Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA, GODAAN DINGIN, DAN LIRIKAN BISA
Suasana di Grand Ballroom Hotel Amarta malam itu tampak begitu megah dan bernuansa kemewahan kelas atas. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan pendar cahaya keemasan, memantul pada deretan meja berlapis kain sutra dan gelas-gelas kristal yang tersusun rapi. Ratusan tamu undangan dari kalangan pengusaha papan atas, pejabat pemerintahan, hingga para diplomat asing berkumpul untuk menghadiri Pesta Investasi Internasional yang diselenggarakan oleh Vardhana Group.
Di sudut area VIP, keluarga Vardhana menjadi pusat perhatian. Abi Vardhana berdiri bangga dengan setelan jas hitamnya, sementara Aurelia tampil penuh percaya diri dengan gaun malam berwarna merah menyala yang dihiasi payet berkilauan. Potongan gaunnya sengaja dibuat agak mencolok untuk menarik perhatian pria mana pun yang melihatnya. Adrian berdiri setia di samping Aurelia dengan setelan tuxedo abu-abu mahal, walau matanya berkali-kali menyapu ke arah pintu masuk, mencari keberadaan satu sosok yang sejak pagi mengganggu pikirannya.
Tak lama kemudian, bisik-bisik kagum mendadak terdengar di sekeliling ruangan. Para tamu undangan otomatis membelah jalan, memberikan koridor bagi rombongan yang baru saja melangkah masuk.
Raja Zean Rothschild tiba.
Sang Penguasa Dunia tampil sangat dominan dan mengintimidasi. Ia mengenakan setelan tuxedo kustom berwarna hitam pekat buatan penjahit kerajaan, lengkap dengan jubah kustom bersulam benang emas di bahunya—gaya khas bangsawan yang memancarkan aura kepemimpinan mutlak. Felix dan belasan pengawal bersenjata terselubung berjalan siaga beberapa langkah di belakangnya.
Namun, yang membuat napas para tamu tertahan bukan hanya ketampanan Zean yang bagai dipahat sempurna, melainkan sosok wanita berhijab yang berjalan tenang di sampingnya.
Arumi tampil sangat anggun dan elegan. Ia mengenakan gaun muslimah berwarna navy blue berbahan sutra tebal yang jatuh indah hingga menutup kaki, dipadukan dengan hijab senada membuat wajah cantiknya bertambah sangat cantik. Tanpa perlu pamer kemolekan tubuh, keanggunan dan kewibawaan yang dipancarkan Arumi membuat seluruh mata terpana.
Zean berjalan sangat dekat di samping Arumi. Tangan kirinya sengaja diletakkan di belakang pinggang Arumi tanpa menyentuh langsung, namun bertindak sebagai pagar protektif yang menegaskan kepada seluruh pria di ruangan itu: Jangan berani mendekati wanita ini.
Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rahangnya mengeras hebat. Melihat Arumi bersanding begitu serasi dengan pria paling berpengaruh di bumi membuat dadanya terbakar oleh penyesalan gila dan cemburu yang membakar jiwa. Dulu, Arumi adalah miliknya. Dulu, Arumi selalu berada di sampingnya. Namun, kini Arumi tampak seperti ratu yang tak akan pernah bisa ia jangkau lagi.
Di sisi lain, Aurelia mengekor pandangan itu dengan mata yang berkilat penuh kebencian dan keirian yang meledak-ledak. Matanya meneliti ketampanan Zean, kekayaan yang melingkupinya, serta status sosialnya yang tak tertandingi.
"Pria sesempurna itu tidak pantas bersanding dengan Arumi yang membosankan!" batin Aurelia berteriak penuh racun. Otak liciknya mulai memutar rencana gila.
Ketika Abi Vardhana menyambut kedatangan Zean dan mengajaknya berbincang sejenak dengan para investor asing, Arumi meminta izin untuk melangkah ke meja hidangan minuman di sudut ruangan. Zean memberi isyarat mata pada Felix untuk terus mengawasi Arumi dari jarak aman.
Melihat ada kesempatan emas saat Zean berdiri sendiri usai Abi berpamitan menyapa tamu lain, Aurelia langsung mengambil dua gelas minuman mahal dari pelayan. Ia merapikan gaun merahnya, mengulas senyum paling memikat yang ia punya, lalu berjalan dengan langkah gemulai mendekati Sang Raja.
"Selamat malam, Raja Zean..." panggil Aurelia dengan suara mendayu-dayu yang dibuat manis.
Zean yang sedang menatap dokumen singkat di layar ponselnya bahkan tidak mendongak. Auranya langsung membuang suhu dingin yang mencekam.
Aurelia menyodorkan satu gelas minuman pada Zean, sengaja memajukan tubuhnya sedikit hingga aroma parfum menyengat miliknya tercium. "Pesta malam ini sangat meriah, bukan? Saya menyeduh minuman khusus ini untuk Anda. Sebagai Anak Pertama Abi Vardhana, saya ingin menyambut Anda secara pribadi..."
Aurelia mencoba meraih pergelangan tangan Zean untuk menyerahkan gelas tersebut, bermaksud melakukan sentuhan fisik halus yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan pria.
Namun, sebelum jemari Aurelia sempat menyentuh kain jas Zean, sebuah gerakan kilat dan dingin terjadi.
Srett!
Zean menepis tangan Aurelia dengan kibasan lengan yang sangat kasar. Gelas kristal di tangan Aurelia terlempar dan hancur berkeping-keping di lantai granit!
Prak!
Suara pecahan kaca itu membuat suasana di sekitar mereka mendadak hening seketika. Beberapa tamu undangan menoleh kaget.
Aurelia melompat mundur, wajahnya pucat pasi dan guncang. "R-Raja Zean... saya hanya—"
Zean membalikkan badannya perlahan. Sepasang mata abu-abu gelap milik Sang Raja menatap Aurelia dengan tatapan begitu tajam, jijik, dan mengerikan—seolah-olah ia sedang menatap seekor serangga kotor yang tak sengaja menginjak sepatunya.
"Jauhkan dirimu dan aromamu yang menjijikkan itu dariku," potong Zean. Suaranya tidak keras, namun begitu dingin dan dalam hingga sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"A-aku hanya ingin bersikap ramah..." cicit Aurelia dengan bibir gemetar, matanya mulai berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa di depan banyak orang.
"Aku tidak butuh keramahan dari wanita murahan yang merebut tunangan adiknya sendiri," desis Zean penuh penekanan dan hinaan yang menusuk langsung ke jantung Aurelia. "Sekali lagi kamu berani melangkah dalam radius dua meter dariku atau mencoba menyentuhku... kupastikan seluruh aset dan nama keluargamu musnah dalam hitungan jam."
Aurelia membeku total. Rasa malu, takut, dan hinaan yang dilontarkan Zean di hadapan publik membuat tubuhnya bergetar hebat. Adrian yang melihat kejadian itu dari jauh segera berlari mendekat dan merangkul bahu Aurelia, berusaha menyelamatkan muka tunangannya walau ia sendiri tidak berani menatap mata ancaman milik Zean.
"Maafkan tunangan saya, Yang Mulia..." bisik Adrian menunduk takut.
Zean bahkan tidak sudi melirik Adrian. Ia membalikkan badan, mengambil kain sapu tangan dari sakunya, lalu mengusap punggung tangannya yang tak sengaja bergesekan dengan udara dekat Aurelia tadi, lalu membuang sapu tangan mahal itu ke tempat sampah seolah telah terkena kotoran.
Arumi yang menyaksikan adegan itu dari jauh hanya menghela napas pelan di balik cadarnya. Ia tahu betul betapa kejam dan tak berkompromi seorang Raja Zean jika ada orang yang berani mengganggunya.
Saat Zean melangkah kembali mendekati Arumi, aura membunuhnya hilang seketika, berganti menjadi sorot mata yang penuh kelembutan dan posesif yang tak tertandingi.
"Apakah ada yang mengganggumu, Sayang?" tanya Zean halus, berdiri di samping Arumi.
"Tidak ada, Raja Zean. Anda baru saja membuat kegaduhan kecil," jawab Arumi tenang.
Zean terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang hanya bisa didengar oleh Arumi. "Hanya menyingkirkan lalat yang tidak tahu diri. Aku tidak ingin ada aroma lain yang mengganggu harummu."
Arumi menggelengkan kepala pelan, walau tak bisa dipungkiri ada rasa hangat yang aneh berdesir di dadanya. Perlakuan Zean yang begitu kontras—sangat kejam pada orang lain namun begitu bertekuk lutut padanya—mulai meruntuhkan sisa-sisa trauma pengkhianatan di hatinya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, seluruh layar monitor raksasa yang ada di panggung utama ballroom berkedip-kedip hebat. Musik pesta mendadak terhenti, digantikan oleh suara dengung frekuensi tinggi yang membuat para tamu menutup telinga.
Layar monitor berubah warna menjadi merah darah, lalu muncul tulisan retas berukuran raksasa:
GREETINGS FROM THE UNDERWORLD.
ARUMI VARDHA IS MY PROPERTY. PREPARE YOUR GRAVE, KING ZEAN.
Sontak seluruh ruangan berubah menjadi panik dan riuh! Para tamu undangan berteriak ketakutan saat melihat simbol kartel Kazan Vance terpampang jelas di layar.
Adrian yang panik langsung bersembunyi di belakang pengawal, sementara Aurelia menjerit ketakutan.
Namun, di tengah kepanikan ratusan orang itu, Raja Zean berdiri tidak bergeming sedikit pun. Dengan gerakan cepat dan sangat posesif, Zean menarik tubuh Arumi ke dalam dekapan dadanya, mengurung wanita itu dalam perlindungan mutlak.
"Felix! Blokir seluruh gedung dan aktifkan Protokol Hitam!" perintah Zean dengan suara menggelegar yang membelah kegelapan ballroom.
Zean menunduk, menatap Arumi di dalam pelukannya dengan mata yang menyala merah penuh gairah membunuh. "Kazan Vance sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Malam ini... aku sendiri yang akan mencabut nyawanya karena telah berani menyebut namamu."
Arumi memegang erat kain jas Zean. Pertempuran antara Sang Penguasa Dunia dan Penguasa Dunia Bawah akhirnya resmi dimulai!
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/