NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 Bayang yang Muncul Kembali

Kehidupan yang tenang ternyata tidak berlangsung lama. Tiga bulan setelah sore itu, ketika kami mulai percaya bahwa kedamaian telah menetap, hal-hal aneh mulai terjadi perlahan pada awalnya, seakan menguji keteguhan kami sebelum menampakkan wajah aslinya.

Pertama kali kusadari sesuatu yang tidak beres adalah saat aku menemukan selembar kertas kecil terselip di bawah pintu kamarku, tertulis dengan tinta hitam pekat, tanpa nama pengirim:

Kalian berpikir damai itu semudah tersenyum dan saling memaafkan? Permainan belum selesai. Tunggu saja.

Jantungku berdegup kencang hingga nyeri di dada. Aku segera membawa kertas itu ke ruang kerja Daddy. Saat tiba di sana, aku menemukan ketujuh saudaraku sudah berkumpul wajah mereka serius, masing-masing memegang selembar kertas yang sama persis.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya George, suaranya tegang. “Apakah masih ada sisa-sisa kelompok lama?”

Edward menggeleng pelan, menatap tulisan itu lekat-lekat. “Tulisan ini tidak kasar. Tulisannya rapi, terukur. Seolah orang yang menulisnya sudah merencanakan ini sejak lama.”

“Lucas tahu?” tanyaku.

Belum sempat ada yang menjawab, telepon di meja kerja berdering tajam. Daddy mengangkatnya, dan seketika wajahnya mengeras. Ia mendengarkan dalam diam, tidak menyela, hanya sesekali mengangguk pelan. Saat meletakkan gagang telepon, ruangan itu seakan mendingin.

“Lucas diculik,” ucapnya rendah.

Aku mundur selangkah, kakiku terasa lemas. “Apa?”

“Tadi pagi, saat ia menuju tempat pertemuan yang kami sepakati untuk menelusuri dokumen lama,” jelas Daddy. “Orang-orang yang melakukannya meninggalkan pesan jika kami tidak menarik semua tuntutan dan mengembalikan aset yang kami ambil puluhan tahun lalu, Lucas tidak akan kembali.”

“Tapi kami tidak mengambil apa pun dengan niat merampas!” seru Will. “Kesalahpahaman itu sudah kami luruskan!”

“Mereka yang mengirim ancaman ini tidak ingin mendengar penjelasan,” kata Henry pelan namun tajam. “Mereka tidak peduli kebenaran. Mereka hanya ingin dua keluarga kembali saling berperang.”

“Siapa mereka?” tanya Charlotte, matanya tajam. “Siapa yang diuntungkan jika kami hancur?”

Daddy menarik napas panjang, lalu berjalan menuju lemari besi di sudut ruangan. Ia membukanya dan mengeluarkan sebuah map tebal yang sudah menguning dokumen yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya.

“Selama ini aku menyembunyikan satu hal,” suaranya berat. “Dulu, sebelum perselisihan dimulai, ada pihak ketiga yang menawarkan diri menjadi perantara antara keluarga kami dan keluarga Hale. Pihak yang berdiri di tengah, mengatur kesepakatan, mengelola tanah bersama... dan perlahan-lahan mengambil keuntungan dari kedua belah pihak.”

Ia membuka map itu, menunjuk nama yang tertulis di bagian paling atas.

Keluarga Sterling.

“Mereka membiarkan kami saling curiga,” lanjut Daddy. “Mereka menabur benih kebencian di kedua sisi, sehingga kami tidak pernah menyadari bahwa yang sebenarnya merampas kekayaan kami adalah mereka sendiri. Selama puluhan tahun, mereka hidup tenang di atas kekayaan yang dirampas dari perselisihan kami.”

Keheningan menyelimuti ruangan. Semua potongan teka-teki itu akhirnya menyatu kebencian yang tumbuh begitu cepat, ketidakmampuan kami menemukan jalan damai selama bertahun-tahun, kematian kakaknya Lucas yang mungkin bukan sekadar kecelakaan... semua itu mengarah ke satu sumber.

“Mereka tahu kami mulai berdamai,” ucap George pelan, matanya menyala. “Dan itu berarti mereka tidak bisa lagi memanfaatkan kami.”

“Tepat,” kata Edward. “Menculik Lucas adalah cara mereka memancing kami untuk bertindak gegabah. Jika kami menyerang, kami kembali terlihat seperti penindas. Jika kami diam, mereka membunuh Lucas dan menyalahkan kami. Apa pun yang kami lakukan, mereka menang.”

“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya Sophie, suaranya gemetar. “Kami tidak bisa membiarkan apa pun terjadi pada Lucas.”

“Kami tidak akan membiarkan,” jawab Daddy tegas. “Tapi kami tidak akan jatuh ke dalam perangkap mereka. Kali ini kami tidak bertindak sebagai dua keluarga yang saling memusuhi. Kami bertindak sebagai satu kesatuan keluarga Margaretha bersama apa yang tersisa dari keluarga Hale. Dan kami akan menghadapi kejahatan ini dengan kebenaran, bukan dengan kekerasan.”

Ia menatap kami satu per satu.

“Edward, kau memimpin penyelidikan. Cari jejak keberadaan Lucas. Henry, periksa semua catatan lama, bukti apa pun yang bisa membuktikan keterlibatan keluarga Sterling. Charlotte, siapkan semua dokumen untuk dibagikan kepada pihak yang dapat dipercaya agar jika sesuatu terjadi pada kami, kebenaran tetap tersebar. Will, kau menjaga rumah ini dan semua orang di dalamnya. George, kau ikut Edward tapi berjanjilah padaku, gunakan kekuatanmu untuk melindungi, bukan untuk membalas.”

George mengangguk mantap. “Aku berjanji, Daddy.”

“Sophie, kau menemani Mommy di rumah. Pastikan semua orang tetap tenang. Grace...” Daddy menatapku khususnya. “Kau adalah orang yang paling dekat dengan Lucas. Jika ada pesan baru, jika ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk... akulah yang akan membacanya dengan sudut pandang yang berbeda.”

“Aku siap,” jawabku, meski jantungku berdebar kencang.

Sore itu berubah menjadi malam yang panjang. Kami bekerja tanpa henti Edward dan Will memeriksa setiap sudut kota, Henry menelusuri tumpukan dokumen yang tak pernah tersentuh, Charlotte menyusun laporan yang jujur dan lengkap, George membantu Edward namun menahan diri agar tidak bertindak berlebihan, Sophie merawat kami semua yang hampir lupa makan dan istirahat. Dan aku... aku duduk di ruang kerja Daddy, membaca ulang pesan-pesan itu berulang kali, mencari makna yang tersembunyi di balik kata-katanya.

Tepat saat dini hari tiba, aku menyadari sesuatu satu kalimat yang berulang dalam setiap pesan tunggu saja. Seolah-olah mereka tidak hanya mengancam, melainkan menunggu sesuatu terjadi.

Aku berlari ke ruang tempat Henry bekerja. “Mereka tidak hanya ingin memancing kami,” ucapku terengah-engah. “Mereka menunggu waktu tertentu. Mungkin ada tenggat waktu yang belum mereka sebutkan.”

Henry menatapku, lalu membalik tumpukan dokumen di depannya. “Lihat ini.” Ia menunjuk tanggal yang tertulis di bagian bawah dokumen tertua. “Hari ini adalah hari terakhir dari batas waktu perjanjian yang dibuat puluhan tahun lalu. Jika perselisihan belum terselesaikan, seluruh aset berpindah ke tangan pihak ketiga keluarga Sterling.”

Darahku terasa dingin. “Mereka menunggu tengah malam.”

Edward melangkah masuk seketika, wajahnya serius. “Aku menemukan lokasi mereka. Gudang tua di kawasan pelabuhan tempat yang sama dengan kejadian itu.”

“Tidak ada waktu,” kata Daddy, berdiri tegak. “Kami pergi sekarang. Tapi ingat tidak ada senjata kecuali untuk pertahanan diri. Tujuan kami adalah menyelamatkan Lucas dan mengungkap kebenaran, bukan memulai pertempuran baru.”

Kami berangkat Daddy, Edward, Will, George, dan aku. Charlotte dan Henry tetap di rumah untuk mengumpulkan bukti terakhir dan menyiapkan segalanya. Sophie menemani Mommy, berdoa agar kami semua pulang dengan selamat.

Perjalanan menuju pelabuhan terasa seakan tak berujung. Saat mobil berhenti di depan gudang tua itu, kegelapan menyelimuti segala sesuatu, hanya diterangi cahaya remang dari lampu-lampu yang berkedip. Kami melangkah masuk dengan hati-hati, langkah kaki kami bergema di lantai beton yang dingin.

Di bagian tengah gudang, di bawah cahaya lampu gantung yang redup, berdiri sekelompok orang berpakaian rapi namun wajah mereka keras dan dingin. Di depan mereka, terikat pada tiang kayu, duduk Lucas wajahnya memar sedikit, namun matanya tetap teguh. Dan di antara mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Selamat datang, keluarga Margaretha,” ucap pria itu tenang. “Namaku Sterling. Aku sudah lama menunggu momen ini.”

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!