"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 KEHENINGAN YANG MEMEKAKKAN TELINGA
Hari kedua masa hukuman sosial di Ruang Budaya terasa jauh lebih menyiksa daripada hari pertama.
Jika kemarin Wira masih memiliki cadangan energi dari sisa-sisa amarah dan rasa gengsinya, hari ini, energi itu telah terkuras habis oleh satu musuh yang tak kasat mata: KEHENINGAN.
Pukul tiga lewat empat puluh lima menit sore.
Sinar matahari mulai condong, menembus kaca patri kusam di atas jendela paviliun, melemparkan bayang-bayang warna-warni ke atas lantai kayu jati yang baru saja selesai disapu Wira.
Wira berdiri mematung di tengah ruangan, bertumpu pada gagang sapu seperti seorang serdadu yang kalah perang. Keringat membasahi tengkuknya, membuat kemeja seragamnya menempel lengket di punggung.
Namun, bukan rasa lelah fisik yang membuat Wira merasa seperti akan meledak saat ini. Melainkan kesunyian ruangan ini.
Di Bogor, hidup Wira selalu diiringi oleh kebisingan. Ia bangun tidur dengan suara denting piring dan teriakan para pegawai warung sate ayahnya yang bersahut-sahutan.
Ia menghabiskan jam istirahat sekolah di kantin yang riuh, penuh dengan tawa keras, makian kasar, dan dentuman musik dari speaker ponsel yang disetel maksimal.
Baginya, kebisingan adalah tanda bahwa ia hidup. Kebisingan adalah selimut yang menutupi pikirannya agar ia tidak perlu terlalu banyak berpikir.
Tapi di ruangan ini?
Tidak ada suara deru mesin kendaraan.
Tidak ada suara teriakan.
Bahkan suara desah napas pun seolah diserap oleh tebalnya buku-buku kuno dan besarnya instrumen gamelan di sekeliling mereka.
Satu-satunya suara yang ada hanyalah gesekan ujung pulpen Asmara di atas kertas absensi dan buku inventaris.
Gadis itu duduk di meja administrasinya, berjarak sekitar empat meter dari Wira. Sama seperti kemarin, Asmara mengenakan celemek cokelat pudarnya, rambutnya dicepol rapi, dan wajahnya datar.
Sejak Wira melangkahkan kaki masuk ke ruangan ini hampir satu jam yang lalu, Asmara hanya mengucapkan tiga kalimat: "Selamat sore, Mas. Sapu dan pel ada di tempat biasa. Silakan dikerjakan."
Setelah itu, Asmara menutup mulutnya rapat-rapat.
Ia mengunci Wira di luar dunianya, membangun benteng es yang tak tertembus.
Wira menggertakkan giginya. Keheningan ini benar-benar memekakkan telinganya.
Sunyi yang begitu pekat ini seolah berteriak menertawakan ketidakberdayaannya.
Wira tidak tahan diabaikan.
Ia lebih memilih Asmara memakinya, memarahinya, atau menceramahinya panjang lebar seperti guru BK, daripada mendiamkannya seperti ini.
Gue harus bikin dia ngomong, batin Wira, otaknya yang iseng mulai menyusun rencana.
Dengan sengaja, Wira melepaskan genggamannya dari gagang sapu kayu yang ia pegang.
Brakkk!!!
Gagang sapu itu jatuh menghantam lantai kayu jati dengan suara yang sangat nyaring, bergema di seluruh sudut paviliun.
Namun, Asmara sama sekali tidak terlonjak.
Gadis itu hanya menghentikan laju pulpennya selama dua detik, menghela napas pelan—sangat pelan hingga nyaris tak terlihat—lalu kembali menulis tanpa menoleh sedikit pun ke arah Wira.
Serangan pertama gagal. Wira mendengus kesal. Ia membungkuk, memungut sapu itu, lalu berjalan mendekati meja Asmara. Ia mulai menyapu area di sekitar kaki meja gadis itu dengan gerakan yang sedikit dilebih-lebihkan, sengaja membuat suara srek-srek yang berisik.
"Buku-buku tua berdebu begini emang masih ada yang baca, Ra?" Wira akhirnya melempar umpan, memecah kebisuan dengan suaranya yang serak dan sengaja dibuat terkesan meremehkan. "Kertasnya aja udah kuning semua, baunya apalagi. Kalau di Bogor mah, kertas ginian udah diloakin buat bungkus kacang."
Asmara tetap menunduk menatap catatannya. Tangan kirinya membalik halaman buku dengan hati-hati.
"Masih ada," jawab Asmara sangat singkat. Nadanya kaku, seolah ia sedang menjawab pertanyaan mesin otomatis. "Kalau tidak dibaca, setidaknya dirawat."
Wira tersenyum miring.
"Kena lo... Lo ngerespons." batinnya kemudian.
Wira menghentikan gerakan sapunya, menyandarkan siku di ujung meja administrasi Asmara, mencoba memangkas jarak agar intimidasi verbalnya lebih terasa.
"Gue perhatiin, dari kemarin lo irit ngomong banget," provokasi Wira lagi, kali ini menatap lurus ke arah wajah Asmara dari samping. "Kenapa? Kuota suara lo dibatasin sama aturan keraton? Atau lo lagi sariawan?"
Mendengar nada provokasi yang mulai kurang ajar itu, Asmara akhirnya meletakkan pulpennya. Gadis itu memutar tubuhnya untuk menghadapi Wira. Tatapan mata bulatnya begitu dingin, tak ada setitik pun kehangatan yang beberapa hari lalu sempat membuat Wira terpesona.
"Saya ditugaskan oleh sekolah untuk mengawasi Mas bekerja," ucap Asmara dengan artikulasi yang sangat tertata. "Tidak ada dalam daftar tugas saya kewajiban untuk melayani Mas mengobrol, apalagi menanggapi provokasi yang tidak ada gunanya."
"Wow! galak bener... Hehehe..." Wira terkekeh pelan, tawa yang sinis dan sengaja dibuat menyebalkan.
Ia merasa sedikit menang karena berhasil memaksa Asmara mengeluarkan lebih dari sepuluh kata.
"Gue kan cuma nanya, Ra. Masa di ruangan segede ini kita berdua diem-dieman kayak patung? Ini tempat hukuman atau kuburan sih?"
"Bagi seseorang yang tidak bisa menghargai ketenangan, tempat mana pun yang tidak berisik akan terasa seperti kuburan," balas Asmara telak. Ia kembali mengambil pulpennya, bersiap memutus percakapan.
"Tolong lanjutkan menyapunya, Mas Wira. Debu di dekat rak B belum bersih."
Wira meradang. Kembalinya sikap dingin Asmara membuat dadanya kembali bergejolak. Ia tidak mau percakapan ini berakhir begitu saja. Ia ingin mengupas habis ketenangan gadis ini.
"Lo umur enam belas atau enam puluh sih, Ra?" tembak Wira tiba-tiba, menaikkan volume suaranya.
Tangan Asmara yang baru saja menyentuh kertas kembali terhenti.
"Gue perhatiin gaya hidup lo, cara lo ngomong, cara lo mandang orang... semuanya kaku banget," cecar Wira, meluapkan semua isi kepalanya tanpa rem. Logika begajulannya mengambil alih.
"Lo anak SMA, Ra. Masa muda lo cuma sekali. Tapi lo hidup kayak beban budaya seluruh kota ini ada di pundak lo. Selalu senyum, selalu sopan, selalu mengalah. Lo nggak capek pakai topeng putri keraton terus-terusan? Lo nggak pernah pengen teriak, marah, atau ngelakuin hal bodoh kayak anak seumuran lo?"
Hening kembali turun menyergap.
Namun kali ini, keheningan itu terasa jauh lebih berat dan menekan.
Asmara menundukkan kepalanya sejenak. Rambut halusnya yang terlepas dari ikatan cepol bergerak perlahan tertiup angin sore.
Saat ia kembali mengangkat wajahnya, Wira bisa melihat ada kilat ketegasan yang menyala di balik sepasang mata teduh itu—sebuah api yang tenang, namun sanggup menghanguskan siapa saja yang berani meremehkannya.
Asmara berdiri perlahan dari kursinya. Ia menatap Wira lekat-lekat, tidak mundur, tidak berkedip.
Jarak mereka begitu dekat hingga Wira bisa mencium aroma melati yang khas dari tubuh gadis itu.
"Topeng?" ulang Asmara pelan, nyaris seperti bisikan, namun setiap suku katanya memantul kuat di gendang telinga Wira. Gadis itu tersenyum miris. "Mas Wira pikir kesopanan, unggah-ungguh, dan kemampuan menahan emosi adalah sebuah topeng?"
Wira menelan ludah, entah mengapa nyalinya mendadak susut di bawah tatapan itu.
"Ya... ya buktinya lo kaku banget. Manusia normal nggak mungkin sesabar lo."
"Justru karena saya manusialah, saya memilih untuk sabar, Mas Wira," potong Asmara tegas. Suaranya mengalun seperti ombak yang menyapu karang—lembut namun tak tertahankan.
"Bagi Mas, kebebasan adalah berteriak keras, berkelahi, dan merusak barang saat Mas marah. Bagi Mas, kalau seseorang tidak bereaksi kasar, berarti orang itu pengecut atau sedang memakai topeng."
Asmara mengambil satu langkah maju. Kini, Wira yang secara refleks menarik punggungnya sedikit ke belakang.
"Mas Wira salah besar," lanjut Asmara, matanya mengunci pandangan Wira.
"Ketenangan bukanlah tanda kelemahan. Ketenangan adalah puncak dari sebuah pengendalian diri. Saya dibesarkan dengan filosofi bahwa mulut dan tangan kita adalah titipan, tidak boleh digunakan untuk melukai orang lain atau mengotori udara dengan sumpah serapah yang tidak berguna. Kalau Mas menganggap itu kaku, maka Mas tidak mengerti apa artinya menjadi manusia yang beradab."
"Terus kenapa lo sekarang diemin gue?" balas Wira, suaranya terdengar sedikit putus asa, rasa gengsinya mulai berbenturan dengan rasa bersalah.
"Kalau lo emang beradab, kenapa lo memperlakukan gue kayak hama yang menjijikkan dari kemarin? Karena gue mukul Bima? Lo nggak tahu alasan di baliknya, Ra!"
"Lalu apa alasannya?!" Untuk pertama kalinya, suara Asmara naik satu oktaf, memotong argumen Wira. Mata gadis itu berkilat menuntut jawaban.
Wira terdiam.
Napasnya tercekat di tenggorokan.
Rahasia itu kembali memberontak ingin keluar.
"Karena Bima ngelecehin nama lo! Karena dia ngetawain noda teh di rok lo!" Wira ingin sekali meneriakkan kalimat itu tepat di depan wajah Asmara, agar gadis itu tahu bahwa Wira bukanlah monster.
Namun, bibir Wira terkunci rapat.
Ia tidak sanggup mengucapkan kata-kata kotor Bima di hadapan Asmara.
Ia menolak mencemari telinga gadis ini.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah rak buku, rahangnya mengeras karena frustrasi.
Melihat kebisuan Wira yang kembali menutup diri, raut ketegasan di wajah Asmara perlahan mengendur, digantikan oleh sorot kekecewaan yang sangat dalam.
Asmara menghela napas panjang, meredam kembali emosinya yang sempat terpancing. Ia kembali menjadi sang putri yang tenang dan tak tersentuh.
"Orang yang tidak tahan dengan keheningan, Mas Wira..." ucap Asmara dengan suara yang kembali halus, namun menusuk menembus dada Wira, "...biasanya adalah orang yang sebenarnya paling takut untuk mendengar suara hatinya sendiri."
Kalimat itu menampar Wira lebih keras dari pukulan fisik mana pun.
"Mas Wira terus mengajak saya berdebat, terus memancing amarah saya, bukan karena Mas ingin saya memecah keheningan ini. Tapi karena Mas butuh suara saya untuk menutupi rasa bersalah yang sedang berteriak di dalam kepala Mas sendiri."
Asmara memutar tubuhnya, kembali duduk di kursinya. Ia menarik bukunya kembali ke tengah meja.
"Selesaikan pekerjaan Mas. Lantai belum dipel," tutup Asmara mutlak, memotong percakapan itu hingga ke akarnya.
Wira berdiri mematung. Kata-kata Asmara menggemakan kebenaran absolut yang menelanjangi seluruh jiwa begajulannya.
Iya...
Gadis itu benar.
Kebisingan yang ia cari selama ini hanyalah pelarian.
Wira tidak tahan dengan diamnya Asmara, karena dalam diam itu, Wira dipaksa berkaca dan melihat betapa hancur, betapa egois, dan betapa kerdilnya dirinya.
Dengan tangan bergetar pelan menahan gejolak di dadanya, Wira mengambil kembali sapunya.
Ia berbalik, melangkah menjauhi meja Asmara.
Ruang Budaya kembali hening.
Suara srek-srek dari sapu ijuk kembali terdengar.
Namun kali ini, Wira tak lagi mencoba mencari gara-gara.
Diam yang memekakkan telinga itu kini bukan lagi musuh yang harus ia hancurkan, melainkan sebuah cermin besar yang memaksanya untuk berhadapan dengan dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Wira membiarkan keheningan itu menang.
Untuk pertama kalinya, Wira sadar...
Keheningan adalah...
KACA PEMBESAR AGAR DIRINYA BISA "MELIHAT" DIRINYA SENDIRI.