NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 — Arsip Kerajaan Kuno

Di balik pintu besar itu, Arsip Kerajaan Kuno terungkap sebagai ruangan luas yang jauh melampaui ekspektasi siapa pun—rak-rak buku dan gulungan membentang sejauh mata memandang, diterangi oleh kristal-kristal bercahaya yang tertanam di langit-langit tinggi, menciptakan cahaya keemasan lembut yang menyinari seluruh ruangan tanpa perlu sumber api.

"Ini luar biasa," penasihat kerajaan yang memandu mereka berbisik dengan kagum, jelas belum pernah melihat kemegahan arsip ini secara langsung sebelumnya. "Bahkan aku tidak menyangka skalanya sebesar ini."

Mereka melangkah masuk dengan hati-hati, mengamati sekeliling untuk tanda-tanda mekanisme pertahanan kuno yang mungkin masih aktif. Namun alih-alih jebakan atau penjaga mengancam, ruangan itu terasa tenang, hampir seperti menyambut kehadiran mereka.

"Mungkin karena fragmen dalam diriku," Kael menduga, mengingat bagaimana pintu masuk merespons kehadirannya. "Seolah tempat ini mengenali sesuatu yang seharusnya ada di sini."

Mereka mulai menjelajahi rak-rak arsip, mencari catatan yang mungkin berhubungan dengan legenda Raja Pertama Valtherion. Setelah beberapa jam pencarian, Seraphina akhirnya menemukan sebuah ruang khusus di bagian terdalam arsip, ditandai dengan segel kerajaan kuno yang berbeda dari simbol Valtherion modern.

"Ini sepertinya bagian tertua dari arsip," katanya, memeriksa segel itu dengan seksama. "Mungkin dari masa sebelum Valtherion Kingdom seperti yang kita kenal sekarang benar-benar terbentuk."

Mereka membuka ruang itu, dan di dalamnya, tersimpan sebuah buku besar dengan sampul kulit yang telah menua namun masih terjaga dengan baik, dikelilingi oleh berbagai artefak kuno yang tampak sudah lama tidak disentuh.

Kael membuka buku itu dengan hati-hati, dan halaman-halamannya, meski using, masih menampilkan tulisan yang jelas terbaca, menceritakan kisah tentang seorang pria bernama Aldwin, yang menurut catatan itu adalah Raja Pertama Valtherion.

*Aldwin bukanlah orang biasa,* tulisan itu menjelaskan. *Dia terlahir di masa ketika suku-suku manusia di Benua Asteria masih terpecah-pecah, saling berperang untuk sumber daya yang terbatas. Konon, dalam sebuah malam badai yang mengerikan, dia menerima penglihatan dari kekuatan yang melampaui pemahaman normal—sebuah cahaya yang menuntunnya untuk menyatukan suku-suku yang bertikai menjadi satu kerajaan yang kuat.*

"Cahaya," Seraphina bergumam, membaca bagian itu dengan seksama. "Mungkin itu petunjuk tentang jenis fragmen yang mungkin dia terima."

Mereka melanjutkan membaca, dan halaman-halaman berikutnya menjelaskan lebih detail tentang bagaimana Aldwin berhasil menyatukan suku-suku manusia melalui kombinasi kebijaksanaan, kekuatan, dan sesuatu yang disebut dalam teks kuno itu sebagai "Kehendak yang Tak Tergoyahkan"—kemampuan untuk menginspirasi dan menyatukan orang lain di bawah tujuan bersama.

[Petunjuk Terdeteksi: Kemungkinan Fragmen — Elemen Kehendak/Jiwa.]

"Fragmen Kehendak," Kael membaca notifikasi itu dengan penuh minat. "Berbeda dari elemen fisik seperti api atau naluri primal. Ini lebih berhubungan dengan kekuatan jiwa dan tekad."

"Di mana Aldwin dimakamkan?" Lyra bertanya, mencoba mencari petunjuk lokasi yang mungkin menyimpan fragmen tersebut.

Mereka melanjutkan membaca, dan akhirnya menemukan jawabannya di halaman-halaman terakhir buku itu—Aldwin, setelah menyatukan kerajaan dan memerintah dengan bijaksana selama puluhan tahun, akhirnya dimakamkan di sebuah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh keturunan langsungnya, sebuah lokasi yang disebut sebagai "Sanctum Kehendak", tersembunyi di suatu tempat di bawah pegunungan tengah Valtherion.

"Sanctum Kehendak," penasihat kerajaan mengulang nama itu dengan alis terangkat. "Aku pernah mendengar legenda tentang tempat itu, tapi selalu dianggap sebagai mitos belaka, cerita rakyat yang diturunkan tanpa dasar sejarah nyata."

"Sepertinya mitos itu mungkin memiliki dasar kebenaran yang lebih dalam dari yang disadari siapa pun," Kael berkata, menutup buku itu dengan hati-hati setelah mencatat semua informasi penting yang mereka temukan.

Ketika mereka mempersiapkan diri untuk meninggalkan Arsip Kerajaan Kuno, sesuatu yang tidak terduga terjadi—cahaya keemasan dari kristal-kristal di langit-langit mulai berkumpul dan bergerak, membentuk proyeksi samar seorang pria berjubah kerajaan kuno, wajahnya bijaksana namun tegas, mengenakan mahkota sederhana yang jelas berbeda dari mahkota Valtherion modern.

"Keturunanku," suara itu bergema lembut, jelas berupa semacam pesan yang telah lama tersimpan menunggu untuk diaktifkan oleh kondisi tertentu. "Jika kau melihat pesan ini, berarti waktu yang telah lama kutakutkan akhirnya tiba—waktu ketika Darah Primordial yang telah lama tersembunyi mulai bangkit kembali ke permukaan dunia."

Semua orang di ruangan itu terdiam, menyaksikan proyeksi kuno Raja Aldwin sendiri dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan.

"Aku menyimpan sebagian dari kekuatan yang diberikan kepadaku di Sanctum Kehendak, dilindungi oleh penjaga yang hanya akan mengenali seseorang yang benar-benar membawa esensi Primordial yang sama," proyeksi itu melanjutkan. "Jika kau adalah orang itu, carilah sanctum itu, dan buktikan dirimu layak mewarisi kekuatan yang telah lama menunggu kebangkitannya."

Proyeksi itu mulai memudar, namun sebelum sepenuhnya menghilang, satu pesan terakhir terdengar dengan jelas: "Gunakan kekuatan ini untuk menyatukan, bukan menghancurkan. Itulah warisan sejati yang ingin kutinggalkan bagi dunia ini."

Ketika cahaya itu sepenuhnya menghilang, keheningan yang mendalam menyelimuti ruangan, semua orang mencoba mencerna pesan luar biasa yang baru saja mereka saksikan.

"Kita perlu menemukan Sanctum Kehendak secepat mungkin," Kael akhirnya berkata, tekad baru terdengar jelas dalam suaranya setelah menerima petunjuk langsung dari salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Valtherion.

--

Menemukan lokasi pasti Sanctum Kehendak terbukti lebih menantang dari yang diperkirakan, mengingat catatan sejarah yang tersedia hanya menyebutkan lokasinya secara samar sebagai "pegunungan tengah Valtherion" tanpa detail spesifik lebih lanjut.

"Pegunungan tengah Valtherion mencakup area yang sangat luas," penasihat kerajaan menjelaskan saat mereka mempelajari peta kerajaan dengan seksama. "Butuh waktu berminggu-minggu untuk menjelajahi seluruh area itu tanpa petunjuk lebih spesifik."

"Mungkin ada petunjuk lain yang terlewat dalam buku itu," Seraphina menyarankan, dan mereka kembali ke Arsip Kerajaan Kuno untuk memeriksa lebih detail catatan tentang Raja Aldwin.

Setelah beberapa jam penelitian tambahan, Aria menemukan sesuatu yang terlewat sebelumnya—sebuah peta kuno kecil yang terselip di antara halaman-halaman terakhir buku itu, menggambarkan formasi gunung tertentu dengan tanda khusus yang menyerupai simbol yang sama dengan segel di pintu Arsip Kerajaan Kuno.

"Ini dia," Aria berkata dengan gembira, menunjukkan temuannya kepada yang lain. "Berdasarkan formasi gunung ini, sepertinya lokasinya berada di dekat sumber Sungai Valtherion, area yang dikenal sebagai Puncak Kembar."

Dengan petunjuk baru itu, mereka mempersiapkan ekspedisi menuju Puncak Kembar, area pegunungan yang terletak sekitar lima hari perjalanan dari Grandis, dikenal karena dua puncak gunung identik yang berdiri berdampingan seperti cermin satu sama lain.

Perjalanan itu jauh lebih mudah dibanding ekspedisi-ekspedisi sebelumnya, medan yang mereka lalui relatif ramah meski tetap menantang di beberapa bagian pendakian. Kael menggunakan waktu perjalanan untuk terus berlatih mengintegrasikan kedua fragmen yang telah dia miliki, mencoba memahami bagaimana Naluri Primal dan Api Murni bisa bekerja bersama secara lebih harmonis.

[Adaptation terhadap Kombinasi Fragmen: 31%.]

"Kau semakin baik dalam menyeimbangkan keduanya," Selene berkomentar suatu malam, mengamati Kael berlatih menggabungkan gerakan cepat berbasis insting dengan ledakan kecil energi api dalam serangan-serangannya. "Kombinasi itu menciptakan gaya bertarung yang unik, tidak seperti apa pun yang pernah kulihat."

"Aku masih belajar," Kael menjawab, meski kepuasan jelas terlihat dari kemajuan yang telah dia capai. "Setiap fragmen membawa cara berpikir dan bertarung yang berbeda, dan menyatukannya membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan mentah."

Pada hari kelima, mereka akhirnya mencapai kaki Puncak Kembar, dua gunung identik yang menjulang tinggi dengan puncak yang tertutup salju abadi, meski wilayah di sekitarnya masih relatif hijau dan subur.

"Berdasarkan peta kuno itu, sanctum seharusnya berada di celah antara dua puncak ini," Lyra berkata, memeriksa peta yang mereka bawa dengan seksama.

Mereka mulai mendaki, dan setelah beberapa jam perjalanan yang menantang, mereka menemukan sebuah celah tersembunyi di antara kedua puncak, ditutupi oleh tirai air terjun kecil yang jatuh dari ketinggian, menciptakan penyamaran alami yang sempurna untuk pintu masuk yang tersembunyi.

Di balik tirai air terjun itu, mereka menemukan sebuah gua yang mengarah ke dalam gunung, dengan ukiran-ukiran kuno di sepanjang dindingnya yang menggambarkan sejarah penyatuan suku-suku manusia di bawah kepemimpinan Aldwin.

"Ini dia," Kael berkata dengan napas tertahan, merasakan energi yang familiar mulai terasa semakin kuat seiring mereka melangkah lebih dalam ke gua itu. "Sanctum Kehendak."

Mereka melangkah lebih jauh, dan gua itu akhirnya terbuka menjadi ruangan besar yang dipenuhi dengan patung-patung yang menggambarkan berbagai pemimpin suku kuno, semuanya menghadap ke arah sebuah altar di tengah ruangan, tempat sebuah pedang kuno tertancap di atas batu, bercahaya dengan aura keemasan lembut yang berbeda dari fragmen-fragmen sebelumnya.

[Fragmen Terdeteksi: Energi Primordial — Elemen Kehendak/Jiwa.]

Namun sebelum mereka bisa mendekat lebih jauh, patung-patung di sekeliling ruangan itu mulai bergerak, mata mereka yang sebelumnya kosong kini menyala dengan cahaya keemasan yang sama dengan fragmen di altar.

"Penjaga Sanctum," penasihat kerajaan berbisik tegang, mengenali pola yang sama dengan penjaga-penjaga kuno yang telah mereka temui sebelumnya di tempat lain.

[Dewan Penjaga Kuno — Roh Pemimpin Suku Bersatu.]

[Jumlah terdeteksi: 7.]

[Perkiraan kekuatan gabungan: Domain Realm.]

"Tujuh penjaga sekaligus," Seraphina berkata dengan nada waspada, mempersiapkan diri untuk pertarungan yang mungkin jauh lebih sulit dari yang mereka hadapi sebelumnya.

Namun alih-alih menyerang, ketujuh roh itu berdiri diam, menatap Kael dengan sorotan mata yang menunjukkan penilaian mendalam, bukan permusuhan langsung.

"Siapa yang berani memasuki tempat suci ini?" salah satu roh, yang tampak paling tua dan berwibawa di antara yang lain, akhirnya berbicara dengan suara yang bergema seperti gabungan dari ribuan suara kuno.

"Aku Kael," dia menjawab dengan hormat, melangkah maju meski tetap waspada. "Aku datang atas petunjuk dari Raja Aldwin sendiri, mencari Fragmen Kehendak yang tersimpan di sini."

Ketujuh roh itu saling bertukar pandangan, seolah berkomunikasi secara diam-diam sebelum roh tertua kembali berbicara. "Banyak yang mengklaim datang atas nama Aldwin sepanjang sejarah, mencoba merebut kekuatan yang tidak seharusnya menjadi milik mereka. Kami tidak akan menyerahkan fragmen ini dengan mudah hanya berdasarkan klaim semata."

"Apa yang harus kulakukan untuk membuktikan diriku?" Kael bertanya, mempersiapkan diri untuk tantangan apa pun yang mungkin mereka ajukan.

Roh tertua itu tersenyum tipis, ekspresi yang aneh untuk sesosok entitas spiritual kuno. "Kau harus membuktikan bahwa kau memahami esensi sejati dari kehendak yang menyatukan, bukan sekadar kekuatan untuk menaklukkan. Ini bukan pertarungan fisik, melainkan ujian terhadap jiwa dan niatmu sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!