Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Kelahiran Inti Mana Kegelapan Dingin.
Itulah sensasi pertama yang kurasakan saat kesadaranku perlahan merangkak kembali. Permukaan batu berdebu menempel di pipiku. Butuh beberapa detik bagiku untuk mengingat di mana aku berada dan kebodohan apa yang baru saja kulakukan.
Aku mengerang pelan, bersiap menyambut sisa rasa sakit yang seharusnya masih mengoyak tulang rusukku. Namun, anehnya... rasa sakit itu lenyap. Sepenuhnya.
Aku membuka mata dan segera duduk. Nafasku stabil. Jantungku berdetak dengan ritme yang kuat dan teratur. Saat aku meraba dada kiriku, aku tidak lagi merasakan ngilu dari tulang yang retak. Hembusan napasku terasa sangat ringan, seolah aku baru saja melepaskan rompi besi seberat puluhan kilogram yang selama ini membebani paru-paruku.
Namun, sebelum aku bisa merayakan kesembuhanku, bau busuk yang luar biasa menyengat langsung menusuk hidungku.
"Ugh, bau apa ini?" gumamku sambil menutup hidung.
Aku menunduk dan menyadari bahwa kemeja linen hitamku kini basah kuyup oleh keringat kental berwarna kehitaman yang keluar dari pori-pori kulitku. Baunya seperti lumpur selokan yang dicampur dengan daging busuk. Ini pasti proses Body Cleansing—pengeluaran racun dan kotoran sihir dari dalam tubuh, sebuah kiasan klasik di dunia novel fantasi.
Mengabaikan bau menyengat itu, aku segera menutup mata dan memusatkan pikiran ke pusat jantungku. Waktunya melihat hasil dari pertaruhan nyawaku.
Di dalam kesadaranku, aku mencari letak Mana Core milik Arthur yang sebelumnya berbentuk seperti kelereng abu-abu kusam yang menyedihkan.
Ketika aku menemukannya, napasku tercekat.
Kelereng abu-abu itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, di pusat jantungku, berputar sebuah pusaran energi yang pekat, gelap, dan tak berdasar. Warnanya hitam kelam, dengan sedikit kilatan ungu redup di tepiannya, berputar pelan bagai miniatur galaksi kematian. Ukurannya bukan lagi sebesar kelereng, melainkan sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Aku membuka mata dengan dahi berkerut.
Dalam novel 'Crown of Ash', saat Leon meminum Elixir of the Abyssal Lotus, Mana Core miliknya yang berwarna emas menjadi semakin murni, bersinar menyilaukan seperti matahari siang.
Tapi milikku... kenapa menjadi hitam pekat?
"Apakah karena sifat dasar sihirku berbeda dengan Leon?" pikirku sambil menganalisis. "Atau mungkin Elixir ini beresonansi dengan emosi negatif, dendam, dan garis keturunan Arthur, sehingga menciptakan anomali?"
Apapun alasannya, aku bisa merasakan energi magis yang sangat masif bersemayam di dalam pusaran hitam itu. Jika Leon memiliki sihir api suci yang meledak-ledak, maka energi di dalam tubuhku ini terasa tenang, dingin, namun... mematikan. Seperti jurang tak berdasar yang siap menelan cahaya apa pun.
Aku menyeringai puas. "Hitam juga tidak buruk. Cocok untuk seorang penjahat sepertiku."
Aku menoleh ke arah jam pasir kecil yang kubawa. Pasirnya sudah habis. Ini berarti fajar akan segera menyingsing, dan para pelayan akan segera memulai rutinitas pagi mereka. Aku harus segera kembali ke kamar sebelum seseorang memergoki Tuan Muda berlumuran lumpur bau di ruang bawah tanah.
Aku bangkit berdiri. Sangat mengejutkan betapa ringannya tubuh ini sekarang. Aku melangkah keluar dari ruang rahasia, memastikan rak anggur kembali tertutup rapat di belakangku, lalu mengendap-endap menaiki tangga.
Pendengaranku menjadi jauh lebih tajam berkat evolusi Mana Core. Aku bisa mendengar langkah kaki penjaga patroli dari jarak puluhan meter. Dengan mudah, aku menghindari dua penjaga yang setengah mengantuk di koridor sayap timur, lalu menyelinap masuk ke kamarku tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Tepat saat matahari mulai mengintip dari ufuk timur, aku melemparkan pakaian bauku ke perapian dan membakarnya menggunakan percikan api kecil dari batu pemantik. Setelah itu, aku bergegas masuk ke kamar mandi pribadiku yang terbuat dari pualam putih dan merendam diriku dalam air dingin.
Sambil menggosok sisa-sisa kotoran hitam dari kulitku, aku menatap pantulan diriku di cermin besar di seberang bak mandi.
Transformasinya benar-benar nyata. Kulit pucat Arthur yang sebelumnya terlihat sakit-sakitan kini tampak lebih sehat meski tetap porselen. Otot-otot di dada dan perutku yang dulunya lembek karena tidak pernah berlatih kini terlihat lebih kencang dan terbentuk sempurna. Mata biru es yang kumiliki tampak lebih tajam, seolah menyembunyikan badai salju di dalamnya.
Aku keluar dari bak mandi, mengeringkan diri, dan mengenakan jubah tidur sutra yang bersih.
Aku duduk kembali di meja kerjaku, menatap perkamen berisi rencana-rencana yang kutulis semalam. Jari telunjukku mengetuk-ngetuk meja berirama.
"Fisik dan sihir dasar sudah diatasi," gumamku pada diri sendiri. "Sekarang, masalah utamanya. Membatalkan kontrak pembunuh bayaran dengan Guild Obsidian."
Berdasarkan alur waktu di novel, Guild Obsidian akan mengirimkan pembunuh bayaran untuk menyerang Leon besok malam di area hutan akademi. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Jika Leon sampai terluka atau—sialnya—terbunuh (yang tidak mungkin terjadi karena plot armor miliknya), maka investigasi kekaisaran akan langsung mengarah kepadaku sebagai penyewa jasa mereka.
Aku harus pergi ke markas bawah tanah Guild Obsidian hari ini juga.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Tuan Muda Arthur?" Suara Elara, pelayan wanita kemarin, terdengar ragu-ragu dari luar. "Ini sudah pagi. Apakah Anda sudah bangun? Tabib keluarga sudah menunggu untuk memeriksa luka Anda, dan... kereta kuda menuju Akademi Sihir akan siap dalam satu jam."
Ah, benar juga. Akademi Sihir Solaria.
Tempat di mana Leon sang protagonis berada. Tempat di mana seluruh murid membenciku. Tempat di mana Arthur yang asli selalu mempermalukan dirinya sendiri.
Aku tersenyum miring, sebuah seringai yang mungkin akan membuat Arthur asli merinding melihatnya.
"Masuklah, Elara," balasku dengan nada datar dan tenang. "Siapkan seragam akademiku. Dan suruh tabib itu pulang, aku tidak membutuhkannya."
Sudah waktunya Tuan Muda 'Sampah' ini kembali ke sekolah dan memberikan sedikit kejutan untuk sang Protagonis.