NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:44.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Matahari mulai tenggelam di balik deretan gedung-gedung tinggi ketika mobil keluarga Abyakta memasuki halaman rumah. Bagasi belakang dipenuhi kantong-kantong belanja hasil "healing" Sherly dan Dara sejak pagi. Mang Kodir sampai dua kali bolak-balik mengangkat barang-barang itu ke dalam rumah karena jumlahnya benar-benar tidak sedikit.

Dara ikut membawa beberapa kantong belanja sambil melangkah pelan. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Melihat begitu banyak tas belanja di tangannya, ia hanya bisa mengembuskan napas pelan.

"Ma," gumam Dara lirih sambil tersenyum kikuk. "Banyak sekali."

Sherly menoleh. "Kenapa?"

"Rasa pakaian sebanyak ini tidak akan habis aku pakai."

Sherly terkekeh geli. "Baru segitu sudah dibilang banyak?"

"Iya, Ma."

"Kalau nanti mulai kuliah, Mama yakin kita masih ada yang harus dibeli lagi."

Mata Dara langsung membulat. "Masih ada yang dibeli lagi?"

"Iya."

Sherly tersenyum sabar. "Yakin, deh, sama Mama."

Dara mengangguk pelan. Meski masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya, ia mulai memahami maksud ibu mertuanya. "Baik, Ma."

Baru saja mereka masuk ke ruang keluarga, terdengar suara langkah kaki dari arah ruang kerja. Gavin keluar sambil menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ponsel masih berada di tangan kirinya.

"Aa," sapa Dara pelan.

Gavin spontan mengangkat kepala. Tatapannya langsung tertuju kepada sang istri. Langkahnya mendadak terhenti. Untuk beberapa detik, pria itu hanya berdiri mematung.

Rambut Dara yang biasanya diikat sederhana kini tergerai rapi dengan potongan baru yang membingkai wajahnya. Riasan tipis membuat kulitnya tampak lebih segar, sementara blus berwarna krem yang dipadukan dengan rok panjang cokelat muda membuat penampilannya terlihat anggun dan jauh lebih dewasa.

Tanpa sadar, mulut Gavin sedikit terbuka. Ia benar-benar terpana.

Sherly yang melihat reaksi putranya langsung menahan tawa. Ia menyenggol pelan lengan Gavin. "Hei!"

Namun, Gavin sama sekali belum bereaksi. Dia masih memandang Dara tanpa berkedip.

Sherly akhirnya menggeleng sambil terkekeh. "Tolong tutup mulutnya. Nanti ada lalat masuk."

Ucapan itu membuat suasana rumah mendadak hening. Sesaat kemudian, Mbok Darmi yang kebetulan melintas menuju ruang makan langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa.

"Astaga, Den Gavin!"

Dara sendiri langsung menundukkan kepala. Pipinya berubah merah dalam sekejap. Jantungnya berdegup semakin cepat hingga rasanya terdengar jelas di telinganya sendiri. Apa penampilannya benar-benar berubah sebanyak itu?

Mendengar ucapan Mbok Darmi barulah Gavin tersadar. Ia buru-buru merapatkan bibirnya dan berdeham pelan, berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Sherly menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil tersenyum jahil. "Nah, bagaimana hasil make over Mama? Cantik, kan?"

Gavin mengangguk singkat. "Iya."

Jawaban itu langsung membuat Sherly memicingkan mata. "Hah? Cuma begitu?"

Gavin terlihat bingung. "Apa, Ma?"

"Hei, Gavin!" Sherly menggeleng pelan. "Itu istrimu, bukan pegawai yang sedang melapor. Masa komentarnya cuma satu kata? Mana pujian untuk istrimu?"

Dara semakin salah tingkah. Rasanya ia ingin menghilang saja dari ruang keluarga itu.

Sementara Gavin tampak kikuk. Ia mengusap tengkuknya pelan sebelum kembali menatap Dara. Kali ini tatapannya jauh lebih lembut. "Dara ...."

"Iya, Aa?" jawab Dara lirih tanpa berani menatap langsung.

Gavin sempat terdiam beberapa saat. Dia menarik napas pelan. "Kamu cantik sekali."

Kalimat itu sederhana, tidak panjang. Namun, terdengar begitu tulus. Telinga Gavin perlahan berubah kemerahan setelah mengucapkannya.

Sherly langsung tersenyum puas. "Nah, begitu! Kan, tidak susah."

Dara perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Gavin. Senyum kecil yang malu-malu menghiasi bibirnya.

"Terima kasih, Aa." Entah mengapa, hanya mendengar pujian singkat itu saja sudah cukup membuat hati Dara terasa hangat.

Sherly memandang keduanya dengan perasaan lega. Selama bertahun-tahun, ia hampir tidak pernah melihat Gavin memuji seorang wanita secara langsung. Kini, sedikit demi sedikit, putranya mulai membuka hati.

Malam harinya, mereka makan malam bersama di ruang makan. Mbok Darmi memasak berbagai hidangan kesukaan keluarga. Aroma sup buntut memenuhi ruangan, berpadu dengan ikan bakar, tumis sayur, dan sambal khas buatannya yang selalu membuat selera makan bertambah.

Dara ikut membantu menata piring, menuangkan air minum, lalu mengambilkan nasi untuk semua orang.

"Terima kasih, Dara," ucap Sherly sambil tersenyum.

"Iya, Ma."

Setelah semuanya duduk, suasana makan malam berlangsung hangat. Sherly lebih banyak bercerita tentang kejadian-kejadian lucu selama mereka berbelanja.

"Ma, jangan diceritakan." Dara langsung memohon dengan wajah memerah.

"Lho, kenapa?" Sherly justru tertawa. "Tadi Dara mengira spa itu rumah sakit."

Mbok Darmi spontan tertawa kecil. "Serius, Neng?"

Dara menutup wajahnya sebentar. "Soalnya gedungnya besar sekali. Aku belum pernah melihat tempat seperti itu."

Mbok Darmi kembali terkekeh. "Aduh, lucu sekali."

Dara hanya bisa tersenyum malu.

Di tengah obrolan itu, Gavin beberapa kali tanpa sadar melirik ke arah istrinya. Tatapannya selalu berhenti beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa. Setiap melihat Dara dengan penampilan barunya, ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

Hal kecil itu tentu tidak luput dari perhatian Sherly. Wanita paruh baya itu pura-pura sibuk menyendok sup sambil menyembunyikan senyumnya.

"Akhirnya anak ini mulai benar-benar memperhatikan istrinya," batin Sherly.

Sementara Gavin, sama sekali tidak sadar bahwa setiap curi pandangnya sejak tadi sudah tertangkap oleh sang ibu.

Malam semakin larut. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Dara masuk ke kamar sambil membawa beberapa kantong belanja. Ia duduk di tepi ranjang, lalu mulai membuka satu per satu isinya.

Ada pakaian yang nanti akan dia kenakan ketika mulai kuliah. Blus, tas, sepatu, kosmetik, dan perawatan kulit. Sampai akhirnya tangannya berhenti pada sebuah paperbag. Perlahan ia membukanya. Begitu melihat isinya, wajah Dara langsung memanas. Baju tidur yang dibelikan Sherly siang tadi.

Tangan Dara refleks menutup kembali paperbag itu. Namun, beberapa detik kemudian ia membukanya lagi. Pakaian itu memang cantik, bahannya lembut, warnanya juga anggun. Akan tetapi menurut Dara, modelnya terlalu berani.

Dara menggigit pelan bibir bawahnya. Ucapan mama mertuanya kembali terngiang di kepalanya.

"Sesekali tampil lebih seksi di depan suami juga tidak ada salahnya."

Dara mengembuskan napas panjang. Dengan langkah pelan, ia membawa laper itu masuk ke kamar mandi.

Dara berdiri di depan cermin, ia kembali memandangi pakaian tersebut. "Bagaimana ini?" gumamnya lirih. "Semuanya cantik. Tapi menurutku terlalu terbuka."

Perempuan itu mengusap pipinya yang mulai terasa panas. "Bagaimana kalau Aa Gavin malah marah?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Dara. Selama ini Gavin selalu menjaga sikap dan sangat menghormatinya. Bagaimana kalau suaminya justru salah paham?

Dara memejamkan mata sejenak. Lalu kembali teringat nasihat Sherly. "Seorang istri juga perlu merawat diri dan berpenampilan menarik di depan suaminya."

Dara menarik napas dalam-dalam. "Semoga saja Aa Gavin tidak marah," bisiknya pelan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai berganti pakaian. Jantungnya berdegup semakin cepat. Beberapa kali ia hampir mengurungkan niat. Namun, akhirnya ia memberanikan diri.

Belum sempat ia mengenakan kimono tipis sebagai penutup luar, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
astagaahhhb
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
apa2an itu
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!