Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
Di tengah perjalanan keluar dari hutan, rombongan masih berjalan cukup cepat. Arsen tetap melangkah stabil sambil menggendong Keira di punggungnya, seolah gadis itu sama sekali bukan beban.
Namun, Keira mulai meringis pelan.
"Kenapa?" tanya Arsen tanpa menoleh.
"Nggak apa-apa," jawab Keira cepat, meski suaranya terdengar menahan sesuatu.
Arsen tidak begitu saja percaya. Ia bisa merasakan tubuh Keira yang beberapa kali bergerak gelisah di punggungnya.
"Kamu sakit?"
Keira menggeleng. "Nggak..."
Beberapa detik kemudian, ia justru semakin erat memeluk leher Arsen.
"Keira?"
Keira menggigit bibir. Wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa aku... rasanya ingin buang air kecil terus," gumamnya lirih.
Arsen terdiam sesaat. "Kamu menahannya dari tadi?"
Keira semakin menunduk. "Iya."
"Kenapa nggak bilang?"
"Malu..."
Arsen menghela napas, tetapi tidak memarahinya.
Ia kemudian berhenti berjalan. Rombongan di depan ikut berhenti dan menoleh.
"Ada apa, Pak?" tanya salah seorang mahasiswa.
"Beristirahat sebentar," jawab Arsen tenang.
Ia lalu memanggil salah satu mahasiswi.
"Rina."
"Iya, Pak?"
"Tolong temani Keira ke belakang sana. Cari tempat yang agak tertutup, tapi jangan terlalu jauh."
Rina langsung mengerti. "Oh... iya, Pak."
Arsen berjongkok perlahan agar Keira bisa turun. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, Keira sedikit kehilangan keseimbangan. Arsen segera menahan lengannya.
"Hati-hati."
Keira menatapnya sebentar. Rasa malu masih terlihat jelas di wajahnya, tetapi ada kehangatan tersendiri dari perhatian Arsen.
"Makasih,"
Rina segera menghampirinya. "Ayo, Keira."
Keira mengangguk lalu mengikuti Rina menuju semak-semak yang cukup tertutup.
Arsen kembali berdiri dan sengaja membuang pandangan ke arah lain untuk memberikan privasi.
Namun pikirannya justru kembali pada kejadian semalam.
Cara Keira menggigil dalam pelukannya. Suara lirih gadis itu ketika memanggil namanya.
Arsen mengembuskan napas panjang. Perjalanan ini awalnya hanya bagian dari tugas. Namun entah mengapa, setelah semua yang terjadi, semuanya terasa jauh lebih pribadi daripada yang pernah ia bayangkan.
Tak lama kemudian, terdengar suara Keira dari balik semak. "Sumpah... rasanya nggak nyaman banget."
Arsen hanya bisa terdiam, menunggu Keira dan Rina kembali.
Perlahan, Keira memperhatikan kain tipis yang digunakannya. Matanya langsung tertuju pada sebuah noda kemerahan.
"Kok ada darah? Apa aku mau datang bulan?"
Ia segera membersihkannya menggunakan air mineral yang dibawanya.
"Sudah?" tanya Rina dari luar.
Keira mengangguk dan keluar. Namun, langkahnya tampak sedikit aneh.
"Kakimu sakit?" tanya Rina memperhatikan gerakannya.
"Hm..." Keira hanya mengangguk kecil. Ia berusaha menyembunyikan rasa perih dan pegal yang masih terasa tidak nyaman.
Beberapa menit kemudian, Keira dan Rina kembali bergabung dengan rombongan. Wajah Keira terlihat sedikit lebih segar, meski masih pucat dan kelelahan.
Arsen menoleh kepadanya. "Naik lagi."
Keira langsung menggeleng. "Nggak usah, Pak. Saya jalan saja."
Arsen menatapnya beberapa saat. "Yakin?"
"Iya." Jawaban Keira terdengar pelan, tetapi tetap menunjukkan bahwa ia ingin berjalan sendiri.
Arsen akhirnya mengangguk. "Ya sudah."
Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.
Keira berjalan bersama teman-temannya di bagian depan. Namun, langkahnya jauh lebih lambat dan kaku. Sesekali wajahnya meringis ketika kakinya menapak tanah.
Rina meliriknya. "Kei, kamu benar-benar nggak apa-apa?"
"Iya... cuma capek," jawab Keira singkat.
Di belakang mereka, Arsen terus memperhatikan.
Ia melihat jelas perubahan cara Keira berjalan. Gadis itu tampak terlalu berhati-hati, seolah sedang menahan rasa tidak nyaman.
Alis Arsen berkerut. "Kenapa jalannya seperti itu?" pikirnya.
Pikirannya kembali pada kejadian malam tadi, ketika Keira menggigil dalam pelukannya dan ia berusaha menjaga tubuh gadis itu tetap hangat.
Arsen mengembuskan napas pelan. "Apa karena semalam?"
Ketika Keira hampir tersandung akar pohon, Arsen langsung mempercepat langkahnya.
"Hati-hati."
Keira menoleh. "Iya..."
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Arsen kemudian berjalan sejajar dengannya, tetap menjaga jarak sewajarnya.
"Kalau nggak kuat, bilang."
Keira hanya mengangguk kecil. Namun langkahnya tetap kaku. Entah mengapa, hal itu membuat Arsen terus merasa khawatir hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan.
Begitu tiba di desa, suasana terasa jauh lebih hidup. Beberapa warga menyambut mereka, sementara mahasiswa lain langsung duduk untuk beristirahat setelah perjalanan panjang.
Keira baru berjalan beberapa langkah ketika tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Keira!" Rina segera memegang lengannya.
"Istirahat dulu. Kamu kelihatan pucat banget!"
"Iya..." jawab Keira lirih. Suaranya terdengar lemah, sementara tubuhnya terasa semakin berat.
Rina dan beberapa mahasiswa membawanya ke balai desa. Keira kemudian didudukkan di atas tikar. Ia langsung bersandar, matanya setengah terpejam.
Arsen yang baru tiba dari belakang segera menghampiri.
"Ada apa?"
"Pak Arsen, jangan marahi Keira. Sepertinya dia demam," jawab Rina cepat.
"Demam?" Arsen langsung menyentuh kening Keira. Panas. Ekspresinya seketika berubah serius.
"Sejak kapan?"
Rina menggeleng. "Saya nggak tahu, Pak. Dari perjalanan keluar hutan tadi dia sudah kelihatan lemas."
Arsen menghela napas. "Di sini nggak ada klinik..."
Belum sempat melanjutkan, kepala adat desa datang menghampiri mereka.
"Tenang saja, Nak. Di sini ada beberapa obat herbal. Sebentar akan saya racik untuknya."
Arsen segera menoleh. "Terima kasih, Pak."
Kepala adat itu mengangguk lalu pergi menyiapkan ramuan.
Arsen kembali menatap Keira yang terlihat semakin lemah. Ada keraguan di wajahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya ia mengurungkannya.
"Aku urus yang lain dulu," katanya singkat sebelum berbalik pergi.
Rina memperhatikan kepergian Arsen, kemudian menatap Keira.
"Aku sampai kaget. Dia nggak marah sama kamu. Padahal biasanya..."
Keira membuka matanya sedikit. "Iya..."
"Padahal dia sendiri yang pernah bilang jangan sampai merepotkan dia."
Keira hanya menatap kosong ke depan. "Aku juga nggak tahu..."
Sementara itu, Arsen berjalan cepat menyusul Pak Salim menuju rumahnya yang tak jauh dari balai desa.
Di halaman belakang rumah tersebut, berbagai tanaman obat tumbuh dengan rapi. Daun-daun hijau memenuhi sebagian kebun kecil itu, mengeluarkan aroma khas yang menenangkan.
Pak Salim mulai memetik beberapa daun dan meraciknya dengan cekatan.
"Pak... sebenarnya ada yang ingin saya katakan," ucap Arsen tiba-tiba.
Pak Salim menoleh sebentar, lalu kembali meracik. "Iya, katakan saja, Pak Arsen."
Arsen terdiam beberapa detik, seolah menimbang.
"Sebenarnya....Keira. Mahasiswi itu... istri saya."
Tangan Pak Salim berhenti sejenak. Ia menoleh penuh kaget ke arah Arsen.
"Istri?" ulangnya pelan.
Arsen mengangguk. "Iya. Tapi ini masih rahasia. Tidak ada yang tahu hubungan kami."
Pak Salim memperhatikan Arsen beberapa saat, lalu perlahan tersenyum.
"Pantas saja," ucapnya tenang. "Dari tadi saya lihat, cara Anda memperhatikannya beda."
Arsen tidak menjawab. Ia hanya menatap racikan di tangan Pak Salim.
"Pak Salim..." suaranya sedikit lebih rendah. "Tolong lakukan yang terbaik. Supaya demamnya cepat reda."
Nada suaranya tidak lagi seperti dosen yang memberi instruksi. Lebih seperti... seorang suami yang khawatir.
Pak Salim mengangguk mantap. "Tenang saja. Saya usahakan semaksimal mungkin."
Ia lalu melanjutkan meracik obat herbal, mencampur beberapa daun dengan air hangat. Arsen berdiri di sampingnya, diam, tapi pikirannya jelas tidak tenang.
Bayangan Keira yang pucat terus terlintas. Biasanya ia bisa menjaga jarak. Bersikap dingin. Profesional.
Tapi sekarang... Sulit.
Beberapa menit kemudian, racikan itu selesai.
"Ini diminumkan, ya. InsyaAllah bisa bantu turunkan panasnya," ucap Pak Salim sambil menyerahkan mangkuk kecil itu.
Arsen langsung menerimanya. "Terima kasih, Pak."
Tanpa membuang waktu, Arsen berbalik dan berjalan cepat menuju balai desa. Langkahnya bahkan lebih cepat dari biasanya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Keira.