DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Janji Palsu Darel
Malam makin larut, namun Aira masih duduk terdiam di sudut tempat tidurnya. Suara ketukan pintu dan nada bicara Vino yang lembut sore tadi terus berputar di kepalanya. Seharusnya, perubahan sikap Vino membuat dadanya merasa lebih tenang. Namun, racun kata-kata Darel yang tertanam rapat di benaknya justru memicu rasa cemas yang tak bertepi.
Kenapa Vino tiba-tiba bersikap baik? Apa ini cuma pura-pura biar aku gak bikin malu keluarganya lagi? bisik batin Aira pilu.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan halus pada pintu kamarnya membuyarkan lamunan Aira. Suara itu berbeda dengan gedoran Vino; ketukan ini teratur dan menenangkan.
Aira melangkah pelan, lalu membuka pintu sedikit. Di balik pintu, Darel berdiri mengenakan kemeja santai dengan senyuman hangat yang biasa menyapa Aira.
"Belum tidur, Aira?" tanya Darel lembut.
"Belum, Kak Darel," sahut Aira pelan seraya membuka pintu lebih lebar.
Darel melangkah masuk dengan sopan, memosisikan diri berdiri di dekat meja belajar tanpa terkesan mengintimidasi. Pandangan matanya menatap Aira dengan rasa prihatin yang begitu pas—sebuah akting yang sempurna.
"Saya dengar sore tadi Vino menyudutkan kamu lagi di dapur?" tanya Darel dengan nada suara sarat emosi dan kepedulian.
Aira menunduk, jemarinya meremas pinggiran pakaiannya. "Vino cuma... cuma mau bicara, Kak. Tapi aku takut..."
Darel menghela napas panjang, menunjukkan raut wajah yang seolah-olah ikut merasakan penderitaan Aira. Ia melangkah mendekat, menjaga jarak yang terukur namun terasa sangat dekat secara emosional.
"Kamu pantas untuk takut, Aira," bisik Darel pelan, menekankan kata-katanya. "Vino itu tidak terprediksi. Kemarin dia membentak Caren, lalu hari ini dia berpura-pura baik sama kamu. Apa kamu tidak sadar kalau itu semua cuma permainan ego dan rasa kasihan dia?"
Aira mendongak, menatap mata Darel dengan kepasrahan murni. "Aku harus gimana, Kak? Aku makin gak betah di sini..."
Darel menyunggingkan senyum tipis—senyuman dari seorang predator yang melihat mangsanya akhirnya masuk ke dalam perangkap.
"Saya tidak bisa terus-menerus melihat kamu menderita di rumah ini, Aira," kata Darel lembut seraya menyodorkan sebuah kunci bermagnet elegan dari dalam saku kemejanya. "Saya punya apartemen pribadi di daerah Selatan. Tempatnya tenang, aman, dan tidak ada satu orang pun yang tahu—termasuk Vino atau Bibi."
Aira terpaku menatap kunci apartemen di tangan Darel. "A—apartemen Kak Darel?"
"Iya," angguk Darel meyakinkan. "Kamu bisa tinggal di sana. Bebas dari cemoohan, bebas dari Vino, dan kamu bisa fokus belajar tanpa perlu merasa takut atau berutang budi pada siapa pun. Semua biaya hidup kamu... biar saya yang tanggung."
Tawaran itu terdengar seperti sebuah keajaiban bagi Aira yang selama ini terimpit oleh rasa bersalah dan tekanan di rumah keluarga Pradipta. Bayangan untuk bebas dari bentakan, bebas dari tatapan sinis, dan keluar dari bayang-bayang utang keluarganya membuat hati Aira berdesir hebat.
"Tapi... apa enggak menyusahkan Kak Darel?" tanya Aira ragu, walau matanya menyiratkan harapan yang besar.
Darel tersenyum manis, mengusap pelan puncak kepala Aira dengan kehangatan yang manipulatif. "Untuk kamu, tidak ada yang menyusahkan, Aira. Kamu itu berharga. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti jaminan utang di rumah ini."
Darel membiarkan kunci itu tergeletak di atas meja belajar Aira. "Pikirkan baik-baik. Kalau kamu sudah siap, minggu depan saya sendiri yang akan antar kamu keluar dari rumah ini secara diam-diam."
Setelah Darel berlalu dari kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat, Aira berjalan pelan menghampiri meja. Jemarinya yang gemetar menyentuh kunci apartemen dingin itu.
Rencana untuk kabur dan tinggal di apartemen Darel mulai tumbuh menguat di kepalanya. Aira merasa Darel adalah satu-satunya penyelamat hidupnya, tanpa pernah menyadari bahwa keluar dari rumah Pradipta demi ikut bersama Darel sama saja dengan menyerahkan dirinya ke dalam sangkar emas yang jauh lebih berbahaya.