Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Hangat Sebelum Fajar Berdarah
Gema ancaman Tuan Mahendra masih menyisakan hawa dingin yang mencekam di dalam ruangan. Namun, Arka tidak membiarkan kepanikan menguasai situasi. Sebagai pimpinan tertinggi Valora Group, otaknya bekerja secepat kilat. Pria itu segera menginstruksikan Bagas untuk memperketat barikade pengamanan di sekitar rumah perlindungan Bogor. Sementara itu, tim intelijen kepercayaannya di Jakarta, dikontak untuk melacak sinyal terakhir telepon Tuan Mahendra secara tertutup.
"Kita tidak bisa bergerak gegabah sebelum lokasi Paman Kusuma dipastikan," tegas Arka pada Pak Hendra dengan nada suara yang tenang namun tak tertembus. "Tuan Mahendra sengaja memancing emosi kita agar menyerahkan dokumen saham Elara tanpa persiapan. Malam ini, semua tetap di sini. Tempat ini terlindungi penuh."
Demi keamanan, seluruh penghuni rumah diwajibkan untuk istirahat dan memulihkan tenaga. Setelah memastikan Ibu Hastuti dan Pak Hendra aman di kamar masing-masing, Arka melangkah masuk ke dalam kamar tidur sederhana yang disiapkan di lantai dua.
Di sana, Elara sedang duduk bersila di atas ranjang. Memeluk lututnya sendiri dengan wajah muram. Piyama kaus longgar yang dikenakannya membuat tubuh mungil gadis itu terlihat semakin menggemaskan, di bawah pendar lampu kamar yang hangat.
"Mas Arka," panggil Elara lirih saat melihat suaminya menutup pintu.
Arka melepas dua kancing atas kemejanya, lalu melangkah mendekati ranjang dan duduk di samping Elara. Raut wajahnya yang semula tegang saat mengurus masalah korporasi, perlahan melembut hanya dengan menatap mata bening istrinya. "Kenapa belum tidur, Elara? Ini sudah hampir tengah malam."
Elara menggeser duduknya, lalu tanpa ragu menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka. Tangannya menyelinap masuk meremas pinggiran kemeja suaminya.
"Ara takut," bisiknya polos. Kejujuran terpancar jelas dari suaranya. "Ara takut Mas Arka kenapa-napa. Ara takut Paman Kusuma kenapa-napa. Kenapa ya, Mas, pas Ara baru aja ngerasa bahagia punya keluarga utuh dan punya suami ganteng yang beneran sayang sama Ara, ujiannya malah datang bertubi-tubi gini?"
Arka menghela napas halus. Lengan kekarnya melingkar erat di pinggang Elara, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangat yang protektif. Dia mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya, menghirup dalam-dalam aroma wangi sampo Elara yang selalu berhasil menenangkan pikirannya.
"Dengar saya, Elara," tutur Arka dengan suara berat yang terdengar merdu di telinga Elara. "Selama saya masih bernapas, saya tidak akan biarkan siapa pun merenggut kebahagiaan kamu. Paman Kusuma adalah orang tua bagi saya, dan saya pasti akan menyelamatkannya. Tapi malam ini, saya butuh kamu."
Elara mendongak, menatap rahang tegas Arka yang kini berjarak sangat dekat darinya. "Butuh Ara? Maksudnya butuh Ara buat mijitin bahu Mas Arka yang pegal?"
Arka terkekeh kecil. Sebuah tawa intim yang membuat dada Elara berdesir hebat. Pria itu menyatukan dahi mereka, menatap lurus ke dalam manik mata Elara dengan pendar kasih sayang yang begitu dalam.
"Saya butuh istri saya untuk ada di samping saya," bisik Arka lembut, jemarinya bergerak perlahan mengusap pipi Elara yang mulai merona merah. "Saya butuh pengingat bahwa di balik semua kekacauan perebutan harta dan kekuasaan di luar sana, ada kamu. Alasan saya untuk selalu pulang."
Jantung Elara serasa berhenti berdetak sesaat. Pengakuan Arka yang begitu tulus menghempaskan seluruh sisa ketakutannya. Tanpa ceplos-ceplos atau alasan kocak seperti biasanya, Elara menyunggingkan senyum paling manis dan tulus.
"Ara nggak bakal ke mana-mana, Mas," sahutnya lembut, seraya mengusap rahang tegas suaminya. "Ara bakal terus ada di samping Mas Arka. Jadi istri sah yang paling setia, yang bakal nyiapin sarapan dan bakal selalu nungguin Mas pulang."
Arka menatap bibir ranum istrinya, lalu tanpa menunggu lebih lama, dia memangkas sisa jarak di antara mereka. Arka mendaratkan ciuman yang begitu lembut, hangat, dan dipenuhi rasa cinta mendalam. Elara memejamkan mata, membalas usapan hangat di bahu suaminya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran rasa manis yang menyelimuti malam dingin perbukitan Bogor.
Malam itu, di dalam kamar yang tenang, dua insan yang semula disatukan oleh intrik pernikahan paksa, akhirnya menyatu sepenuhnya dalam ikatan cinta yang tak tergoyahkan. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi sekat di antara sang CEO dan gadis polosnya.
"Mas ...."
"Katakan, Sayang, mau Mas apakan?"
"Emm, kayaknya bibir Ara berdarah, deh, kena gigitan Mas Arka."
Arka terhenyak dan dengan sigap memeriksa bibir Elara. Benar saja, sebuah tanda mirip bekas gigitan ular tampak di bibir istrinya. Sejenak gerakannya tertahan, CEO tampan itu melihat ke dalam dirinya. "Benarkah, aku seliar inj?" batinnya.
Perlahan, pendar keemasan fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Menembus celah gorden kamar. Elara terbangun dengan rasa hangat yang luar biasa. Dia berada dalam dekapan posesif Arka yang masih tertidur lelap dengan wajah yang tampak begitu damai tanpa beban pekerjaan.
Elara tersenyum kecil, mengusap pelan hidung mancung suaminya. "Ganteng banget, sih, suamiku kalau lagi tidur begini. Makin betah deh Ara," batinnya kagum.
Namun, kedamaian pagi itu segera terenggut ketika ponsel Arka yang diletakkan di atas meja nakas bergetar hebat.
Arka terbangun seketika. Refleks kepemimpinannya kembali dalam sekejap. Pria itu meraih ponselnya dan membuka sebuah pesan gambar dari nomor tak dikenal yang baru saja masuk.
Mata Arka membelalak, rahangnya mengeras seketika hingga urat-urat di lehernya menegang.
Di dalam foto tersebut, Paman Kusuma tampak terikat di sebuah kursi kayu di dalam gudang tua yang remang. Namun, bukan kondisi Paman Kusuma yang membuat darah Arka mendadak mengalir dingin, melainkan sosok pria yang berdiri di samping Paman Kusuma, sambil memegang pistol. Sosok seseorang yang sangat dikenal Arka.
"Mas, ada apa?" tanya Elara panik, sebab melihat perubahan raut wajah suaminya yang luar biasa mendadak.
Arka mengepalkan tangannya kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Suaranya terdengar begitu dingin dan bergetar menahan amarah yang membakar. "Ada pengkhianat di dalam tim keselamatan kita, Elara. Dan dia sekarang ada di rumah ini."