NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3 - Surat Cerai di Samping Ranjang

Arga sadar penuh pada hari ketiga.

Hal pertama yang ia rasakan adalah nyeri tajam di dada. Hal kedua adalah suara alat monitor yang berulang seperti ketukan jam. Hal ketiga adalah wajah Bima yang menunduk di dekat ranjang.

"Komandan."

Arga mengerjap. "Aku belum mati?"

Bima menghela napas lega. "Belum. Susah juga kalau Komandan mati. Saya belum siap cari kerja baru."

Arga ingin tertawa, tapi dadanya sakit.

"Laras?"

"Ada di luar. Kendra juga sempat datang, tapi sudah saya antar pulang sama pengawal Bu Laras. Anak itu kelelahan."

Arga menutup mata sebentar. "Bagus."

Ia ingat ledakan, suara tembakan, hujan di jalan menuju Jakarta, lalu wajah seorang dokter. Wajah itu samar, tapi matanya jelas. Dingin, tenang, tajam. Seolah perempuan itu bisa menjahit nyawanya sambil menahan marah.

"Dokter yang operasi aku siapa?"

"Dokter Nadira."

Arga membuka mata. "Nadira?"

"Iya. Dokter Nadira Prameswari. Dokter bedah di sini."

Nama itu terasa menempel di kepala Arga.

Nadira.

Ia mencoba mengingat wajahnya, tapi obat masih membuat pikirannya berat.

"Dia bagus."

Bima langsung menyeringai. "Bagus sebagai dokter atau bagus sebagai perempuan, Komandan?"

Arga meliriknya.

"Mulutmu masih terlalu sehat."

"Siap, diam."

Pintu ICU terbuka. Seorang perawat masuk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa map cokelat.

"Mayor Arga, ada kuasa hukum yang ingin bertemu sebentar. Katanya urusan keluarga. Karena kondisi Anda sudah sadar, dokter mengizinkan lima menit."

Arga mengerutkan kening. "Kuasa hukum?"

Pria itu membungkuk sopan. "Selamat siang, Pak Arga. Saya Hari Santoso, kuasa hukum Ibu Nadira Prameswari."

Bima yang tadi santai langsung menegang.

Arga menatap pria itu. "Nadira Prameswari?"

"Istri Bapak."

Ruangan mendadak hening.

Arga berpikir mungkin obat bius masih bekerja.

"Ulangi."

Pak Hari tetap tenang. "Saya kuasa hukum dari Ibu Nadira Prameswari, istri sah Bapak berdasarkan buku nikah yang tercatat di KUA Kebayoran Baru empat tahun lalu."

Bima menutup mata.

"Bima," suara Arga rendah, "apa ini?"

Bima tidak menjawab.

Pak Hari membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Ibu Nadira mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Ini salinan surat kuasa dan konsep gugatan awal. Beliau berharap proses dapat berjalan baik tanpa konflik berkepanjangan."

Arga menatap kertas itu seperti menatap granat.

Cerai.

Ia baru bangun dari operasi, dan istri yang hampir tidak ia kenal mengirim pengacara untuk cerai.

Lucu sekali.

Empat tahun lalu ia memang menikah. Akad itu berlangsung cepat di rumah keluarga Nadira. Ia ingat seorang perempuan muda memakai kebaya putih, wajahnya tertutup riasan sederhana, mata tertunduk. Setelah akad, ia hanya sempat berkata, "Maaf, saya harus pergi." Lalu tugas itu menelannya.

Ia tidak pernah kembali.

Tapi bukan berarti ia lupa bahwa ia punya istri.

Di tengah operasi rahasia, komunikasi dibatasi. Ia bahkan tidak bisa memberi kabar kepada orang tuanya. Namanya beberapa kali sengaja dikaburkan dalam laporan karena keselamatan jaringan. Ia bertahan hidup dari satu penyamaran ke penyamaran lain.

Ia berpikir, kalau pulang nanti, ia akan menemui perempuan itu. Ia akan meminta maaf, memberi penjelasan, dan memulai dari awal jika ia masih mau.

Ternyata perempuan itu lebih dulu mengirim gugatan cerai.

"Alasannya?" tanya Arga.

Pak Hari mendorong kertas ke meja kecil.

"Tidak menjalankan kewajiban sebagai suami, tidak ada nafkah lahir batin selama empat tahun, dan dugaan hubungan dengan perempuan lain."

Arga tertawa pendek.

Tawanya membuat luka di dadanya sakit, tapi ia tetap tertawa.

"Dugaan hubungan dengan perempuan lain?"

"Itu yang disampaikan klien saya."

"Dia bahkan belum pernah bicara denganku."

"Ibu Nadira merasa sudah cukup menunggu."

Arga menatap pengacara itu tajam. "Apa dia minta harta?"

Pak Hari berhenti sebentar. "Beliau meminta hak sesuai hukum."

"Berapa?"

"Ada nafkah tertunda dan kompensasi yang akan dibicarakan dalam proses."

Wajah Arga mengeras.

Jadi begitu.

Empat tahun tidak bertemu, tiba-tiba cerai, lalu minta kompensasi.

Ia seharusnya merasa bersalah. Ada bagian kecil di dirinya yang tahu Nadira punya hak untuk marah. Tapi tubuhnya masih sakit, kepalanya masih penuh ledakan, dan harga dirinya yang keras langsung mengambil alih.

"Sampaikan pada istri saya," kata Arga pelan, "saya setuju bercerai."

Bima tersentak. "Komandan..."

Arga tidak memandangnya.

"Tapi jangan harap dia bisa memeras keluarga Wijaya. Aku akan bertanggung jawab sesuai hukum, bukan sesuai drama yang dia susun."

Pak Hari menatapnya. "Baik. Saya akan sampaikan."

"Dan satu lagi." Arga menahan nyeri saat menggeser tubuh. "Kalau dia tinggal di rumah keluargaku, beri tahu dia untuk bersiap pindah."

Pak Hari mengangkat alis.

"Saya tidak tahu situasi tempat tinggal klien saya."

"Tulis saja." Arga menatapnya dingin. "Tiga hari. Setelah aku keluar dari sini, aku tidak mau melihat perempuan yang menggugat cerai aku masih memakai rumah keluargaku."

Bima tampak ingin membenturkan kepala ke dinding.

Pak Hari mengangguk, memasukkan dokumen kembali ke map.

"Saya paham. Semoga Bapak lekas pulih."

Setelah pengacara itu keluar, Bima langsung mendekat.

"Komandan, menurut saya jangan gegabah."

"Kau tahu istriku siapa?"

Bima diam.

Arga menangkap diam itu. "Kau tahu?"

"Saya baru tahu dari administrasi rumah sakit, Komandan."

"Kapan?"

"Kemarin."

Arga menatapnya tajam.

Bima buru-buru berkata, "Saya belum yakin. Saya mau memastikan dulu."

"Memastikan apa?"

Bima terlihat tersiksa. "Dokter Nadira yang mengoperasi Komandan... nama lengkapnya Nadira Prameswari."

Arga membeku.

"Apa?"

"Saya cek data pasien dan data keluarga dari rumah. Nama istri Komandan juga Nadira Prameswari."

Arga menatap pintu ICU.

Dokter Nadira.

Perempuan bermata dingin yang menyelamatkan nyawanya.

Istrinya?

Tidak. Tunggu.

Ia mencoba mengingat wajah pengantin empat tahun lalu. Kebaya putih. Riasan lembut. Mata yang tidak berani menatap lama. Waktu itu ia terlalu terburu-buru. Terlalu fokus pada operasi. Ia bahkan tidak mengingat suaranya.

Sekarang ingatannya bertabrakan dengan wajah dokter di ruang resusitasi. Mata yang sama? Mungkin. Sikap tenang itu? Entah.

"Kenapa dia tidak bilang?" gumam Arga.

Bima menatapnya seperti ingin menangis. "Mungkin karena Komandan tidak mengenali beliau."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada peluru.

Arga menutup mata. Beberapa detik kemudian ia membukanya lagi.

"Panggil dia."

"Dokter Nadira?"

"Sekarang."

Bima keluar. Arga menunggu dengan rahang mengeras. Dadanya nyeri, tapi ada sesuatu yang lebih tidak nyaman di dalam kepalanya.

Kalau dokter itu benar istrinya, berarti ia baru saja menyuruh pengacara menyampaikan bahwa ia setuju cerai dan mengusirnya dari rumah.

Tidak apa-apa.

Dia yang mengajukan.

Dia yang datang dengan pengacara.

Dia yang minta kompensasi.

Arga menahan diri dari rasa bersalah yang mulai menyusup.

Pintu terbuka beberapa menit kemudian.

Nadira masuk dengan jas dokter putih. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.

Arga menatapnya.

Kini setelah tahu, ia melihatnya lebih jelas.

Ada sesuatu yang samar dari hari akad itu. Garis rahang, bentuk mata, cara ia menahan ekspresi. Ya. Mungkin benar. Perempuan ini memang istri yang ia tinggalkan.

"Mayor Arga ingin bertemu saya sebagai dokter atau sebagai pasien yang punya keluhan?" tanya Nadira.

Suara itu membuat Arga terdiam sebentar.

"Sebagai suami."

Nadira tersenyum kecil.

Tidak ada hangatnya.

"Maaf, saya sedang bertugas. Untuk urusan selain medis, silakan melalui kuasa hukum saya."

Arga menatapnya tajam. "Jadi benar kamu Nadira."

"Nama saya tertulis di papan dokter jaga."

"Kenapa tidak bilang dari awal?"

Nadira melangkah mendekat, memeriksa monitor seolah ia hanya pasien biasa.

"Apa yang harus saya bilang? Halo, Mas Arga, saya istri yang kamu tinggalkan empat tahun, tapi sekarang kamu datang bersama perempuan dan anak yang memanggilmu Papa?"

Arga terdiam.

Nadira mencatat tekanan darahnya.

"Kondisi Anda stabil. Jangan terlalu banyak emosi, nanti jahitan terbuka."

"Laras bukan istriku."

Tangan Nadira berhenti setengah detik, lalu bergerak lagi.

"Itu bukan urusan saya."

"Kendra bukan anakku."

"Sekali lagi, bukan urusan saya."

Arga mulai kesal. "Kamu menggugat cerai karena salah paham."

Nadira menatapnya.

"Saya menggugat cerai karena selama empat tahun saya menjadi istri tanpa suami. Salah paham hanya bonus."

Kalimat itu membuat Arga tidak langsung bisa membalas.

Nadira menutup berkas.

"Soal rumah keluarga Wijaya, saya sudah akan pindah. Anda tidak perlu menunggu tiga hari."

Arga merasa dadanya lebih sesak.

"Aku belum selesai bicara."

"Saya sudah selesai mendengar."

Nadira berbalik ke pintu.

Arga memanggil, "Nadira."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Aku tidak tahu kamu dokter itu."

"Saya tahu."

"Kalau aku tahu..."

Nadira menoleh. Matanya tenang, tapi ada lelah yang dalam di sana.

"Kalau Mas tahu, apa? Tidak jadi menceraikan saya? Tidak jadi mengusir saya? Tidak jadi membiarkan perempuan lain memakai tempat yang seharusnya milik istri?"

Arga menggenggam selimut.

Nadira berkata pelan, "Mas Arga, orang tidak berubah hanya karena baru tahu sesuatu yang menguntungkan dirinya."

Ia keluar.

Pintu menutup.

Bima yang berdiri di luar tidak berani masuk.

Arga menatap langit-langit ICU.

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang dari operasi, ia merasa luka di dadanya bukan bagian paling sakit dari tubuhnya.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!