NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9.Pecel lele

Mobil sport hitam milik Damar melaju membelah padatnya jalanan kota. Di dalam kabin yang wangi, Naya duduk bersandar santai sambil sesekali mengendus buket bunga mawar merah muda di pangkuannya. Sementara itu, Damar fokus mengemudikan mobil, sesekali melirik ke arah layar navigasi dan menatap jam di pergelangan tangannya.

"Mas Kulkas," panggil Naya membuka suara, memecah keheningan di antara suara deru mesin mobil. "Ini kita mau ke mana, sih? Jalannya kok malah makin ke area pusat bisnis?"

Damar berdeham pelan, menegakkan posisi duduknya untuk memberikan kesan berkarisma. "Saya sudah minta Andre reservasi tempat khusus untuk kita malam ini. Le Ciel Restaurant, di lantai paling atas Grand Tower."

Naya membelalakkan matanya tipis. "Hah? Restoran Perancis yang makanannya cuma satu sendok tapi harganya seharga motor itu?"

"Itu restoran bintang lima paling eksklusif di kota ini, Naya," sahut Damar dingin namun bernada bangga. "Di sana suasana sangat tenang, pemandangan kota terlihat jelas dari atas, dan koki utamanya didatangkan langsung dari Paris. Makanan di sana sesuai dengan standar kelayakan keluarga Diksara."

Naya memutar bolak-balik matanya. Elah, si Mas Kulkas ini gaya hidupnya emang kaku banget kayak kanebo kering, batin Naya tertawa geli.

"Duh, Mas... jujur ya, saya tuh abis spa bukannya pengen makan daging setengah matang yang dihias daun imut-imut gitu. Saya ini lagi lapar berat! Kalau makan di restoran Perancis yang porsinya seuprit, yang ada saya malah kena angin duduk gara-gara kelaparan!" protes Naya blak-blakan.

Damar menoleh sekilas dengan dahi berkerut. "Lalu kamu mau makan apa? Saya sudah bayar biaya reservasinya, Naya."

"Batalin aja! Atau kasih ke sekretaris Andre suruh makan sama pacarnya!" seru Naya riang tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Pokoknya malam ini Mas Damar harus ikut aturan saya. Kita makan di tempat yang bener-bener nikmat, murah, meriah, dan porsinya bikin kenyang!"

"Di mana?" tanya Damar ragu.

Naya menunjuk ke arah jalanan sebelah kiri di depan mereka. "Tuh! Belok kiri! Ada tenda merah tulisan 'Pecel Lele & Ayam Penyet Mantap Jaya'! Kita makan di sana!"

Sreeek!

Damar refleks menginjak rem agak mendadak hingga mobil sport-nya berhenti di pinggir jalan. Pria CEO yang selalu berpakaian rapi itu menatap bingung ke arah luar jendela. Di pinggir jalan raya yang ramai, berdiri sebuah warung tenda bongkar-pasang dari kain terpal. Asap pembakaran ayam dan aroma gorengan membumbung tinggi ke udara, dikelilingi oleh deretan sepeda motor yang terparkir acak dan suara bising lalu lintas.

Wajah Damar mendadak pias. "Naya... kamu bercanda, kan? Kamu mau mengajak saya makan di pinggir jalan seperti itu?"

"Bercanda gimana? Itu tempat kuliner tersedap di muka bumi tahu!" balas Naya penuh semangat. Ia langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Damar menyetujuinya. "Ayo turun, Mas! Kalau kemalaman nanti bebek goreng sama sambal mangganya kehabisan!"

"Naya, tunggu!" panggil Damar. Namun Naya sudah melangkah keluar dengan gaya anggun sambil mengempit tas mewahnya dan membawa buket bunga mawar dari Damar.

Dengan perasaan campur aduk dan gengsi yang meronta-ronta di dalam dada, sang CEO Diksara Tower akhirnya terpaksa mematikan mesin mobil sport-nya. Ia merapikan kemeja putihnya, menggulung lengannya hingga siku, lalu turun dari mobil dengan langkah kaku bagaikan seorang prajurit yang mau masuk ke medan tempur.

Suasana di dalam warung tenda pecel lele sangat ramai. Beberapa pengunjung yang sedang asyik mengunyah mendadak menghentikan aktivitas makan mereka saat melihat sosok Damar dan Naya masuk. Bagaimana tidak? Naya tampak sangat memesona dan wangi dengan pakaian modisnya sambil memegang buket bunga mawar raksasa, sementara Damar terlihat seperti model majalah bisnis internasional yang tersesat di lapak pinggir jalan.

"Mas, duduk di sini!" panggil Naya seraya menepuk bangku plastik berwarna biru di sudut tenda.

Damar melangkah ragu. Ia menatap bangku plastik dan meja kayu yang dilapisi perlak bergambar logo minuman ringan. Pria itu menyapu permukaannya dengan pandangan menilai, seolah-olah sedang memeriksa tingkat kuman di laboratorium.

"Mas Kulkas, buruan duduk! Jangan berdiri kayak patung selamat datang begitu, dilihatin orang noh!" bisik Naya sambil menarik lengan baju Damar agar duduk.

Pasrah, Damar akhirnya duduk di bangku plastik tersebut. Kaki panjangnya yang terbiasa berselonjor di mobil mewah kini harus terlipat canggung di bawah meja kayu yang agak sempit.

Seorang pria paruh baya berkeringat yang memakai celemek lusuh datang menghampiri mereka membawa spidol dan kertas pesanan. "Mau pesan apa, Mbak, Mas? Ayam, lele, bebek, atau tahu tempe?"

"Pak! Saya pesan bebek goreng satu, lele goreng dua ekor yang garing, tahu tempe, cah kangkung terasi satu, sama nasi uduknya dua porsi!" pesannya Naya cepat dan sangat lancar. Naya lalu menoleh pada Damar. "Mas Damar mau lauk apa?"

Damar berdeham pelan, menatap penjual dengan wajah datarnya. "Saya... samakan saja dengan dia."

"Siap! Minumnya apa, Mas?"

"Es teh manis dua, Pak! Yang manisnya kayak saya ya!" sahut Naya terkekeh.

Penjual itu tertawa renyah lalu bergegas pergi ke area penggorengan.

Damar menatap Naya dengan alis terangkat. "Kamu yakin makanan di sini higienis? Asap jalanan dari tadi masuk ke dalam tenda."

Naya menyandarkan sikunya di atas meja kayu, menatap Damar dengan pandangan geli. "Aduh, Mas Damar Diksara yang terhormat... kumannya udah mati kebales minyak panas, tau! Lagian sesekali kotor dikit enggak bikin Mas mendadak amnesia kok. Hidup tuh jangan terlalu lurus dan terlalu steril, Mas. Nanti bosan!"

"Saya tidak bosan," sahut Damar menahan gengsinya.

"Ah masa?" goda Naya seraya memajukan wajahnya sedikit. "Kalo enggak bosan, kenapa pas Andre nawarin PDKT sama saya, Mas langsung setuju buat jemput di tempat spa dan beliin bunga segala?"

DEG!

Wajah Damar yang biasanya sedingin es batu mendadak menegang seketika. Manik matanya membelalak kaget. Bagaimanakah cewek di depannya ini bisa tahu percakapannya dengan Andre tadi siang?!

Naya yang melihat perubahan reaksi Damar langsung tertawa renyah sampai memegangi perutnya. "Bwahahaha! Muka Mas Damar langsung pucat pasi begitu! Tebakan saya bener, kan?! Mas pasti diajarin Andre cara PDKT ala cowok-cowok amatir, makanya tiba-tiba sok romantis ngasih bunga mawar segala!"

Damar dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah jalan raya, mengepalkan jemarinya di atas paha. Rasa malu dan gengsi yang luar biasa hebat menghantam dadanya. Pria itu menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, membiarkan telinganya yang memerah terlihat jelas di bawah remang lampu pijar warung tenda.

"Andre memang terlalu banyak bicara. Jangan kebiasaan percaya omong kosong dia," desis Damar dengan suara ketus yang dibuat-buat demi menutupi rasa gengsinya. "Saya beli bunga cuma karena kebetulan lewat toko bunga. Bukan karena mau mendekati kamu."

"Alah, ngeles aja terus kayak bajaj!" goda Naya makin girang melihat suaminya salah tingkah.

Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Dua piring nasi uduk hangat beraroma gurih, bebek goreng berkerak renyah, lele goreng garing, mangkuk berisi cah kangkung yang masih beruap, serta dua cobek batu berisi sambal terasi merah yang melimpah.

"Nah! Makanan surga sudah tiba!" seru Naya bersemangat.

Naya meraih mangkuk kecil berisi air dan potongan jeruk nipis di meja, lalu mencuci jarinya di sana. Ia melirik Damar yang masih mematung menatap cobek sambal di depannya.

"Mas, ngapain diam aja? Keburu dingin tuh," tegur Naya.

Damar meraih sendok dan garpu stainless yang disediakan di dalam wadah plastik, hendak memotong daging bebeknya. Namun, dengan cepat Naya merebut garpu dari tangan Damar.

"Aduh, Mas Kulkas! Makan pecel lele sama bebek di warung tenda kok pake garpu?! Dosa besar itu hukumnya!" bentak Naya pura-pura murka. "Nih, cuci tangan di mangkuk kobokan ini, terus makan pake tangan langsung! Rasanya dijamin naik sepuluh kali lipat!"

Damar menatap mangkuk kobokan berisi air dan sepotong jeruk nipis itu dengan pandangan ragu. Selama tiga puluh tahun hidupnya sebagai keturunan bangsawan bisnis, Damar tidak pernah menyentuh makanan menggunakan tangan telanjang tanpa sendok di tempat umum.

"Cepat, Mas! Mumpung nasinya masih hangat!" desak Naya seraya mempraktikkan cara makan menggunakan tangannya sendiri dengan sangat lahap. Ia mencubit sedikit nasi uduk, dicolekkan ke sambal terasi, lalu menyuapnya bersama daging bebek yang renyah. "Hmm! Nikmat banget!"

Melihat Naya yang makan dengan begitu menikmati dan tanpa beban, rasa penasaran dan gengsi Damar perlahan melumer. Dengan perlahan, sang CEO bertangan dingin itu mencelupkan jemarinya ke dalam mangkuk kobokan, mengeringkannya dengan tisu, lalu mulai mengambil sedikit nasi dan memotong daging bebek dengan jemarinya.

Damar menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Pedasnya sambal terasi, gurihnya nasi uduk, dan renyahnya daging bebek langsung meledak secara bersamaan di dalam inderanya.

Mata Damar melotot pelan. Ia terdiam mengunyah.

Naya tersenyum penuh kemenangan. "Gimana, Mas? Rasanya beda kan sama daging setengah matang di restoran bintang lima?"

Damar berdeham pelan, merapikan duduknya agar tetap terlihat berwibawa di depan Naya meskipun mulutnya kepedasan. "Biasa saja. Rasanya hanya gurih standar," sahut Damar kaku, mencoba menyembunyikan fakta bahwa lidahnya sangat menyukai makanan itu.

"Biasa saja tapi ngunyahnya laju banget gitu!" cibir Naya tertawa.

Selama tiga puluh menit berikutnya, pemandangan luar biasa terjadi di warung tenda pecel lele tersebut. Damar Diksara—seorang pengusaha paling disegani yang berjas mahal—tampak makan menggunakan tangan telanjang di samping Naya. Meskipun gengsinya masih setinggi langit, tangan pria itu tidak bisa bohong dan terus-menerus mengambil potongan lele garing dan mencolek sambal terasi hingga piringnya bersih licin.

Naya yang memperhatikan bibir Damar yang mulai memerah gara-gara kepedasan hanya bisa tertawa terkikik-kikik. Ia mengambil selembar tisu, lalu dengan gerakan spontan, Naya membungkuk sedikit dan menyapu sisa noda sambal yang menempel di sudut bibir Damar.

Sret...

Gerakan tangan Naya yang begitu cepat dan hangat di wajahnya membuat kunyahan Damar mendadak terhenti. Matanya menatap lurus ke dalam mata bulat Naya yang berada sangat dekat dengannya.

"Makanannya enak sih Mas, tapi lipstik sambalnya belepotan tuh di bibir," goda Naya dengan cengiran jenaka sebelum menarik kembali tangannya.

Damar mematung sejenak, memandangi wajah Naya yang tertawa tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Jantung di dalam dada pria itu mendadak berdebar dengan sangat kencang, dentumannya bahkan mengalahkan bisingnya suara kendaraan di jalan raya.

Di tempat yang sangat sederhana ini—di atas bangku plastik murah dan diiringi asap pembakaran—Damar Diksara akhirnya sadar bahwa dirinya telah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona istrinya sendiri. Namun, tentu saja gengsi besarnya menolak keras untuk menunjukkannya secara terang-terangan!

Saat selesai makan dan hendak membayar, Damar merogoh dompet mewahnya, memanggil penjual, lalu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu tanpa meminta kembalian.

Naya menatap Damar dengan alis terangkat saat mereka berjalan kembali menuju mobil. "Aduh Mas Kulkas... padahal makan pecel lele tadi totalnya cuma enam puluh ribu, Mas malah ngasih tiga ratus ribu tanpa kembalian. Gaya banget sih!"

Damar membukakan pintu mobil untuk Naya, lalu memasang raut wajah sok datar dan dinginnya kembali.

"Saya tidak biasa memegang uang kembalian kecil," sahut Damar beralasan, sambil memalingkan pandangannya ke luar jendela demi menutupi senyuman tipis yang hampir lolos dari bibirnya. "Lagipula... tempat ini tidak terlalu buruk. Lain kali kalau saya sedang berbaik hati, saya mungkin akan mengantar kamu makan di sini lagi."

Naya tertawa renyah seraya masuk ke dalam mobil. "Alasan aja! Bilang aja Mas ketagihan sambalnya tapi gengsi nakal!"

Damar menggepalkan tangannya di samping kemudi, menahan rasa panas di pipinya yang kembali membakar. Di dalam hatinya yang paling dalam, sang CEO gengsian itu diam-diam sudah bertekad: ia akan mencari ribuan alasan lain demi bisa terus menghabiskan waktu bersama istrinya, tanpa perlu menurunkan gengsinya sedikit pun!

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!