NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21.Kue pancong lagi

Matahari pagi menyinari celah-celah gorden kamar utama mansion Diksara dengan terang. Namun, suasana di dalam ruangan super mewah itu justru terasa sedingin es batu di kutub utara.

Damar membuka matanya perlahan, merasakan pegal di lehernya akibat posisi tidur yang serba salah. Hal pertama yang ia lihat bukanlah wajah damai istrinya, melainkan dinding pembatas empuk berupa dua buah guling besar yang tersusun vertikal dengan sangat rapat. Guling itu membelah tempat tidur king-size menjadi dua wilayah kekuasaan yang terisolasi total, persis seperti zona demiliterisasi.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mendengkus keras. Semalaman penuh ia nyaris tidak bisa memejamkan mata. Bayang-bayang senyuman savage Naya terus berputar di kepalanya, mengejek kebodohannya sendiri. Rasa gengsi yang selama ini menjadi perisai hidupnya kini benar-benar berubah menjadi bumerang paling mematikan yang menghantam ulu hatinya.

Di sisi seberang guling, Naya sudah terlebih dahulu bangun. Cewek itu sedang duduk bersila di tepi tempat tidur, merapikan rambut panjangnya sambil bersenandung kecil menyanyikan lagu-lagu pop dengan nada yang sengaja ia buat seriang mungkin.

Mendengar suara Naya yang tampak begitu santai tanpa beban, dada Damar terasa semakin sesak. Pria itu bangkit dari tidurnya, merapikan selimutnya dengan gerakan kaku, lalu melangkah turun dari ranjang tanpa membuka suara.

"Pagi, Mas Kulkas!" sapa Naya dengan nada manis yang sengaja dilebay-lebaykan begitu melihat Damar bangkit. "Tidur nyenyak? Atau terganggu karena ada 'SOP perbatasan' di antara kita?"

Damar menghentikan langkahnya di dekat pintu kamar mandi, menoleh ke arah Naya dengan tatapan tajam—usaha keras untuk mempertahankan wibawa CEO-nya yang sudah babak belur.

"Naya, lelucon guling ini sudah keterlaluan," ucap Damar dengan suara beratnya, berusaha terdengar mengintimidasi. "Ini kamar utama kita, bukan garis perbatasan negara."

Naya memutar bola matanya malas, lalu melipat tangan di depan dada dengan gaya angkuh yang menggemaskan. "Siapa juga yang sedang melawak, Mas? Ini bentuk kepatuhan total saya terhadap instrumen hukum dan strategi bisnis yang Mas buat sendiri. Biar tidak ada emosi impulsif, ingat? Biar semuanya sesuai hitam di atas kertas!"

Skakmat telak. Damar kembali kehilangan kata-katanya. Pria itu mengepalkan rahangnya, menatap Naya tajam selama beberapa detik sebelum akhirnya memilih berbalik dan membanting pintu kamar mandi.

Brak!

Dari balik pintu, Naya terkikik pelan sambil membekap mulutnya dengan bantal. Rasain tuh! Makanya, kalau ngomong di depan investor jangan sok paling strategis dan dingin. Hadapi tuh guling sakti mandraguna bikinan gue! batin Naya puas.

Setengah jam kemudian, suasana di ruang makan lantai bawah tidak kalah menegangkan.

Mamah Ratna sudah duduk anggun di kursinya, menyesap teh chamomile dengan tatapan mata elang yang tajam. Wanita paruh baya itu sebenarnya sudah mulai sedikit melunak di dalam hati sejak melihat Naya yang mandiri, tapi gengsinya sebagai Nyonya Besar Diksara membuatnya tetap memasang wajah judes dan angkuh. Ia belum sepenuhnya menyetujui kehadiran Naya, dan ia bertekad untuk terus pura-pura tidak suka demi menjaga jarak.

Naya turun dari tangga dan langsung duduk di kursinya. Bukannya merasa terintimidasi oleh tatapan sinis sang ibu mertua, Naya justru membalasnya dengan senyuman lebar tak berdosa, lalu mulai menyendok sereal ke dalam mangkuknya dengan semangat.

Bagus deh si Mamah balik judes, batin Naya sambil mengunyah serealnya dengan nikmat. Gue malah lebih suka dia begini daripada sok akrab. Kalau dia judes, gue berasa balik ke habitat asli gue. Nyaman, damai, dan bisa mode 'savage' kapan aja!

Tak lama kemudian, Damar muncul di ruang makan. Wajah pria itu ditekuk kaku, langkahnya gontai, dan aura di sekitarnya terasa sangat suram layaknya orang yang baru saja kehilangan tender puluhan triliun. Ia duduk di ujung meja, menuangkan kopi hitam, dan menyeruputnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Mamah Ratna melirik putranya dengan ekor mata. Sebagai seorang ibu, instingnya sangat tajam. Walaupun ia berpura-pura tidak peduli, Mamah Ratna bisa melihat dengan jelas ada yang berubah dari Damar. Sorot mata Damar yang biasanya hanya memancarkan ambisi bisnis, kini dipenuhi rasa frustrasi setiap kali melirik Naya yang sedang asyik makan sereal.

Anak ini... batin Mamah Ratna menilai dalam diam. Jangan-jangan dia mulai beneran tertarik sama perempuan bar-bar ini? Gengsinya saja yang setinggi langit.

Untuk menguji putranya sekaligus menunjukkan eksistensinya yang masih belum menerima Naya, Mamah Ratna meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi dentingan yang cukup keras.

"Damar," panggil Mamah Ratna dengan nada tinggi yang sengaja dibuat angkuh. "Nanti malam kamu kosongkan jadwal. Mamah sudah mengundang Lea untuk makan malam di restoran langganan kita."

Mendengar nama 'Lea' disebut, Naya hanya mengangkat sebelah alisnya, sama sekali tidak peduli. Ia malah menambahkan ekstra susu ke dalam serealnya, siap menikmati drama pagi hari layaknya menonton serial televisi.

"Lea ingin menyambung kembali tali silaturahmi," lanjut Mamah Ratna tanpa memedulikan kehadiran Naya. "Mamah rasa dia gadis yang tepat untuk keluarga kita. Cantik, berkelas, elegan, dan sejajar. Kalian bisa membahas banyak hal. Setidaknya, kamu butuh teman diskusi yang selevel, bukan cuma yang mementingkan status di atas kertas."

Kalimat terakhir itu jelas diarahkan sebagai sindiran tajam untuk Naya. Naya hanya tersenyum mengulum tawa, sama sekali tidak tersinggung.

Namun, reaksi Damar justru berbanding terbalik. Pria itu meletakkan cangkir kopinya dengan bantingan pelan. Rahangnya mengeras, dan kilat kemarahan yang sangat dingin terpancar dari kedua matanya. Semalam, Damar baru saja menemukan bukti digital yang valid bahwa Lea adalah dalang di balik kemunculan Bagas—mantan kekasih Naya yang tidak tahu malu—beberapa waktu lalu. Lea sengaja membayar Bagas demi mengacaukan mental Naya dan merusak rumah tangganya.

"Ma, Damar tegaskan sekali lagi," potong Damar dengan suara berat yang menggelegar tertahan, membuat suasana ruang makan mendadak beku. "Jangan pernah sebut nama Lea di rumah ini, apalagi mencoba mengundangnya untuk makan malam."

Mamah Ratna sedikit terkejut melihat reaksi keras putranya, namun ia tetap mempertahankan dagunya yang terangkat. "Kenapa? Lea itu wanita yang baik dan dari keluarga terpandang—"

"Baik?" sela Damar sambil tertawa sinis, tawa dingin yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Dia wanita paling licik dan manipulatif yang pernah ada. Jangan pernah bawa-bawa nama perempuan itu ke hadapan saya, Ma."

Naya yang sedang mengunyah sereal mendadak berhenti. Wah, sensi banget si Mas Kulkas kalau denger nama Lea. Padahal kan tinggal bilang 'gak suka' aja, kok ya sewotnya kayak kebakaran jenggot, batin Naya menyipitkan mata penuh selidik.

Mamah Ratna terdiam kaku, harga dirinya tercoreng karena penolakan mentah-mentah itu. Ia memilih membuang muka dan menyesap tehnya lagi demi menutupi rasa malu.

Melihat Naya menatapnya dengan pandangan penuh selidik dari ujung meja, Damar mendadak salah tingkah. Pria itu khawatir Naya akan salah paham atau—amit-amit—geer dan mengira dirinya cemburu buta karena membela sang istri. Dengan gengsi setinggi langit, Damar langsung buru-buru memasang wajah sok cuek dan mencari-cari alasan lain untuk menutupi rasa gugupnya.

"Dan untuk kamu, Naya!" sentak Damar tiba-tiba, mengalihkan kemarahannya kepada sang istri dengan nada dibuat-buat dingin.

Naya yang sedang asyik makan sereal langsung mengerjap kaget. "Hah? Saya? Kenapa lagi, Mas?"

Damar berdiri dari kursinya, merapikan jasnya dengan gerakan kaku yang berlebihan demi menutupi kegugupannya. "Jangan mengira karena saya menolak Lea, berarti saya memihak kamu! Saya tidak suka perempuan drama yang hobinya membuat keributan di media sosial atau mengundang masalah tidak berfaedah! Jadi, jangan GR ya kamu!"

Naya langsung melongo, lalu mendengkus keras sambil memutar bola matanya jengah. Dih, si Mas Kulkas sinting! Siapa juga yang kegeeran? Orang gue dari tadi cuma diem makan sereal, eh dia malah sewot sendiri. Pede banget nih cowok!

"Iya, Mas Kulkas yang terhormat!" balas Naya ketus dengan nada mengejek. "Tenang aja, saya enggak bakal GR! Kan kita cuma terikat 'keputusan strategis yang terukur', mana mungkin saya GR sama kulkas dua pintu!"

Wajah Damar seketika memerah menahan malu sekaligus kesal karena pancingannya malah dibalas skakmat telak oleh sang istri. Tanpa membalas lagi, Damar langsung menyambar tas kerjanya dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah seribu, merutuki kebodohannya sendiri yang gagal menyembunyikan rasa salah tingkah.

Pukul dua siang, Naya tiba di sebuah butik haute couture ternama di pusat kota, dikawal oleh Andre. Butik berinterior mewah itu dipenuhi deretan gaun desainer papan atas.

"Silakan dicoba, Nyonya Diksara. Ini adalah rancangan eksklusif pesanan dari Tuan Damar," ujar sang desainer seraya menyodorkan gaun malam berwarna emerald green yang bertabur kristal halus.

Naya masuk ke ruang ganti dan mengenakan gaun tersebut. Ketika ia keluar dan berdiri di depan cermin besar, pantulan dirinya tampak begitu memukau. Warna zamrud itu sangat kontras dengan kulit putihnya, membuat auranya mendadak naik menjadi seorang nyonya besar yang tak terbantahkan.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pintu utama butik terbuka dengan bunyi desiran angin, dan masuklah Lea dengan gaun merah mencolok dan sunglasses mahal di kepalanya. Wanita itu sengaja datang ke butik langganan sosialita ini setelah tahu pesanan gaunnya berada di tempat yang sama dengan Naya, berniat memuaskan rasa penasarannya sekaligus melampiaskan kekesalan.

Melihat Naya berdiri di depan cermin dengan gaun yang sangat mewah, mata Lea langsung berkilat penuh dengki.

Dengan senyuman merendahkan yang amat khas, Lea melangkah mendekati Naya, melipat tangan di dada seraya menaikkan sebelah alisnya dengan gaya songong.

"Wah, wah... lihat siapa ini," cibir Lea dengan suara nyaring yang sengaja menarik perhatian seluruh penjuru butik. "Nyonya besar 'kontrak' rupanya. Pantesan gaya-gayaan nyoba gaun mahal, padahal aslinya cuma cewek pungut yang dibayar buat nutupin malu keluarga Diksara. Gimana rasanya numpang hidup dari suami orang, enak ya?"

Naya membalikkan badannya dengan anggun. Alih-alih terpancing emosi, sudut bibir Naya justru terangkat membentuk senyuman savage yang sangat menyebalkan.

"Eh, Mbak Kue Pancong!" sapa Naya dengan nada ceria yang teramat ramah.

Lea langsung menghentikan tawanya, keningnya berkerut tajam mendengar panggilan ngawur itu. "Hah? Kue pancong?! Maksud kamu apa, hah?!"

"Iya, kue pancong!" balas Naya santai sambil meneliti penampilan Lea dari ujung kepala sampai kaki. "Muka tebal, dempulannya menor bertumpuk-tumpuk, gosong di pinggir tapi pucet di tengah, persis banget kue pancong manggil-manggil minta digeprek! Lagian ngapain sih Mbak kesini? Masih kurang malunya setelah rencana busuk Mbak nyuruh si Bagas si mantan gak tahu diri buat ganggu saya itu gagal total di tempat sampah?"

Skakmat! Wajah Lea seketika berubah pucat pasi, matanya membelalak lebar mendengar Naya mengetahui rencana kotornya menggunakan Bagas.

"Kamu—!" teriak Lea kehilangan kendali, murka karena rahasianya terbongkar sekaligus kesal rencana liciknya memperalat mantan Naya tidak membuahkan hasil. Dengan emosi yang meluap-luap, ia mengangkat tangannya bersiap melayang menampar pipi Naya.

Namun, sebelum tangan Lea sempat menyentuh udara di dekat wajah Naya, sebuah cengkeraman kokoh tiba-tiba menahan pergelangan tangannya di udara dengan tenaga luar biasa kuat.

Sret!

Lea terpekik kaget. Saat ia menoleh dengan marah, darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir. Damar Diksara berdiri di samping Naya dengan setelan jas hitam legam, matanya menyala tajam memancarkan amarah sedingin es yang siap membekukan siapa saja. Pria itu kebetulan datang lebih cepat untuk memantau butik karena khawatir istrinya diganggu setelah perdebatan sengit di rumah tadi pagi, dan ia mendengar setiap kata hinaan Lea.

"Singkirkan tangan kotormu dari istri saya, Lea!" desis Damar dengan suara rendah yang menggetarkan seisi butik. Ia menghempaskan tangan Lea dengan kasar, membuat wanita itu terhuyung mundur hingga nyaris terjatuh.

Lea gemetar hebat, menatap Damar dengan mata berkaca-kaca penuh ketakutan. "Damar... kamu... kamu memihak perempuan jalang ini?!"

"Dia istri sah saya," tegas Damar tanpa ampun, sorot matanya menajam menusuk ulu hati Lea. "Dan kamu... berani sekali kamu datang mengganggu ketenangannya setelah semua rencana kotor yang kamu bayar untuk merusak hidupnya terbongkar? Dengar baik-baik, Lea. Satu langkah lagi kamu mendekati istri saya atau berani membuat keributan di sini, saya pastikan perusahaan keluargamu rata dengan tanah sebelum matahari terbenam!"

Lea menelan ludah dengan susah payah, menciut seketika di bawah ancaman mematikan sang CEO. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pembelaan pun, wanita itu berbalik dan berlari terbirit-birit keluar butik dengan menanggung malu yang teramat besar.

Suasana butik kembali hening mencekam. Damar perlahan menarik napas dalam-dalam, lalu memalingkan wajahnya menghadap sang istri.

Naya menatap Damar dengan alis terangkat sebelah, menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan.

Damar yang tertangkap basah baru saja membela sang istri dengan penuh emosi langsung salah tingkah. Pria itu berdeham kaku, buru-buru memasang kembali topeng dinginnya, lalu membuang muka ke arah manekin terdekat demi menghindari tatapan penuh selidik dari Naya.

Dih, sok dingin. Padahal aslinya ketahuan banget khawatirnya, batin Naya mengejek dalam hati, menikmati pemandangan sang CEO gengsian yang salah tingkah di hadapannya.

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!