Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Cinta Ibu yang Menjadi Monster
Malam telah larut ketika Clara mengunci pintu kamar sewanya. Suara rintik hujan yang kembali turun menampar seng atap yang bocor, meneteskan air ke dalam ember plastik di sudut ruangan. Udara di dalam kamar itu sangat dingin, pengap, dan berbau kelembapan yang menyiksa paru-paru.
Clara mematikan satu-satunya bohlam lampu di kamarnya. Ia tidak membutuhkan cahaya. Kegelapan adalah satu-satunya teman yang bersedia mendengarkannya tanpa menghakimi.
Ia merosot ke lantai, duduk bersandar pada dinding yang berjamur, memeluk lututnya dengan kedua tangan. Di seberang ruangan, di atas kasur tipisnya, tergeletak sepotong baju bayi berwarna putih kasar yang ia beli di pasar obralan kemarin.
Dalam keheningan yang pekat itu, pertahanan emosional Clara akhirnya runtuh sepenuhnya.
Bukan tangisan histeris yang keluar dari bibirnya, melainkan lolongan panjang yang tertahan di tenggorokan. Suara keputusasaan absolut dari seorang ibu yang baru saja disadarkan bahwa cintanya saja tidak cukup untuk menjaga anaknya tetap hidup.
Kata-kata Vera terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Aku bisa membuatmu menghilang. Anak harammu itu tidak akan pernah melihat dunia. Kau gembel. Kau miskin.
Setiap suku kata dari ancaman itu terasa bagai sayatan pisau tumpul yang mengoyak batinnya perlahan-lahan. Clara meremas rambutnya sendiri, membiarkan rasa sakit fisik mengalihkan hantaman badai emosi yang menghantam rongga dadanya tanpa ampun. Di luar sana, angin malam berdesir kencang, merangsek masuk melalui celah-celah jendela yang rapuh, seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Bayangan masa lalunya bersama Daniel berkelebat sekilas, sebuah ilusi manis yang berujung pada kebusukan paling pekat. Ia merasa terperangkap dalam labirin tanpa ujung, di mana setiap jalan keluar yang ia coba temukan selalu berujung pada tembok tebal kemiskinan dan kehinaan.
Clara memukul dadanya yang terasa mau meledak. Rasa sakitnya melampaui pengkhianatan cinta. Ini adalah rasa sakit tentang ketidakberdayaan. Realitas telah menamparnya dengan brutal: dunia ini adalah hutan rimba tempat predator berkuasa, dan ia hanyalah mangsa yang terluka. Jika ia mempertahankan Maya, ia akan memaksa Maya lahir sebagai mangsa.
"Ibu tidak bisa, Maya..." isak Clara dengan suara yang sangat menyayat hati, meremas perutnya dengan penuh keputusasaan. "Ibu tidak bisa membawamu ke dunia yang seperti ini. Dunia ini terlalu kejam untuk kita."
Ia membayangkan masa depan Maya jika tetap bersamanya. Maya akan tumbuh di kamar sempit yang bocor ini. Maya akan memakai baju bekas yang gatal. Maya akan melihat teman-teman sebayanya tumbuh dalam limpahan fasilitas, sementara ia harus menelan ludah setiap kali melihat mainan mahal di etalase toko. Maya akan dihina di sekolah karena tidak memiliki ayah dan ibunya hanyalah pelayan miskin yang direndahkan. Dan yang paling menakutkan, kapan pun Vera merasa bosan atau terancam, Vera bisa mengirim orang untuk menghancurkan hidup mereka dalam sekejap.
Bahkan, ia bisa melihat bayangan Maya kecil yang menangis kelaparan di atas lantai dingin, memohon sepotong roti yang tak mampu ia sediakan. Kutukan kemiskinan ini seperti rantai besi berat yang menyeret mereka ke dasar palung laut yang gelap, meremukkan tulang dan harapan tanpa ampun.
Clara tidak sanggup membayangkannya. Otaknya menolak menerima masa depan penderitaan untuk malaikat kecil yang kini berdenyut di dalam rahimnya.
"Aku rela hancur," gumam Clara, matanya menatap kosong ke arah kegelapan. "Aku rela diinjak-injak. Aku rela membusuk di neraka. Tapi kau... kau tidak boleh menderita sedikit pun, sayang. Kau tidak boleh direndahkan. Kau tidak boleh tahu rasanya kelaparan."
Clara bangkit merangkak menuju meja kecil di sudut kamar. Ia menyalakan sebatang lilin yang cahayanya menari-nari memantulkan bayangan menakutkan di dinding. Ia menarik secarik kertas bekas dan sebuah pulpen yang tintanya hampir habis.
Dengan tangan bergetar, ia menulis dua nama di atas kertas itu.
Maya.
Elena.
Clara menatap kedua nama itu. Dua bayi yang belum memiliki dosa, yang nasibnya ditentukan oleh dosa orang tua mereka.
Cinta seorang ibu adalah hal yang paling murni di dunia. Ia bisa melindungi, merawat, dan menyembuhkan. Namun, ketika cinta itu dipojokkan oleh kemiskinan, ketidakadilan, dan ancaman kematian, kemurniannya bisa terdistorsi menjadi monster yang paling mengerikan. Cinta yang buta tidak lagi mempedulikan moral, agama, atau karma. Ia hanya mempedulikan satu hal: keselamatan sang anak, berapapun harga yang harus dibayar.
Di hadapan tungku penderitaan ini, prinsip hidupnya meleleh, menyisakan kerangka tekad yang kelam dan absolut. Ia menyadari bahwa kebaikan hati tidak pernah mendatangkan perlindungan di dunia yang keji; kebaikan hanyalah santapan empuk bagi mereka yang memegang kuasa.
Bagi Clara, harganya adalah menukar jiwa.
Ia harus mengorbankan haknya untuk menjadi ibu. Ia tidak akan pernah mendengar Maya memanggilnya 'Ibu'. Ia tidak akan pernah memeluk Maya di malam hari. Ia harus menyerahkan belahan jiwanya kepada musuh terbesarnya. Namun sebagai imbalannya, Maya akan memiliki segalanya. Maya akan tidur di atas kasur sutra, dilindungi oleh kekuasaan yang tak tergoyahkan, dan dihujani kemewahan seumur hidupnya. Maya tidak akan pernah tersentuh oleh kemiskinan dan penderitaan.
Sementara Elena, darah daging musuhnya, akan ia bawa pulang ke neraka ini. Elena akan menjadi samsak hidup bagi penderitaannya, menjadi alat untuk memuaskan dahaga dendamnya setiap kali ia teringat pengkhianatan Vera dan Daniel. Di balik bilik sempit ini, Elena akan dididik bukan dengan kelembutan, melainkan dengan kepahitan, menjadi simbol perlawanan bisu atas ketidakadilan yang meremukkan hidup Clara.
"Dunia ini hanya menyembah kekayaan, Maya," bisik Clara, air mata menetes membasahi kertas di atas meja, melunturkan tinta nama mereka. "Maka ibu akan memberimu kekayaan itu. Ibu akan merampas singgasana wanita itu, dan ibu akan menempatkanmu di atasnya."
Clara mengambil baju bayi putih kasar dari atas kasur. Ia memeluknya erat-erat, seolah sedang memeluk jiwa anaknya sendiri untuk terakhir kalinya.
Ini bukan sekadar kejahatan picik karena dendam. Ini adalah pengorbanan tertinggi dari seorang ibu yang telah rusak mentalnya. Clara secara sadar memilih jalan kutukan. Ia tahu perbuatannya tidak akan pernah dimaafkan oleh Tuhan maupun manusia. Ia tahu kelak ia akan membusuk di dasar neraka yang paling dalam, mencicipi siksaan abadi atas dosa penukaran takdir yang direkayasanya sendiri.
Namun ia tidak peduli.
Jika menukar takdir adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Maya, maka Clara dengan senang hati akan menandatangani kontrak dengan iblis malam ini juga. Rasa takut, rasa bersalah, dan keraguannya telah mati dibunuh oleh ancaman Vera di taman sore tadi.
"Kau akan dipanggil Elena, sayang," bisik Clara pada perutnya, tersenyum dengan raut wajah yang sangat kelam, mengerikan, sekaligus dipenuhi cinta yang mematikan. "Kau akan memiliki selimut dari Italia itu. Kau akan tidur di ranjang jati itu. Ibu janji... tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang berani merendahkanmu. Karena ibumu yang hina ini... telah membeli masa depanmu dengan jiwanya sendiri."
Malam itu, di bawah temaram cahaya lilin dan suara rintik hujan, sosok Clara yang baik hati dan pemaaf resmi menemui ajalnya. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang digerakkan oleh dendam absolut dan cinta keibuan yang telah berubah menjadi monster. Monster yang siap menerkam apa pun demi memastikan anaknya tidak pernah menyentuh dasar jurang penderitaan.