NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Setelah mengantar adiknya ke apartemen, Erlangga langsung melajukan mobilnya menuju Maheswara Group, perusahaan raksasa milik keluarganya. Ia terpaksa menitipkan barang belanjaan Kara tadi kepada sopirnya untuk diantarkan langsung ke rumah Kara, karena tiba-tiba ada panggilan mendadak dari kantor.

Tak butuh waktu lama, hanya dalam sepuluh menit, mobil Erlangga sudah terparkir rapi di lobi utama gedung pencakar langit itu.

Erlangga turun dari mobil dengan gerakan terburu-buru. Ia melangkah lebar memasuki lobi utama, tangannya bergerak membetulkan letak kancing jasnya yang sedikit terbuka.

Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat.

Tapi Erlangga sama sekali tidak menoleh ataupun tersenyum. Tatapannya tetap terarah kedepan. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung melangkah menuju lift khusus, siap melesat menuju lantai paling atas.

Sesampainya di lantai atas, sang asisten pribadi sudah berdiri tegap menantinya di depan pintu ruangannya.

"Selamat malam, Tuan Muda. Ini beberapa berkas yang Anda minta tadi," sapa asistennya sambil menyodorkan setumpuk map tebal.

Erlangga menyambar berkas itu dengan sentakan kasar. Lalu, membalik lembar demi lembar. Sementara matanya bergerak cepat memindai setiap baris tulisan di kertas itu.

Erlangga langsung menghela nafas berat sambil menutup map itu kembali. "Apa semuanya sudah berkumpul di ruang rapat?"

"Sudah, Tuan Muda," jawab sang asisten itu yang bernama Bima.

Erlangga seketika berbalik memimpin jalan menuju ruang rapat. Begitu ia mendorong pintu kaca ruang rapat itu, beberapa petinggi perusahaan sudah duduk mengitari meja.

Erlangga menatap tajam ke arah mereka satu persatu sebelum akhirnya duduk di kursinya.

"Berapa total semua kerugiannya?" tanya Erlangga langsung pada intinya, tanpa basa-basi terlebih dahulu.

Para petinggi perusahaan saling lempar pandang. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara, takut menjadi sasaran amukan Erlangga.

Erlangga mengetukkan jemarinya di atas meja. "Saya tidak punya waktu semalaman untuk menunggu jawaban kalian!" gertaknya sambil menaikkan nada bicaranya.

Manajer Keuangan, seorang pria paruh baya yang dahinya sudah dibanjiri oleh keringat, perlahan menegakkan posisi duduknya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia langsung membuka laptopnya dan berdehem pelan.

"M-maaf, Tuan Muda. Berdasarkan laporan sementara dari tim audit, kerugian akibat pembatalan kontrak sepihak dari vendor utama kita mencapai tiga puluh lima miliar rupiah," jawabnya dengan suara yang bergetar. "Itu belum termasuk penalti yang harus kita bayar ke pihak kontraktor karena keterlambatan material."

Mendengar angka tersebut, rahang Erlangga langsung mengeras. "Tiga puluh lima miliar?" ulangnya

Erlangga memijat pangkal hidungnya, lalu memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan amarah yang mulai membakar dadanya. Sepersekian detik kemudian, ia melemparkan map tebal di tangannya itu ke tengah meja hingga menimbulkan suara dentuman yang keras.

"Bagaimana bisa perusahaan sebesar Maheswara Group kecolongan oleh vendor sekecil itu? Di mana fungsi pengawasan kalian?!" ucap Erlangga sambil berdiri dari kursinya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, lalu menatap tajam ke arah Direktur Operasional.

Direktur Operasional langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap kearah Erlangga. "Ada kebocoran data internal, Tuan Muda. Pihak kompetitor mengetahui celah kontrak kita dan menawarkan kesepakatan yang lebih menguntungkan kepada vendor tersebut. Kami sedang menyelidiki siapa orang dalam yang berani bermain-main dengan anda."

Erlangga menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya yang hampir meledak. Ia membetulkan posisi berdirinya, lalu menoleh ke arah Bima yang berdiri siaga di dekat pintu.

"Bima," panggil Erlangga dingin.

"Siap, Tuan Muda," sahut Bima.

"Bekukan semua akses digital untuk proyek itu. Mulai malam ini, saya ingin semua data komunikasi tim operasional diperiksa tanpa terkecuali. Siapa pun pengkhianatnya, pastikan dia tidak akan pernah bisa bekerja di industri ini lagi," perintah Erlangga.

"Baik, Tuan Muda. Segera saya laksanakan," jawab Bima tegas.

Erlangga kembali menatap para petinggi di depannya. "Saya beri waktu 24 jam untuk mencari vendor pengganti dan menstabilkan kembali saham kita yang mulai menurun akibat berita ini. Jika besok malam saya belum melihat solusinya, silahkan kalian semua angkat kaki dari gedung ini."

Tanpa menunggu jawaban, Erlangga langsung membalikkan badannya, lalu melangkah keluar dari ruang rapat.

Pintu kaca itu tertutup dengan suara dentuman keras, meninggalkan para petinggi perusahaan yang langsung menghela nafas lega sekaligus cemas.

Erlangga melangkah cepat menuju ruang kerja pribadinya, diikuti oleh Bima yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Begitu sampai di depan pintu, Erlangga memutar kenop pintu itu secara perlahan.

Ceklek!

Langkah Erlangga langsung terhenti seketika. Matanya menyipit tajam di ambang pintu saat mendapati seseorang tengah duduk santai di kursi kebesaran miliknya.

Mendengar suara pintu terbuka, seseorang itu langsung memutar kursinya. Begitu kursi itu menghadap ke depan, orang itu langsung tersenyum lebar.

Erlangga melipat kedua tangannya di depan dada, menatap orang itu dengan tatapan jengkel. "Ngapain lo ke sini?" tanya Erlangga ketus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!