Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.
Di dalam sebuah kamar mewah berukuran besar dan juga luas, nampak beberapa pelayan berjejer dengan rapi di samping tempat tidur menanti majikan mereka sadarkan diri, setelah dua hari terbaring tak sadarkan diri akibat perbuatan konyolnya.
"Anda sudah sadar, nyonya." Seorang pelayan nampak mendekat ketika melihat majikannya membuka mata.
"Apa anda baik-baik saja, nyonya?." Pelayan tersebut nampak bingung melihat majikannya seperti orang linglung.
"Saya ada di mana? Kalian siapa?."
Empat orang pelayan sontak saling melempar pandangan satu sama lain.
Wanita cantik yang kini telah duduk bersandar pada headboard ranjang tersebut nampak mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Kamar mewah yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap serta keberadaan beberapa orang pelayan yang siap melayani. Mirip dengan khayalan wanita itu, bisa hidup senang dan tenang tanpa harus pusing-pusing mencari cara untuk mendapatkan uang demi melunasi semua hutang-hutang ayahnya.
"Apa aku sedang bermimpi?." Batinnya. Untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan, wanita itu lantas mencubit pipinya sendiri.
"Agh....." Rasanya sakit, dan itu artinya semua ini bukanlah mimpi.
"Panggil dokter kesini!." Titah kepala pelayan kepada pelayan lainnya ketika melihat kelakuan aneh majikannya itu.
"Baik."
Tak lama berselang, pelayan tadi kembali bersama seorang pria berjas putih lengkap dengan stetoskop yang menggantung pada lehernya, serta seorang pria tampan berkemeja hitam.
"Apa yang ingin anda lakukan, tuan?."
Pria berjas putih tersebut sontak mengernyitkan dahi saat menyadari keanehan dari pasien sekaligus istri dari sahabatnya itu.
"Anda tidak mengenali saya, nyonya Calista?."
"Calista?." Cicit wanita itu bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa pria ini memanggilku Calista?." batinnya.
"Cukup Calista! Jangan terus-terusan membuatku pusing dengan semua sikap konyol mu ini!." Pria tampan berkemeja hitam yang berdiri dengan posisi memeluk kedua tangan di dada tersebut lantas ikut bersuara dengan nada serta wajah datar.
Tak ingin sampai kepalanya pecah akibat kebanyakan berpikir, wanita itu lantas turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah cermin besar di ruangan tersebut.
"Argh......." Wanita itu berteriak histeris setelah melihat pantulan wajahnya sendiri, hingga semua yang ada di kamar itupun dibuat terkejut dengan suara teriakannya.
"Apa kamu ingin kami semua mati karena serangan jantung akibat suara teriakanmu itu." Cetus pria tampan yang kini telah berdiri tak jauh dari wanita itu.
Wanita itu terdiam seribu bahasa, hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini.
"Sebaiknya kita biarkan dulu nyonya Calista beristirahat! Mungkin nyonya Calista masih syok dengan kejadian dua hari lalu sehingga sikap beliau jadi aneh begini." Dokter menyarankan kepada semua orang meninggalkan wanita itu sendiri untuk menenangkan diri.
Sepeninggal semua orang, wanita itu duduk ditepi tempat tidur, berusaha mengingat-ingat kembali apa yang sebenarnya terjadi sehingga jiwanya bisa terjebak di raga orang lain.
Malam itu.
Suara keributan dari dalam rumah sederhana yang ditinggali bersama kedua orang tua serta adiknya, berhasil membuat langkah Diva terhenti dengan jarak beberapa meter dari pintu. Situasi seperti ini hampir setiap malam menyambut kepulangan Diva, usai seharian bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
"Kapan kamu akan membayar hutang-hutangmu, hah?."
Diva kenal betul dengan pemilik suara itu, seorang lintah darat tempat ayahnya sering meminjam uang untuk bermain judi.
"Saya belum punya uang sekarang, tapi saya janji akan segera melunasi hutang-hutang saya. Sungguh..." Diva hanya bisa menghela napas berat mendengar janji ayahnya dihadapan si lintah darat. Kalau sudah begini, pasti dirinya yang akan dipaksa mencari uang untuk melunasi hutang-hutang ayahnya bagaimanapun caranya.
"Prang."
Diva tak sengaja menjatuhkan pot bunga yang ada dihalaman depan sehingga memancing suara yang mampu mengalihkan perhatian si lintah darat ke arah gadis itu.
Wajah Diva langsung pucat pasi menyadari senyuman licik serta tatapan penuh damba dari sorot mata pria berusia paruh baya tersebut
Tanpa berpikir panjang Diva langsung berlari menjauh, namun si lintah darat langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Diva. Saking paniknya saat berlari, gadis itu sampai tidak menyadari keberadaan sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya.....
"Argh......." Diva berteriak saat mobil tersebut tiba-tiba menghantam tubuhnya dengan keras.
Tubuh Diva terpental hingga beberapa meter dari lokasi kejadian. setelah itu, Diva tak lagi mengingat apapun hingga akhirnya ia terbangun di raga orang lain.
Diva, gadis muda berusia dua puluh dua tahun yang kini terjebak di dalam raga wanita cantik bernama Calista, nampak bangkit dari duduknya dan kembali melangkah ke depan cermin. Kalau dilihat dari segi wajah serta keseluruhan penampilannya, Diva bisa menebak bahwa pemilik raga ini berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Cantik dan mempesona, itulah kesan pertama yang dapat dilihat oleh Diva setelah pertama kali melihat pantulan wajahnya di depan cermin.
"Bagaimana dengan ragaku? Apa akibat kejadian malam itu aku meninggal dunia?." Gumam Diva dengan wajah sedihnya. Gadis itu tiba-tiba teringat pada raganya.
"Aku harus kembali ke kota asalku, aku harus tahu apa yang telah terjadi padaku." Diva berusaha memutar otak agar bisa segera kembali ke kota asalnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada raganya di sana.
Fokus Diva teralihkan ketika mendengar derit pintu dibuka dari arah luar. Seorang pelayan membawa nampan berisi segelas susu.
"Di minum dulu susunya, Nyonya!." kata pelayan tersebut setelah meletakkan gelas susu ke atas nakas.
Saat ini Diva tidak punya pilihan lain selain mengulik sedikit informasi tentang sosok pemilik raga yang dihuni oleh jiwanya sekarang ini. Karena kini, menangis hingga mata keluar dari rongga nya pun rasanya tidak akan ada gunanya menurut Diva.
"Kamu mau pergi kemana?."
"Mau kembali ke dapur, nyonya."
Diva beranjak naik ke tempat tidur lalu berkata pada pelayan.
"Kakiku sedikit pegal, boleh tolong pijitin!." Pinta Diva yang sebenarnya sungkan. Sebenarnya kakinya tidak benar-benar pegal, Diva hanya ingin mengulik sedikit informasi tentang Calista dari pelayan tersebut. Kalau Diva tidak mengulik informasi tentang pemilik raga itu, lalu bagaimana ia bisa menjalani kehidupannya selama berada di rumah itu.
"Tentu saja, nyonya." Pelayan tersebut lantas mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur kemudian mulai memberi pijatan lembut pada kaki majikannya.
Diva bingung harus memulai dari mana. Untungnya pelayan tersebut tiba-tiba berkata.
"Sebenarnya tuan Elio mencintai anda, hanya saja beliau kurang nyaman dengan sikap posesif anda, nyonya. Kami pun para pelayan di rumah ini sangat menyayangi anda, jadi jangan lagi melakukan hal-hal konyol seperti dua hari yang lalu, nyonya Calista. Untungnya kata dokter racun yang anda minum tidak sampai merusak organ vital anda, nyonya."
Deg.
Diva sampai tidak bisa berkata-kata. Ternyata pemilik raga itu melakukan percobaan bun-uh diri. Sungguh, Diva tak habis pikir dengan pola pikir wanita bernama Calista itu, bisa-bisanya berpikiran pendek seperti itu hanya karena posesif pada seorang pria. Dirinya saja yang hampir hancur-hancuran menjalani kerasnya hidup, tidak sedikitpun berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
"Suami anda adalah pria yang baik, dan saya pribadi yakin bahwa tuan Elio tidak akan pernah mengkhianati anda, nyonya. Sungguh, sikap posesif anda selama ini terlalu berlebihan, nyonya. Maaf jika saya sudah terlalu lancang, nyonya." Karena rasa sayangnya terhadap majikannya itu, pelayan tersebut memberi sedikit nasehat.
"Tidak perlu minta maaf! Saya mengerti, kamu melakukan semua ini karena kamu sayang pada saya." Balas Diva dengan seulas senyum.
Jujur, pelayan tersebut terkejut melihat majikannya itu tersenyum, padahal biasanya wanita itu akan marah dan tidak mau menerima nasehat dari siapapun, terlebih dari seorang pelayan sepertinya.
"Cukup! Terima kasih. Silahkan melanjutkan pekerjaan kamu!." Cukup sampai di sini saja dulu mengulik informasi tentang Calista. Jika ia terus bertanya, bisa saja pelayan itu akan menaruh curiga terhadapnya.
"Baik, nyonya." Pelayan tersebut membungkukan badan singkat sebelum berlalu.
Selamat datang di karya baru aku. Untuk pertama kalinya aku menulis karya bergenre fantasi. Semoga kalian suka ya....
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣