun, bodohnya, ia terlalu percaya bahwa seseorang bisa memiliki segalanya sekaligus; keluarga, pekerjaan, tanggung jawab, dan waktu lalu tetap mampu bersikap adil kepada semuanya.

Pagi itu, untuk pertama kalinya, Junho mulai menyadari bahwa mungkin ia telah meminta terlalu banyak dari seorang perempuan yang sejak awal memang tidak pernah berhenti berusaha.

1
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!