Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Telepon dari Ibu
“Mbak yakin tadi tanda tangan, kan? Nggak nyesel?”
Pak Hadi bertanya tanpa menoleh. Matanya tertuju pada sawah gelap di balik jendela kereta. Kamis pukul enam sore, gerbong ekonomi Semarang–Yogya berbau gorengan dan minyak angin. Di pangkuan Raras tergeletak salinan surat penjamin mutu yang baru saja ia tanda tangani.
“Menyesal, Pak. Tapi saya menyesal sambil membaca ulang pasalnya.”
“Pasal yang Mbak tulis tangan di bawah itu?”
“Tiga baris saja.” Raras mengangkat kertas itu ke arah lampu. “Penjaminan hanya untuk karung yang dicap tangan saya dan lolos gudang Yogya. Hanya tiga bulan. Kerusakan akibat penyimpanan dan pengangkutan di Semarang bukan tanggungan saya.”
“Pak Hartono langsung setuju.”
“Karena beliau memang tidak mau menang. Beliau cuma mau ada yang bisa ditagih.” Raras melipat surat itu. “Saya tidak mau jadi alasan gugurnya kontrak itu, Pak. Itu saja.”
“Mbak tidak takut menanggung?”
“Takut sekali.” Raras tersenyum getir. “Tapi saya lebih takut jadi orang yang menutup pintu atas nama harga diri.”
Ponselnya bergetar di dalam tas. Satu pesan dari Bram: Sudah makan? Saya bukan mengorek. Hanya bertanya.
Raras membalas singkat: Belum. Saya di kereta.
Jawaban datang dalam hitungan detik: Makan di Stasiun Tugu. Jangan gorengan.
“Dia tahu saya makan gorengan,” gumam Raras.
“Siapa, Mbak?” Pak Hadi, yang pura-pura mengantuk, membuka satu mata.
“Pak Hadi.”
“Kula mboten ningali punapa-punapa, Mbak (Saya tidak melihat apa-apa).”
“Sudah dua kali Bapak bilang begitu minggu ini.”
“Dados kula pancen mboten ningali (Jadi saya memang tidak melihat).”
“Pak Hadi.”
“Nggih?”
“Pesan gorengan dua.”
“Nggih, Mbak. Kangge sinten (Untuk siapa)?”
“Untuk Bapak sendiri.”
Sampai di dalem pukul sembilan malam, Raras hanya ingin mandi lalu menggulung diri di dipan. Perjalanan dan urusan di Semarang menguras tenaganya, sementara kepalanya masih dipenuhi hitung-hitungan tentang surat yang baru ditandatangani. Ia berharap malam itu bisa berlalu tanpa ada lagi yang harus diputuskan. Namun, baru saja ia melepas sanggul, ponselnya kembali bergetar.
Nama di layar membuat tangannya berhenti: Ibu Marlina.
“Ibu?”
“Ras.” Suara itu serak dan patah. “Maaf Ibu menelepon malam-malam.”
“Tidak apa-apa, Bu. Ada apa?”
“Bapak sakit.”
Raras duduk di tepi dipan. Handuk di bahunya terjatuh ke lantai.
“Sakit bagaimana, Bu?”
“Sepulang dari Semarang dia diam saja. Makan tidak mau. Sekarang dia pegang dadanya terus, Ras. Dia bilang cuma masuk angin.”
“Dadanya sakit, Bu?”
“Katanya nyeri. Tapi dia melarang Ibu telepon siapa pun.”
“Nyerinya menjalar ke lengan, Bu? Atau ke rahang?”
“Ibu tidak tanya. Ibu cuma lihat dia pegang dada.”
“Keringat dingin? Sesak?”
“Sesak, kata dia tadi. Terus diam.” Marlina terisak. “Danang tidak mengangkat telepon Ibu sejak sore.”
“Mas Danang masih di Semarang, Bu. Mungkin ponselnya mati.”
“Kamu bisa bilang ke dia, Ras. Suruh dia pulang. Dia mendengarkan kamu.”
Raras memejamkan mata. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Bu, saya tidak bisa menyuruh Mas Danang pulang.”
“Kamu bisa. Satu kalimat saja.”
“Itu bukan kalimat saya, Bu.”
“Jadi kamu biarkan Bapak begini?” Suara Marlina meninggi. “Kamu yang membuat semuanya begini, Ras! Gara-gara kamu anakku diperlakukan seperti orang asing! Gara-gara kamu suamiku sampai...”
“Bu.” Raras memotongnya lebih tajam dari yang ia niatkan. “Bapak yang membuka CV itu tanpa bilang siapa pun. Bapak yang memanggil pengacara sebelum Mas Danang tahu. Saya tidak membuat Bapak sakit.”
Hening. Hanya terdengar napas basah di ujung telepon.
“Dan Ibu,” lanjut Raras, suaranya terus meluncur sebelum sempat ia hentikan, “waktu Niken tinggal di kamar tamu Ibu, Ibu tidak pernah menelepon saya sekali pun. Tidak untuk bertanya saya sudah makan atau belum.”
Tidak ada jawaban. Lalu terdengar bunyi kecil, tertahan, seperti orang menutup mulut dengan telapak tangan.
“Bu...”
“Ibu tahu,” bisik Marlina. “Ibu tahu, Ras.”
“Kalau Ibu tahu, kenapa...”
“Tapi kamu juga diam, Ras!” Suara Marlina patah lagi, kali ini dengan kemarahan yang berbeda. “Tiga tahun Ibu kira kamu cuma anak kampung. Tidak pernah sekali pun kamu bilang siapa keluargamu.”
“Tidak ada yang bertanya, Bu.”
“Ibu bisa saja bertanya.”
“Bisa, Bu.” Raras menunduk. “Tapi Ibu tidak.”
Marlina tidak menyangkal. Keduanya terdiam. Di sela keheningan itu, Raras membayangkan jam dinding di rumah Prasetya berdetak jauh sekali.
Raras menutup mulutnya sendiri. Dadanya sesak, pipinya terasa panas oleh sesuatu yang bukan marah. Ia ingin menarik kembali kalimatnya, tetapi sebagian dirinya tahu bahwa kata-kata itu sudah terlalu lama tertahan. Ia tidak pernah benar-benar berhenti berharap akan ditanya, meski bertahun-tahun belajar meyakinkan diri bahwa ia tidak membutuhkan perhatian siapa pun.
“Bu, maaf. Saya tidak seharusnya bilang begitu.”
“Tidak. Itu benar.” Suara Marlina mengecil. “Ibu cuma tidak tahu harus telepon siapa lagi.”
Raras menggigit bibir sampai terasa asin. Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu menempelkan dahi ke kaca yang dingin.
“Bu, dengar saya.” Ia memaksa suaranya tetap lembut. “Saya tidak bisa jadi penengah. Mas Danang dan Bapak harus menyelesaikan ini sendiri. Tapi kalau dada Bapak sakit, jangan tunggu Mas Danang pulang. Bawa Bapak ke IGD sekarang.”
“Bapak tidak mau.”
“Telepon Mas Dimas, Bu. Dia akan memaksa.”
“Kamu... masih mau memikirkan Bapak?”
“Saya memikirkan Ibu. Dan Bapak ikut kena.” Raras mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Sekarang telepon Mas Dimas, ya. Setelah itu kabari saya.”
“Iya, Nduk.”
Panggilan terputus. Raras tetap berdiri di depan jendela, menggenggam ponsel begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.
“Ndoro.”
Mbok Jinem berdiri di ambang pintu membawa nampan teh. Dari belakangnya terdengar bunyi tongkat mendekat. Eyang muncul mengenakan sarung dan kaus putih, rambutnya yang memutih dibiarkan terbuka.
“Aku krungu kabeh (Aku dengar semuanya),” kata Eyang.
“Eyang, saya...”
“Kowe bener, Nduk (Kamu benar). Bapakne Danang iku tuwa kang keras sirah (Bapak Danang itu orang tua yang keras kepala).” Eyang duduk di kursi rotan dekat jendela. “Ning kowe nglarani (Tapi kamu menyakiti).”
“Saya tahu, Eyang.”
“Kowe ngerti, nanging wis kebacut (Kamu tahu, tapi sudah terlanjur).”
“Saya akan minta maaf besok.”
“Ora perlu ngenteni sesuk (Tidak perlu menunggu besok).” Eyang menyentuh pundaknya dengan telapak tangan yang kasar.
“Maksud Eyang?”
“Bener iku ora nyuda lara (Benar itu tidak mengurangi sakit), Nduk. Lara kudu ditambani (Sakit harus diobati).”
“Saya harus ke sana, Eyang?”
“Kowe sing nentokake. Nanging aja mung nelpon (Kamu yang menentukan. Tapi jangan hanya menelepon).”
Raras menunduk. Ia tahu Eyang tidak sedang menyuruhnya melupakan apa yang telah dilakukan keluarga Prasetya. Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa luka yang mereka tinggalkan akan hilang hanya karena malam ini ada kabar buruk. Meminta maaf dan memaafkan bukan perkara yang sama, dan ia belum tahu sejauh mana dirinya sanggup melakukan keduanya.
Raras menekan satu nomor sebelum sempat ragu. Dering pertama, kedua, ketiga.
“Ras?” Suara Danang terdengar kasar, bercampur bising bus dan klakson. “Ada apa?”
“Mas, Ibu baru telepon. Bapak sakit dada.”
“Bapak?”
“Aku tidak menyuruhmu pulang, Mas. Aku cuma memberi tahu.” Raras menggenggam tepi jendela. “Ibu bilang Mas tidak mengangkat telepon sejak sore.”
“Ponselku mati.” Danang terdiam. Raras mendengar napasnya memburu. “Aku di terminal. Bus terakhir ke sana jam sepuluh. Aku ke Bapak sekarang.”
“Mas Dimas sudah dihubungi Ibu.”
“Aku tetap pergi.” Ia berhenti sejenak. “Ras. Tadi Bapak bilang aku tidak punya bapak. Kalau itu kata terakhir...”
“Jangan bilang begitu, Mas.”
“Aku harus pergi.”
“Pergi, Mas. Hati-hati.”
Telepon terputus. Mbok Jinem mengulurkan secangkir teh jahe yang masih mengepul. Raras menerimanya, baru menyadari tangannya gemetar.
“Mbak, minum rumiyin (Minum dulu),” bisik Mbok Jinem.
“Mbok, saya tadi keterlaluan.”
“Nggih, Mbak. Tapi Mbak sampun purun nelpon malih (Tapi Mbak sudah mau menelepon lagi).”
“Itu cukup?”
“Nggih mboten, Mbak (Ya, tidak). Namung wiwitan (Hanya permulaan).”
“Mbok, tolong siapkan kebaya yang gelap besok pagi.”
“Mbak badhe tindak (Mbak mau pergi)?”
“Ke rumah Ibu Marlina. Bukan untuk menengahi, Mbok.” Raras meneguk teh jahenya. Panasnya membakar lidah. “Cuma untuk menengok.”
“Eyang mboten badhe nyegah (Eyang tidak akan melarang).” Mbok Jinem menoleh kepada Eyang, yang hanya mengangguk sekali.
“Bawa teh melati, Nduk,” kata Eyang. “Wong lara ora butuh pitutur. Butuh wong sing teka (Orang sakit tidak butuh nasihat. Butuh orang yang datang).”
“Inggih, Eyang.”
“Lan aja mbok gawa rasa menang (Dan jangan bawa rasa menang).”
“Boten badhe kula bekta, Eyang (Tidak akan saya bawa).”
Raras mengangguk. Ponselnya kembali bergetar dalam genggaman. Ia membuka layar dengan tangan yang belum sepenuhnya stabil. Nama Dimas muncul.
“Mas?”
“Ras.” Suara Dimas terengah-engah. Di latar belakang, sirene meraung semakin dekat. “Aku sudah di IGD. Bapak dibawa ambulans tadi.”
“Ambulans?”
“Dia pingsan di ruang tengah, Ras. Ibu yang menemukannya.”
“Mas Danang sedang menuju ke sana, Mas. Dia naik bus terakhir.”
“Dia tahu dari siapa?”
“Dari aku. Aku yang menelepon.”
Dimas terdiam sebentar. “Itu bukan hal kecil, Ras.”
“Aku tahu.”
“Dengar.” Dimas menelan ludah. “Dokter baru keluar. Dia bilang kita harus bicara dengan keluarga.”
lanjuut
🙏💪