Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Klarifikasi di Depan Semua Orang
Siang itu juga, Rangga mengadakan pertemuan darurat dengan seluruh karyawan Arka Corporation di aula utama, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perusahaan. Kirana duduk gelisah di antara rekan-rekan kerjanya, hatinya berdebar kencang menunggu apa yang akan disampaikan Rangga di depan seluruh perusahaan.
Rangga berdiri di depan podium, penampilannya tetap tegas dan berwibawa meski Kirana bisa melihat ketegangan yang tersembunyi di balik rahangnya yang mengeras. Ia menatap seluruh ruangan sejenak sebelum mulai berbicara.
"Saya yakin kalian semua sudah membaca berita yang beredar pagi ini," Rangga membuka pembicaraan, suaranya tegas menggema ke seluruh ruangan. "Saya di sini untuk memberikan klarifikasi langsung, bukan lewat pihak ketiga atau rilis pers formal, karena saya rasa kalian semua berhak mendengar kebenarannya langsung dari saya."
Seluruh ruangan hening, semua mata tertuju pada sosok CEO muda itu dengan penuh perhatian.
"Benar, saya menjalin hubungan dengan salah satu staf di perusahaan ini," lanjut Rangga, tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya. "Dan saya tidak malu mengakuinya. Tapi narasi yang beredar di media, yang menyebutkan bahwa dia sengaja memanfaatkan saya atau posisinya untuk keuntungan pribadi, itu sepenuhnya fitnah yang tidak berdasar."
Kirana merasakan matanya memanas, terharu mendengar Rangga membela dirinya secara terbuka di depan seluruh perusahaan, meski risikonya begitu besar bagi reputasinya sendiri sebagai CEO.
"Saya yang mengejar dia duluan," Rangga melanjutkan, nada suaranya melembut namun tetap tegas. "Saya yang jatuh cinta duluan, dan saya yang berjuang meyakinkan dia untuk menerima perasaan saya. Jadi kalau ada yang harus disalahkan soal 'hubungan tidak profesional' ini, salahkan saya, bukan dia."
Bisik-bisik mulai terdengar di antara karyawan, beberapa terlihat terkejut dengan kejujuran blak-blakan sang CEO, sementara yang lain justru tampak terharu dengan keberanian itu.
"Saya paham, ini bisa jadi preseden yang rumit buat perusahaan," Rangga melanjutkan, "tapi saya berjanji, hubungan pribadi saya tidak akan pernah memengaruhi keputusan profesional saya sebagai CEO. Kirana akan tetap dinilai berdasarkan kinerjanya, sama seperti karyawan lain, tanpa ada perlakuan khusus."
Ia mengakhiri pidatonya dengan menatap seluruh ruangan sekali lagi. "Saya harap kalian semua bisa menghormati privasi kami berdua, dan saya akan mengambil tindakan hukum tegas terhadap siapa pun yang terbukti menyebarkan fitnah dan informasi palsu soal ini."
Setelah pertemuan itu berakhir, suasana kantor terasa berbeda—sebagian karyawan mendekati Kirana dengan tatapan simpati dan dukungan, beberapa bahkan secara terbuka mengucapkan selamat, meski masih ada beberapa yang berbisik-bisik dengan nada skeptis di sudut ruangan.
"Kirana, kamu nggak apa-apa?" tanya salah satu rekan kerja yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampiri mejanya dengan wajah khawatir.
"Saya baik-baik aja," jawab Kirana, meski suaranya masih terdengar sedikit bergetar.
"Cuma... nggak nyangka bakal jadi seheboh ini."
"Yang penting Pak Rangga udah klarifikasi langsung tadi. Menurutku itu berani banget, loh, buat CEO mau ngaku hubungan sama karyawan secara terbuka kayak gitu," komentar rekan kerjanya, tersenyum mendukung.
Sore harinya, Rangga kembali memanggil Kirana ke ruangannya, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih lelah dari biasanya, tanda betapa beratnya hari itu baginya.
"Kamu gimana? Baik-baik aja?" tanya Rangga begitu Kirana masuk, langsung menghampirinya dengan raut penuh kekhawatiran.
"Saya baik, Pak—Rangga," Kirana tersenyum kecil, mencoba menenangkan pria itu. "Makasih banyak udah bela saya tadi di depan semua orang. Saya nggak nyangka Bapak bakal seberani itu."
"Saya udah janji bakal berjuang buat kita," jawab Rangga, menggenggam tangan Kirana erat. "Saya nggak akan biarkan siapa pun ngerusak reputasi kamu tanpa perlawanan."
Kirana menatap Rangga, hatinya dipenuhi rasa syukur dan cinta yang semakin dalam melihat keteguhan pria itu, meski di sisi lain ia juga khawatir dengan dampak jangka panjang dari klarifikasi terbuka itu bagi karier dan reputasi Rangga sendiri.
"Tapi Bapak yakin ini nggak bakal jadi masalah besar buat posisi Bapak sebagai CEO? Buat kepercayaan investor?" tanya Kirana, cemas.
"Investor yang benar-benar paham bisnis akan menilai saya dari kinerja perusahaan, bukan dari kehidupan pribadi saya," jawab Rangga tegas.
"Kalau ada investor yang mundur cuma gara-gara saya jujur soal perasaan saya, berarti mereka bukan partner yang tepat buat perusahaan ini sejak awal."
Kirana tersenyum mendengar ketegasan itu, merasakan kekaguman yang semakin besar pada pria di hadapannya. "Saya beruntung banget punya Bapak—Rangga, di sisi saya."
"Saya yang lebih beruntung," Rangga membalas, mengangkat tangan Kirana dan mengecupnya lembut, gestur penuh kasih sayang yang membuat wajah Kirana memerah. "Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah cari tahu siapa dalang sebenarnya di balik semua ini, dan pastikan hal kayak gini nggak bakal terulang lagi."
Kirana mengangguk, meski hatinya masih dipenuhi kecemasan mengingat kemungkinan keterlibatan Alex dan Bu Ratna dalam skema yang sudah menghancurkan ketenangan hidup mereka selama beberapa hari terakhir. Ia tahu, pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan mereka berdua harus bersiap menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di depan.
ini novel saya pertama🥰🥰