NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALL 90-AN DAN CANCEL CULTURE

Setelah dua hari diisolasi di ruang VIP rumah sakit dengan dokter yang gemetar setiap kali Vania batuk, Vania akhirnya dinyatakan sembuh. Hal pertama yang dia lakukan begitu keluar dari rumah sakit bukanlah meminta pulang ke mansion, melainkan membuat permintaan yang sangat spesifik.

"Aku mau ke Mega Mall," ucap Vania dari kursi penumpang mobil Mercedes-Benz Kevin. "Aku mau beli Chiki Balls rasa keju. Dan martabak manis yang ada di lantai dasar. Yang pinggirannya gosong dikit, tapi tengahnya basah."

Kevin, yang sedang menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya terus meraba-raba dahi Vania untuk memastikan suhu tubuhnya normal, menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Kau seharusnya makan sup ayam bening dan istirahat. Apa itu... Chiki?"

"Itu adalah camilan berbentuk bola-bola keju yang akan mengubah hidupmu, Tuan Kevin," balas Vania datar, menatap "kamera" imajinernya. Di tahun 2026, Chiki Balls sudah digantikan oleh keripik kentang impor yang harganya selangit. Tapi di tahun 90-an? Ini adalah makanan para dewa. Dan aku merindukannya.

Kevin menghela napas, tapi dia tidak menolak. Dia membelokkan mobilnya menuju Mega Mall. Bagi Kevin, jika Vania ingin makan bola keju berwarna oranye terang, maka dia akan membelikan seluruh pabrik bola keju itu.

***

Mega Mall di tahun 90-an adalah pusat peradaban. Lantainya terbuat dari marmer yang mengkilap, langit-langitnya tinggi dengan lampu neon yang berkedip-kedip ceria, dan foodcourt-nya selalu berbau seperti campuran antara minyak goreng bekas, parfum air freshener jeruk, dan aroma daging bakar yang menyengat.

Vania duduk di salah satu meja plastik berwarna kuning di foodcourt. Di depannya, terdapat satu bungkus besar Chiki Balls yang sudah terbuka, dan satu kotak martabak manis yang masih mengepulkan uap panas. Dia mengambil satu bola keju, memasukkannya ke dalam mulut, dan memejamkan mata.

Oh, Tuhan. Rasa MSG dan perasa keju sintetisnya... ini adalah rasa surga. Aku rela mati untuk ini. Tapi tidak, aku tidak mau mati. Aku mau makan martabaknya dulu.

Kevin duduk di seberangnya, menatap Vania dengan tatapan yang campur aduk antara jijik dan kekaguman. Pria itu mengenakan jas hitam lengkap dengan dasi, duduk tegak di kursi plastik kuning yang terlalu kecil untuk postur tubuhnya, sementara Vania makan dengan santai.

Tiba-tiba, suara tawa yang nyaring dan menusuk telinga terdengar dari meja di sebelah kanan mereka.

Vania berhenti mengunyah. Dia mengenali suara itu. Itu adalah suara Tante Ratna.

Vania menoleh pelan. Di meja sebelah, Tante Ratna dan Bibi Marni sedang duduk berhadapan dengan tiga ibu-ibu arisan yang memakai kebaya modern dan kalung emas tebal. Di dekat mereka, berdiri seorang pria berjas abu-abu—suruhan Om Reza yang ditugaskan untuk memata-matai Vania.

"Dengar, Bu," suara Tante Ratna terdengar jelas, nadanya dibuat serendah mungkin agar terdengar seperti rahasia yang sangat penting. "Vania itu sudah hilang lebih dari dua puluh empat jam! Suruhanku melihat sendiri, Kevin membawanya ke mansion pribadinya di Puncak. Siapa tahu apa yang mereka lakukan di sana! Gadis itu benar-benar tidak tahu malu. Dulu mengejar-ngejar Kevin, sekarang malah dibawa kabur. Pasti dia yang menghasut Kevin untuk tidak mau pulang ke mansion!"

Bibi Marni mengangguk cepat, tangannya yang penuh cincin menutupi mulutnya yang dibuat-buat terkejut. "Iya, Bu. Kasihan sekali Pak Darmawan. Punya keponakan yang kelakuannya seperti perempuan murahan. Aku dengar dia juga tidak sekolah lagi, hanya menghabiskan uang Pak Darmawan untuk beli baju-baju mahal."

Kevin, yang duduk di sebelah Vania, langsung membeku. Suhu di sekitar meja mereka anjlok drastis. Aura dingin dan mematikan menguar dari tubuh pria itu. Dia meletakkan garpu plastiknya, bersiap untuk berdiri dan menghancurkan meja itu, atau setidaknya membeli foodcourt ini dan mengusir mereka semua.

Tapi Vania menaruh tangannya di lengan Kevin.

"Duduk," bisik Vania, suaranya tenang namun tegas. "Ini urusanku. Kau tidak perlu mengotori jas Armanimu dengan darah mereka. Lagipula, aku belum selesai makan martabaknya."

Kevin menatap Vania, rahangnya mengeras, tapi dia perlahan duduk kembali, matanya tidak lepas dari Tante Ratna.

Vania menelan suapan martabaknya, menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu berdiri. Dia mengambil bungkus Chiki Balls-nya, dan berjalan santai menuju meja Tante Ratna. Langkahnya tidak cepat, tidak lambat, tapi sangat pasti.

"Selamat siang, Tante. Bibi," sapa Vania, suaranya datar namun cukup keras untuk membuat seluruh foodcourt di sekitarnya menoleh.

Tante Ratna terkejut, wajahnya yang dipoles tebal langsung memucat. "V-Vania? Kau... kau berani muncul di sini?"

Vania tidak menjawab. Dia hanya menarik kursi kosong di meja mereka, duduk dengan santai, dan membuka bungkus Chiki Balls-nya. Kriuk. Dia mengunyah satu bola keju dengan suara yang sangat renyah di tengah keheningan yang tiba-tiba menyelimuti meja itu.

"Tante Ratna, Bibi Marni," ucap Vania, menatap mereka dengan tatapan yang sangat tenang. "Tante dan Bibi sepertinya sangat khawatir dengan skor kredit dan kualitas aset pribadi saya. Jadi, izinkan saya membalas kekhawatiran itu dengan data yang valid."

Tante Ratna mengerutkan keningnya. "Skor... kredit? Apa yang kau bicarakan, hah?!"

"Tante Ratna," Vania melanjutkan, nadanya seperti seorang analis keuangan yang sedang memberikan presentasi. "Riwayat kredit Tante di BPR tempat Tante meminjam uang untuk membeli mobil Kijang Grand Extra itu macet selama empat bulan berturut-turut. Skor kelayakan kredit Tante ada di kolom merah. Jika Tante tidak membayar cicilan bulan depan, mobil Tante akan disita, dan Tante harus naik taksi ke klub golf Tante. Oh, dan Tante masih berutang lima juta pada toko emas di Pasar Baru untuk kalung yang Tante pakai hari ini. Itu emas berlapis, Tante. Bukan emas murni. Bisa luntur kalau kena keringat."

Hening.

Tiga ibu-ibu arisan di meja itu langsung menatap kalung emas di leher Tante Ratna dengan tatapan jijik. Tante Ratna memucat, tangannya secara refleks menutupi kalungnya.

Vania tidak berhenti di situ. Dia menoleh ke arah Bibi Marni.

"Dan Bibi Marni," ucap Vania, suaranya masih datar. "Wig rambut asli impor yang Bibi pakai itu sebenarnya grade C. Serat sintetisnya mudah terbakar kalau Bibi berdiri terlalu dekat dengan kompor, dan lem yang Bibi pakai di bagian hairline mengandung formalin tingkat rendah yang bisa menyebabkan dermatitis kontak. Itu sebabnya kulit dahi Bibi sering merah-merah dan gatal, kan? Itu bukan alergi debu, Bi. Itu racun dari lem murahan."

Bibi Marni tercekik, tangannya langsung terbang ke dahinya yang memang sedang sedikit kemerahan.

Ibu-ibu arisan itu saling berpandangan. Di dunia mereka, status sosial dan keuangan adalah segalanya. Mendengar Tante Ratna bangkrut dan Bibi Marni memakai wig palsu beracun adalah informasi yang jauh lebih berharga daripada gosip tentang Vania.

"Bu... Bu Ratna, aku baru ingat..." salah satu ibu arisan berdiri, merapikan tasnya dengan wajah jijik. "Aku... aku ada janji mendadak dengan seseorang. Permisi."

"Aku juga, Bu. Aku harus antar anak les," ibu yang lain ikut berdiri, meninggalkan meja dengan langkah cepat.

Dalam waktu kurang dari satu menit, meja itu kosong. Hanya tersisa Tante Ratna dan Bibi Marni yang duduk terpaku, wajah mereka memerah padam karena malu dan amarah.

Vania menatap mereka. Tiba-tiba, sebuah suara keluar dari mulutnya.

"Hahaha..."

Vania terkejut sendiri. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Itu bukan tawa renyah dan tulus seperti saat dia tertawa bersama Larasati. Itu adalah tawa yang rendah, sinis, dan sangat... jahat. Tawa khas antagonis wanita sinetron 90-an yang baru saja memenangkan pertarungan.

Hahahaha! Hahahaha!

Vania tertawa lebih keras. Dia bahkan tidak bisa menghentikannya. Rasanya sangat melegakan. Rasanya sangat powerful. Dia menatap "kamera" imajinernya dengan mata berbinar. Kalian lihat?! Aku berhasil! Aku melakukan tawa sinis sinetron! Dan rasanya enaaaaak banget!

Di meja sebelah, Kevin menatap Vania yang tertawa sinis. Alih-alih jijik atau takut, mata Kevin berbinar dengan kekaguman yang murni. Rahangnya sedikit mengendur, dan ada senyum tipis yang sangat bangga terukir di wajahnya. Dia benar-benar sempurna, batin Kevin. Tawa itu... sangat mengerikan. Dan sangat indah.

Tante Ratna gemetar hebat. Dia menatap Vania dengan tatapan penuh kebencian yang mendidih. Dia tidak bisa menerima penghinaan ini di depan umum.

"Kau... kau anak kurang ajar!" Tante Ratna berteriak, suaranya pecah. Dia menunjuk Vania dengan jari yang gemetar. "Kau pikir kau bisa menghina kami begitu saja?! Kau tunggu! Di Pesta Pertunangan Raka dan Larasati minggu depan, aku akan menghancurkanmu! Aku akan pastikan seluruh Jakarta melihat aibmu! Kau tidak akan punya tempat untuk berdiri di pesta itu!"

Vania berhenti tertawa. Dia menelan bola keju terakhirnya, lalu menatap Tante Ratna dengan tatapan datar yang mematikan.

"Aku tunggu, Tante," ucap Vania pelan. "Pastikan Tante pakai wig yang lebih bagus ya. Nanti acaranya live."

Vania berdiri, merapikan gaunnya, dan berjalan kembali ke mejanya. Kevin langsung berdiri, mengikuti Vania dengan langkah yang anggun, tidak lupa menatap Tante Ratna dengan tatapan yang berjanji akan membuat hidup wanita itu sangat, sangat menyedihkan.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!