NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 — Mahkota Sang Juara

Upacara penobatan juara Kingdom Tournament diadakan sore itu juga, dengan seluruh delegasi kerajaan dan sekte berkumpul di podium utama arena untuk menyaksikan momen puncak dari perayaan sepuluh tahunan ini.

Raja Valtherion sendiri yang memberikan mahkota kehormatan kepada Kael—bukan mahkota kerajaan sungguhan, melainkan simbol kemenangan berupa lingkaran logam berukir yang melambangkan status juara, dihiasi permata kecil yang berkilau mewakili setiap kerajaan yang berpartisipasi dalam turnamen.

"Kael dari Heavenly Sword Sect," Raja Valtherion mengumumkan dengan suara yang menggelegar ke seluruh arena, "atas kemenangan gemilangmu dalam Kingdom Tournament tahun ini, kau berhak atas hadiah utama: kesempatan untuk bergabung dengan sekte mana pun pilihanmu, tanpa memandang kerajaan asal, beserta gelar kehormatan Juara Kerajaan yang akan diakui di seluruh Elyndra."

Kael membungkuk hormat menerima mahkota itu, merasakan berat simbolis dari pencapaian yang baru saja dia raih. "Aku menghargai kehormatan ini, Yang Mulia. Namun aku sudah menemukan tempatku di Heavenly Sword Sect, dan aku memilih untuk tetap di sana."

Keputusan itu disambut dengan sorak-sorai dari delegasi Heavenly Sword Sect yang hadir, termasuk Sect Master Aldric yang tersenyum puas melihat keputusan Kael untuk tetap setia kepada sekte yang telah memberinya kesempatan pertama di dunia ini.

Setelah upacara resmi selesai, perayaan berlanjut hingga malam hari, dengan pesta besar yang diadakan di seluruh Grandis untuk merayakan berakhirnya turnamen.

Kael menghabiskan waktu berkeliling, menerima ucapan selamat dari berbagai delegasi, termasuk Ragna yang menepuk punggungnya cukup keras hingga hampir membuatnya tersungkur, dan Theron yang memberikan senyum tipis penuh rasa terima kasih yang tulus atas janji bantuan yang telah diberikan kepadanya.

"Tetua Elena mengirim kabar," Theron berbisik ketika mereka berdua menemukan momen pribadi di tengah keramaian pesta.

"Dia berhasil melacak lokasi tempat mereka menahan Lyanna. Sebuah benteng tersembunyi di pegunungan sebelah utara, di luar wilayah kekuasaan Valtherion."

Kael merasakan campuran kelegaan dan kekhawatiran mendengar kabar itu. "Kapan kita bisa mulai bergerak?"

"Tetua Marcus menyarankan kita menunggu beberapa hari lagi, sampai perhatian publik terhadap turnamen mulai mereda," Theron menjawab.

"Bergerak terlalu cepat setelah kemenanganmu bisa menarik perhatian yang tidak diinginkan."

"Aku mengerti," Kael mengangguk, meski hatinya tidak sabar untuk segera membantu menyelamatkan adik Theron dari cengkeraman Dravos.

Di sudut lain pesta, Lyra menemukan Kael untuk mengucapkan selamat tinggal sementara, karena delegasi Sylvariel Kingdom akan kembali ke Sylvaria keesokan paginya.

"Aku senang bisa bertemu denganmu, Kael," katanya dengan senyum tulus.

"Aku berharap jalan kita akan bersilangan lagi di masa depan."

"Aku juga berharap begitu," Kael menjawab jujur.

"Terima kasih untuk pertarungan yang luar biasa, dan untuk percakapan malam itu."

Lyra tersenyum lebih lebar, matanya berkilat dengan sesuatu yang hangat dan penuh makna. "Jika kau pernah membutuhkan bantuan, atau sekadar ingin mengunjungi Sylvaria, kau akan selalu diterima dengan hangat di sana."

"Aku akan mengingatnya," Kael berkata, membungkuk hormat saat Lyra berbalik pergi bergabung kembali dengan delegasinya.

Ketika malam semakin larut dan pesta mulai mereda, Kael akhirnya menemukan waktu untuk duduk sendirian di balkon pavilionnya, menikmati ketenangan setelah hari yang begitu penuh dengan kegembiraan dan kelegaan.

Seraphina bergabung dengannya tidak lama kemudian, membawa dua cangkir teh hangat yang entah bagaimana dia dapatkan di tengah keramaian pesta.

"Selamat, Juara Kerajaan," katanya dengan senyum tulus, menyerahkan salah satu cangkir kepada Kael.

"Terima kasih," Kael menjawab, menerima cangkir itu dengan senyum lelah namun puas.

"Rasanya masih tidak nyata."

"Kau pantas mendapatkannya," Seraphina berkata, duduk di sebelahnya menikmati pemandangan Grandis yang masih dipenuhi cahaya perayaan di kejauhan. "

Aku masih ingat pemuda yang membangunkanku dengan darahnya di dungeon gelap beberapa bulan lalu. Kau sudah berkembang jauh melampaui itu."

"Kita berdua sudah berkembang," Kael mengoreksi dengan lembut. "Kau juga sudah kembali menemukan kekuatanmu sendiri sedikit demi sedikit sejak saat itu."

Seraphina tersenyum, meski ada bayangan kekhawatiran yang masih tersisa di matanya. "Aku dengar tentang rencana penyelamatan Lyanna. Kau yakin ingin terlibat langsung dalam hal ini, mengingat kemungkinan Dravos akan menggunakan kesempatan itu untuk menjebakmu?"

"Aku sudah berjanji kepada Theron," Kael menjawab tegas.

"Dan lagipula, cepat atau lambat kita harus menghadapi Dravos secara langsung. Lebih baik kita yang memilih kapan konfrontasi itu terjadi, daripada menunggu dia menyerang kita tanpa persiapan."

Seraphina menghela napas, mengakui kebenaran dalam kata-katanya meski kekhawatirannya tidak sepenuhnya hilang.

"Baiklah. Tapi kali ini, aku akan ikut secara langsung, bukan hanya mengawasi dari kejauhan. Aku sudah cukup pulih untuk bertarung jika diperlukan."

"Aku menghargai itu," Kael berkata, menggenggam tangannya sejenak dalam gestur yang telah menjadi kebiasaan mereka untuk saling menenangkan.

Mereka duduk bersama menikmati sisa malam itu, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit Grandis, merayakan kemenangan yang telah diraih sambil mempersiapkan diri untuk tantangan berikutnya yang pasti akan datang.

Jauh di utara, tersembunyi di antara pegunungan yang jarang dijamah manusia biasa, seorang gadis muda dengan rambut cokelat gelap duduk meringkuk di sudut sel batu yang dingin, matanya menatap ke luar jendela kecil berjeruji ke arah bulan yang sama yang menyinari Kael dan Seraphina di Grandis.

"Kakak," bisiknya pelan, suaranya bergetar dengan harapan yang mulai pudar namun belum sepenuhnya padam, "kumohon, cepatlah datang."

Tidak jauh dari selnya, di ruangan yang lebih megah namun tidak kalah suram, Dravos menatap ke arah cermin gelapnya sendiri, menunggu dengan kesabaran yang telah teruji selama seribu tahun, mengetahui bahwa cepat atau lambat, sang juara baru Elyndra akan datang langsung ke sarangnya sendiri.

 

Tiga hari setelah upacara penobatan, ketika perhatian publik terhadap Kingdom Tournament mulai beralih ke berita dan gosip lain di Grandis, Tetua Marcus akhirnya memanggil Kael, Seraphina, dan Theron untuk pertemuan strategi terakhir sebelum operasi penyelamatan Lyanna dimulai.

"Tetua Elena telah menyelesaikan pelacakannya," Tetua Marcus memulai, membentangkan sebuah peta besar di atas meja ruang pertemuan tertutup itu.

"Lokasinya adalah sebuah benteng kuno di Pegunungan Aschen, sekitar sepuluh hari perjalanan ke utara dari Grandis, di luar wilayah kekuasaan resmi Valtherion."

Kael mempelajari peta itu dengan seksama, memperhatikan medan pegunungan yang tampak sulit dan berbahaya bahkan hanya dari representasi kasar di atas kertas. "Seberapa besar kekuatan yang menjaga benteng itu?"

"Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan Tetua Elena melalui jaringan mata-mata sekte," Tetua Marcus melanjutkan, "benteng itu dijaga oleh setidaknya dua puluh kultivator tingkat Qi Gathering hingga Spirit Core, dengan kemungkinan penjaga yang lebih kuat tersembunyi di dalam."

"Dan Dravos sendiri?" Seraphina bertanya, suaranya tegang dengan campuran harapan dan ketakutan mendengar kemungkinan bertemu musuh lamanya secara langsung.

"Tidak ada indikasi jelas bahwa dia berada di lokasi itu secara pribadi," Tetua Marcus menjawab.

"Kemungkinan besar dia mengawasi dari jarak jauh, menggunakan bawahannya untuk menjalankan operasi sehari-hari."

Theron, yang sejak awal pertemuan tampak gelisah, akhirnya angkat bicara. "Aku ingin ikut dalam misi ini. Dia adikku. Aku tidak bisa hanya menunggu di sini sementara orang lain mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya."

"Tentu saja kau akan ikut," Kael menjawab tanpa ragu.

"Kau tahu benteng itu lebih baik dari siapa pun berkat informasi dari medali pelacak itu, dan ini keluargamu."

Tetua Marcus mengangguk setuju. "Sekte akan mengirimkan tim kecil untuk mendukung misi ini—selain kalian bertiga, aku akan menyertakan dua tetua tingkat menengah yang berpengalaman dalam operasi penyelamatan semacam ini, serta beberapa murid Elite Disciple yang telah menunjukkan kemampuan luar biasa selama turnamen."

"Termasuk Aria?" Kael bertanya, teringat rekan sekte-nya yang telah menjadi teman dekat sejak dia bergabung dengan Heavenly Sword Sect.

"Dia sudah mengajukan diri secara sukarela begitu mendengar tentang misi ini," Tetua Marcus menjawab dengan senyum kecil.

"Sulit menolak semangatnya yang begitu besar."

Persiapan berlangsung intensif selama dua hari berikutnya.

Kael menghabiskan waktu untuk memastikan peralatannya siap—memperbarui pedangnya dengan bantuan pandai besi terbaik sekte, mengumpulkan ramuan penyembuhan darurat, dan berlatih lebih jauh dengan Tebasan Seribu Prajurit yang kini telah mencapai tingkat Mahir yang cukup tinggi.

Seraphina, sementara itu, menghabiskan waktunya bermeditasi lebih dalam, mencoba memulihkan sebanyak mungkin kekuatan Domain Realm miliknya yang sempat menurun akibat seribu tahun tertidur.

Setiap hari, dia bisa merasakan kekuatannya perlahan kembali, meski dia tahu dia masih jauh dari puncak kemampuannya yang sesungguhnya.

"Aku merasa hampir seperti diriku yang dulu," katanya suatu malam kepada Kael, setelah sesi meditasi yang panjang.

"Meski masih ada jarak yang harus kutempuh untuk benar-benar pulih sepenuhnya."

"Kau sudah luar biasa kuat sekarang," Kael menjawab dengan tulus, mengingat berbagai momen ketika dia merasakan aura Seraphina yang semakin kuat dan stabil sejak pertama kali mereka bertemu.

"Cukup kuat untuk membantu menyelamatkan Lyanna," Seraphina berkata dengan tekad yang jelas.

"Dan cukup kuat untuk akhirnya menghadapi Dravos jika kesempatan itu muncul."

Aria bergabung dengan mereka pada hari ketiga persiapan, membawa semangat dan optimisme yang menjadi ciri khasnya.

"Aku sudah tidak sabar untuk misi ini," katanya sambil memeriksa peralatannya sendiri.

"Meski aku berharap situasinya tidak akan seburuk yang dikhawatirkan Tetua Marcus."

"Aku juga berharap begitu," Kael menjawab, meski firasatnya mengatakan sebaliknya berdasarkan semua yang telah mereka pelajari tentang Dravos dan jaringannya yang luas.

Pada hari keberangkatan, tim kecil itu berkumpul di gerbang utara Grandis saat fajar menyingsing.

Selain Kael, Seraphina, Theron, dan Aria, dua tetua tingkat menengah bernama Falken dan Miriel bergabung sebagai pendukung senior, membawa pengalaman bertahun-tahun dalam operasi berbahaya semacam ini.

"Ingat," Tetua Falken berkata sebelum mereka berangkat, "prioritas utama kita adalah menyelamatkan Lyanna dengan aman.

Konfrontasi langsung dengan Dravos, jika memang dia hadir, bukanlah tujuan misi ini kecuali benar-benar tidak terhindarkan."

"Dipahami," Kael mengangguk, meski dia tahu di dalam hatinya bahwa jika kesempatan untuk mengakhiri ancaman Dravos secara permanen muncul, dia tidak akan ragu untuk mengambilnya, terutama demi keselamatan Seraphina di masa depan.

Mereka mulai perjalanan menuju utara, meninggalkan kemegahan Grandis di belakang mereka, menuju medan pegunungan yang berbahaya dan penuh ketidakpastian.

Sepuluh hari perjalanan yang menanti akan menguji tidak hanya kekuatan fisik mereka, tetapi juga ikatan yang telah terbentuk di antara kelompok kecil yang bertekad menghadapi kejahatan yang telah bersembunyi terlalu lama.

Di belakang mereka, kota Grandis perlahan menghilang di balik cakrawala, sementara di depan, pegunungan Aschen yang diselimuti kabut misterius menunggu dengan segala rahasia dan bahaya yang tersembunyi di dalamnya—termasuk kemungkinan pertemuan yang akan mengubah segalanya bagi Kael, Seraphina, dan takdir Elyndra secara keseluruhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!