Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Di Balik Tirai Kabut
Angin malam menderu kencang, mengguncang dahan-dahan pohon tua di pinggir hutan tempat mereka berlindung sementara ini. Langit pekat tanpa remang bintang, seolah turut menutupi jejak mereka dari pengejaran.
Li An menatap ke arah kegelapan, tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat. Di sampingnya, Ling Yue duduk bersandar pada batang pohon, wajahnya pucat namun matanya tetap teguh.
"Kau belum tidur?" suara Li An terdengar rendah, berusaha tidak memecah keheningan malam.
Ling Yue menggeleng pelan. "Bagaimana bisa tidur... saat kita dikejar, dan Rouran masih di tangan mereka?"
Li An berlutut di hadapannya, menatap lekat-lekat mata gadis itu. "Aku tahu berat rasanya. Tapi percayalah, aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu, maupun pada Rouran. Meski harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Kata-kata itu terucap begitu tulus hingga jantung Ling Yue berdegup kencang. Ia meraih tangan pria itu, merasakan kehangatan yang menembus dinginnya malam. "Jangan bicara soal mengorbankan nyawa. Aku butuh kau hidup, Li An. Bersamaku."
Li An tersenyum tipis, mengusap punggung tangan gadis itu lembut. "Baik. Aku berjanji. Kita akan pulang bersama. Semuanya."
Namun di balik senyum itu, hatinya bergemuruh gelisah. Ia tahu musuh mereka bukan sekadar pasukan perbatasan biasa — ada tangan kekuasaan yang lebih besar bergerak di balik layar, menunggunya tergelincir satu langkah saja lalu menghancurkannya seketika.
Saat fajar menyingsing, kabut tipis masih menyelimuti hutan. Mereka bersiap melanjutkan perjalanan, namun baru saja melangkah keluar tempat persembunyian, suara derap kuda memecah keheningan. Bukan satu atau dua, melainkan puluhan — mendekat dengan cepat.
"Mereka sudah di sini!" bisik Ling Yue, wajahnya menegang.
Li An menariknya ke balik semak belukar, matanya memindai sekeliling. "Tetap di sini. Jangan keluar sebelum aku panggil."
"Jangan tinggalkan aku..." cengkeraman Ling Yue pada lengan bajunya mengerat.
Li An menatapnya dalam. "Aku hanya menghadang mereka sebentar. Tetap aman, demi aku." Ia mengecup kening gadis itu sekilas, lalu bangkit berdiri, menarik napas panjang, dan melangkah keluar menghadap rombongan yang datang.
Pasukan itu berhenti tepat di hadapannya. Di depan, seorang perwira berseragam ungu tua menatapnya tajam.
"Jenderal Li An," suara perwira itu dingin dan penuh ancaman. "Kau dianggap hilang, namun ternyata kau membawa kabur seseorang yang tidak seharusnya kau bawa. Serahkan gadis itu, dan kami mungkin akan mempertimbangkan untuk tidak menuduhmu berkhianat."
Li An tertawa rendah, namun matanya tak bergeming sedikit pun. "Berkhianat? Aku yang telah bertempur di sepanjang perbatasan, membasuh luka dan keringat demi kekaisaran — dan kau yang menuduhku berkhianat? Katakan pada siapa sebenarnya kau bekerja?"
Perwira itu mengubah wajah. "Tidak usah berdalih! Tangkap dia!"
Kuda-kuda melesat maju. Li An menghunus pedangnya, cahaya besi berkilat di bawah cahaya pagi yang mulai muncul. Ia bertarung dengan ketangkasan yang luar biasa, setiap gerakan penuh kekuatan dan ketepatan. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Pelan tapi pasti, ia mulai terdorong mundur.
Dari balik semak, Ling Yue menahan napas, dadanya sesak melihat Li An terkepung. Ia tahu jika tetap diam, pria itu akan kelelahan dan jatuh. Tanpa berpikir panjang, ia melihat sebatang kayu kering yang besar di tepi tebing tak jauh dari sana.
Ia berlari, mendorong kayu itu sekuat tenaga. Kayu besar itu meluncur jatuh tepat di antara Li An dan para pengejar, memisahkan mereka sementara waktu.
"Cepat naik!" seru Ling Yue sambil menarik tali kuda yang terselamatkan.
Li An tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melompat ke punggung kuda, menarik Ling Yue naik ke depannya, lalu memacu kuda itu menerobos hutan lebat di sisi lain tebing.
"Kau gila!" serunya, napasnya memburu, namun suaranya bercampur rasa haru. "Bisa saja kau terluka!"
"Dan kau pikir aku bisa diam melihatmu terluka?" balas Ling Yue, menatap punggung pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Kita satu jalan, Li An. Kalau kau jatuh, aku takkan berjalan sendirian."
Pelukan gadis itu di pinggangnya mengerat. Li An menghela napas panjang, lalu menekan keningnya sebentar di tangan yang melingkar di perutnya.
"Baik... Kita satu jalan. Sampai akhir."
Siang berganti sore, sore berganti malam. Mereka terus berpacu, tak berani berhenti lama. Namun tanda kelelahan mulai tampak pada kuda tunggangan mereka, dan arah yang mereka tuju semakin tertutup kabut tebal.
"Kita tersesat?" tanya Ling Yue pelan, melihat sekeliling yang tampak sama persis.
Li An berhenti sejenak, mengamati bintang yang mulai muncul di sela-sela awan. "Bukan tersesat... justru semakin dekat ke tempat yang aku cari. Di sini ada jalur rahasia yang diketahui hanya sedikit orang — jalur yang dapat membawa kita langsung ke tempat musuh menyembunyikan Rouran."
Ling Yue terkejut. "Kau tahu tempatnya?"
"Aku pernah ke sini bersama ayahku dulu, sebelum ia wafat," jawab Li An pelan. "Ia berpesan, jika suatu hari istana tidak lagi tempat yang aman, jalur inilah satu-satunya jalan keluar... dan jalan kebenaran."
Ia menatap ke arah kabut yang makin pekat. "Tapi jalurnya penuh jebakan. Satu langkah salah, dan kita bisa jatuh ke jurang atau terjerat perangkap musuh."
Ling Yue menatapnya teguh, lalu menggenggam tangan pria itu erat.
"Di mana kau melangkah, di situ aku ikut. Tak peduli seberapa gelap jalannya, selama bersamamu, aku tidak takut."
Li An menatapnya lama, lalu tersenyum — senyum yang penuh keyakinan dan lembut. Ia mengusap pipi gadis itu.
"Kalau begitu, pegang tanganku erat-erat. Jangan sampai terlepas, sekalipun sedetik pun."
Mereka melangkah masuk ke dalam kabut. Langkah demi langkah, hati berdebar namun tangan tak pernah saling melepaskan. Di depan mereka, bayangan gerbang tua mulai terlihat samar — gerbang yang tertutup lumut dan rahasia, menyimpan jawaban atas semua yang terjadi.
Namun mereka belum tahu: di balik gerbang itu, bukan hanya Rouran yang menunggu. Melainkan kebenaran yang akan mengguncang seluruh dunia yang mereka kenal.