Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : BAYI BIRU
Bintang mendadak show an di Kantor Marketing Galery Jati Raya. Dengan modal KTP Devan yang tersimpan di dokumen MoU yang Ada padanya tentu mudah bagi Bintang untuk menemukannya.
Hanya, Sempat terhambat karena ternyata Devan hanya mengontrak di cluster itu. Bukan pemilik, sehingga datanya harus di cocokan terlebih dahulu.
Bintang sudah mendapatkan alamat yang tepat. Kebetulan tidak jauh dari kantor Marketing yang ia sambangi tadi.
Bintang langsung ke rumah keluarga Devan.
Pintu diketuk. Tidak dibuka-buka.
"DEV! DEVAN! BUKA PINTU!" teriak Bintang.
Pintu dibuka. Devan berdiri dengan kaos kutang, rambut berantakan, mata panda, gendong bayi 6 bulan di dada pakai gendongan depan. Bayi itu nangis kejer. Di belakangnya, rumah berantakan. Cucian numpuk, botol susu dimana-mana, bau wangi minyak telon bercampur bau asam.
"Bu Bintang?” Devan kaget.
Bintang melongo. Pria brewok yang ia temui dua bulan lalu terlihat rapi dan gagah tetapi sekarang kayak zombie.
"Kok tau Alamat sini?"
"Kamu 5 hari gak masuk gudang, Dev! Karyawan lapor aku! Ada apa?” tanya Bintang terenyuh melihat tampilan Devan.
“Iya … maaf saya kerepotan sekali. Maaf silahkan masuk dulu.” Dengan cekatan Devan membersihkan salah satu kursi agar Bintang bisa duduk. Kepala Bintang tolah toleh, melihat keadaan rumah itu sungguh di luar dugaan Bintang.
Devan yang beberapa minggu terakhir masih sangat aktif mengiriminya progres kerja di jam malam. Ternyata memiliki rumah yang …. Haduh seperti kandang.
“Vaaaan” terdengar suara lemah memanggil.
“Iya … sebentar bu. Maaf, bu Bintang saya tinggal dulu.” Anak balita masih seperti anak kangguru di depan dada Devan.
“Van ..” suara itu terdengar lagi saat Devan sudah semakin dekat dengan sebuah kamar.
Bintang buru-buru mendekati kamar, ingin nguping.
“Kenapa?” tanya Devan lembut.
“Basah.” Jawab suara itu pelan.
“Iya. Sebentar Devan ganti ya, bu.” Bintang buru-buru kembali ke posisi duduknya tadi. Matanya berpendar ke seluruh penjuru rumah. Kemudian terhenti pada sebuah foto pernikahan Devan. Cukup mewah juga istrinya sangat cantik, mungkin dari anak orang berada.
Devan keluar dengan menyeka peluh yang mengucur di keningnya. Sementara bayi dalam gendongannya terlihat senang karena Devan selalu memberikan senyum manis padanya.
“Maaf, kedatangan saya sepertinya mengganggumu.” Bintang sungguh merasa tak enak.
“Tidak bu. Sebenarnya saya yang harus minta maaf tidak sempat mengirimkan progres dan mengirim keterangan pada ibu.” Ujar Devan tetap berdiri sambil goyang-goyang badan biar bayinya diam.
“Itu anakmu?” bibirnya saja bilang maaf, tapi kepo Bintang juga tinggi. Mau tau banget.
“Iya. Ini Biru, umurnya belum genap 6 bulan. Beberapa hari lagi.” Jawab Devan mencondongkan wajah bayi laki-laki itu menghadap Bintang.
“Yang di kamar, ibunya?”
Devan menggelang.
“Bukan. Yang di dalam ibu saya, 2 minggu lalu kena serangan stroke. Ada penyumbatan di otaknya, membuat badan kirinya tidak bisa bergerak secara normal. Awal kena serangan, masih di rawat inap. Tapi 6 hari ini sudah boleh pulang ke rumah. Tapi … ya beginilah. Saya bahkan tidak bisa membagi tugas sebagai seorang ayah untuk bayi Biru dan merawat wanita yang sudah melahirkanku.” Cerita Devan membuat hati Bintang getir mendengarnya.
“Kamu merawat ibumu yang stroke sambil menjaga bayi juga. Saudaramu? Istrimu?” tanya Bintang lagi.
“Aku anak Tunggal." Jawab nya pelan.
"Istri..." Devan sedikit memberi jeda untuk bernafas.
"Istriku Lila. Mamanya Biru, sudah meninggal akibat pendarahan hebat setelah melahirkan ini.”
“Maaf, Pak Devan.”
“Tidak masalah.” Jawabnya dengan senyum terulas.
“Ibu ingat waktu saya mau menjual lahan di sebelah Gudang ibu, dua bulan lalu?”
Bintang mengangguk.
“Saat itu saya perlu uang untuk biaya rumah sakit ayah yang kecelakaan. Harus operasi, amputasi. Ah, banyak sekali yang harus saya tanggung. Tetapi rupanya itu jalan ajalnya.”
Mata Bintang berkaca-kaca mendengar cerita Devan.
“Tepat setelah kita tanda tangan MoU, saya ke rumah sakit. Tapi ayah sudah tiada. Sejak itu ibu sangat sedih. Tapi sedemikian rupa ia tutupi kesedihannya. Ia berusaha menghibur diri dengan menjaga, merawat Biru untukku.” Devan mengambil air mineral ke bagian dapur.
“Sambil minum bu.” Tawarnya sopan.
“Awalnya saya bisa bekerja dengan telaten dalam menyelesaikan Borongan kerja sama kita. Dengan bantuan ibu mengurus Biru. Ternyata aku abai akan kesehatannya. Aku lupa bagaimanapun ia masih berduka. Aku lupa ia tidak muda lagi. Aku terlena dengan kesibukanku, sampai hari itu, ia tiba-tiba jatuh. Dengan Biru yang masih dalam gendongannya.”
“Jadi, sejak itu dunia saya bukan tentang desain, gergaji dan kayu. Tapi seputaran popok bayi, popok dewasa, minyak telon juga minyak urut. Dokter saraf, nanti dokter anak. Sama sekali saya gak sempat buka kerjaan bu.” Urai Devan sangat membuat Bintang iba padanya.
Bersambung …
Sudah terjawab yaaa
Betapa menderitanya si Devan ini ya gaes.
Ada yang mau jadi istri duda brewok ini gak?
Besok senin yaak. Boleh dong kasih Votenya.
Kopi,
Eh, bunga boleh.
Bintang Lima sih kalo ikhlas.
Terimakasih semuanya
Semoga rejekinya makin lancar, Amin