Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ghazi Mulai Gelisah
#24
Hari baru tiba, pagi itu Dina awali dengan sebait doa, agar Allah memudahkan segala urusannya. Wanita itu begitu bersemangat, karena sudah terbayang apa yang menantinya di depan.
“Nanti, Mama akan antar camilan ke kebun,” kata Bu Rara pagi itu, sambil berjibaku menyiapkan sarapan. Sementara Dina, membantu Bu Rara membersihkan rumah, serta mencuci piring. Ini sudah menjadi rutinitas Dina sejak ia pulih dari luka pasca operasi caesar.
“Nggak usah, Ma. Nanti biar mantu Pak Darto yang ambil. Mama santai saja di rumah,” sahut Pak Hermanto. Menyiapkan makanan saja sudah melelahkan, masa harus ditambah mengantarnya ke perkebunan.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Enak toh, Malahan Mama bisa tidur siang.”
Dina menyimak obrolan kedua orang tuanya dengan senyum mengembang.
Dua jam kemudian, suasana perkebunan yang selama bertahun-tahun sunyi akhirnya kembali dipenuhi aktivitas.
Beberapa motor nampak terparkir di depan gudang, suara percakapan para pekerja terdengar bersahutan, diselingi suara tawa dan peralatan yang saling beradu dengan rumput dan tanah yang sedang mereka bersihkan.
Dina berdiri di antara mereka dengan pakaian sederhana, wanita muda itu mengenakan celana panjang, kaos lengan panjang santai, serta sepatu bot yang sengaja dibelinya kemarin.
Untuk pertama kalinya, Dina merasakan benar-benar akan turun tangan secara langsung mengurus perkebunan milik keluarganya.
“Sudah siap?” tanya Pak Hermanto.
Dina mengangguk mantap. “Sangat siap, Pa.”
Pak Hermanto tersenyum. “Kalau begitu, jangan hanya berdiri, hari ini kamu harus belajar secara langsung.”
Dina tertawa kecil, “Aku memang akan melakukannya, Pa. Papa pikir aku mau duduk-duduk saja, disini?”
Pak Hermanto terkekeh, “Papa hanya memastikan.”
Beberapa saat kemudian, Pak Hermanto mengumpulkan para pekerja. Pria itu menjelaskan bagian mana yang akan dibersihkan terlebih dahulu, termasuk jalur menuju beberapa pohon buah yang masih dianggap layak dipertahankan.
Dina memperhatikan dengan saksama.
Sesekali ia mencatat hal penting di ponselnya.
“Bagian sebelah sana jangan langsung dibersihkan seluruhnya,” ujar Pak Hermanto, sambil menunjuk area yang ditumbuhi semak. “Kita periksa dulu. Bisa jadi ada tanaman yang masih bisa diselamatkan.”
“Baik, Pak,” seru para pekerja.
Sedangkan Dina mulai berjalan mengikuti Pak Darto, pria yang sudah bertahun-tahun bekerja di perkebunan itu tampak tidak sungkan mengajarinya. “Kalau Mbak Dina mau belajar, lebih baik lihat dulu kondisi tanaman sebelum dipangkas.”
“Kalau yang ini bagaimana, Pak?” Dina menunjuk salah satu tanaman yang merambat pada batang pohon.
“Yang itu harus dibersihkan. Kalau dibiarkan, nanti malah mengganggu pertumbuhan pohonnya, karena tanaman itu bersifat parasit.
Dina mengangguk, tanpa segan membantu Pak Darto membersihkan tanaman liar yang tumbuh menempel pada batang pohon jeruk.
“Nah kalau ini bukan tanaman liar, ini markisa, dia butuh tempat untuk merambat, tapi tidak mengganggu pohon yang ditempatinya. Malahan, buahnya bisa dimanfaatkan untuk membuat sirup, dan memiliki nilai jual.”
Dina kembali mengangguk, rupanya tidak semua tanaman yang merambat di pohon harus dimusnahkan. Karena ada juga tanaman buah yang butuh tempat merambat secara alami. Agar buahnya tumbuh semakin lebat. “Hari ini saya belajar membedakan mana yang harus dibuang dan mana yang harus dipertahankan.”
Pak Darto tertawa. “Benar. Sama seperti mengurus manusia.”
Dina menoleh heran, “Maksudnya, Pak?”
“Kadang sesuatu yang kelihatannya mengganggu belum tentu benar-benar harus dibuang. Harus dilihat dan dipastikan dulu benar atau tidaknya.”
Dina terdiam sesaat, entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa begitu tajam menghujam dadanya. Apakah ia sudah tak berguna bagi keluarga Permana? Hingga Farhan menceraikan dan membuangnya begitu saja tanpa perasaan sedikitpun.
Kemudian Dina kembali memperhatikan tanaman di hadapannya, mungkin benar tidak semua hal yang terlihat buruk harus langsung ditinggalkan. Lihat dan perhatikan apakah ada sesuatu yang mungkin masih bisa diselamatkan jika diberi kesempatan.
Seperti perasaannya pada Azam dahulu, mungkin sekarang Dina harus memberanikan diri memupuk perasaan tersebut agar—
“Astaghfirullah,” ucap Dina, wanita itu buru-buru beristighfar saat menyadari kelancangan pola pikirnya. Ia tidak seharusnya memikirkan hal semacam itu.
Terlebih, hubungan mereka sampai saat ini hanya sebatas rasa saling membantu. Azam membutuhkan ASIP untuk Ghazi, sementara Dina dengan senang hati memberikannya selama persediaannya mencukupi.
Memikirkan Ghazi membuat Dina kembali tersenyum, menurut informasi yang ia dengar dari Bunda Hilda, Bayi mungil itu kini semakin sehat sejak rutin mendapatkan ASIP darinya.
Selain itu, diam-diam Azam juga sering mengirimkan foto tumbuh kembang Ghazi, berat badan Ghazi perlahan mulai bertambah dan bayi itu juga sudah jauh lebih aktif menggerakkan anggota tubuhnya dibandingkan sebelumnya.
Waktu istirahat pun tiba, para pekerja duduk bersama di depan gudang. Sesuai dengan instruksi Bu Rara, Pak Hermanto meminta menantu Pak Darto untuk mengambil makanan yang disiapkan Bu Rara dari rumah.
Siang itu rasanya Dina seperti sedang menikmati makan siang paling lezat sepanjang hidupnya, karena makanan disiapkan mamanya dengan penuh cinta, serta disantap bersama orang-orang yang mempercayainya.
•••
Di tempat lain, Ghazi justru tampak sedikit berbeda dari biasanya. Bunda Hilda menyadari bahwa bayi itu sejak pagi lebih banyak gelisah. Sudah ditimang, dan digendong, tapi masih saja merengek manja jika di baringkan.
“Kenapa kamu rewel sekali hari ini, Sayang?” bisik Bunda Hilda sambil mengusap lembut pipi cucunya.
Ghazi kembali merengek, Aisha yang kebetulan datang untuk bertanya, hanya bisa mengangkat alis.
“Tumben dia seperti ini, Bund?”
“Iya. Biasanya setelah minum susu dia langsung tenang,” jawab Bunda Hilda gelisah. “Coba kamu telepon Masmu, suruh dia pulang.”
“Iya, Bund.” Aisha mengeluarkan ponsel dari saku celananya, guna mangabari Azam rentang kondisi putranya.
“Mas, kata bunda, Mas Azam sebaiknya pulang dulu. Ghazi sedang rewel.”
“Aneh, beberapa jam lalu saat Mas tinggal, dia baik-baik saja.”
“Ya, itu kan tadi, Mas. Sekarang buktinya?” sanggah Aisha.
Azam diam sejenak, ia sedang mencatat dan mengawasi para pekerja yang akan mengirim sayuran ke beberapa supermarket besar di Solo dan sekitarnya. “Baiklah, bilang sama bunda, 15 menit lagi aku pulang.”
“Hmm, oke.”
Aisha kembali ke tempat Bunda Hilda. “Bund, Mas Azam bilang 15 menit lagi.”
Bunda Hilda mengangguk, “Aku ke dapur lagi, ya, Bund?” pamit Aisha, putri bungsu Bunda Hilda dan Ayah Irfan.
Sesuai janji, Azam kembali ke rumah 15 menit kemudian. Setelah mandi dan berganti pakaian, Azam baru menggendong putranya. Tangannya menepuk pelan punggung Ghazi, biasanya Ghazi akan segera tidur, bila Azam menggendong dan menepuknya semacam ini, tapi kali ini hal itu tidak terjadi.
Bayi itu masih gelisah, hingga Azam hanya bisa menghela nafas penuh kesabaran. “Apa dia kurang nyaman, Bund?”
Bunda Hilda menggeleng sedikit ragu, “Entahlah, mungkin juga Ghazi sedang menginginkan sesuatu yang tak bisa kita terjemahkan.
Azam kembali menatap putranya, “Apa yang kamu cari, Nak?”
“Biasanya anak kecil memang bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa kita mengerti.”
Ghazi kembali merengek dalam pelukan ayahnya, Azam kembali mengayun pelan tubuh mungil Ghazi. Entah kenapa, pikirannya justru tertuju pada Dina, apa mungkin Ghazi merindukan ibu ASI nya?
Azam menggeleng, ia segera menepis pemikirannya itu.
Tapi, hari sebelumnya sebelumnya, Dina memang mengirimkan ASIP lebih sedikit daripada biasanya. Azam tidak ingin menganggapnya sebagai masalah, karena ia tak bisa mengatur atau memarahi wanita yang bukan siapa-siapanya.
Jika wanita itu istrinya, tentu ia akan menyarankannya untuk lebih banyak makan makanan yang bergizi, agar produksi ASI tetap lancar.
Tetapi sekarang, kondisinya serba sulit, Dina bukan istrinya. Namin, melihat Ghazi yang terus gelisah, entah kenapa Azam mulai bertanya-tanya.
Apakah putranya sedang merindukan ibu ASI-nya?
Atau jangan-jangan, bukan hanya Ghazi yang merindukannya?
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄