Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Neraka x Rencana Busuk 2
Pemirsa, kami sampaikan berita sela. Telah terjadi gempa bumi berkekuatan sangat besar yang berpusat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Getaran gempa dilaporkan terasa sangat kuat hingga menyapu wilayah pesisir Sumatera, termasuk Sumatera Utara..." suara reporter berita di televisi terdengar tegang, diiringi rekaman amatir warga yang berlarian panik.
Suasana kantin mendadak senyap. Sendok di tangan Poltak terlepas, jatuh berdenting menabrak piring kaca. Wajah Poltak yang tadinya ceria berubah pias dalam hitungan detik.
"Medan..." bisik Poltak dengan bibir bergetar. "Ompungku... Bapak Mamakku di Medan, Za!"
Rasa panik yang luar biasa langsung menguasai pemuda bertubuh besar itu. Di era di mana ponsel genggam (HP) masih merupakan barang mewah dan sinyal seringkali kembang kempis, menghubungi luar pulau di saat bencana adalah sebuah mimpi buruk. Apalagi, HP Poltak sedang disita oleh bapaknya karena tagihan pulsa bulan lalu membengkak akibat Poltak sering chatting premium.
"Woy, Tak! Lo mau ke mana?!" teriak Reza saat melihat Poltak tiba-tiba bangkit dan berlari sekencang-kencangnya keluar kantin.
"Wartel, Za! Aku harus telepon rumahku sekarang!"
Reza langsung meninggalkan sisa nasi gilanya dan berlari mengejar sahabatnya itu. Mereka berdua melesat membelah kampus menuju Warung Telekomunikasi (Wartel) Koperasi Mahasiswa yang terletak di dekat stasiun UI.
...
Wartel kampus saat itu penuh sesak, namun melihat Poltak yang menerobos masuk dengan mata melotot dan napas memburu seperti banteng mengamuk, beberapa mahasiswa otomatis minggir, memberikan bilik nomor satu untuknya. Bau khas karpet lembap dan pengharum ruangan wangi apel murahan menyambut mereka.
Poltak mengangkat gagang telepon hijau yang lengket, tangannya bergetar hebat saat menekan kode area 061 diikuti nomor telepon rumah keluarganya.
Tuut... tuut... tuut...
Suara nada sambung terdengar menyiksa. Setiap detiknya terasa seperti berjam-jam. Reza berdiri di luar bilik kaca yang setengah terbuka, memegang bahu Poltak untuk menenangkannya.
"Angkat, Mak... tolong angkat..." gumam Poltak, matanya mulai berkaca-kaca. Ingatannya melayang pada kakek dan neneknya (Ompung) yang tinggal di daerah pesisir yang seringkali rawan terkena dampak gempa.
Klak. Sambungan diterima.
"Halo?!" teriak Poltak nyaris merobek membran speaker telepon. "Mak?! Ini Poltak! Mak aman?! Ompung cemana kabarnya?!"
Dari seberang sana, terdengar suara ibunda Poltak yang justru terdengar santai, diiringi suara denting piring. "Bah, kau ini Poltak! Bikin kaget Mamak aja teriak-teriak! Aman kami di sini, Nak! Memang goyang tadi lampu kristal di ruang tamu, sampai pusing kepalaku. Tapi kata Bapakmu cuma gempa kiriman dari ujung pulau."
Poltak merosot lemas hingga berlutut di lantai bilik wartel, gagang telepon masih menempel di telinganya. Air mata lega mengalir deras membasahi pipinya yang lebam bekas insiden demo. "Puji Tuhan... Ompung di kampung aman, Mak?"
"Aman! Baru aja Mamak telepon Ompungmu. Lagi asyik makan duren dia di teras, katanya goyang dikit nggak apa-apa asal durennya nggak jatuh ke tanah!" omel ibunya, khas emak-emak Medan yang tangguh di segala cuaca. "Udah ya, jangan kau boros-boros telepon interlokal. Belajar yang rajin kau di situ!"
Telepon ditutup. Argometer digital di mesin wartel menunjukkan angka Rp 4.500. Poltak meletakkan gagang telepon dan bersandar di dinding bilik, mengusap air matanya dengan lengan baju.
Reza berjongkok di sampingnya, tersenyum lega. "Aman, Tak?"
Poltak mengangguk lemah, menarik napas panjang. "Aman, Za. Cuma gempa terasa aja di tempat keluargaku. Ompungku malah lagi makan duren katanya. Kurang ajar memang jantungku ini, rasanya mau copot."
Melihat ketegangan sahabatnya sudah mereda, insting humor Reza muncul untuk mencairkan suasana yang terlalu dramatis ini. Ia sengaja menghela napas panjang dan berdecak pinggang.
"Syukurlah kalau keluarga lo aman semua, Tak," kata Reza dengan nada dibuat-buat sedih. "Tapi, ada satu tragedi yang lo lupakan."
Poltak mendongak kaget. "Tragedi apa, Za?! Ada yang rubuh di kampus?!"
Reza menggeleng dramatis. "Bukan. Tragedi batalnya anak kampung main ke Plaza Senayan. Gagal sudah gue ngerasain AC mall Blok M hari ini gara-gara lo panik nyungsep di Wartel. Mana tiket Busway khayalan kita hangus lagi."
Poltak terdiam sejenak mencerna ucapan Reza, sebelum akhirnya tertawa ngakak. Tawa baritonnya yang menggelegar kembali memenuhi ruangan wartel, membuat kasir wartel menatap mereka dengan kesal.
"Dasar kau perhitungan kali, Kawan!" Poltak meninju lengan Reza pelan. "Ya sudahlah, nggak usah ke mal kita hari ini. Karena aku lagi bersyukur, malam ini ku- booking Warkop tempatmu kerja! Bikin mi paling enak sedunia buat aku!"
Reza nyengir. "Siap, Bos. Asal jangan utang aja bayarnya."
Malam itu, dunia terasa lebih ringan. Reza kembali bekerja di Warkop Berkah dengan perasaan lepas. Karena beban ujian telah usai, ia mengambil shift penuh hingga pagi. Tangannya dengan lincah mengaduk panci, membalikkan telur, dan menyeduh kopi. Malam itu, Poltak benar-benar menepati janjinya, nongkrong di warkop sampai subuh menemani Reza sambil menceritakan silsilah keluarga marga Hasibuan yang tak ada habisnya.